IMG-LOGO
Trending Now:
Shalawat/Wirid

Mereka Berkata ‘Nabi Sudah Sempurna, Tidak Perlu Didoakan’

Sabtu 17 November 2018 18:0 WIB
Share:
Mereka Berkata ‘Nabi Sudah Sempurna, Tidak Perlu Didoakan’
Ilustrasi (Twitter)
Memasuki bulan Maulid, mulai bermunculan berbagai syubhat (propaganda) yang mengkritik tentang berbagai tradisi yang sudah mengakar di Nusantara ini. Mulai dari mengkritik perayaan Maulid, tawassul, ziarah kubur, serta tradisi peribadatan lain yang menurut cara pandang mereka bukan merupakan bagian dari ajaran Islam sebab tidak adanya dalil khusus yang menjelaskannya.

Salah satu hal yang dijadikan bahan kritikan dari berbagai tradisi ini adalah tradisi mendoakan Nabi Muhammad ﷺ, baik yang terlafalkan dalam doa-doa atau berupa ihda’ tsawab (pemberian hadiah pahala) kepada Nabi Muhammad ﷺ. Menurut mereka Nabi Muhammad adalah pribadi yang sempurna, tidak perlu didoakan atau diberi hadiah pahala, sebab selain belum ditemukan dalil yang menjelaskan diperintahkannya hal ini, pelaksanaan hal ini juga akan merendahkan nilai keluhuran Nabi Muhammad ﷺ dan memunculkan persepi seolah-olah Nabi Muhammad ﷺ sama dengan manusia lain yang membutuhkan panjatan doa dan zikir-zikir dari orang lain yang masih hidup. 

Pandangan demikian selintas terkesan logis dan masuk akal, banyak sekali orang yang terkecoh dengan hujjah-hujjah seperti ini hingga berimbas pada penolakan terhadap berbagai tradisi yang sama. Namun jika dicermati secara mendalam, segala bantahan dan sanggahan tentang pelaksanaan tradisi ini sangat mudah sekali untuk dijawab dan dimentahkan.

Sebenarnya kritik tentang masalah ini tidak hanya muncul di zaman sekarang. Adalah Imam Ibnu Taimiyah, salah satu pembesar mazhab Hanbali sekaligus “kiblat” penganut puritanisme, juga pernah mengkritik pelaksanaan doa dan ihda’ tsawab yang ditujukan pada Nabi Muhammad ﷺ. Beliau berpandangan bahwa tidak boleh ada yang berani bersikap pada Nabi Muhammad ﷺ yang derajatnya luhur kecuali dengan sesuatu yang diizinkan secara langsung oleh Nabi seperti mendoakan shalawat pada Nabi dan memohon wasilah (perantara) kepada Nabi Muhammad ﷺ, sehingga mendoakan Nabi selain dengan lafal shalawat serta ihda’ tsawab pada Nabi adalah sesuatu yang terlarang.

Pandangan Ibnu Taimiyah ini dibantah habis-habisan oleh para ulama yang tidak sependapat dengannya seperti Imam Subki serta ulama-ulama lain. Penulis akan sedikit mengulas berbagai bantahan yang disampaikan para ulama dalam menyikapi berbagai syubhat dari kelompok yang menolak permasalahan ini. 

Dalam Al-Qur’an dijelaskan:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab, Ayat 56)

Makna shalawat Allah pada Nabi dalam ayat di atas adalah Allah senantiasa merahmati dan meridhai Nabi, sedangkan makna shalawat malaikat adalah malaikat mendoakan dan meminta permohonan ampun untuk Nabi Muhammad ﷺ.

Berdasarkan ayat di atas, jika Allah dan Malaikat bershalawat pada Nabi yang salah satu kandungan artinya adalah mendoakan Nabi, lalu mengapa kita masih dilarang untuk mendoakan Nabi? Bahkan Mendoakan Nabi adalah salah satu wujud pelaksanaan perintah yang tercantum dalam akhir ayat di atas.

Imam Ibnu Abidin dalam Radd al-Mukhtar menjelaskan bahwa anjuran menghadiahkan pahala untuk orang lain juga mencakup terhadap Nabi Muhammad ﷺ, bahkan Nabi Muhammad ﷺ lebih berhak untuk dihadiahi pahala sebab jasanya yang telah menyelamatkan kita dari berbaga kesesatan (jahiliyah), oleh karenanya dalam menghadiahkan pahala pada Nabi Muhammad ﷺ terkandung rasa syukur dan pemberian yang baik (Ibnu Abidin, Radd al-Mukhtar, Juz 2, hal. 243).

Sifat kesempurnaan yang ada pada Nabi Muhammad ﷺ bukan berarti nabi tidak perlu lagi berdoa untuk kebaikan dirinya sendiri dan tidak butuh didoakan oleh orang lain, sebab dalam pepatah Arab dijelaskan “al-kamil qabilun li ziyadati al-kamal” yang memiliki arti hal yang sempurna masih dapat bertambah sempurna. Berdasarkan hal ini, mendoakan pada Nabi Muhammad ﷺ dengan doa kemuliaan, keagungan dan ketinggian derajat bukan menafikan sifat kesempurnaan yang ada pada Nabi, tapi justru menjadikan kesempurnaan yang ada pada Nabi menjadi bertambah sempurna.

Pembuktian hal ini misalnya seperti doa Nabi yang terdapat dalam Al-Qur’an:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah (wahai Muhammad): ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.” (QS. Al-Ahzab, Ayat 114)

Dan juga doa Nabi Muhammad ﷺ yang terdapat dalam hadits:

كان يقول في دعائه واجعل الحياة زيادة لي في كل خير

“Rasulullah ﷺ berkata dalam doanya “Jadikanlah hidupku bertambah dalam segala kebaikan.”

Berdasarkan dua dalil di atas sangat nyata bahwa derajat dan kesempurnaan yang ada pada Nabi Muhammad ﷺ dapat semakin bertambah.

Sedangkan dalil dari segi amaliyah atas legalnya melaksanakan tradisi ini, ditunjukkan oleh para sahabat dan para ulama yang melakukan sebuah amal yang pahalanya ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ seperti yang dijelaskan dalam Radd al-Mukhtar:

أن ابن عمر كان يعتمر عنه -ﷺ - عمرا بعد موته من غير وصية وحج ابن الموفق وهو في طبقة الجنيد عنه سبعين حجة وختم ابن السراج عنه - صلى الله عليه وسلم - أكثر من عشرة آلاف ختمة وضحى عنه مثل ذلك اهـ

“Sesungguhnya Ibnu Umar melaksanakan ibadah umrah yang pahalanya ditujukan untuk Nabi Muhammad ﷺ tanpa adanya wasiat dari beliau, Ibnu al-Muwaffiq yang derajatnya setara dengan sufi terkemuka, Imam Junaid, melaksanakan haji untuk Nabi Muhammad ﷺ sebanyak 70 kali. Ibnu as-Suraij mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari 10 ribu khataman dan menyembelih hewan sebanyak 10 ribu lebih yang pahalanya ditujukan untuk Nabi Muhammad ﷺ” (Ibnu Abidin, Radd al-Mukhtar, Juz 2, hal. 243)

Dengan demikian, tradisi masyarakat yang berupa mendoakan Nabi Muhammad ﷺ dan menghadiahkan pahala untuk Nabi Muhammad ﷺ merupakan tradisi yang sebenarnya sudah dilaksanakan oleh para ulama terdahulu dengan dalil yang sangat jelas sekaligus tidak terbantahkan dengan hujjah manapun, dalil dan penalaran yang sama juga berlaku dalam mendoakan dan menghadiahkan pahala kepada para wali dan ulama yang memilki derajat yang luhur di sisi Allah SWT. Wallahu a’lam.

(Ali Zainal Abidin)


Share:
Jumat 16 November 2018 18:0 WIB
Penentuan Jumlah Bilangan Suatu Wirid
Penentuan Jumlah Bilangan Suatu Wirid
Ilustrasi (via azhan.co)
Beberapa orang menganggap bahwa seluruh bilangan wirid haruslah ada tuntunan teks ayat atau hadits yang secara literal menunjukkan jumlah tertentu. Mereka menyangka bahwa jumlah bacaan wirid sama saja dengan jumlah rakaat shalat yang sudah ditentukan tanpa sedikit pun boleh dikurangi atau ditambah, apalagi ditentukan sendiri bilangannya. Anggapan seperti ini akan bertentangan dengan kebiasaan yang berlaku di kalangan kaum muslimin di seluruh dunia di mana terdapat banyak bacaan wirid yang disarankan agar dibaca dalam jumlah tertentu yang tak ditemukan dasar haditsnya, misalnya anjuran membaca shalawat Nariyah sebanyak 4.444 kali. Tak pelak, banyak tuduhan bid’ah yang keluar dari orang-orang yang belum mengerti.

Sebenarnya, penentuan bilangan suatu wirid tak harus berdasarkan hadits semata, namun bisa juga ditentukan melalui petunjuk ilham yang didapat hamba Allah yang shalih. Ini bisa terjadi secara akal dan tidak berlawanan dengan syariat. Dan, kenyataannya hal semacam ini memang terjadi bahkan di masa para sahabat. Simak riwayat berikut yang diceritakan dan dijadikan dalil pembenar oleh Syekh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya yang berjudul Jilâ' al-Afhâm:

عَن زيد بن وهب قَالَ لي ابْن مَسْعُود رَضِي الله عَنهُ يَا زيد بن وهب لَا تدع إِذا كَانَ يَوْم الْجُمُعَة أَن تصلي على النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم ألف مرّة تَقول اللَّهُمَّ صل على مُحَمَّد النَّبِي الْأُمِّي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم

"Dari Zain bin Wahb, Sahabat Ibnu Mas'ud berkata padaku: Wahai Zaid, bila hari jumat jangan engkau tinggalkan membaca shalawat atas nabi 1000 kali, katakan allahumma shalli ala Muhammad an-nabiyyi al-ummiyyi shallallahu alaihi wasallam." (Ibnu Qayyim, Jilâ' al-Afhâm, halaman 87)
Amaliyah wirid yang dianjurkan sahabat Ibnu Mas'ud di atas sama sekali tidak ada haditsnya, tidak redaksinya dan tidak pula jumlahnya. Yang bisa kita dapati hanyalah sebuah hadits dlaif (lemah) yang memerintahkan untuk membaca shalawat sebanyak 1000 kali tanpa pengkhususan hari tertentu dan hadits dlaif lain yang memerintahkan agar banyak-banyak membaca shalawat di hari Jumat. Bila kedua hadits dlaif ini digabung, maka hasilnya adalah sunnah memperbanyak shalawat di hari jumat, tanpa ada pembatasan bahwa jumlahnya harus seribu dan tak ada penentuan bagaimana redaksi shalawatnya. Bila memakai konsep bid'ah ala sebagian kelompok yang berlebihan dalam memahami tema bid'ah, maka tindakan Sahabat Ibnu Mas'ud ini tergolong bid'ah dan demikian juga dengan tindakan Syekh Ibnu Qayyim yang menukil dan berhujjah dengan itu. Namun teori mereka ini salah dan gegabah sehingga tak layak diperhitungkan. Tentu bukan suatu yang sederhana menganggap amalan seorang sahabat besar sekaliber Ibnu Mas’ud sebagai bid’ah.

Soal pembatasan jumlah bacaan wirid ini, harus diketahui bahwa ada dua jenis wirid yang berbeda:

Jenis pertama, adalah bacaan wirid yang jumlahnya telah ditentukan secara khusus (muqayyad) oleh Rasulullah ﷺ dalam bilangan tertentu tanpa ada satu pun hadits lain yang menunjukkan kemutlakan jumlahnya. Bacaan tipe ini tak boleh kita modifikasi jumlahnya, jangan dikurangi atau ditambahi bila ingin mendapat keutamaan sunnah. Contohnya adalah bacaan tasbih, tahmid dan takbir sehabis shalat yang masing-masing berjumlah 33 kali. Penentuan bilangan 33 kali ini disebutkan secara literal oleh Nabi Muhammad sendiri sehingga tak layak kita modifikasi. 

Jenis kedua, adalah bacaan yang jumlahnya dimutlakkan tanpa ada batasan khusus dari Rasulullah atau ada batasannya namun longgar. Jenis wirid ini kita bebas membacanya berapa kali sesuka dan sekuat kita setiap harinya. Dalil dari kebebasan penentuan bilangan ini dapat dilihat dari hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ قَالَ: حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

"Dari Abi Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: Siapa pun yang membaca ketika pagi dan sore Subhânallah wa bihamdihi seratus kali, maka tak akan datang seorang pun di hari kiamat yang membawa amal melebihinya kecuali seseorang yang membaca semisal itu atau lebih dari itu." (HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ، يَوْمَهُ ذَلِكَ، حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

"Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: Siapa pun yang membaca la ilaha illallah wahdahu lâ syarîka lahu lahu al-mulku walahu al-hamdu wahua 'ala kulli syai'in qadîr dalam sehari seratus kali, maka pahalanya menyamai memerdekakan sepuluh budak dan dicatat seratus kebaikan dan dihapus darinya seratus kesalahan dan dijaga dari setan di hari itu sampai sore. Dan, tidak ada seorang pun yang datang [di hari kiamat] dengan amal yang lebih utama dari orang itu kecuali orang yang membaca lebih banyak dari jumlah itu." (HR. Muslim)

Dari redaksi kedua hadits di atas kita bisa tahu bahwa jumlah seratus kali setiap hari yang diajarkan Rasulullah ternyata bukanlah batasan tetapi hanyalah sebuah pilihan. Bila ada orang yang setiap hari malah membaca 200, 300, atau semakin banyak wirid yang disebutkan dalam hadits, maka pahalanya juga semakin banyak sesuai jumlahnya. Karena jumlahnya tidak ditentukan, maka tidak dibenarkan adanya orang yang menuduh bahwa jumlah tertentu setiap hari adalah bid'ah. 

Harus dipahami bahwa kemutlakan jumlah itu artinya bebas sebebas-bebasnya mau dibaca dengan jumlah berapa pun setiap waktunya, mau bilangannya selalu sama atau tidak. Mau tiap hari dibaca 5 kali, 10 kali 1000 kali, 2000 kali atau berapa pun bebas. Mau dibaca kadang 100 kali, kadang 50 kali, kadang 20 kali juga terserah. Tak ada alasan untuk menyatakan bahwa konsisten akan jumlah tertentu semisal selalu seratus kali, selalu seribu kali atau jumlah lain setiap hari termasuk tindakan bid'ah atau membuat-buat syariat baru. Justru vonis bid’ah itulah yang malah bid'ah itu sendiri sebab pelakunya telah menyempitkan makna kemutlakan yang diberikan oleh Rasulullah ﷺ tanpa adanya izin spesifik dari Rasulullah ﷺ.

Sebab itulah, para ulama sering sekali memberikan nasihat untuk membaca bacaan tertentu dengan jumlah tertentu yang nanti akan berkhasiat tertentu pula. Penentuan redaksi, khasiat, waktu dan jumlah ini biasanya berdasarkan ilham yang sudah diuji coba berulang kali, bukan berdasarkan hadits. Yang harus dicatat, tak ada satu pun jumlah bacaan yang ditentukan ulama berdasarkan ilham tersebut yang tergolong muqayyad atau sudah ditentukan oleh Rasulullah sehingga memang mubah hukumnya menentukan jumlah tertentu sendiri. 

Pertimbangan lainnya, dalam berbagai hadits dijelaskan bahwa kaum muslimin diperintah agar menjaga keistiqamahan (konsistensi dalam beramal baik). Juga disebutkan bahwa Allah kurang menyukai apabila seseorang melakukan suatu amal kebaikan lantas kendor atau putus di tengah jalan. Salah satu redaksi haditsnya demikian:

فَإِنَّ اللهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا، وَأَحَبُّ الدِّينِ مَا دُوِمَ عَلَيْهِ

“Maka sesungguhnya Allah tidaklah kendor [dalam memberi pahala] hingga kalian menjadi kendor [untuk melakukan amal] dan amal agama yang paling disukai adalah apa yang dilakukan terus-menerus (istiqamah).” (HR. al-Baihaqi)

Untuk mengukur kadar keistiqamahan atau kekendoran suatu wirid tentu saja harus dihitung dengan jelas berapa jumlahnya setiap hari. Tanpa hitungan yang jelas, tak mungkin hal ini dapat diketahui pengamalnya. Tentu saja penentuan jumlah bilangan dengan niat semacam ini tak bisa masuk dalam kategori bid’ah menurut teori manapun atau perspektif siapa pun. Justru inilah cara untuk merealisasikan perintah agar istiqamah dalam berdzikir tersebut. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.

Jumat 16 November 2018 12:30 WIB
Makna Shalawatnya Allah kepada Hamba
Makna Shalawatnya Allah kepada Hamba
Ilustrasi (eliosh.info)
Salah satu keutamaan shalawat bagi orang yang membacanya adalah setiap satu shalawat yang dibaca akan dibalas dengan sepuluh shalawat oleh Allah subhânahû wa ta’âlâ. Ini berdasarkan hadits Rasulullah yang menyatakan:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ

Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. An-Nasai)

Dalam berbagai literatur bisa didapati penjelasan bahwa ketika Allah bershalawat kepada Baginda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam itu berarti Allah memberikan rahmat dan juga pujian bagi beliau dengan disertai pengagungan dan pemuliaan. Sedangkan shalawat yang dibacakan kepada nabi oleh para malaikat dan orang-orang mukmin bermakna permohonan doa kepada Allah agar rahmat dan pujian yang disertai pengagungan dan pemuliaan itu tetap terus dilimpahkan Allah kepada Baginda Rasulullah.

Dari penjelasan singkat di atas lahir satu pertanyaan, apa makna shalawatnya Allah kepada orang yang membaca shalawat kepada Rasulullah? Apakah dengan shalawat itu Allah juga mengagungkan dan memuliakan orang yang bershalawat sebagaimana Allah mengagungkan dan memuliakan Rasulullah?

Qadli ‘Iyadl sebagaimana dikutip oleh Sirojudin Al-Husaini di dalam kitab As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa makna bershalawatnya Allah kepada orang yang bershalawat kepada Nabi adalah Allah merahmati dan melipatgandakan pahala orang tersebut. Shalawatnya Allah yang secara dhahir berupa ucapan juga diperdengarkan kepada para malaikat sebagai bentuk pengagungan dan pemuliaan kepada orang tersebut. Ini sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadits qudsi:

وان ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منه

Artinya: “Bila hamba-Ku mengingat-Ku pada sebuah perkumpulan maka Aku mengingatnya pada perkumpulan yang lebih baik dari perkumpulan itu.” (Abdullah Sirajudin Al-Husaini, As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, [Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990], hal. 100)

Baca juga:
Allah, Malaikat, dan Nabi Bershalawat kepada Pembaca Shalawat
Apa Makna Allah dan Malaikat Bershalawat kepada Nabi?
Jumlah Minimal dalam Memperbanyak Bacaan Shalawat

Lebih lanjut Al-Husaini menuturkan, besarnya pahala dan berlipatgandanya shalawat yang diberikan Allah kepada orang yang bershalawat kepada Nabi di dalamnya ada pemberitahuan Allah betapa Allah sangat memuliakan kekasih-Nya yakni Baginda Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Dengan pahala yang besar itu pula Allah mewartakan keutamaan beliau dibanding para nabi dan rasul yang lain.

Ada sebuah kisah yang menunjukkan alasan di atas. Satu hari Abdurrahman bin Auf membuntuti Rasulullah yang sedang keluar rumah. Beliau memasuki sebuah kebun kurma dan tiba-tiba beliau bersujud lama sekali. Melihat lamanya sujud Rasulullah sampai-sampai Abdurrahman bin Auf yang sedari tadi mengikutinya merasa khawatir kalau-kalau Allah telah mewafatkan beliau. Namun ia merasa lega ketika kemudian Rasulullah bangkit dari sujudnya.

Ketika Abdurrahman bin Auf mengutarakan kekhawatirannya Rasulullah menjelaskan bahwa baru saja malaikat Jibril datang dan mewartakan bahwa Allah berfirman, “barangsiapa yang bershalawat kepadamu maka aku (Allah) bershalawat kepadanya, dan barangsiapa yang bersalam kepadamu maka aku (Allah) bersalam kepadanya.”

Mendengar berita dari malaikat Jibril ini Rasulullah kemudian bersujud dalam waktu yang lama sebagai rasa syukur atas pemuliaan Allah terhadap dirinya dengan cara memberikan pahala yang banyak terhadap orang yang bershalawat kepadanya.

Sebuah ilustrasi kecil tentang hal ini. Bila ada seorang tetangga yang begitu menghormati dan mengasihi anak Anda yang sangat Anda sayangi, apa yang akan Anda lakukan kepada tetangga tersebut? Tentunya Anda akan sangat berterima kasih dan memberikan rasa hormat yang besar terhadap tetangga tersebut.

Kiranya demikian pula dengan Allah subhânahû wa ta’âlâ. Ketika kekasih-Nya dimuliakan dengan shalawat, Ia balas pembacanya dengan shalawat yang lebih banyak dan lebih agung demi memuliakan sang kekasih dan orang yang mengagungkannya. Wallâhu a’lam

(Yazid Muttaqin)

Jumat 16 November 2018 9:30 WIB
Penentuan Khasiat Suatu Wirid dalam Pandangan Islam
Penentuan Khasiat Suatu Wirid dalam Pandangan Islam
Seringkali kita mendengar dari para guru atau dari tokoh tertentu tentang suatu bacaan yang apabila dibaca dengan tata cara tertentu, maka akan menghasilkan khasiat tertentu. Beberapa orang mempermasalahkan amalan semacam ini sebab dianggap tidak ada haditsnya atau tidak ada tuntunannya dari Rasulullah sehingga mereka berasumsi bahwa hal seperti ini adalah bagian dari bidah yang sesat itu. Padahal, sebenarnya fenomena semacam ini bukan hal baru.

Di masa Rasulullah Muhammad ﷺ, penentuan khasiat suatu bacaan tanpa diajarkan oleh Rasul sudah terjadi. Dalam kitab Shahih-nya, Imam Bukhari meriwayatkan kisah panjang berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا، حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ العَرَبِ، فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ، فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الحَيِّ، فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ شَيْءٌ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاَءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ نَزَلُوا، لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ، فَأَتَوْهُمْ، فَقَالُوا: يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ، وَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ، فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَعَمْ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْقِي، وَلَكِنْ وَاللَّهِ لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُونَا، فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا، فَصَالَحُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنَ الغَنَمِ، فَانْطَلَقَ يَتْفِلُ عَلَيْهِ، وَيَقْرَأُ: الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ، فَانْطَلَقَ يَمْشِي وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ، قَالَ: فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمُ الَّذِي صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: اقْسِمُوا، فَقَالَ الَّذِي رَقَى: لاَ تَفْعَلُوا حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِي كَانَ، فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا، فَقَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا لَهُ، فَقَالَ: «وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ»، ثُمَّ قَالَ: «قَدْ أَصَبْتُمْ، اقْسِمُوا، وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ سَهْمًا» فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Dari Abu Sa'id radliallahu 'anhu berkata; Ada rombongan beberapa orang dari sahabat Nabi ﷺ yang bepergian dalam suatu perjalanan hingga ketika mereka sampai di salah satu perkampungan Arab penduduk setempat mereka meminta agar bersedia menerima mereka sebagai tamu peenduduk tersebut namun penduduk menolak. Kemudian kepala suku kampung tersebut terkena sengatan binatang lalu diusahakan segala sesuatu untuk menyembuhkannya namun belum berhasil. Lalu diantara mereka ada yang berkata: "Coba kalian temui rambongan itu semoga ada diantara mereka yang memiliki sesuatu. Lalu mereka mendatangi rambongan dan berkata: "Wahai rambongan, sesunguhnya kepala suku kami telah digigit binatang dan kami telah mengusahakan pengobatannya namun belum berhasil, apakah ada diantara kalian yang dapat menyembuhkannya?" Maka berkata, seorang dari rambongan: "Ya, demi Allah aku akan mengobati namun demi Allah kemarin kami meminta untuk menjadi tamu kalian namun kalian tidak berkenan maka aku tidak akan menjadi orang yang mengobati kecuali bila kalian memberi upah. Akhirnya mereka sepakat dengan imbalan puluhan ekor kambing. Maka dia berangkat dan membaca Alhamdulillah rabbil 'alamiin (QS. al-Fatihah) seakan penyakit lepas dari ikatan tali padahal dia pergi tidak membawa obat apa pun. Dia berkata: "Maka mereka membayar upah yang telah mereka sepakati kepadanya. Seorang dari mereka berkata: "Bagilah kambing-kambing itu!" Maka orang yang mengobati berkata: "Jangan kalain bagikan hingga kita temui Nabi ﷺ lalu kita ceritakan kejadian tersebut kepada Beliau ﷺ dan kita tunggu apa yang akan Beliau perintahkan kepada kita". Akhirnya rombongan menghadap Rasulullah ﷺ lalu mereka menceritakan peristiwa tersebut. Beliau berkata: "Kamu tahu dari mana kalau al fatihah itu bisa sebagai ruqyah (jampi)?" Kemudian Beliau melanjutkan: "Kalian telah melakukan perbuatan yang benar, maka bagilah upah kambing-kambing tersebut dan masukkanlah aku dalam sebagai orang yang menerima upah tersebut", lalu Rasulullah ﷺ tertawa." (HR. Bukhari)

Baca juga:
Ibnu Taymiyah dan Imam Nawawi Mengarang Wirid Sendiri
• Jumlah Minimal dalam Memperbanyak Bacaan Shalawat
Simak pertanyaan Rasulullah kepada sahabat itu "Kamu tahu dari mana kalau al-Fatihah bisa sebagai ruqyah?". Ini menunjukkan bahwa Rasulullah belum pernah mengajari fungsi al-Fatihah sebagai ruqyah tetapi sahabat tadi berinisiatif sendiri atau dalam kata lain menentukan khasiat sendiri tanpa ada tuntunan wahyu atau hadits. Hal ini diperjelas dengan riwayat lain dari Imam Daraquthni sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Hajar berikut:

وللدَّارَقُطْنِيِّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَيْءٌ أُلْقِيَ فِي رُوعِي وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ عِلْمٌ مُتَقَدِّمٌ بِمَشْرُوعِيَّةِ الرُّقَى بِالْفَاتِحَةِ

"Daraquthni dari sisi ini mempunyai riwayat 'Maka aku berkata: Wahai Rasul, itu adalah sesuatu yang disampaikan ke dalam hatiku'. Hal ini jelas sekali bahwa sahabat itu tidak punya pengetahuan sebelumnya tentang disyariatkannya ruqyah dengan Fatihah." (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâri, juz IV, halaman 457)

Penjelasan dari riwayat Imam Daraquthni ini menunjukkan bahwa sahabat itu mendapat semacam ilham dalam hatinya bahwa al-Fatihah bisa digunakan sebagai ruqyah. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa khasiat suatu ayat atau bacaan dzikir yang disepakati sebagai kebaikan bisa diketahui dengan jalan ilham. Rasul sama sekali tidak berkata "Kamu melakukan bid'ah" atau bertanya "Mana dalilnya bahwa al-Fatihah bisa sebagai ruqyah?", melainkan menyetujui itu dan bahkan meminta bagian dari upah ruqyah itu sebagai tanda dukungan beliau atas inisiatif cerdas sahabat tersebut.

Jadi soal penentuan khasiat tanpa tuntunan ayat atau hadits itu diperbolehkan berdasarkan hadits sahih di atas. Kita tak bisa berkata bahwa ini khusus Surat Fatihah saja dan khusus khasiat sebagai ruqyah saja sebab yang demikian berarti takhshîsh bighairi mukhasshish, mengkhususkan cakupan suatu dalil tanpa adanya dalil hadits lain yang menyatakan kekhususan itu. Pengkhususan semacam ini sama saja dengan menambah-nambah syariat sendiri atau dengan kata lain perbuatan bid’ah. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.