IMG-LOGO
Trending Now:
Jumat

Hukum Batalkan Shalat Jumat karena Kehujanan

Sabtu 17 November 2018 15:30 WIB
Share:
Hukum Batalkan Shalat Jumat karena Kehujanan
Ilustrasi (ibtimes.co.uk)
Musim kemarau telah lewat, pertanda sebagian besar bumi di Nusantara bakal sering diguyur hujan. Hujan sebagaimana difirmankan Allah adalah rahmat untuk sekalian alam. Dalam firman-Nya, Allah menegaskan bahwa turunnya hujan merupakan salah satu yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada manusia.

Hujan bukan menjadi halangan untuk menjalankan ibadah. Namun problem terkadang muncul saat hujan melanda dengan begitu deras di tengah-tengah pelaksanaan shalat Jumat bagi jamaah yang shalat di luar masjid, mengingat daya tampung masjid yang tidak cukup memadai. Pertanyaannya adalah, saat kondisi kehujanan tersebut, bolehkah mereka membatalkan shalat Jumatnya? Jika tidak boleh, apa yang harus mereka lakukan?. 

Pada dasarnya, memutus ibadah wajib tanpa ada uzur, termasuk shalat Jumat hukumnya haram. Syekh Muhammad bin Salim bin Sa’id Babashil mengatakan:

ومنها (قطع الفرض) أداء كان أوقضاء ولو موسعا وصلاة كان أو غيرها كحج وصوم واعتكاف بأن يفعل ما ينافيه لأنه يجب إتمامه بالشروع فيه لقوله تعالى ولا تبطلوا أعمالكم ومن المنافي أن ينوي قطع الصلاة التي هو فيها ولو إلى صلاة مثلها 

“Di antara makshiat badan adalah memutus ibadah fardlu, baik ada’ atau qadla’, meski ibadah yang dilapangkan waktunya, baik ibadah shalat atau lainnya seperti haji, puasa dan i’tikaf. Memutus ibadah fardlu maksudnya dengan sekira melakukan perkara yang merusaknya, sebab ibadah fardlu wajib disempurnakan ketika sudah berlangsung pelaksanaannya, berdasarkan firman Allah Swt, dan janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian. Termasuk perkara yang merusak shalat adalah niat memutus shalat yang tengah dilakukan, meski berpindah niatnya menuju shalat yang lain. (Syekh Muhammad bin Salim bin Sa’id Babashil, Is’ad al-Rafiq, hal. 121).

Begitu pentingnya menjaga diri untuk tetap bertahan di dalam shalat, syariat melarang membatalkan shalat saat di tengah shalat terdapat dlaruat seperti kebakaran, perang berkecamuk atau yang sejenis. Dalam kondisi yang demikian, kewajibannya adalah shalat dengan cara syiddah al-khauf, yaitu shalat dalam kondisi yang paling memungkinkan, sambil lari, membelakangi kiblat atau melakukan gerakan-gerakan berat sekalipun, sesuai dengan kebutuhannya.

Syekh Zainuddin al-Malibari mengatakan:

ـ (وخامسها استقبال ) عين ( القبلة ) أي الكعبة بالصدر فلا يكفي استقبال جهتها خلافا لأبي حنيفة رحمه الله تعالى ( إلا في ) حق العاجز عنه وفي صلاة ( شدة خوف ) ولو فرضا فيصلي كيف أمكنه ماشيا وراكبا مستقبلا أو مستدبرا كهارب من حريق وسيل وسبع وحية ومن دائن عند إعسار وخوف حبس

“Yang kelima adalah menghadap tepat ke kiblat, yaitu Ka’bah. Maka tidak cukup menghadap arahnya saja, berbeda menurut pendapat Abu Hanifah. Kecuali bagi orang yang tidak mampu menghadap kiblat dan dalam shalat syiddah al-khauf, meski shalat fardlu, maka cukup shalat dengan kondisi semampunya, berjalan dan menaiki kendaraan, menghadap atau membelakangi kiblat, seperti orang yang lari dari kebakaran, kebanjiran, binatang buas, ular, orang yang memiliki hak piutang ketika tidak mampu membayar dan khawatir dipenjara”. (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in Hamisy I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 145).

Dalam komentarnya atas referensi di atas, Syekh Abu Bakr bin Syatha mengatakan:

ـ (قوله: وفي صلاة شدة خوف) أي في قتال مباح، كقتال المسلمين للكفار، وقتال أهل العدل للبغاة، وما ألحق به، كهرب من حريق وسيل وسبع وحية.

“Ucapan Syekh Zainuddin, dan dalam shalat syiddah al-Khauf, maksudnya di dalam peperangan yang mubah, seperti perang menghadapi pasukan non muslim, perang melawan para pemberontak dan yang disamakan dengan hal-hal tersebut, seperti lari dari kebakaran, kebanjiran, binatag buas dan ular. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 145).

Berkaitan dengan hujan yang melanda di tengah shalat, menurut Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, bila hujan dikhawatirkan dapat merusak harta, misalkan seperti peci, smartphone, maka diperbolehkan melakukan shalat syiddah al-khauf, shalat sambil lari mencari tempat berteduh, setelah menemukan tempat yang teduh, kemudian menjalankan shalat dengan normal.

Syekh Abdul Hamid al-Syarwani mengatakan:

أقول ويؤخذ من قولهم المذكور أيضا أنه لو جاء نحو المطر في الصلاة على نحو كتابه جازت له صلاة شدة الخوف إذا خاف ضياعه حتى على مرضى الشارح فيمن أخذ ماله الخ لأنه خائف هنا كما مر

“Aku berkata, diambil dari ucapan para ulama yang telah disebutkan, bahwa bila datang semisal hujan di tengah shalat mengenai kitabnya, boleh melakukan shalat syiddah al-khauf bila khawatir tersia-sia, meski mengikuti pola yang diterima sang pensyarah dalam kasus orang yang diambil hartanya, karena dalam kondisi hujan yang mengenai kitab ini, seseorang disebut orang yang khawatir seperti keterangan yang telah lewat”. (Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 16).

Dalam pandangan yang lain, sebagian ulama membolehkan untuk memutus shalat ketika kekhusyukan seseorang hilang dikarenakan menahan kencing di tengah shalat. Bila dikontekstualisasikan dalam masalah ini, hujan deras yang menghujam, besar kemungkinan dapat membuyarkan konsentrasi jamaah dalam pelaksanaan shalat Jumat. Persoalan kehujanan di tengah shalat bisa kita analogikan dengan permasalahan shalat menahan kencing dengan titik temu keduanya dapat menyebabkan buyarnya ketenangan.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

ـ (والصلاة حاقنا) بالنون أي بالبول (أو حاقبا) بالباء أي بالغائط أو حاذقا أي بالريح للخبر الآتي ولأنه يخل بالخشوع بل قال جمع إن ذهب به بطلت الى أن قال وجوز بعضهم قطعه لمجرد فوت الخشوع به وفيه نظر 

“Dan makruh shalat menahan kencing dan buang air besar atau menahan kentut, karena hadits yang telah lewat dan dapat merusak kekhusyukan, bahkan sekelompok ulama berpendapat, bila hilang kekhusyukan, maka batal shalatnya.  Sebagian ulama membolehkan memutus halat karena hilangnya kekhusyukan, dan pendapat ini perlu dikaji ulang. (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, Juz 1, hal. 238)

Simpulannya, bila mengikuti pendapat yang kuat, membatalkan shalat Jumat saat kehujanan di tengah shalat hukumnya haram. Dan apabila khawatir rusaknya harta yang dipakai atau yang dibawa, kewajibannya adalah shalat dengan cara yang paling memungkinkan, bisa sambil berjalan untuk mencari tempat yang teduh, kemudian melanjutkan shalat secara normal. Hanya, bila cara tersebut tidak memungkinkan, bisa mengikuti pendapat sebagian ulama yang membolehkan untuk membatalkan shalat saat kondisi kehujanan dapat menghilangkan kekhusyukan, untuk kemudian mencari tempat yang memungkinkan untuk menyusul mengikuti Jumatan. Wallahu a’lam.

(M. Mubasysyarum Bih)

Tags:
Share:
Sabtu 3 November 2018 14:30 WIB
Apakah Shalat Jumat itu Zuhur yang Diringkas?
Apakah Shalat Jumat itu Zuhur yang Diringkas?
Ilustrasi (AP)
Seperti yang maklum kita ketahui, shalat Jumat dilaksanakan sebanyak dua rakaat. Keberadaannya dapat menggantikan kewajiban shalat zuhur. Bahkan, orang yang tidak wajib menjalankan Jumat seperti wanita, tidak perlu mengulangi shalat zuhur ketika mereka turut serta melaksanakan Jumat. Ulama tidak ikhtilaf dalam hal ini.

Namun ulama berbeda pendapat mengenai kedudukan shalat Jumat, apakah ia adalah shalat yang berdiri sendiri atau zuhur yang diringkas. Menurut pendapat qaul jadid (pendapat Imam Syafi’i saat beliau di Mesir), Jumat adalah shalat yang sempurna, dua rakaat Jumat tidak ada hubungannya dengan shalat zuhur, ia berdiri sendiri secara sempurna. Sedangkan menurut qaul al-qadim (pendapat Imam Syafi’i saat beliau di Iraq), Jumat adalah hasil dari zuhur yang diringkas, dari empat menjadi dua rakaat.

Qaul al-jadid berargumen, bahwa zuhur tidak dapat menggantikan Jumat, juga berdasarkan statemen Abdullah bin Umar yang menyatakan bahwa dua rakaat Jumat adalah shalat yang sempurna.

Syekh Abdul Hamid al-Syarwani menegaskan:

والجديد أنها ليست ظهرا مقصورا وأن وقتها وقته تتدارك به بل صلاة مستقلة لأنه لا يغني عنها ولقول عمر رضي الله تعالى عنه الجمعة ركعتان تمام غير قصر على لسان نبيكم صلى الله عليه وسلم وقد خاب من افترى أي كذب رواه الإمام أحمد وغيره نهاية ومغني وشيخنا

“Menurut qaul al-jadid, Jumat bukanlah zuhur yang diringkas, waktu Jumat adalah waktu zuhur yang pelaksanaannya dapat disusulkan di waktu tersebut, jumat merupakan shalat yang independen, sebab ia tidak dapat digantikan oleh zuhur, dan karena ucapan Ibnu Umar, Jumat adalah dua rakaat yang sempurna, bukan zuhur yang diringkas sesuai lisan Nabi kalian. Dan sungguh merugi orang yang berbohong. Hadits riwayat Imam Ahmad dan lainnya.” (Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah, juz 2, hal. 404).

Senada dengan keterangan di atas, Syekh Sulaiman al-Bujarimi mengatakan:

قوله : ( والجمعة ليست ظهراً مقصوراً ) أشار به للردّ على القول القديم القائل بأنها ظهر مقصورة

“Ucapan Syekh Khatib, Jumat bukan zuhur yang diringkas, beliau memberi isyarat untuk menolak pendapat qaul al-qadim yang mengatakan Jumat adalah zuhur yang diringkas.” (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib ‘ala Syrh al-Iqna’, juz 2, hal. 389).


Perbedaan pendapat ini berpengaruh pada rumusan hukum dalam beberapa cabangan masalah. Di antaranya sebagai berikut:

Pertama, mekanisme niat shalat Jumat.

Apabila dalam Jumat diniati zuhur yang diringkas, misalkan jamaah meniatkan “saya niat zuhur yang diringkas”, maka ada dua pendapat. Tidak sah bila berpijak pada pendapat yang menyatakan Jumat adalah shalat yang independen, wajib bagi jamaah untuk niat Jumat secara khusus. Sedangkan bila berpijak pada prinsip zuhur yang diringkas, maka sebagian ulama menganggapnya sah.

Ulama juga berbeda pendapat berkaitan dengan keharusan niat mengqashar dalam mekanisme niat shalat Jumat. Niat mengqashar misalkan “nawaitu ushalli al-Jum’ata qahran, saya niat shalat Jumat dengan diringkas.” Sebagian ulama mewajibkannya, berpijak dari pendapat qaul al-qadim, sebagian tidak mewajibkan, berpijak dari pendapat qaul al-jadid

Kedua, hukum shalat zuhur diqashar bagi musafir yang bermakmum dengan imam shalat Jumat.

Bila mengikuti prinsipnya qaul al-qadim, maka musafir tersebut diperbolehkan melakukan shalat zuhurnya secara qashr (dua rakaat). Sedangkan bila mengikuti prinsip qaul al-jadid, maka tidak diperbolehkan, wajib bagi musafir tersebut melakukan zuhurnya secara sempurna.

Ketiga, hukum menjamak shalat Jumat dengan shalat Ashar bagi musafir.

Menurut al-Imam al-‘Alla’i, permasalah ini juga tidak lepas dari dasar pemikiran di atas. Bila berpijak mengikuti prinsip qaul al-jadid, maka tidak sah, sementara bila mengikuti qaul al-qadim, maka sah. Menurut al-Imam al-Suyuthi, pendapat yang kuat adalah sah. 

Keempat, ketika di tengah-tengah pelaksanaan Jumat waktu habis.

Ketika di tengah-tengah shalat Jumat waktu zuhur habis, ulama sepakat tidak cukup meneruskannya sebagai Jumat (hanya dilakukan dua rakaat). Namun, bolehkah meneruskannya sebagai shalat zuhur sempurna atau wajib mengulangi dari awal?. Bila mengikuti prinsip shalat yang independen, maka harus mengulang dari awal. Bila mengikuti dasar pemikiran zuhur yang diringkas, maka boleh melanjutkan. Menurut imam al-Rafi’i, yang kuat adalah pendapat yang membolehkan untuk meneruskan zuhur.

Kelima, hukum shalat Jumat bermakmum dengan musafir yang shalat zuhur diqashar

Dalam masalah ini, bila mengikuti prinsip pendapat qaul al-qadim, maka hukumnya sah. Namun, jika mengikuti prinsip qaul al-jadid, sebagian ulama menyatakan tidak sah.

Beberapa cabangan permasalahan fiqih di atas berkaitan erat dengan perbedaan pandangan mengenai kedudukan shalat Jumat antara qaul al-qadim dan qaul al-jadid. Menurut Imam al-Suyuthi, status kuat dan lemahnya dua pendapat di atas berbeda-beda dalam setiap cabang permasalahannya. Tidak bisa digeneralkan, prinsip qaul al-jadid lebih kuat, qaul al-qadim lebih lemah. Dalam satu cabang permasalahan terkadang kuat yang qaul al-jadid, dalam permasalahan yang lain lebih kuat qaul al-qadim. Demikian sebagaimana ditegaskan oleh al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Asybah wa al-Nazhair, juz 1, hal. 162. (M. Mubasysyarum Bih)

Jumat 19 Oktober 2018 8:15 WIB
Hukum Sengaja Terlambat atau Tak Ikut Mendengarkan Khutbah Jumat
Hukum Sengaja Terlambat atau Tak Ikut Mendengarkan Khutbah Jumat
Ilustrasi (Foto: Romzi Ahmad)
Sebagaimana maklum diketahui bahwa khutbah Jumat merupakan sesuatu yang sangat penting dalam pelaksanaan Jumat. Namun, dalam kenyataannya masih ditemukan jamaah yang sengaja terlambat bahkan tidak ikut mendengarkannya. Sebagian mungkin masih terlihat nyantai bermain gadget di rumahnya, sebagian masih sibuk dengan kegiatannya dan masih banyak hal lagi yang melatarbelakangi keterlambatan mereka. Dalam pandangan fiqih, bagaimana hukum sengaja terlambat atau tidak ikut mendengarkan khutbah?

Anjuran mendengarkan khutbah dirumuskan berdasarkan firman Allah ﷻ:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al Quran (khutbah), maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf, ayat 204).

Menurut mayoritas mufassirin, kata “al-Quran” dalam ayat tersebut ditafsiri dengan khutbah. Atas dasar ayat tersebut, ulama menyimpulkan kesunahan bagi jamaah untuk mendengarkan dan memperhatikan khutbah secara seksama. Syekh Zakariyya al-Anshari menegaskan:

قال: ( وينبغي) أي يستحب للقوم السامعين وغيرهم ( أن يقبلوا عليه ) بوجوههم ؛ لأنه الأدب ولما فيه من توجههم القبلة ( و ) أن ( ينصتوا ويستمعوا ) قال تعالى { وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا } ذكر كثير من المفسرين أنه ورد في الخطبة وسميت قرآنا لاشتمالها عليه 

“Dan disunahkan bagi jamaah, baik yang mendengarkan atau selainnya, menghadap khatib dengan wajah mereka, karena hal tersebut merupakan etika dan membuat mereka menghadap qiblat. Dan sunah bagi mereka untuk memperhatikan dan mendengarkan khutbah. Allah ﷻ berfirman, Dan apabila dibacakan Al-Qur'an (khutbah), maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang. Mayoritas pakar tafsir menyebutkan bahwa ayat tersebut turun dalam persoalan khutbah, disebut dengan al-Quran, karena khutbah memuat ayat Al-Qur'an.” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 3, hal. 469).

Agama melarang segala bentuk aktivitas yang melalaikan diri untuk berangkat Jumatan sejak muadzin mengumandangkan azan kedua (saat khatib duduk di atas mimbar). Aktivitas yang dimaksud meliputi jual beli, bermain gadget, bahkan yang bersifat ibadah sekalipun seperti membaca Al-Qur'an. Larangan tersebut berlandaskan firman Allah ﷻ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu’ah, ayat 9).

Dianalogikan dengan keharaman jual beli dalam ayat di atas, segala bentuk aktivitas yang dapat melalaikan diri untuk berangkat jumatan. Larangan jual beli dalam ayat di atas berlaku untuk orang yang berkewajiban melaksanakan Jumat. 

Syekh Jalaluddin al-Mahalli mengatakan:

قال: ( ويحرم على ذي الجمعة ) أي من تلزمه ( التشاغل بالبيع وغيره ) المزيد في الروضة من العقود والصنائع وغيرها ( بعد الشروع في الأذان بين يدي الخطيب ) قال تعالى : { إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع } أي اتركوه والأمر للوجوب وهو بالترك فيحرم الفعل وقيس على البيع غيره مما ذكر لأنه في معناه في تفويت الجمعة 

“Haram bagi yang wajib Jumat menyibukan diri dengan jual beli dan selainnya yaitu beberapa transaksi, pekerjaan dan lainnya, setelah muadzin memulai azannya yang kedua di hadapan khatib, Allah berfirman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Kata perintah dalam ayat ini mengarah kepada kewajiban, dalam konteks ini dengan cara meninggalkan jual beli, maka haram melakukannya. Dianalogikan dengan jual beli, segala aktivitas yang telah kami jelaskan di atas, sebab secara substansi sama dengan jual beli dalam hal melalaikan Jumat.” (Syekh Jalaluddin al-Mahalli, Kanz al-Raghibin Syarh Minhaj al-Thalibin, juz 1, hal. 334).

Keharaman menyibukan diri dengan ibadah yang berdampak melalaikan Jumat disampaikan secara tegas oleh Syekh Muhammad al-Ramli sebagai berikut:

وهل الاشتغال بالعبادة كالكتابة كالاشتغال بنحو البيع؟ مقتضى كلامهم نعم

“Dan apakah sibuk dengan ibadah seperti menulis hukumnya sama dengan jual beli?. Indikasi dari statemen para ulama menyatakan sama (hukumnya haram)." (Syekh Muhammad al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz 2, hal. 344).

Keharaman melakukan jual beli dan yang sejenisnya tidak berlaku ketika dilakukan di masjid atau di tengah jalan saat menuju masjid atau tempat pelaksanaan Jumat. Sebab hal tersebut tidak dapat melalaikan kewajiban Jumat.

Syekh Syarafuddin Yahya al-Nawawi mengatakan:

وحيث حرمنا البيع فهو في حق من جلس له في غير المسجد أما إذا سمع النداء فقام في الحال قاصدا الجمعة فتبايع في طريقه وهو يمشي ولم يقف أو قعد في الجامع فباع فلا يحرم لكنه يكره صرح به المتولي وغيره وهو ظاهر لان المقصود أن لا يتأخر عن السعي الي الجمعة

“Ketika kita mengharamkan jual beli, maka hal tersebut untuk orang yang duduk bertransaksi di luar masjid. Adapun bila ia mendengar azan, kemudian ia berdiri seketika menuju tempat Jumat dan ia berjualan di tengah jalan sambil berjalan (ia tidak berhenti), atau ia duduk di masjid jamik dan berjualan, maka hal tersebut tidak haram, namun makruh. Sebagaimana dijelaskan Imam al-Mutawalli dan lainnya. Dan hal ini jelas, sebab maksud utama adalah agar ia tidak terlambat berangkat Jumatan.” (Syekh Syarafuddin Yahya al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz 4, hal. 500).

Mencermati referensi-referensi di atas dapat dipahami bahwa jamaah yang sengaja tidak mendengarkan khutbah dengan menyibukan diri di tempat lain yang dapat melalaikan Jumat hukumnya adalah haram. Lantas bagaimana bila ia menduga masih dapat menemui Jumat, meski terlambat datang?, misalkan karena rumahnya berdekatan dengan masjid.

Dalam titik ini, fuqaha Syafi’iyyah berbeda pendapat. Menurut Syekh Ibnu Hajar hukumnya boleh, sebab inti dari keharaman jual beli dan sejenisnya adalah bahwa aktivitas tersebut dapat melalaikan Jumat, sehingga bila masih dapat menemui Jumat, maka ‘illat (alasan dasar) keharaman tersebut telah hilang. Sementara menurut Imam al-Ramli dan Syekh Amirah al-Barlasi, hukumnya haram, sebab mengamalkan perintah Allah dalam surat al-Jum’at ayat 9 di atas. Ayat tersebut memerintahkan jamaah untuk segera berangkat menuju tempat Jumatan dan meninggalkan jual beli dan yang lain, tanpa mengaitkan dengan dugaan dapat menemui Jumatan atau tidak.

Ikhtilaf tersebut sebagaimana dijelaskan dalam kitab Nihayah al-Muhtaj dan Hasyiyah-nya sebagai berikut:

ولو كان منزله بباب المسجد أو قريبا منه فهل يحرم عليه ذلك أو لا إذ لا تشاغل كالحاضر في المسجد ، كل محتمل ، وكلامهم إلى الأول أقرب 

“Bila rumahnya jamaah berada di pintu masjid atau di tempat yang dekat dengannya, apakah haram jual beli baginya atau tidak? Sebab tidak termasuk melalaikan Jumat seperti orang yang sudah hadir di masjid?, masing-masing memungkinkan (haram dan bolehnya), dan statemen ulama lebih cenderung mengarah kepada yang pertama (haram).

 (قوله : وكلامهم الى الأول أقرب) خلافا لحج ويلحق به أي المسجد كما هو ظاهر كل محل يعلم وهو فيه وقت الشروع فيها ويتيسر له لحوقها 

“Ucapan al-Ramli, dan statemen ulama lebih cenderung mengarah kepada yang pertama (haram), ini berbeda dengan pendapat Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, berikut statemen beliau, disamakan dengan masjid sebagaimana hal yang jelas yaitu setiap tempat yang ia mengetahui waktu berlangsungnya shalat Jumat dan mudah baginya untuk menemui Jumat di tempat tersebut.” (Syekh Muhammad al-Ramli dan Syekh Ali Syibramalisi, Nihayah al-Muhtaj dan Hasyiyah Ali Syibramalisi, juz 2, hal. 344).

Berikut redaksi utuh statemen Syekh Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah-nya:

وخرج بالتشاغل فعل ذلك في الطريق إليها وهو ماش أو المسجد وإن كره فيه ويلحق به كما هو ظاهر كل محل يعلم وهو فيه وقت الشروع فيها ويتيسر له لحوقها

“Dan dikecualikan dengan menyibukan (melalaikan), melakukan hal di atas (jual beli dan sejenisnya) di perjalanan menuju Jumat sambil berjalan, atau melakukannya di masjid, meski hukumnya makruh di dalam masjid. Dan disamakan dengan masjid sebagaimana hal yang jelas yaitu setiap tempat yang ia mengetahui waktu berlangsungnya shalat Jumat dan mudah baginya untuk menemui Jumat di tempat tersebut.” (Syekh Ibnu hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 2, hal. 480).

Mengomentari referensi di atas, Syekh Abdul Hamid al-Syarwani berkata:

قال: ( قوله ويلحق إلخ ) خلافا للنهاية والإمداد ( قوله كما هو ظاهر ) أي لانتفاء التفويت 

“Ucapan Syekh Ibnu Hajar, 'Dan disamakan dengan masjid dan seterusnya', ini berbeda dengan pendapat kitab Nihayah al-Muhtaj dan al-Imdad. Ucapan Syekh Ibnu Hajar, sebagaimana hal yang jelas, karena ketiadaan meninggalkan Jumat. (Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, juz 2, hal. 480).

Pendapat Syekh Amirah yang mengharamkan sebagaimana penegasan dalam tulisan beliau berikut ini:

قول المتن : ( التشاغل بالبيع وغيره ) هذا يفيدك أن الشخص إذا قرب منزله جدا من الجامع ويعلم الإدراك لو توجه في أثناء الخطبة يحرم عليه أن يمكث في بيته لشغل مع عياله أو غيرهم بل يجب عليه المبادرة إلى الجامع عملا بقوله تعالى : { إذا نودي للصلاة } إلخ وهو أمر مهم فتفطن له 

“Redaksi kitab matan, sibuk dengan jual beli dan lainnya, ini memberi petunjuk kepada anda bahwa seseorang yang rumahnya sangat dekat dengan masjid jamik dan ia meyakini dapat menemui Jumat bila ia menyusul di pertengahan khutbah, haram baginya menetap di rumah karena kesibukannya bersama keluarga atau lainnya, bahkan wajib baginya untuk bergegas menuju masjid jamik, karena mengamalkan firman Allah ﷻ, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat dan seterusnya. Yang demikian ini adalah hal yang penting, maka cerdaslah dalam memahaminya.” (Syekh Syihabuddin Ahmad Amirah al-Barlasi, Hasyiyah Amirah ‘ala al-Mahalli, juz 1, hal. 334).

Demikian penjelasan mengenai hukum sengaja tidak ikut atau terlambat datang mendengarkan khutbah. Meski masih ada peluang boleh, namun sebaiknya kedatangan menuju tempat Jumat dilakukan sebelum azan kedua dikumandangkan, bahkan bila memungkinkan datang lebih pagi lagi, sebagaimana anjuran berangkat pagi yang diterangkan dalam beberapa hadits Nabi. Wallahu a’lam.

(M. Mubasysyarum Bih)

Kamis 11 Oktober 2018 15:0 WIB
Hukum Khutbah Jumat yang Provokatif
Hukum Khutbah Jumat yang Provokatif
Bagian yang tidak bisa dilepaskan dari pelaksanaan shalat Jumat adalah dua khutbahnya. Hikmah pensyariatan khutbah Jumat di antaranya untuk mengajarkan kepada jamaah hal-hal yang urgen dalam urusan agama. Khutbah Jumat hendaknya dapat mencerahkan dan meneduhkan. Berbanding lurus dengan hikmah pensyariatan Jumat sendiri, yaitu untuk mempersatukan umat.

Ditegaskan dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji:

لمشروعية صلاة الجمعة حكم وفوائد كثيرة، لا مجال لاستقصائها في هذا المكان، ومن أهمها تلاقي المسلمين على مستوى جميع أهل البلدة، في مكان واحد هو المسجد الجامع مرة كل أسبوع، يلتقون على نصيحة تجمع شملهم وتزيدهم وحدة وتضامناً، كما تزيدهم ألفة وتعارفاً وتعاوناً

“Shalat Jumat memiliki beberapa hikmah dan faidah yang banyak, tidak mungkin dijelaskan panjang lebar di sini. Di antara yang paling urgen adalah bertemunya umat Islam dalam satu tempat, yaitu masjid Jamik sekali dalam seminggu. Mereka menerima sebuah nasihat yang dapat menghimpun persatuan dan memperkuat solidaritas mereka, sebagaimana jumat dapat menambah kasih sayang, saling mengenal dan tolong menolong di antara mereka.” (Dr. Mushtafa al-Khin dkk, al-Fiqh al-Manhaji, juz1, hal. 200).

Beberapa mimbar dan podium sayangnya masih diisi dengan ajaran provokasi. Ujaran kebencian, menggunjing lawan politik, mengampanyekan ganti system pemerintahan, menyuarakan jihad ‘membasmi kafir’ dan lain sebagainya merupakan salah satu contoh khutbah yang provokatif. Khutbah Jumat yang sebenarnya berperan untuk menyejukan dan meneduhkan, justru menjadi sesuatu yang mengacaukan. 

Dalam pandangan fiqih Islam, khutbah yang demikian adalah haram, sebagaimana segala macam tindakan yang menimbulkan keresahan di masyarakat. Syekh Abu Said al-Khadimi menegaskan, termasuk perbuatan dosa adalah membuat kegaduhan dan provokasi di tengah masyarakat. Misalkan khutbah yang mengajak pemberontakan kepada pemerintah.

Dalam kitab Bariqah Mahmudiyyah, beliau mengatakan:

الثامن والأربعون الفتنة وهي إيقاع الناس في الاضطراب أو الاختلال والاختلاف والمحنة والبلاء بلا فائدة دينية) وهو حرام لأنه فساد في الأرض وإضرار بالمسلمين وزيغ وإلحاد في الدين

“Dosa yang ke empat puluh delapan adalah membuat fitnah, yaitu menjatuhkan manusia dalam kekacauan, kerusakan, pertikaian, cobaan tanpa ada faedah untuk agama. Hukumnya adalah haram, karena hal tersebut merupaka  perbuatan merusak di bumi, membuat mudlarat kepada kaum muslim dan penyimpangan dalam agama.”

كأن يغري) من الإغراء (الناس على البغي) من الباغي فقوله (والخروج على السلطان) عطف تفسير لأن الخروج عليه لا يجوز وكذا اعزلوه ولو ظالما لكونه فتنة أشد من القتل

“Contoh tindakan provokasi seperti meprovokasi manusia untuk memberontak dan keluar dari komando pemerintah, karena memberontak pemerintah adalah tidak boleh, demikian pula haram, seruan ‘copotlah dia (pemimpin)’, meski ia adalah orang yang zalim, sebab hal tersebut merupakan perbuatan fitnah yang lebih berat dari pada pembunuhan.” (Al Khadimi, Bariqah Mahmudiyyah, juz 3, hal. 123)

Larangan melakukan perbuatan provokasi termasuk di dalam khutbah berdasarkan ayat Al-Qur’an:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan Kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj: 10)

Demikian pula berdasarkan hadits Nabi:

الفتنة نائمة لعن الله من أيقظها

“Fitnah seperti macan tidur, Allah melaknat orang yang membangunkannya.” (HR. al-Rafi’I dan al-Dailami).

Kata fitnah ditafsiri oleh Imam al-Manawi sebagai berikut:

الفتنة المحنة وكل ما يشق على الإنسان وكل ما يبتلي الله به عباده فتنة

“Fitnah adalah cobaan, setiap hal yang berat bagi manusia dan cobaan Allah untuk hamba-hambaNya disebut dengan fitnah.” (Syekh al-Manawi, Faidl al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz4, hal. 606).

Demikianlah hukum khutbah yang provokatif. Meskipun secara hukum legal formal tetap sah sepanjang syarat-syarat dan rukun-rukun khutbah terpenuhi, namun hukumnya haram. Khutbah merupakan panggung para tokoh untuk menyampaikan pesan yang meneduhkan dan mencerahkan, bukan justru menjadi media untuk memecah belah umat. (M. Mubasysyarum Bih)