IMG-LOGO
Ubudiyah

Rasulullah Pun Bermaulid

Sabtu 17 November 2018 12:0 WIB
Share:
Rasulullah Pun Bermaulid
Dalam Al-Qur’an difirmankan, "Katakanlah (Muhammad), 'Dengan karunia Allah (Islam) dan rahmat-Nya (Al-Qur'an), hendaknya dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan (harta dunia)." (QS Yunus [10]:58). Melalui ayat tersebut Allah ﷻ memerintahkan manusia untuk bergembira dengan datangnya karunia Allah berupa Islam dan rahmat-Nya berupa Al-Quran. Perintah untuk bergembira tersebut dapat dimengerti sebab Islam adalah petunjuk yang menunjukkan manusia jalan yang benar, sedang Al-Qur'an adalah petunjuk yang mengajarkan manusia tentang kebenaran. Dengan keduanya manusia akan dapat meraih kebahagiaan yang paripurna yang tidak akan dicapai dengan mengumpulkan harta dunia seberapa pun banyaknya.

Sementara itu, Islam dan Al-Quran tidaklah hadir di muka bumi ini melainkan lewat lisan Baginda Rasulullah ﷺ. Karenanya, kegembiraan dengan kelahiran (maulid) Rasulullah ﷺ hakikatnya merupakan bagian dari kegembiraan atas datangnya Islam dan turunnya al-Qur'an. Bahkan, Imam Ibn Abbas radhiyallah 'anhu menjelaskan bahwa yang dimaksud 'rahmat' dalam ayat tersebut adalah Rasulullah ﷺ. Ini sebagaimana yang disebutkan pada ayat lain "Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam" (QS al-Anbiya [21]:107). 

Imam Ibnu Katsir menafsiri, "Allah Ta'ala memberitahukan bahwasanya Dia mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai rahmat bagi seluruh alam dan nikmat bagi manusia, maka barangsiapa yang menerimanya dan mensyukurinya ia akan mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan barangsiapa yang menolaknya serta mengingkarinya ia akan merugi di dunia dan akhirat". Dari sini jelas kiranya kenapa kemudian kelahiran Baginda Rasulullah ﷺ harus disyukuri, diperingati, dan dirayakan dengan sepenuh suka cita.

Baca juga:
Penjelasan Para Ulama Tentang Maulid Nabi Muhammad
Menjawab Pertanyaan Jebakan Para Anti-Maulid
Dalil tentang Merayakan Maulid Dapat Datangkan Syafaat Nabi
Pertanyaan yang kemudian kerap muncul terkait peringatan Maulid Nabi ialah "Apakah Rasulullah ﷺ sendiri memperingati hari kelahirannya?" Pertanyaan tersebut dapat dijawab berikut ini.

Pertama, apabila yang dimaksud dengan "memperingati" adalah memperingati secara mutlak, yakni tanpa membatasi bagaimana ekspresi peringatannya, maka Rasulullah ﷺ telah mempraktikannya. Beliau adalah orang pertama yang memperingati hari kelahirannya. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan kesunahan puasa hari senin beliau menjelaskan, "Hari itu adalah hari kelahiranku". Hadits tersebut menginformasikan bahwa Rasulullah ﷺ memperingati hari kelahirannya, yakni hari senin, dengan cara berpuasa.

Kemudian dalam hadits lain Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ suatu ketika mengunjungi Madinah dan menemukan orang-orang Yahudi sedang berpuasa di hari 'Asyura. Beliau ﷺ bertanya kepada mereka tentang puasa yang dilakukannya, mereka menjawab, "Ini adalah hari dimana Allah telah menenggelamkan Fir'aun dan menyelamatkan Musa darinya, sebab itulah kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah.". Rasulullah ﷺ lalu berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa karena beliau dan umat Islam merasa lebih berhak untuk memperingatinya daripada orang-orang Yahudi.

Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani mengomentari hadits tersebut, "Dari hadits tadi dapat diambil kesimpulan bahwa diperbolehkan mengekspresikan rasa syukur kepada Allah pada hari tertentu yang di situ dilimpahkan nikmat atau diselamatkan dari mara bahaya, dan hal itu dilakukan pada setiap tahun bertepatan dengan hari tersebut. Adapun rasa syukur itu bisa diekspresikan dengan berbagai ibadah seperti sujud syukur, puasa, sedekah, atau membaca Al-Qur'an. Lalu adakah nikmat yang lebih agung dari kelahiran sang Nabi yang menjadi rahmat?".

Peringatan-peringatan di atas juga sejalan dengan firman Allah ﷻ., "Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah" (QS Ibrahim [14]:5). Maksud dari "hari-hari Allah" adalah peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di antara umat-umat terdahulu berupa nikmat dan siksaan yang dialami mereka. Dan tidak ada kesangsian bahwasanya kelahiran Rasulullah ﷺ adalah termasuk "hari-hari Allah" bahkan yang paling agung di antaranya sehingga peringatan atasnya adalah suatu ibadah yang utama.

Kedua, apabila yang dimaksud dengan "memperingati" adalah memperingati dalam rupa perayaan (ihtifal) tertentu sebagaimana yang dilakukan kebanyakan umat muslim sekarang dengan berkumpul membaca kisah hidup beliau, bersedekah, berdzikir, membaca Al-Qur'an dan sebagainya, maka peringatan semacam itu merupakan hal baru (bid'ah) yang tidak dilakukan di masa Nabi ﷺ bahkan di masa generasi al-salaf al-shalih setelah beliau. Al-Hafizh Imam al-Sakhawi mengatakan, "Perayaan Maulid baru ada setelah kurun ketiga Hijriyah. Perayaan tersebut kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia dan kota-kota besar. Orang-orang bersedekah di malam harinya dengan berbagai macam jenis sedekah dan melakukan pembacaan Maulid Rasulullah ﷺ yang mulia. Saat itu, nampaklah bagi mereka karunia yang sempurna dan melimpah sebab berkahnya Maulid." Namun demikian, meski perayaan Maulid Nabi disebut sebagai bid'ah, ia masuk dalam kategori bid'ah yang baik (bid'ah hasanah) yang tentunya akan berpahala manakala dilakukan dengan niatan taqarrub. Perayaan Maulid dikategorikan sebagai bid'ah hasanah berdasarkan beberapa alasan berikut:

1. Maksud dari perayaan Maulid adalah mengingat kelahiran manusia termulia Baginda Rasulullah ﷺ, dan hal semacam itu telah dicontohkan sendiri oleh beliau ﷺ. 

2. Rasulullah ﷺ adalah rahmat yang layak untuk disyukuri dan disambut dengan kegembiraan, sementara syariat tidak membatasi bagaimana ekspresi rasa syukur dan kegembiraan itu asalkan tidak menimbulkan kemungkaran dan kerusakan.

3. Allah ﷻ. memerintahkan umat Islam untuk mengingat hari-hari-Nya, dan menyelenggarakan perayaan (ihtifal) kelahiran Rasulullah ﷺ merupakan salah satu upaya untuk "mengingat" hari-hari-Nya.

4. Berkumpul membaca kisah kehidupan beliau yang mulia, bersedekah, berdzikir, membaca Al Qur'an, menyelenggarakan pengajian adalah hal baik dan mempunyai banyak sekali manfaat terlebih di zaman sekarang. Ada banyak sekali nushus al-syari'at yang menjelaskan tentang keutamaan bersedekah, berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan mengaji.

5. Perayaan Maulid tidak pernah dilakukan oleh al-salaf al-shalih sebab saat itu mereka disibukkan dengan urusan penguatan kaedah-kaedah agama dan rukun-rukunnya, perluasan wilayah Islam (ekspansi), dan menolak gangguan musuh-musuh Islam yang mencoba menghalang-halangi dakwah Islam sehingga tidak terlintas dalam pikiran mereka gagasan untuk merayakan Maulid.

Di akhir tulisan, penulis kutipkan syair dari al-Hafizh Imam Syamsudin al-Dimasyqi di dalam kitab Maurid al-Shadi fi Maulid al-Hadi tentang kisah Abu Lahab yang mendapatkan keringanan azab setiap hari senin disebabkan saat Rasulullah ﷺ lahir ia turut merasa gembira yang lalu diekspresikannya dengan memerdekakan seorang budak. Imam al-Dimasyqi bersenandung,

إذا كان كافرا جاء ذمه * وتبّت يداه في الجحيم مخلّدا
أتى أنه في يوم الإثنين دائما * يخفّف عنه للسرور بأحمد
فما ظنّ بالعبد الذي كان عمره * بأحمد مسرورا ومات موحّدا

Jika ia (Abu Lahab) seorang kafir yang layak dicela,
yang binasa kedua tangannya dan kekal di neraka Jahim,
setiap hari senin untuk selama-lamanya,
azabnya diringankan karena gembira dengan (kelahiran) Ahmad
Lalu bagaimana prasangkamu dengan seorang hamba yang sepanjang umurnya,
bergembira dengan (kelahiran) Ahmad ﷺ padahal ia mati dalam keadaan bertauhid (mukmin)?

Semoga kita semua diberi kesemangatan dalam bermaulid, dan semoga kita mendapat keberkahan di bulan Maulid yang mulia ini. Wallahu Ta'ala 'Ala wa A'lam.


Muhammad Habib Mustofa, Ketua Rijalul Ansor PAC Losari Brebes & Dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon



Sumber rujukan :

Al-Bayan al-Qawim karya Syekh Ali Jumuah
Al-Ibda' fi Madhar al-Ibtida' karya Syekh Ali Mahfuzh
Al-Syari'ah wa al-Hayat, hasil wawancara dengan Syekh Wahbah al-Zuhaili
Haula al-Ihtifal karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki
Muhammad Rasulullah shallallah a'laihi wa sallam karya Syekh Muhammad Ridha
Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim karya Imam Ibnu Katsir
Tafsir Jami' al-Bayan karya Imam al-Thabari
  
Tags:
Share:
Jumat 9 November 2018 6:30 WIB
Keutamaan Niat Dibandingkan Amal
Keutamaan Niat Dibandingkan Amal
Ilustrasi (Malay Mail)
Meski amal sangat penting, namun niat atau azam (berkeinginan kuat) lebih utama dari pada amal. Hal ini berdasarkan hadits Rasululullah shallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi sebagai berikut:

نِيةُ المُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ

Artinya: “Niat seorang mukmin lebih utama dari pada amalnya.”

Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah (Dar Al-Hawi, 1994, hal. 27-28), menjelaskan keutamaan niat dibandingkan amal dengan tiga (3) gambaran keadaan sebagai berikut:

الأولى أن يعزم ويعمل. والثاني أن يعزم ولا يعمل مع القدرة على العمل. الثالثة أن يعزم على فعل أمر لا يستطيع فعله

Artinya: “Pertama, seseorang yang berazam kemudian berbuat. Kedua, seseorang yang berazam tetapi tidak berbuat meski ia memiliki kemanpuan untuk itu. Ketiga, seseorang yang berazam untuk melakukan sesuatu yang ia sendiri tidak mampu melakukannya.”

Dari kutipan di atas dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, orang yang berniat melakukan suatu amal kebaikan lalu mengerjakannya, maka kepada orang tersebut diberikan pahala mulai dari 10 kebaikan, 700 kebaikan, hingga berlipat-lipat. Hal ini, sebagaimana dijelaskan Sayyid Abdullah Al-Haddad, dengan mengutip hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebagaimana penggalan berikut: 

وان هم بها فعملها كتبها الله عز و جل عنده عشر حسنات إلى سبع مائة ضعف إلى أضعاف كثيرة

Artinya: “Dan apabila seseorang berniat melakukan sesuatu kebaikan lalu mengamalkannya, Allah ‘azza wa jalla akan mencatat pahalnya di sisi-Nya sebagai perbuatan 100 kebaikan sampai 700, bahkan berlipat-lipat ganda banyaknya.”

Kedua, seseorang yang berniat melakukan suatu amal kebaikan dan mampu melakukannya tetapi tidak jadi melakukannya, maka kepada orang tersebut diberikan pahala 1 kebaikan saja. Hal ini, sebagaimana dijelaskan Sayyid Abdullah Al-Haddad, dengan mengutip hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebagaimana penggalan berikut: 

فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة. 

Artinya: “Maka apabila seseorang berniat melakukan sesuatu kebaikan lalu tidak jadi melaksanakannya, Allah akan mencatat pahalanya di sisi-Nya satu kebaikan sempurna.”

Ketiga, seseorang yang berniat melakukan suatu amal kebaikan tetapi ternyata tidak mampu melakukannya, kepada orang tersebut diberikan pahala sebagaimana orang yang mampu melakukannnya. Hal ini sebagaimana penjelasan Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad (halaman 28) sebagai berikut: 

فله نية ما للعامل وعليه ما عليه

Artinya: “Bagi orang seperti itu disediakan pahala seperti yang disediakan bagi si pelaku baik dalam hal kebaikan ataupun kejahatan.”

Dari seluruh uraian diatas dapat diketahui bahwa niat lebih utama dari pada amal. Artinya Allah subhanhu wataála sangat memperhitungkan niat seseorang. Seseorang yang sudah berniat berbuat baik dan betul-betul melaksanakan dia mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Seseorang yang sudah berniat berbuat kebaikan tetapi tidak jadi melakukannya, ia tetap mendapatkan pahala. 

Bahkan orang yang sudah berniat melakukan kemaksiatan tetapi tidak jadi melakukannya juga mendapatkan pahala dari Allah karena mengurungkan niatnya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebagaimana penggalan berikut: 

وإن هم بسيئة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة، فان هم بها فعملها كتبها الله عنده سيئة واحدة. 

Artinya: “Dan bila seseorang berniat melakukan suatu kejahatan lalu ia tidak melaksanakan, Allah akan mencatat pahalanya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan sempurna, dan bila ia berniat melakukan suatu kejahatan kemudian melaksanakannya pula, maka Allah akan mencatatnya di sisi-Nya sebagai satu kejahatan. ”


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Rabu 7 November 2018 20:0 WIB
Kenyang sebelum Makanan Habis, Apa yang Harus Dilakukan?
Kenyang sebelum Makanan Habis, Apa yang Harus Dilakukan?
Ilustrasi (via Pinterest)
Sebagian masyarakat seringkali merasa dilematis saat makanan mereka tidak habis dan kondisi perut sudah terasa kenyang. Pada saat keadaan seperti inilah mereka dihadapkan pada dua pilihan antara menghabiskan makanan atau justru menyudahi makanan seketika itu juga. Ada yang memilih untuk menghabiskan makanan dengan dalih bahwa tidak menghabiskan makanan dan membiarkannya tidak termakan adalah perbuatan mubazir atau menyia-nyiakan harta, perbuatan ini jelas dilarang oleh syariat. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا* إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanandan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat inkar kepada tuhannya” (QS. Al-Isra’, Ayat 26-27). 

Sedangkan yang memilih menyudahi meneruskan makan saat sudah kenyang juga memiliki landasan bahwa makan di atas rasa kenyang (akl fauqa as-syiba’) adalah perbuatan yang juga dilarang oeh syariat, karena tergolong sebagai perbuatan israf yaitu berlebih-lebihan. Larangan ini seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an:

وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah kalian dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf, Ayat 31)

Berdasarkan berbagai dalil dan ketentuan di atas, manakah yang di dahulukan antara keduanya?

Dalam menjawab pertanyaan tersebut kiranya patut dipahami secara utuh apakah benar logika yang disampaikan bahwa tidak meneruskan atau tidak menghabiskan makanan termasuk bagian dari mubazir, seperti halnya yang sudah tertancap dalam persepsi umum masyarakat? Pada titik inilah perlu ditekankan pengertian dan ketentuan dari mubazir itu sendiri. Mubazir memiliki arti menggunakan sesuatu tidak pada tempat yang selayaknya, atau dalam istilah lain biasa dikenal dengan idlâ‘ah al-mâl (menyia-nyiakan harta) misalnya seperti makanan dilempar di jalan, minuman dibuang di tempat sampah, dan contoh-contoh lain yang sama. 

Pengertian ini persis seperti yang dijelaskan dalam kitab Faid al-Qadir:

والسرف صرف الشئ فيما ينبغي زائدا على ما ينبغي والتبذير صرفه فيما لا ينبغي.

“Arti israf adalah menggunakan sesuatu berlebihan dari ketentuan yang dianjurkan. Sedangkan arti mubazir adalah menggunakan sesuatu pada tempat yang tidak dianjurkan” (Abdurrouf al-Munawi, Faid al-Qadir, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1994, juz 5 Hal. 131)

Jika dipandang dari sudut pandang pengertian mubazir saja seolah-olah permasalahan ini (kenyang sebelum makanan habis) terhimpun dalam kategori mubazir. Yaitu ketika seseorang membiarkan makanannya tidak habis. Namun rupanya secara ketentuan dari haramnya mubazir atau menyia-nyiakan harta hanya terlaku dalam penggunaan yang muncul dari sebuah perbuatan seseorang (fi’lu) sehingga tidak mencakup terhadap membiarkan makanan untuk tidak dihabiskan, sebab hal ini tergolong bagian dari meninggalkan pekerjaan (tark) yang tidak sampai terkena hukum haram untuk dilakukan. Seperti yang tersirat dalam teks I’anah at-Thalibin:

ويكره أيضا ترك سقي الزرع والشجر عند الامكان لما فيه من إضاعة المال. فإن قيل: إضاعة المال تقتضي التحريم. أجيب: بأن محل الحرمة حيث كانت الاضاعة ناشئة عن فعل كإلقاء متاع في البحر بلا خوف ورمي الدراهم في الطريق، بخلاف ما إذا كانت ناشئة عن ترك عمل كما هنا فإنها لا تحرم، ولكنها تكره، كما علمت.

“Dimakruhkan pula membiarkan tanaman dan pepohonan tidak disirami air meski dalam keadaan bisa melakukannya. Sebab hal ini tergolong menyia-nyiakan harta. Jika dikritisi “menyia-nyiakan harta menuntut hukum haram (kenapa dalam permasalahan ini dihukumi makruh?)” maka Aku menjawabnya: “Haramnya menyia-nyiakan harta hanya ketika muncul dari sebuah perbuatan seperti membuang harta di laut tanpa adanya rasa khawatir (kapal tenggelam karena keberatan muatan), membuang uang di jalan. Berbeda ketika menyia-nyiakan harta muncul dari meninggalkan perbuatan (membiarkan harta) seperti dalam permasalahan ini. Maka hal ini tidak sampai dihukumi haram, tetapi hanya sebatas makruh, seperti halnya yang telah engkau ketahui” (Sayyid Abu Bakar Syatho’ Al-Dimyathi, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, Juz 4, Hal. 108)

Berdasarkan pemahaman referensi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi sebagian masyarakat mengenai mubazir dalam hal tidak menghabiskan makanan saat kenyang adalah hal yang keliru. Sehingga dalam keadaan demikian, sikap yang baik bagi seseorang adalah menyudahi makanannya saat sudah merasa kenyang, agar terhindar dari perbuatan israf (berlebih-lebihan) yang dilarang oleh syara’. 

Belum lagi ketika kita meninjau berbagai mudarat yang dihasilkan dari rasa kenyang bagi seseorang, seperti yang disinggung oleh Imam Syafi’i:

لأنّ الشبع يثقل البدن ويقسي القلب ويريل الفطنة ويجلب النوم ويضعف عن العبادة

"Karena kekenyangan akan memberatkan badan, mengeraskan (menghilangkan kepekaan) hati, menghilangkan kecerdasa, menarik rasa kantuk dan melemahkan (Seseorang) dalam ibadah" (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, Beirut, Muasssasah Ar-Risalah, 1993, juz 10, hal, 36)

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa tindakan yang baik untuk diambil dalam keadaan demikian adalah menyudahi makanannya dan membiarkan makanan itu tidak habis, sebab hal ini tidak termasuk bagian mubazir yang diharamkan oleh syariat. Terlebih jika makanan yang tidak kita habiskan tersebut masih bisa kita manfaatkan untuk hal lain yang mendatangkan nilai ibadah, seperti disedekahkan pada orang lain yang tidak mampu. Maka hal demikian justru akan mendatangkan pahala tersendiri. Wallahu a’lam. 

(M. Ali Zainal Abidin)

Selasa 6 November 2018 20:15 WIB
Rahasia Para Kiai Sering Memulai Pelajaran di Hari Rabu
Rahasia Para Kiai Sering Memulai Pelajaran di Hari Rabu
Ilustrasi: KH Said Aqil Siroj saat ngaji bersama KH Anwar Manshur di Lirboyo
Ada sebuah aturan tak tertulis yang berlaku di kebanyakan pesantren, di mana para Kiai biasanya memulai kegiatan pembelajaran di hari Rabu. Biasanya, pengajian kitab baru atau memulai lagi sebuah kajian setelah habis masa liburan pesantren dilakukan di hari Rabu atau malam Rabu. Hal ini ternyata bukan hanya kebetulan atau kebiasaan tak bermakna tetapi ada rahasia di balik itu.

Dalam sebuah hadits shahih tentang penciptaan alam semesta, dijelaskan bahwa Allah menciptakan cahaya di hari Rabu. Sebab ilmu juga dikenal sebagai cahaya bagi pemiliknya, maka dengan memulai kajian ilmu di hari Rabu diharapkan kajian tersebut bisa sempurna seperti sempurnanya cahaya yang diciptakan Allah untuk menyinari dunia. 

Tafâ’ul atau harapan berisi optimisme seperti ini dikenal sejak dahulu kala. Imam al-Ajluni (1676-1749 M), seorang pakar hadits dari Suriah dalam kitab Kasyf al-Khafâ’-nya menjelaskan:

وذكر برهان الإسلام عن صاحب الهداية أنه ما بدئ شيء يوم الأربعاء إلا وتم؛ فلذلك كان المشايخ يتحرون ابتداء الجلوس فيه للتدريس لأن العلم نور، فبدئ به يوم خلق النور

“Syekh Burhanuddin menyebutkan dari pengarang kitab al-Hidayah bahwasanya tidaklah sesuatu dimulai di hari Rabu kecuali menjadi sempurna. Maka karena itu, para guru berusaha memulai majelis di hari Rabu untuk mengajar sebab ilmu adalah cahaya, maka kajian ilmu dimulai di hari diciptakan cahaya.” (al-Ajluni, Kasy al-Khafâ’, juz I, halaman 19)

Itulah rahasia hari Rabu yang diyakini sebagai hari berkah sebab segala sesuatu yang dimulai di hari itu insyaallah akan berakhir sempurna. Keyakinan keberkahan hari Rabu ini bisa dilacak lebih jauh lagi ke masa Imam as-Sakhawi (1427-1497 M). Beliau menjelaskan:

وبلغني عن بعض الصالحين ممن لقيناه أنه قال: شكت الأربعاء إلى اللَّه سبحانه تشاؤم الناس بها فمنحها أنه ما ابتدئ بشيء فيها إلا تم. 

"Saya dengar dari sebagian ulama saleh yang kami temui, ia berkata: Hari rabu mengadu kepada Allah tentang anggapan sial orang-orang terhadapnya, maka Allah menganugerahkan bahwa apa pun yang dimulai di hari Rabu, maka pasti akan sempurna." (As-Sakhawi, al-Maqâshid al-Hasanah, juz I, halaman 575)

Wallahu a’lam


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember