IMG-LOGO
Syariah

Imam Ahmad Pun Mengajarkan Cara Shalat yang ‘Bid’ah’

Selasa 20 November 2018 20:15 WIB
Share:
Imam Ahmad Pun Mengajarkan Cara Shalat yang ‘Bid’ah’
Sebagian orang sangat berlebihan dalam memahami bid’ah hingga mereka menyangka bahwa apa pun yang tak ada contohnya dari Nabi Muhammad atau para sahabat adalah bid’ah yang terlarang. Dalam benak mereka, seluruh hal baru dalam ibadah pastilah bid’ah dan seluruh bid’ah berarti sesat dan seluruh yang sesat berarti berujung neraka. Mereka memahami hadits tentang bid’ah hanya sepotong saja dan tak membaca seluruh tema ini secara komprehensif seperti yang dilakukan oleh para ulama muktabar. 

Bila anggapan mereka itu dipakai secara konsisten, maka akan banyak ulama besar yang dianggap melakukan bid’ah, salah satunya adalah Imam Ahmad bin Hanbal yang notabene merupakan salah satu tonggak rujukan mereka dalam masalah akidah dan fiqih. Imam mujtahid pakar hadits yang biasanya dianggap paling ketat dan paling konsisten berpedoman pada sunnah Nabi ini menjelaskan tata cara berdoa dalam shalat yang sama sekali tak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Dalam kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah al-Hanbali disebutkan:

قَالَ الْفَضْلُ بْنُ زِيَادٍ: سَأَلْت أَبَا عَبْدِ اللَّهِ فَقُلْت: أَخْتِمُ الْقُرْآنَ، أَجْعَلُهُ فِي الْوِتْرِ أَوْ فِي التَّرَاوِيحِ؟ قَالَ: اجْعَلْهُ فِي التَّرَاوِيحِ، حَتَّى يَكُونَ لَنَا دُعَاءً بَيْنَ اثْنَيْنِ. قُلْت كَيْفَ أَصْنَعُ.؟ قَالَ إذَا فَرَغْتَ مِنْ آخِرِ الْقُرْآنِ فَارْفَعْ يَدَيْكَ قَبْلَ أَنْ تَرْكَعَ، وَادْعُ بِنَا وَنَحْنُ فِي الصَّلَاةِ، وَأَطِلْ الْقِيَامَ. قُلْت: بِمَ أَدْعُو؟ قَالَ: بِمَا شِئْت. قَالَ: فَفَعَلْت بِمَا أَمَرَنِي، وَهُوَ خَلْفِي يَدْعُو قَائِمًا، وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ، وَقَالَ حَنْبَلٌ: سَمِعْت أَحْمَدَ يَقُولُ فِي خَتْمِ الْقُرْآنِ: إذَا فَرَغْت مِنْ قِرَاءَةِ {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ} فَارْفَعْ يَدَيْكَ فِي الدُّعَاءِ قَبْلَ الرُّكُوعِ. قُلْت: إلَى أَيِّ شَيْءٍ تَذْهَبُ فِي هَذَا؟ قَالَ: رَأَيْت أَهْلَ مَكَّةَ يَفْعَلُونَهُ، وَكَانَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ يَفْعَلُهُ مَعَهُمْ بِمَكَّةَ.

“Fadl Bin Ziyad berkata: Saya bertanya kepada Imam Ahmad (Abu Abdillah) demikian: ‘Saya mengkhatamkan Al-Qur’an (dalam shalat), apakah Al-Qur’an itu sebaiknya saya khatamkan di shalat witir atau di salat tarawih?’ Dia menjawab: ‘Jadikan khataman itu di shalat tarawih sehingga menjadi doa bagi kita di antara dua shalat.’ Saya berkata lagi: ‘Apa yang harus aku lakukan?’ Imam Ahmad menjawab: ‘Bila kamu sudah sampai di akhir Al-Qur’an, maka angkat tanganmu sebelum rukuk, doakan kami dalam shalat dan lamakan berdirinya.’ Saya bertanya: ‘Dengan apa saya berdoa?’ Beliau menjawab: ‘Apa pun yang kamu suka.’ Lalu aku melakukan apa yang ia perintahkan sedangkan beliau di belakangku berdoa dengan berdiri sambil mengangkat tangannya. Hanbal juga bercerita: Aku mendengar Imam Ahmad berkata tentang khataman Al-Qur’an: “Kalau kamu sudah selesai membaca Al-Qur’an, maka bacalah Qul a’ûdzu birabbinnâs dan angkatlah tanganmu sebelum rukuk.” Saya bertanya kepadanya: “Anda bersandar pada apa dalam hal ini?’ Iman Ahmad berkata: ‘Aku melihat orang Makkah melakukannya dan Sofyan bin Uyainah juga melakukannya beserta mereka di Mekah.” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, juz II, halaman 125-126)

Tatacara shalat yang diajarkan oleh Imam Ahmad itu bila dilihat dari kacamata orang-orang yang memahami bid’ah secara sempit akan menyebabkan vonis bid’ah juga menimpa Imam Ahmad, Imam Ibnu Qudamah, dan bahkan Imam Sufyan bin Uyainah. Unsur kebid’ahannya antara lain:

1. Nabi tidak pernah mencontohkan atau memerintahkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an saat shalat tarawih.

2. Nabi tidak pernah mencontohkan atau memerintahkan untuk berdoa khatam Al-Qur’an saat sebelum rukuk, apalagi menginstruksikannya agar lama.

3. Nabi tidak pernah mencontohkan atau memerintahkan untuk mengangkat tangan dalam doa ketika berdiri sebelum rukuk

Petunjuk dalam hal ibadah yang nyata-nyata tidak pernah dicontohkan atau diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ tersebut ternyata dilakukan oleh banyak orang di masa tersebut sehingga Imam Ahmad juga melakukannya. Hal ini bahkan menjadi ajaran resmi di mazhab Hanabilah. Bila ada yang mengatakan bahwa teknis ibadah seluruhnya haruslah selalu bergantung pada penjelasan Rasulullah ﷺ (tawqîfi), maka hal ini nyata-nyata tidak dipakai oleh Imam Ahmad sebab beliau melakukan itu hanya karena mencontoh penduduk Makkah. 

Baca juga:
Jawaban Metodologis untuk Orang yang Gemar Menvonis Bid’ah
Inilah Kriteria Bid‘ah Dhalalah dan Bid‘ah Hasanah
Lima Kategori Bid’ah: Haram, Sunnah, Wajib, Makruh, dan Mubah
Dari hal ini para penyanjung Imam Ahmad dapat memilih antara menjatuhkan vonis bid’ah pada Imam Ahmad yang berarti mengatakan bahwa beliau, beserta ulama mazhab Hanabilah, telah mengajarkan kesesatan atau memilih opsi kedua yang menjadi kesepakatan mayoritas ulama bahwa bid’ah (dalam arti hal baru) itu tak selalu haram, namun ada juga yang diperbolehkan (hasanah). Hanya opsi kedua inilah yang nampaknya bisa dipilih dan sesuai dengan kemuliaan dan kealiman Imam Ahmad.

Istilah bid’ah sendiri menurut para ulama mempunyai dua perspektif yang berbeda. Dalam perspektif istilah syariat ketika dimutlakkan, bid’ah adalah hal baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an, hadits atau ijmak, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Syafi’i dalam keterangannya yang sudah populer. Perspektif inilah yang dimaksud dalam hadits “seluruh bid’ah adalah sesat” itu. Adapun dari perspektif kebahasaan, maka bid’ah adalah segala hal yang baru secara umum sehingga status hukumnya harus diperinci sesuai unsur yang dikandungnya. Perspektif kebahasaan inilah yang dimaksud para ulama ketika mengatakan bahwa bid’ah terbagi secara global menjadi buruk (sayyi’ah) atau baik (hasanah) dan secara detail terbagi menjadi: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Sebab itulah, Imam Ibnu Atsir mengatakan:

فأمَّا الابتداع من المخلوقين، فإن كان في خلاف ما أمر الله به ورسوله، فهو في حَيِّز الذمِّ والإنكار، وإن كان واقعًا تحت عموم ما ندب الله إليه، وحضَّ عليه أو رسوله، فهو في حيِّز المدح، وإن لم يكن مثاله موجودًا

“Adapun membuat hal-hal baru yang dilakukan oleh makhluk, apabila dalam hal yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasulnya, maka itu masuk dalam kategori tercela dan diingkari. Apabila hal itu ada di bawah keumuman ajaran yang disarankan dan dianjurkan oleh Allah atau Rasulnya, maka itu masuk dalam kategori pujian meskipun tidak ada contoh sebelumnya.” (Ibnu Atsir, Jâmi’ al-Ushûl, juz I, halaman 280)

Wallahu a'lam. 


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.

Tags:
Share:
Selasa 20 November 2018 15:0 WIB
Unsur Nyanyian, Rebana dan Hiburan dalam Perayaan Maulid
Unsur Nyanyian, Rebana dan Hiburan dalam Perayaan Maulid
Ada sebagian orang yang mengkritik peringatan Maulid Nabi sebab dalam praktiknya kadang mengandung unsur-unsur hiburan seperti nasyid yang diiringi rebana atau bahkan permainan dan senda gurau. Bagaimanakah ulama memandang fenomena ini?

Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan:

وأما ما يعمل فيه : فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم به الشكر لله تعالى ، من نحو ما تقدم ذكره من التلاوة والإطعام والصدقة ، وإنشاد شيء من المدائح النبوية والزهدية المحركة للقلوب إلى فعل الخير والعمل للآخرة .وأما ما يتبع ذلك من السماع واللهو وغير ذلك : فينبغي أن يقال: ما كان من ذلك مباحا بحيث يقتضي السرور بذلك اليوم : لا بأس بإلحاقه به، وما كان حراما أو مكروها فيمنع، وكذا ما كان خلاف الأولى 

“Adapun apa yang dipraktekkan dalam peringatan Maulid maka seyogyanya terbatas pada apa yang menunjukkan rasa syukur kepada Allah Ta'alasemisal apa yang telah disebutkan sebelumnya berupa membaca al-Qur’an, memberi makan orang miskin, sedekah dan mendendangkan suatu puji-pujian untuk Nabi dan pujian yang mengajak pada kezuhudan yang menggerakkan hati untuk melakukan kebaikan dan amal akhirat. Adapun hal yang mengiringinya yang berupa mendengarkan nyanyian atau adanya senda gurau dan semacamnya maka seyogyanya dikatakan bahwa apa yang tergolong mubah yang sekiranya menunjukkan kebahagiaan di hari itu, maka tak mengapa disertakan dengan perayaan Maulid. Adapun sesuatu yang haram atau makruh, maka terlarang disertakan, demikian juga yang khilâfal-awla(berlawanan dengan cara yang disunnahkan).” (as-Suyuthi, al-Hâwî li al-Fatâwâ, juz I, halaman 229).

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa perayaan Maulid seyogianya hanya memuat konten yang jelas-jelas dianjurkan oleh syariat, semisal membaca al-Qur’an, bersedekah dan semacamnya. Juga dianggap baik membaca bait puji-pujian atas Nabi seperti kitab Maulid, Barzanji, Simtud Duror dan semacamnya yang telah mentradisi di Indonesia. Demikian juga tak mengapa bila Maulid Nabi dihiasi dengan acara-acara yang mubah yang tak mengotori keagungan peringatan maulid itu sendiri. Yang seyogianya dilarang adalah hal-hal yang jelas haram atau makruh. 

KH. Hasyim Asy’ari, ulama besar pakar hadits yang juga pendiri Nahdlatul Ulama ini, juga menerangkan keterangan yang senada dengan di atas. Dalam kitabnya yang berjudul at-Tanbîhâtal-Wâjibâtli Man Yashna’ Maulid Bial-Munkarât, beliau memberi catatan-catatan kritis bagi orang-orang yang mengisi perayaan maulid yang sangat mulia itu dengan kemungkaran. Beliau bercerita:

قد رأيت فى ليلة الاثنين الخامس والعشرين من شهر ربيع الاول من شهور السنة الخامسة والخمسين بعد الالف والثلاث مائة من الهحر اناسا من طلبة العلم فى بعض المعاهد الدينية يعملون الاجتماع باسم المولد وأحضروا لذلك الات الملاهىثم قرأوا يسيرا من القران والاخبار الواردة فى مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع فى مولده من الاياتومابعده من سيره المباركات ثم شرعوا فى المنكرات مثل التضارب والتدافع ويسمى عندهم بفنجاأنوبوكسن وضرب الدفوف. كل ذلك بحضور نسوة أجنابيات قريبات منهم مشرفات عليهم والموسيقي وستريك واللعب بما يشبه القمار واجتماع الرجال والنساء مختلطات ومشرفات والرقص والاستغراق فى اللهو والضحك وارتفاع الصوت والصياح فى المسجد وحواليه فنهيتهم وانكرتهم عن تلك المنكرات فتفرقوا وانصرفوا.

“Saya pernah melihat pada malam senin tanggal 25 Rabi' ul-Awwal 1355 H di salah satu pesantren, sekumpulan santri yang mengadakan kumpulan dengan nama peringatan maulid. Di situ mereka menghadirkan alat-alat musik. Lalu, mereka membaca beberapa ayat Al-Qur'an, riwayat tentang perjalanan kehidupan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, yang penuh dengan keberkahan dari awal lahir dan sesudahnya.Setelah itu, mereka pun mengadakan kemungkaran, yaitu dengan menyelenggarakan permainan adu pukul yang mereka sebut pencak dan boxing, sambil memukul-mukul rebab. Acara itu pun dihadiri para perempuan yang juga menyaksikan pagelaran itu.Tidak saja itu, acara maulid itu pun diramaikan dengan musik, permainan setrik dan permain yang menyerupai perjudian. Laki-laki dan perempuan bercampur baur, berjoget dan larut dalam canda tawa serta diiringi suara keras dan teriakan-teriakan di dalam masjid dan sekitarnya.Melihat itu, saya larang mereka dan saya menolak tegas kegiatan itu. Mereka pun berpisah dan bubar.” (KH. Hasyim Asy’ari, at-Tanbîhâtal-Wâjibât li Man Yashna’ Maulid Bial-Munkarât, halaman 9-10)

Hadratussyekh Hasyim Asy’ari melarang hal-hal yang jelas haram seperti campur baur antara lelaki perempuan, berjoget dan membuat kegaduhan di masjid seperti diceritakan di atas. Adapun pencak silat sebenarnya bukan hal yang terlarang pada hakikatnya, namun dianggap tak pantas dan tak sopan bila dilakukan di momen maulid apalagi bila disertai hal-hal yang haram tadi. Pelarangan beliau sesuai dengan instruksi Imam Ibnu Hajar sebelumnya untuk melarang juga hal-hal makruh dan khilâfal-awlâ. Selanjutnya, Hadratussyekh menjelaskan praktik Maulid Nabi yang disarankan para ulama, yaitu:

أن المولد الذي يستحبه الائمة هو إجتماع الناس وقرأة ما تيسر من القران ورواية الاخبار الواردة فى مبدأ امر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع فى حمله ومولده من إرهاصات وما بعده من سيره المباركات ثم يوضع لهم طعام يأكلونه وينصرفون. وان زادو على ذلك ضرب الدفوف مع مراعاة الادب فلا بأس بذلك

“Peringatan maulid yang disukai para imam (ulama besar) adalah berkumpulnya orang-orang di suatu majelis, lalu diperdengarkan sedikit bacaan Al-Qur'an dan riwayat tentang Nabi mulai dari kelahiran, perjuangannya dan perjalanan hidupnya yang penuh dengan berkah. Kemudian dihidangkan makanan kepada mereka agar para hadirin memakannya lalu bubar. Apabila di acara itumereka menambahkan memukul rebana dengan tetap menjaga adab, maka diperbolehkan.” (KH. Hasyim Asy’ari, at-Tanbîhâtal-Wâjibât li Man Yashna’ Maulid Bial-Munkarât, halaman 10-11)

Kesimpulannya, perayaan Maulid Nabi dianjurkan memuat hal yang nyata-nyata disunnahkan oleh syariat yang dapat menunjukkan rasa syukur pada Allah. Membumbui peringatan ini dengan hal-hal mubah semisal tabuhan rebana atau hiburan lain yang layak bagi momen ini juga tak dilarang. Yang dilarang adalah mengisinya dengan konten yang jelas-jelas haram atau tidak pantas. Wallahua'lam.

Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.

Senin 19 November 2018 21:30 WIB
Upaya Pihak Anti-Maulid Mendistorsi Fatwa Ulama (II)
Upaya Pihak Anti-Maulid Mendistorsi Fatwa Ulama (II)
Setelah sebelumnya dijelaskan bahwa Imam al-‘Iraqi sama sekali tidak pernah melarang peringatan Maulid Nabi tetapi justru menganjurkannya, pada bagian ini akan kita bahas tentang empat tokoh lain yang oleh pihak anti-Maulid juga dikesankan telah menganggap terlarang peringatan Maulid, yaitu Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam as-Sakhawi, Syekh Ibnu Thabbakh dan Syekh at-Tazmanti. Pernyataan mereka semua secara lengkap sebagaimana berikut.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, beliau menyatakan:

أصل عمل المولد بدعة ، لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن ، وتجنب ضدها : كان بدعة حسنة ؛ وإلا فلا .قال : وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت ، وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي ﷺ قدم المدينة ، فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء، فسألهم فقالوا : هو يوم أغرق الله فيه فرعون ، ونجى موسى ؛ فنحن نصومه شكرا لله تعالى فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما مَنّ به في يوم معين ، من إسداء نعمة أو دفع نقمة، ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة .والشكر لله يحصل بأنواع العبادة ، كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة ؛ وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم 

“Dasar peringatan Maulid adalah bid'ah tidak dinukil dari seorang pun dari Salafus Shalih dari tiga kurun pertama tetapi meski demikian ia mengandung kebaikan dan keburukan. Maka siapa yang menjaga tindakannya dengan yang baik-baik saja dan menjauhi keburukannya maka itu adalah bid'ah hasanah. Bila tidak demikian maka bukan bid'ah Hasanah. Telah jelas bagi saya penggalian dasarnya dari dalil yang valid, yaitu apa yang ada dalam kitab shahih Bukhari-Muslim bahwa Nabi ﷺ tiba ke Madinah kemudian menemukan orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Nabi menanyai mereka tentang itu lalu mereka menjawab: Ini adalah hari di mana Allah menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah Ta'ala. Dari sana dapat diambil kesimpulan untuk melakukan tindakan syukur kepada Allah atas anugerahnya berupa pemberian nikmat atau penghilangan musibah di hari tertentu. Hal itu diulangi terus di hari yang sama setiap tahun. Bersyukur dapat dilakukan dengan macam-macam ibadah seperti salat, puasa, sedekah dan membaca Alquran. Nikmat yang mana yang lebih besar dari nikmat kemunculan Nabi ini, Nabi kasih sayang, di hari tersebut?” (as-Suyuthi, al-Hâwi Li al-Fatâwâ, I, 229)

Dari pernyataan tersebut jelas bahwa Imam Ibnu Hajar juga mengkategorikan peringatan Maulid sebagai Bid'ah Hasanah atau hal baru yang dianggap baik sebab punya dasar yang valid dari syariat. Beliau bahkan menjelaskan dasar yang beliau anggap dapat mendasari peringatan Maulid yaitu tindakan Rasulullah untuk ikut mensyukuri selamatnya Nabi Musa dari Firaun di hari Asyura. Bagi beliau sudah jelas bahwa tak ada nikmat yang lebih besar bagi umat Islam dari kelahiran Nabi Muhammad.

Imam as-Shakhawi, pernyataan beliau selengkapnya adalah sebagai berikut:

سئلت عن أصل عمل المولد الشريف؟ فأجبت: لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة، وإنما حدث بعد، ثم ما زال أهل الإسلام في سائر الأقطار والمدن العظام يحتفلون في شهر مولده ﷺ وشرف وكرم يعملون الولائم البديعة المشتملة على الأمور البهجة الرفيعة، ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات، ويظهرون السرور، ويزيدون في المبرات بل يعتنون بقراءة مولده الكريم وتظهر عليهم من بركات كل فضل عميم

“Saya ditanya tentang dasar maulid Nabi yang mulia? Kemudian saya menjawab: Hal itu tidak dinukil dari salah satu pun salafus shalih di tiga kurun yang utama tetapi ada setelah itu. Kemudian tak henti-hentinya orang Islam di seluruh penjuru dunia dan di negara-negara besar memperingati Maulid Nabi di bulan kelahirannya Shallallahu Alaihi Wasallam, semoga Allah memuliakan beliau. Orang-orang Islam melakukan perayaan-perayaan yang indah yang terdiri dari hal-hal yang mewah. Mereka bersedekah di malam harinya dengan macam-macam sedekah dan menampakan kegembiraan dan menambah macam-macam kebaikan, bahkan mereka menyibukkan diri dengan membaca Maulid Nabi. Dan, nampaklah bagi mereka banyak anugerah barakah yang luas.” (as-Sakhawi, al-Ajwibah al-Mardliyyah, juz III, halaman 1116).

Syekh Ibnu Thabbakh, pernyataan beliau sebenarnya seperti berikut: 

ليس هذا من السّنن، ولكن إذا أنفق في هذا اليوم وأظهر السرور فرحاً بدخول النبي ﷺ في الوجود واتخذ السماع الخالي عن اجتماع المردان وإنشاد ما يثير نار الشهوة من العشقيات والمشوّقات للشهوات الدنيويّة كالقدّ والخدّ والعين والحاجب، وإنشاد ما يشوّق إلى الآخرة ويزهد في الدنيا فهذا اجتماع حسن يثاب قاصد ذلك وفاعله عليه

“Hal ini tidak termasuk dari tradisi Rasul (sunnah), tetapi bila seseorang menyedekahkan hartanya di hari ini dan menampakan kebahagiaan sebab lahirnya Nabi Muhammad ﷺ dan mendengarkan sesuatu yang tidak disertai adanya perkumpulan dengan para amrad atau nyanyian percintaan yang membangkitkan syahwat duniawi seperti baju, pipi, mata atau alis, serta mengandung nyanyian yang membuat cinta pada akhirat dan zuhud pada dunia, maka itu adalah perkumpulan yang baik, berpahala bagi pelakunya.” (Muhammad as-Shalihi as-Syami, Subul al-Hudâ wa ar-Rasyâd Fî Sîrah Khair al-‘Ibâd, juz I, halaman 364)

Syekh at-Tazmanti, tokoh Syafi’iyah ini sebenarnya menerangkan sebagai berikut: 

هذا الفعل لم يقع في الصّدر الأول من السلف الصالح مع تعظيمهم وحبهم له إعظاماً ومحبةً لا يبلغ جمعنا الواحد منهم ولا ذرّة منه، وهي بدعة حسنة إذا قصد فاعلها جمع الصالحين والصلاة على النبي ﷺ وإطعام الطعام للفقراء والمساكين، وهذا القدر يثاب عليه بهذا الشرط في كل وقت

“Tindakan ini tidak ada di masa awal dari kalangan Salafus Sholeh meskipun mereka mencintai Nabi dan mengagungkannya dengan cinta yang berkumpulnya kita semua sekarang tidak dapat menyaingi satupun dari mereka atau sedikitpun darinya. Itu adalah bid'ah hasanah yang apabila pelakunya bermaksud mengumpulkan orang-orang yang saleh dan bershalawat atas Nabi ﷺ dan memberi makan orang-orang fakir dan miskin. Kadar ini adalah berpahala dengan catatan tersebut (tidak mengandung unsur maksiat) di setiap waktu.” (Muhammad as-Shalihi as-Syami, Subul al-Hudâ wa ar-Rasyâd Fî Sîrah Khair al-‘Ibâd, juz I, halaman 364)

Seluruh tokoh besar di atas sepakat bahwa peringatan Maulid Nabi adalah baik dan tergolong dalam kategori bid’ah hasanah, dengan catatan dalam praktiknya tidak boleh mengandung unsur-unsur yang nyata-nyata maksiat. Catatan seperti ini adalah sesuatu yang wajar dan ada dalam semua kasus, bahkan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha pun tidak boleh dirayakan dengan unsur-unsur maksiat. Itulah fakta yang disembunyikan oleh pengarang kitab al-Qaul al-Fashl Fî Hukmi al-Ihtifâl Bimaulidi Khairi ar-Rusul yang memotong kalam ulama demi mengesankan bahwa peringatan Maulid adalah terlarang sebab tak dilakukan oleh generasi awal, sesuai dengan keyakinan komunitasnya. Tetapi bagaimana pun kebenaran tak mungkin disembunyikan. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.

Senin 19 November 2018 14:30 WIB
Upaya Pihak Anti-Maulid Mendistorsi Fatwa Ulama (I)
Upaya Pihak Anti-Maulid Mendistorsi Fatwa Ulama (I)
Telah maklum bahwa perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ diperbolehkan oleh para ulama dari berbagai mazhab dan dipraktikkan di berbagai penjuru dunia sejak pertama kali diselenggarakan secara besar-besaran oleh Raja Mudhaffaruddin Kokburi (dikenal juga sebagai Amir Gökböri), penguasa Irbil di abad keenam hijriah. Para ulama ahli hadits seperti Imam al-Iraqi, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Sakhawi, Imam Al-Jazari, Imam As-Suyuthi dan begitu banyak imam lainnya secara tegas mengatakan bahwa peringatan maulid nabi adalah baik. Tentu saja semuanya sepakat bahwa kebaikan Maulid Nabi tak boleh dikotori dengan praktik-praktik yang melanggar syariat seperti adanya percampuran lelaki dan perempuan, adanya nyanyian yang membangkitkan syahwat, dan lain sebagainya yang jelas diharamkan oleh agama. 

Namun, selalu ada saja yang berusaha memutarbalikkan fakta seolah para ulama besar menolak peringatan Maulid Nabi. Di antara yang melakukan distorsi sejarah ini adalah pengarang kitab al-Qaul al-Fashl Fî Hukmi al-Ihtifâl Bimaulidi Khairi ar-Rusul. Kitab ini sengaja dikarang untuk membantah hujjah para ulama yang memperbolehkan maulid. Namun tentu saja tak semudah itu untuk melakukannya sebab para ulama besar nyata-nyata telah memperbolehkan peringatan maulid Nabi dan hanya segelintir orang saja yang tidak memperbolehkannya. Untuk menguatkan argumennya, maka pengarang kitab tersebut mendistorsi perkataan para Imam sehingga nampak seolah mereka melarang peringatan maulid, padahal sebenarnya tidak. Penipuan akademis ini misalnya tampak pada halaman 58 kitab itu tertulis yang artinya:

“Al-Hafidz Abu Zur’ah al-Iraqi ditanya tentang peringatan Maulid; Apakah disunatkan ataukah makruh dan apakah ada dalil tentang itu atau dilakukan oleh orang yang menjadi rujukan? Beliau berkata: Memberikan makanan disunnahkan setiap waktu maka bagaimana ketika bertepatan dengan kebahagiaan sebab munculnya cahaya kenabian di bulan yang mulia ini tetapi kami tidak mengetahui hal itu, yakni peringatan Maulid dengan memberikan makanan, dari kalangan salaf. Al-Hafidz Abu Fadhal ibnu Hajar al-Asqalani berkata dalam fatwanya tentang peringatan maulid yang dinukil oleh as-Suyuthi dalam Husnu al-Maqshad Fî ‘Amal al-Maulid berkata: Dasar tindakan Maulid adalah bid'ah tidak dinukil dari seorang pun dari kalangan Salafus Shalih dari tiga abad pertama. Dan as-Sakhawi dalam fatwanya berkata: "Peringatan Maulid tidak dinukil dari salah satu pun Salafus Shalih di abad ketiga yang utama, hal itu hanya ada setelah itu. Syekh Nashiruddin al-Mubarok yang terkenal dengan Ibnu Thabbakh dalam fatwa dengan tulisannya sendiri berkata: Hal ini, peringatan Maulid, bukanlah termasuk dari sunah-sunah". Dan Syekh Dhahiruddun Jakfar at-Tazmanti berkata tentang peringatan Maulid:" tindakan ini tidak terjadi di masa awal dari kalangan Salafus Shalih beserta penghormatan dan kecintaan mereka terhadap Nabi Muhammad dengan penghormatan dan kecintaan yang salah satu dari mereka tidak bisa disaingi oleh seluruh kita sekarang, tak juga sedikit pun darinya. Dengan nukilan-nukilan ini menjadi jelas bahwa Salafus Shalih tidak merayakan Maulid Nabi tetapi mereka meninggalkannya. Dan mereka meninggalkannya tak mungkin kecuali karena hal itu tak ada kebaikannya.” (Isma’il bin Muhammad al-Anshari, al-Qaul al-Fashl Fî Hukmi al-Ihtifâl Bimaulidi Khairi ar-Rusul, halaman 58).

Dari pernyataan di atas, ada lima tokoh ulama yang dicatut dan dikesankan juga tak menyukai peringatan Maulid, yakni: Imam al-Iraqi, Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam as-Sakhawi, Syekh Ibnu Thabbakh dan Syekh at-Tazmanti as-Syafi’i yang serempak mengatakan bahwa peringatan ini tak ada di masa salaf. Benarkah demikian kejadiannya? Berikut ini pernyataan para imam di atas secara lengkap:

Imam al-Hafidz al-Iraqi, beliau berkata:

 إنَّ اتّخاذَ الوليمَةِ وإطعامَ الطّعامِ مُستحبٌّ في كلِّ وقتٍ فكيف إذا انضَمّ إلى ذلك الفرحُ والسُّرورُ بظُهور نور النّبِيّ صلى الله عليه وآله وسلَّم في هذا الشَّهْرِ الشَّريفِ. ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجبة) ـ 

“Memberikan makanan disunnahkan setiap waktu maka bagaimana ketika bertepatan dengan kebahagiaan sebab munculnya cahaya nabi di bulan yang mulia ini. Dan, statusnya sebagai bid’ah (hal baru) tidak musti menjadikannya tak disukai. Berapa banyak ada bid’ah yang disunnahkan bahkan kadang wajib.” (Muhammad Washiy ar-Rahman, ad-Durr al-Maknûn Fî al-Ihtifâl Bimaulidi an-Nabî al-Âmîn al-Ma’mûn, halaman 43).

Kalimat penegasan terakhir dari Imam al-‘Iraqi di atas sengaja dibuang. Dari situ, jelas terlihat bahwa sebenarnya Imam al-‘Iraqi mengategorikan peringatan Maulid sebagai bid’ah mustahabbah (hal baru yang disunnahkan). Sudah maklum bahwa di kalangan mayoritas ulama empat mazhab, bid’ah (dalam arti hal baru) terbagi menjadi lima hukum, yakni wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Jadi, penyebutan mereka bahwa sesuatu tidak ada di masa Salafus Shalih belum tentu menunjukkan bahwa sesuatu itu haram sebab faktanya banyak hal yang tidak ada di masa lalu tetapi nyata-nyata baik dan mempunyai dalil secara umum sehingga dikategorikan sebagai kebaikan, bahkan kewajiban oleh para ulama.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.

Bersambung...