IMG-LOGO
Jumat

Bolehkah Menggabungkan Mandi Janabah dan Mandi Jumat?

Senin 19 November 2018 19:0 WIB
Share:
Bolehkah Menggabungkan Mandi Janabah dan Mandi Jumat?
Ilustrasi (utilities-me.com)
Salah satu adab yang dianjurkan Nabi di hari Jumat adalah mandi Jumat. Anjuran mandi Jumat tidak hanya bagi laki-laki, namun juga bagi perempuan yang berniat menjalankan Jumat. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda:

مَنْ أَتَى الْجُمُعَةَ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ النِّسَاءِ فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ لَمْ يَأْتِهَا فَلَيْسَ عَلَيْهِ غُسْلٌ

“Barangsiapa dari laki-laki dan perempuan yang menghendaki Jumat, maka mandilah. Barangsiapa yang tidak berniat menghadiri Jumat, maka tidak ada anjuran mandi baginya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Waktu pelaksanaan mandi Jumat dimulai sejak terbit fajar Shadiq sampai pelaksanaan Jumat. Lebih utama dilakukan menjelang keberangkatan menuju tempat shalat Jumat. Mandi Jumat juga bisa diqadla’ pelaksanaannya bila terlewat dari waktunya.

Persoalan muncul saat pagi hari Jumat janabah menghampiri. Mimpi basah atau melakukan hubungan suami istri menyebabkan seseorang wajib mandi janabah. Pertanyaannya kemudian, bolehkan niat mandi janabah dibarengkan dengan mandi Jumat? Apakah mendapat pahala keduanya?

Ulama di kalangan mazhab Syafi’i berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian ulama berpendapat, hukumnya tidak sah, baik janabah atau mandi Jumatnya. Pendapat ini dipilih oleh Syekh Abu Sahl al-Sha’luki. Menurut versi ini, mandi janabah dan mandi Jumat harus dilaksanakan sendiri-sendiri. Sehingga dalam pelaksanaannya dibutuhkan dua kali mandi, mandi janabah dan  mandi jumat. Tidak ada ketentuan mana yang harus didahulukan.

Sementara menurut mayoritas ulama, hukumnya boleh dan sah. Satu kali mandi dengan dua niat sekaligus, mandi janabah dan mandi Jumat, menurut pendapat ini diperbolehkan dan dapat hasil dua pahala.

Syekh al-Imam Syarafuddin Yahya al-Nawawi mengatakan:

ولو نوى بغسله غسل الجنابة والجمعة حصلا جميعا هذا هو الصحيح وبه قطع المصنف في باب هيئة الجمعة والجمهور وحكي الخراسانيون وجها انه لا يحصل واحد منهما: قال امام الحرمين هذا الوجه حكاه أبو علي وهو بعيد قال ولم أره لغيره وحكاه المتولي عن اختيار ابي سهل الصعلوكي

“Apabila berniat mandi janabah dan mandi Jumat, maka keduanya hasil semua. Ini adalah pendapat al-Shahih dan ditegaskan oleh sang pengarang dalam bab tata cara Jumat, demikian pula ditegaskan oleh mayoritas ulama. Dan ulama Khurasan menceritakan satu pendapat bahwa tidak hasil keduanya. Al-Imam al-Haramain berkata, ini adalah pendapat yang diceritakan oleh Imam Abu Ali, ini adalah pendapat yang jauh dari kebenaran, aku tidak pernah mengetahui selain dari kutipan Abu Ali ini. Pendapat ini juga dikutip al-Imam al-Mutawalli dari pendapat yang dipilih oleh Imam Abu Sahl al-Sha’luki. (Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 1, hal. 368).

Bila melihat pertimbangan keutamaan, mandi janabah dan jumat sebaiknya diniati dan dilakukan sendiri-sendiri, untuk menghindari pendapat yang tidak mengesahkan diniati secara bersamaan. Sesuai dengan kaidah fiqih:

الخروج من الخلاف مستحب

“Keluar dari perbedaan ulama adalah sunah.”

Ketika dilakukan sendiri-sendiri, para ashab menegaskan yang lebih utama adalah melakukan mandi janabah terlebih dahulu kemudian disusul mandi Jumat.

Syekh Zainuddin al-Malibari menegaskan:

ـ ( فرع ) لو اغتسل لجنابة ونحو جمعة بنيتهما حصلا وإن كان الأفضل إفراد كل بغسل 

“Cabangan permasalahan. Apabila seseorang mandi janabah dan semisal mandi Jumat dengan diniati keduanya, maka hasil keduanya, meski yang lebih utama adalah menyendirikan masing-masing mandi tersebut. (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in Hamisy Hasyiyah I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 79).

Syekh Abu Bakr bin Syatha memberi komentar referensi di atas dalam keterangannya sebagai berikut:

ـ (قوله حصلا) أي حصل غسلهما كما لو نوى الفرض وتحية المسجد  ( قوله وإن كان الأفضل إلخ ) غاية للحصول  وقوله إفراد كل بغسل قال ع ش قال في البحر والأكمل أن يغتسل للجنابة ثم للجمعة ذكره أصحابنا  اه عميرة  اه

“Ucapan Syekh Zainuddin, maka hasil keduanya, maksudnya hasil kedua mandi itu sebagaimana permasalahan niat shalat fardlu sekaligus niat tahiyyatul masjid. Ucapan Syekh Zainuddin, meski yang lebih utama adalah menyendirikan masing-masing, ini adalah puncak keabsahan. Syekh Ali Syibramalisi berkata, al-Imam al-Rauyani berkata, yang lebih sempurna adalah mandi janabah terlebih dahulu kemudian mandi Jumat. Demikian disebutkan oleh para ashab. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Hasyiyah I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 79)

Demikianlah penjelasan mengenai hukum mandi janabah dilakukan bersamaan dengan mandi Jumat. Semoga bermanfaat dan bisa dipahami dengan baik. Wallahu a’lam.

(M. Mubasysyarum Bih)

Tags:
Share:
Senin 19 November 2018 15:0 WIB
12 Adab Khatib Menurut Imam Al-Ghazali
12 Adab Khatib Menurut Imam Al-Ghazali
Beberapa shalat mensyaratkan adanya khutbah dan menjadi bagian integral dengan shalat tersebut. Misalnya adalah shalat Jumat yang harus didahului dengan khutbah yang disampaikan oleh khatib. Imam Al-Ghazali dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, t.th., halaman 437), menyebutkan adab-adab seorang khatib sebagai berikut:

أداب الخطيب: يأتى المسجد وعليه السكينة والوقار، ويبدأ بالتحية ويجلس وعليه الهيبة، و يمتنع عن التخاطب، وينتظر الوقت، ثم يخطو إلى المنبر و عليه الوقار، كأنه يحب أن يعرض ما يقول على الجبار، ثم يصعد للخشوع، ويقف على المرقاة بالخشوع ويرتقي بالذكر، ويلتفت إلى مستمعيه باجتماع الفكر، ثم يشيرإليهم بالسلام ليستمعوا منه الكلام، ثم يجلس للأذان فزعا من الديان، ثم يخطب بالتواضع، ولا يشير بالأصابع، ويعتقد ما يقول لينتفع به، ثم يشير اليهم بالدعاء، وينزل إذا أخذ المؤذن في الإقامة، ولا يكبر حتى يسكتوا، ثم يفتتح الصلاة، ويرتل ما يقرأ. 

Artinya: “Adab khatib, yakni berangkat ke masjid dengan hati dan pikiran tenang; terlebih dahulu shalat sunnah dan duduk dengan khidmat; tidak berbincang-bincang dan menunggu waktu; kemudian melangkah ke mimbar dengan rasa terhormat seolah-olah senang mengatakan sesuatu yang akan disampaikan kepada Yang Maha Perkasa; kemudian naik dan berdiri di tangga dengan khusyu’ sambil berdzikir; berputar untuk melayangkan pandangan kepada para pendengarnya dengan penuh konsentrasi kemudian menyampaikan salam kepada pendengar agar mereka mendengarkan; kemudian duduk untuk mendengarkan adzan dengan penuh rasa takut kepada Yang Maha Kuasa; kemudian berkhutbah dengan penuh tawadhu’; tidak menunjuk dengan jari-jari; merasa yakin bahwa yang disampaikan bermanfaat; kemudian memberi isyarat kepada makmun agar berdoa; turun dari mimbar jika muadzin sudah bersiap-siap iqamat; tidak bertakbir sebelum jamaah tenang; kemudian mulai shalat dan membaca ayat-ayat Al-Qurán dengan tartil.”

Dari kutipan di atas dapat diuraikan kedua belas adab khatib sebagai berikut:

Pertama, berangkat ke masjid dengan hati dan pikiran tenang. Seorang khatib memiliki tanggung jawab penuh terhadap sah tidaknya khutbah yang dia sampaikan terutama yang menyangkut syarat-syarat dan rukun-rukun khutbah. Oleh karena itu seorang khatib hendaknya dalam kondisi fisik dan psikis yang baik ketika menyampaikan khutbah.  

Kedua, terlebih dahulu shalat sunnah dan kemudian duduk dengan khidmat. Seorang khatib setelah sampai dan memasuki masjid hendaknya melakukan shalat sunnah sebelum duduk menunggu tibanya waktu shalat Jumat dengan tidak berbincang-bincang dengan orang-orang di sekitarnya kecuali sangat terpaksa. 

Ketiga, melangkah menuju mimbar dengan rasa terhormat seakan-akan hendak mengatakan sesuatu kepada Yang Maha Perkasa. Seorang khatib hendaknya merasa percaya diri dengan tugas yang dijalankan karena ia memang sedang melaksanakan tugas keagamaan yang sangat penting dan terhormat. 

Keempat, naik ke tangga mimbar dan berdiri di mimbar dengan khusyu’ sambil berdzikir. Sesampai di mimbar, seorang khatib hendaknya berdiri dengan khusyu’ dan selalu mengingat Allah dengan bacaan-bacaan dzikir. Hal ini untuk membantu mengkondisikan suasana sakral karena khutbah tidak sama dengan pengajian umum yang bersifat bebas. 

Kelima, berputar untuk menatap para hadirin dengan penuh konsentrasi dan kemudian segera beruluk salam kepada mereka agar mereka mendengarkan. Hal ini penting karena para jamaah hendaknya mendengarkan apa yang disampaikan khatib dengan baik. Seorang khatib dalam menyampaikan khutbahnya sebaiknya tidak ngelantur, apalagi keluar dari konteks. 

Keenam, duduk untuk mendengarkan adzan dengan penuh rasa takut kepada Yang Maha Kuasa. Setelah beruluk salam khatib hendaknya duduk di kursi yang telah disediakan untuk mendengarkan adzan yang dikumandangkan oleh muadzin. Adzan tersebut hendaknya direspon oleh khatib dengan bacaan-bacaan tertentu secara lirih termasuk bacaan doa seusai adzan dikumandangkan. 

Ketujuh, seusai adzan seorang khatib menyampaikan khutbahnya dengan sikap tawadhu’ dan tidak menunjuk dengan jari-jari. Seorang khatib sebaiknya tidak menunjukkan sikap sombong atau bahkan arogan baik yang tercermin dalam kata-kata maupun dalam bahasa tubuh. Oleh karena itu, penggunaan jari-jari untuk menunjuk sesuatu atau seseorang sebagaimana biasa dilakukan dalam orasi politik harus dihindari selama khutbah berlangsung. 

Kedelapan, merasa yakin bahwa yang disampaikan bermanfaat. Materi yang disampaikan dalam khutbah harus dipastikan berisi tentang hal-hal yang bermafaat bagi para jamaah seperti ajakan untuk selalu bertakwa kepada Allah subhanu wat’ala dan berakhlak mulia. Oleh karena itu seorang khatib hendaknya menyiapakan materi yang baik dan benar sebelum naik ke mimbar. 

Kesembilan, memberi isyarat kepada jamaah agar berdoa. Pada saat khatib sampai pada doa, ia hendaknya memberi isyarat dengan mengangkat tangannya agar para hadirin mengetahui dan mengikutinya dengan mengangkat tangan sambil mengamini doa yang dipanjatkannya. 

Kesepuluh, turun dari mimbar jika muadzin sudah bersiap-siap iqamat. Seusai khutbah, khatib hendaknya tidak langsung turun dari mimbar hingga muadzin mulai menyerukan iqamat yang kemudian diikuti para jamaah dengan berdiri. 

Kesebelas, tidak bertakbir sebelum jamaah tenang. Khatib bisa sekaligus bertindak sebagai imam. Sebelum memulai takbiratul ihram, ia harus memperhatikan keadaan para jamaah, apakah sudah berdiri dengan tenang dan diam atau masih ada yang bergerak merapatkan barisan. Jika jamaah dalam jangakaun pandangannya sudah terlihat diam dan berdiri dengan rapat, ia bisa memulai takbiratul ihram. 

Kedua belas, mulai shalat dan membaca ayat-ayat Al-Qurán dengan tartil. Setelah takbiratul ihram yang diikuti oleh para jamaah, imam dapat membaca surat Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surat lainnya secara tartil. 

Demikianlah kedua belas adab khatib sebagaimana disampaikan Imam Al-Ghazali. Poin nomor 1 hingga nomor 6 dilakukan sebelum adzan dikumandangkan oleh muadzin. Poin nomor 7 hingga nomor 9 dilakukan setelah adzan dikumandangkan. Poin nomor 10 hingga nomor 12 dilakukan setelah muadzin menyerukan iqamah. Kedua belas adab ini penting diketahui oleh para khatib khususnya para khatib pemula yang belum terbiasa. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Sabtu 17 November 2018 15:30 WIB
Hukum Batalkan Shalat Jumat karena Kehujanan
Hukum Batalkan Shalat Jumat karena Kehujanan
Ilustrasi (ibtimes.co.uk)
Musim kemarau telah lewat, pertanda sebagian besar bumi di Nusantara bakal sering diguyur hujan. Hujan sebagaimana difirmankan Allah adalah rahmat untuk sekalian alam. Dalam firman-Nya, Allah menegaskan bahwa turunnya hujan merupakan salah satu yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada manusia.

Hujan bukan menjadi halangan untuk menjalankan ibadah. Namun problem terkadang muncul saat hujan melanda dengan begitu deras di tengah-tengah pelaksanaan shalat Jumat bagi jamaah yang shalat di luar masjid, mengingat daya tampung masjid yang tidak cukup memadai. Pertanyaannya adalah, saat kondisi kehujanan tersebut, bolehkah mereka membatalkan shalat Jumatnya? Jika tidak boleh, apa yang harus mereka lakukan?. 

Pada dasarnya, memutus ibadah wajib tanpa ada uzur, termasuk shalat Jumat hukumnya haram. Syekh Muhammad bin Salim bin Sa’id Babashil mengatakan:

ومنها (قطع الفرض) أداء كان أوقضاء ولو موسعا وصلاة كان أو غيرها كحج وصوم واعتكاف بأن يفعل ما ينافيه لأنه يجب إتمامه بالشروع فيه لقوله تعالى ولا تبطلوا أعمالكم ومن المنافي أن ينوي قطع الصلاة التي هو فيها ولو إلى صلاة مثلها 

“Di antara makshiat badan adalah memutus ibadah fardlu, baik ada’ atau qadla’, meski ibadah yang dilapangkan waktunya, baik ibadah shalat atau lainnya seperti haji, puasa dan i’tikaf. Memutus ibadah fardlu maksudnya dengan sekira melakukan perkara yang merusaknya, sebab ibadah fardlu wajib disempurnakan ketika sudah berlangsung pelaksanaannya, berdasarkan firman Allah Swt, dan janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian. Termasuk perkara yang merusak shalat adalah niat memutus shalat yang tengah dilakukan, meski berpindah niatnya menuju shalat yang lain. (Syekh Muhammad bin Salim bin Sa’id Babashil, Is’ad al-Rafiq, hal. 121).

Begitu pentingnya menjaga diri untuk tetap bertahan di dalam shalat, syariat melarang membatalkan shalat saat di tengah shalat terdapat dlaruat seperti kebakaran, perang berkecamuk atau yang sejenis. Dalam kondisi yang demikian, kewajibannya adalah shalat dengan cara syiddah al-khauf, yaitu shalat dalam kondisi yang paling memungkinkan, sambil lari, membelakangi kiblat atau melakukan gerakan-gerakan berat sekalipun, sesuai dengan kebutuhannya.

Syekh Zainuddin al-Malibari mengatakan:

ـ (وخامسها استقبال ) عين ( القبلة ) أي الكعبة بالصدر فلا يكفي استقبال جهتها خلافا لأبي حنيفة رحمه الله تعالى ( إلا في ) حق العاجز عنه وفي صلاة ( شدة خوف ) ولو فرضا فيصلي كيف أمكنه ماشيا وراكبا مستقبلا أو مستدبرا كهارب من حريق وسيل وسبع وحية ومن دائن عند إعسار وخوف حبس

“Yang kelima adalah menghadap tepat ke kiblat, yaitu Ka’bah. Maka tidak cukup menghadap arahnya saja, berbeda menurut pendapat Abu Hanifah. Kecuali bagi orang yang tidak mampu menghadap kiblat dan dalam shalat syiddah al-khauf, meski shalat fardlu, maka cukup shalat dengan kondisi semampunya, berjalan dan menaiki kendaraan, menghadap atau membelakangi kiblat, seperti orang yang lari dari kebakaran, kebanjiran, binatang buas, ular, orang yang memiliki hak piutang ketika tidak mampu membayar dan khawatir dipenjara”. (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in Hamisy I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 145).

Dalam komentarnya atas referensi di atas, Syekh Abu Bakr bin Syatha mengatakan:

ـ (قوله: وفي صلاة شدة خوف) أي في قتال مباح، كقتال المسلمين للكفار، وقتال أهل العدل للبغاة، وما ألحق به، كهرب من حريق وسيل وسبع وحية.

“Ucapan Syekh Zainuddin, dan dalam shalat syiddah al-Khauf, maksudnya di dalam peperangan yang mubah, seperti perang menghadapi pasukan non muslim, perang melawan para pemberontak dan yang disamakan dengan hal-hal tersebut, seperti lari dari kebakaran, kebanjiran, binatag buas dan ular. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 145).

Berkaitan dengan hujan yang melanda di tengah shalat, menurut Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, bila hujan dikhawatirkan dapat merusak harta, misalkan seperti peci, smartphone, maka diperbolehkan melakukan shalat syiddah al-khauf, shalat sambil lari mencari tempat berteduh, setelah menemukan tempat yang teduh, kemudian menjalankan shalat dengan normal.

Syekh Abdul Hamid al-Syarwani mengatakan:

أقول ويؤخذ من قولهم المذكور أيضا أنه لو جاء نحو المطر في الصلاة على نحو كتابه جازت له صلاة شدة الخوف إذا خاف ضياعه حتى على مرضى الشارح فيمن أخذ ماله الخ لأنه خائف هنا كما مر

“Aku berkata, diambil dari ucapan para ulama yang telah disebutkan, bahwa bila datang semisal hujan di tengah shalat mengenai kitabnya, boleh melakukan shalat syiddah al-khauf bila khawatir tersia-sia, meski mengikuti pola yang diterima sang pensyarah dalam kasus orang yang diambil hartanya, karena dalam kondisi hujan yang mengenai kitab ini, seseorang disebut orang yang khawatir seperti keterangan yang telah lewat”. (Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 16).

Dalam pandangan yang lain, sebagian ulama membolehkan untuk memutus shalat ketika kekhusyukan seseorang hilang dikarenakan menahan kencing di tengah shalat. Bila dikontekstualisasikan dalam masalah ini, hujan deras yang menghujam, besar kemungkinan dapat membuyarkan konsentrasi jamaah dalam pelaksanaan shalat Jumat. Persoalan kehujanan di tengah shalat bisa kita analogikan dengan permasalahan shalat menahan kencing dengan titik temu keduanya dapat menyebabkan buyarnya ketenangan.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

ـ (والصلاة حاقنا) بالنون أي بالبول (أو حاقبا) بالباء أي بالغائط أو حاذقا أي بالريح للخبر الآتي ولأنه يخل بالخشوع بل قال جمع إن ذهب به بطلت الى أن قال وجوز بعضهم قطعه لمجرد فوت الخشوع به وفيه نظر 

“Dan makruh shalat menahan kencing dan buang air besar atau menahan kentut, karena hadits yang telah lewat dan dapat merusak kekhusyukan, bahkan sekelompok ulama berpendapat, bila hilang kekhusyukan, maka batal shalatnya.  Sebagian ulama membolehkan memutus halat karena hilangnya kekhusyukan, dan pendapat ini perlu dikaji ulang. (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, Juz 1, hal. 238)

Simpulannya, bila mengikuti pendapat yang kuat, membatalkan shalat Jumat saat kehujanan di tengah shalat hukumnya haram. Dan apabila khawatir rusaknya harta yang dipakai atau yang dibawa, kewajibannya adalah shalat dengan cara yang paling memungkinkan, bisa sambil berjalan untuk mencari tempat yang teduh, kemudian melanjutkan shalat secara normal. Hanya, bila cara tersebut tidak memungkinkan, bisa mengikuti pendapat sebagian ulama yang membolehkan untuk membatalkan shalat saat kondisi kehujanan dapat menghilangkan kekhusyukan, untuk kemudian mencari tempat yang memungkinkan untuk menyusul mengikuti Jumatan. Wallahu a’lam.

(M. Mubasysyarum Bih)

Sabtu 3 November 2018 14:30 WIB
Apakah Shalat Jumat itu Zuhur yang Diringkas?
Apakah Shalat Jumat itu Zuhur yang Diringkas?
Ilustrasi (AP)
Seperti yang maklum kita ketahui, shalat Jumat dilaksanakan sebanyak dua rakaat. Keberadaannya dapat menggantikan kewajiban shalat zuhur. Bahkan, orang yang tidak wajib menjalankan Jumat seperti wanita, tidak perlu mengulangi shalat zuhur ketika mereka turut serta melaksanakan Jumat. Ulama tidak ikhtilaf dalam hal ini.

Namun ulama berbeda pendapat mengenai kedudukan shalat Jumat, apakah ia adalah shalat yang berdiri sendiri atau zuhur yang diringkas. Menurut pendapat qaul jadid (pendapat Imam Syafi’i saat beliau di Mesir), Jumat adalah shalat yang sempurna, dua rakaat Jumat tidak ada hubungannya dengan shalat zuhur, ia berdiri sendiri secara sempurna. Sedangkan menurut qaul al-qadim (pendapat Imam Syafi’i saat beliau di Iraq), Jumat adalah hasil dari zuhur yang diringkas, dari empat menjadi dua rakaat.

Qaul al-jadid berargumen, bahwa zuhur tidak dapat menggantikan Jumat, juga berdasarkan statemen Abdullah bin Umar yang menyatakan bahwa dua rakaat Jumat adalah shalat yang sempurna.

Syekh Abdul Hamid al-Syarwani menegaskan:

والجديد أنها ليست ظهرا مقصورا وأن وقتها وقته تتدارك به بل صلاة مستقلة لأنه لا يغني عنها ولقول عمر رضي الله تعالى عنه الجمعة ركعتان تمام غير قصر على لسان نبيكم صلى الله عليه وسلم وقد خاب من افترى أي كذب رواه الإمام أحمد وغيره نهاية ومغني وشيخنا

“Menurut qaul al-jadid, Jumat bukanlah zuhur yang diringkas, waktu Jumat adalah waktu zuhur yang pelaksanaannya dapat disusulkan di waktu tersebut, jumat merupakan shalat yang independen, sebab ia tidak dapat digantikan oleh zuhur, dan karena ucapan Ibnu Umar, Jumat adalah dua rakaat yang sempurna, bukan zuhur yang diringkas sesuai lisan Nabi kalian. Dan sungguh merugi orang yang berbohong. Hadits riwayat Imam Ahmad dan lainnya.” (Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah, juz 2, hal. 404).

Senada dengan keterangan di atas, Syekh Sulaiman al-Bujarimi mengatakan:

قوله : ( والجمعة ليست ظهراً مقصوراً ) أشار به للردّ على القول القديم القائل بأنها ظهر مقصورة

“Ucapan Syekh Khatib, Jumat bukan zuhur yang diringkas, beliau memberi isyarat untuk menolak pendapat qaul al-qadim yang mengatakan Jumat adalah zuhur yang diringkas.” (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib ‘ala Syrh al-Iqna’, juz 2, hal. 389).


Perbedaan pendapat ini berpengaruh pada rumusan hukum dalam beberapa cabangan masalah. Di antaranya sebagai berikut:

Pertama, mekanisme niat shalat Jumat.

Apabila dalam Jumat diniati zuhur yang diringkas, misalkan jamaah meniatkan “saya niat zuhur yang diringkas”, maka ada dua pendapat. Tidak sah bila berpijak pada pendapat yang menyatakan Jumat adalah shalat yang independen, wajib bagi jamaah untuk niat Jumat secara khusus. Sedangkan bila berpijak pada prinsip zuhur yang diringkas, maka sebagian ulama menganggapnya sah.

Ulama juga berbeda pendapat berkaitan dengan keharusan niat mengqashar dalam mekanisme niat shalat Jumat. Niat mengqashar misalkan “nawaitu ushalli al-Jum’ata qahran, saya niat shalat Jumat dengan diringkas.” Sebagian ulama mewajibkannya, berpijak dari pendapat qaul al-qadim, sebagian tidak mewajibkan, berpijak dari pendapat qaul al-jadid

Kedua, hukum shalat zuhur diqashar bagi musafir yang bermakmum dengan imam shalat Jumat.

Bila mengikuti prinsipnya qaul al-qadim, maka musafir tersebut diperbolehkan melakukan shalat zuhurnya secara qashr (dua rakaat). Sedangkan bila mengikuti prinsip qaul al-jadid, maka tidak diperbolehkan, wajib bagi musafir tersebut melakukan zuhurnya secara sempurna.

Ketiga, hukum menjamak shalat Jumat dengan shalat Ashar bagi musafir.

Menurut al-Imam al-‘Alla’i, permasalah ini juga tidak lepas dari dasar pemikiran di atas. Bila berpijak mengikuti prinsip qaul al-jadid, maka tidak sah, sementara bila mengikuti qaul al-qadim, maka sah. Menurut al-Imam al-Suyuthi, pendapat yang kuat adalah sah. 

Keempat, ketika di tengah-tengah pelaksanaan Jumat waktu habis.

Ketika di tengah-tengah shalat Jumat waktu zuhur habis, ulama sepakat tidak cukup meneruskannya sebagai Jumat (hanya dilakukan dua rakaat). Namun, bolehkah meneruskannya sebagai shalat zuhur sempurna atau wajib mengulangi dari awal?. Bila mengikuti prinsip shalat yang independen, maka harus mengulang dari awal. Bila mengikuti dasar pemikiran zuhur yang diringkas, maka boleh melanjutkan. Menurut imam al-Rafi’i, yang kuat adalah pendapat yang membolehkan untuk meneruskan zuhur.

Kelima, hukum shalat Jumat bermakmum dengan musafir yang shalat zuhur diqashar

Dalam masalah ini, bila mengikuti prinsip pendapat qaul al-qadim, maka hukumnya sah. Namun, jika mengikuti prinsip qaul al-jadid, sebagian ulama menyatakan tidak sah.

Beberapa cabangan permasalahan fiqih di atas berkaitan erat dengan perbedaan pandangan mengenai kedudukan shalat Jumat antara qaul al-qadim dan qaul al-jadid. Menurut Imam al-Suyuthi, status kuat dan lemahnya dua pendapat di atas berbeda-beda dalam setiap cabang permasalahannya. Tidak bisa digeneralkan, prinsip qaul al-jadid lebih kuat, qaul al-qadim lebih lemah. Dalam satu cabang permasalahan terkadang kuat yang qaul al-jadid, dalam permasalahan yang lain lebih kuat qaul al-qadim. Demikian sebagaimana ditegaskan oleh al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Asybah wa al-Nazhair, juz 1, hal. 162. (M. Mubasysyarum Bih)