IMG-LOGO
Hikmah

Nabi Muhammad SAW, Seorang Durjana, dan Anak Kecil

Rabu 21 November 2018 14:5 WIB
Share:
Nabi Muhammad SAW, Seorang Durjana, dan Anak Kecil
(Foto: via @pinterest)
Syekh Muhammad Nawawi Banten mengutip cerita Sayyidina Ali RA perihal besarnya perhatian Islam terhadap anak-anak dan dunianya. Syekh M Nawawi Banten menggarisbawahi arti penting kasih sayang untuk anak-anak.

Sayyidina Ali RA bercerita bahwa salah seorang pernah mendatangi Rasulullah SAW. Orang ini menyatakan pengakuan dosanya di hadapan Rasulullah SAW. Kepada Rasulullah SAW, ia meminta pembebasan dan penyucian atas dosanya.

“Wahai Rasulullah, aku telah berlumuran dosa. Sucikanlah diriku,” kata seseorang itu.

“Apa dosa yang kaulakukan?”

Orang ini enggan menyatakan dosa yang dia lakukan.

“Aku malu mengatakannya.”

Wajah Rasulullah SAW memerah. Ia mengusir orang tersebut. Rasulullah SAW tidak sudi menerimanya.

“Apakah kau malu mengabarkan dosamu kepadaku, tetapi tidak malu kepada Allah yang melihatmu? Keluar kau agar api celaka tidak menimpa kami,” kata Rasulullah.

Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Rasulullah. Ia menangis sedih. Ia merasa putus asa dan sia-sia karena Rasulullah SAW menampiknya.

Ketika itu, Jibril AS datang kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menegur Rasulullah SAW karena sejatinya orang itu memiliki amal tertentu yang menjadi harapan atas penyucian dosanya sebagaimana cerita Sayyidina Ali RA.

فجاء جبريل وقال يا محمد لم آيست العاصي وله كفارة لذنوبه وإن كانت كثيرة فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم وما كفارته قال له صبي صغير فإذا دخل في بيته والصبي يستقبله فيدفع إليه شيئا من المأكولات أو ما يفرح به فإذا فرح الصبي يكون كفارة لذنبه

Artinya, “Jibril lalu datang dan menegur, ‘Wahai Muhammad, mengapa Anda membuat putus asa orang yang bermaksiat sementara ia memiliki amal yang dapat menghapus dosanya (kafarat).’ ‘Apa kafaratnya?’ tanya Rasulullah SAW. ‘Ia memiliki anak kecil. Bila masuk ke dalam rumah laki-laki itu dan menemuinya, ia memberikannya makanan atau sesuatu yang membahagiakannya. Kalau anak itu bahagia, maka itu menjadi kafarat baginya,’ jawab Jibril AS,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Qamiut Thughyan, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 26).

Cerita ini menegaskan bahwa anak-anak dan dunianya mendapat prioritas utama dalam Islam, sesuatu yang selama ini tidak mendapat perhatian istimewa dalam pemikiran Islam. Perhatian yang rendah terhadap anak-anak dan dunianya ini yang menyebabkan banyak masjid dan fasilitas umum lainnya belum ramah anak.

Oleh karenanya, Rasulullah SAW pada sebagian sabdanya mengatakan bahwa seorang Muslim dapat meraih derajat penyayang bila ia menyayangi banyak orang, bukan hanya dirinya dan orang di lingkungannya saja.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس الرحيم الذي يرحم نفسه وأهله خاصة ولكن الرحيم الذي يرحم المسلمين

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Penyayang itu bukan ia yang mengasihi dirinya dan keluarganya saja. Penyayang itu adalah mereka yang mengasihi semua umat Islam,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Qamiut Thughyan, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 26).

Kata “semua umat Islam” di sini merupakan lafal umum. Dengan demikian, “umat Islam” di sini mencakup anak-anak, bukan hanya mereka yang dewasa. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Jumat 16 November 2018 21:30 WIB
Cara Ali bin Abi Thalib Memecahkan Persoalan Waris yang Rumit
Cara Ali bin Abi Thalib Memecahkan Persoalan Waris yang Rumit
Ilustrasi: Istimewa
Rasulullah menjuluki Ali bin Abi Thalib sebagai pintu atau kuncinya ilmu. Sementara Rasulullah adalah gudangnya ilmu. Dengan kata lain, julukan tersebut adalah jaminan Rasulullah akan kecerdasan yang dimiliki sang keponakan, Ali bin Abi Thalib. 

Jika para sahabat menemukan sebuah persoalan dan tidak mengetahui jawabannya, maka mereka akan membawa persoalan tersebut kepada Ali bin Abi Thalib. Iya, Ali bin Abi Thalib tidak hanya pandai dalam urusan keagamaan, tapi juga cemerlang dalam bidang lainnya semisal matematika. 

Dikisahkan ada tiga orang saudara, kita sebut saja si A, si B, dan si C. Ketiganya tengah menghadapi persoalan waris yang rumit. Mereka memiliki 17 ekor unta. Sesuai dengan hasil pembagian, si A mendapatkan bagian setengah (1/2) dari jumlah unta, si B memperoleh bagian sepertiga (1/3), sedangkan si C sepersembilan (1/9). 

Jika dihitung dengan menggunakan cara konvensional, maka si A akan mendapatkan  delapan setengah ekor unta (8 1/2 ekor), si B mendapatkan lima dua pertiga (5 2/3), dan si C satu delapan persembilan (1 8/9). 

Mereka tidak mau model pembagian seperti itu. Ketiganya bersikukuh bahwa 17 unta tersebut harus dibagikan sesuai bagian masing-masing, namun harus tetap ‘utuh’ dan ‘bulat.’ Tidak boleh disembelih, apalagi diuangkan. 

Akhirnya persoalan tersebut dibawa kepada Ali bin Abi Thalib untuk dimintakan solusi. Sebagaimana dalam buku Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, Ali bin Abi Thalib tidak butuh waktu lama untuk memecahkan persoalan itu. Ali meminjamkan satu ekor untanya kepada ketiga orang tersebut. Dengan demikian, unta menjadi 18 ekor. 

Kemudian Ali membagikan 18 ekor unta kepada ketiga orang tersebut. Bagian Si A setengah (1/2) dari jumlah unta, maka ia mendapatkan 9 ekor. Bagian si B sepertiga (1/3), maka ia memperoleh 6 ekor unta. Sementara si C sepersembilan (1/9) maka ia dapat 2 ekor unta. 

Mereka menerima untanya secara ‘utuh’ dan ‘bulat’, tanpa harus dipotong atau disembelih, sesuai dengan keinginan mereka. Setelah semuanya mendapatkan bagiannya; si A (9 ekor), si B (6 ekor), dan si C (2 ekor), Ali bin Abi Thalib mengambil kembali untanya yang dipinjamkan. Iya, 9, 6, dan 2 ekor jika dijumlah adalah 17 ekor unta. 

Ali meminjamkan untanya untuk menggenapkan jumlah unta menjadi 18 ekor sehingga angka tersebut bisa dibagi oleh masing-masing bagian ketiga orang tersebut; setengah (1/2), sepertiga (1/3), dan sepersembilan (1/9). Akan tetapi hasil dari pembagian unta tersebut –masing-masing 9, 6, dan 2 ekor-  jika dijumlahkan adalah 17 ekor, bukan 18 ekor. Dengan cara taktis dan kreatif, Ali bin Abi Thalib mampu menyelesaikan persoalan warisan yang rumit.

Saat ini, cara Ali bin Abi Thalib dalam menyelesaikan persoalan waris tersebut disebut dengan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK). Yakni bilangan kelipatan terkecil dari persekutuan dua, tiga, empat, atau lebih bilangan. Dalam kasus tersebut, Ali mencari angka kelipatan keliatan terkecil dari setengah (1/2), sepertiga (1/3), dan sepersembilan (1/9), maka ketemu lah angka 18. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 6 November 2018 6:0 WIB
Kisah Al-Kindi Mengobati Pasiennya dengan Musik
Kisah Al-Kindi Mengobati Pasiennya dengan Musik
Ilustrasi: gemeinfrei
Nama lengkapnya Ya’qub bin Ishaq al-Sabbah al-Kindi (sekitar 800-866 M). Biasa dikenal al-Kindi. Ia adalah salah satu ilmuwan Muslim yang ahli dalam multi disiplin ilmu. Selain sebagai perintis dunia filosofi Arab, Al-Kindi juga seorang ahli alkimia (pendahulu ilmu kimia), astronomi, matematika, fisika, dan pengobatan.  

Al-Kindi juga sangat jago dalam bidang pemecah sandi (tulisan rahasia atau kliptogram), kaligrafi, dan juga musik. Pengetahuan tentang bidang-bidang ilmu itu tidak hanya dipraktikkan di dalam kehidupannya, tapi juga dituangkan di dalam karya tulis. Tercatat, ada sekitar 200 hingga 270 kitab dan makalah –multi disiplin pengetahuan- yang telah ditulis al-Kindi sepanjang hidupnya. 

Pengetahuan al-Kindi terhadap multi disiplin tersebut tidak hanya sebatas kulit saja. Ia menguasai betul bidang-bidang ilmu tersebut secara mendalam dan detil. Sehingga pemahamannya mencapai tingkat akademis tertinggi. Tidak lain, rasa ingin tahu yang tak pernah terpuaskan dan pencarian terhadap pengetahuan lah yang membuat al-Kindi menguasai berbagai disiplin ilmu tersebut.   

Dengan pengetahuan yang mendalam terhadap multi disiplin ilmu, al-Kindi mampu ‘mengintegrasikan’ dan ‘memautkan’ satu disiplin dengan yang lainnya. Misalnya memadukan pengetahuannya di bidang pengobatan dan musik. Dikisahkan bahwa suatu ketika al-Kindi pernah menyembuhkan pasiennya yang mengidap tetraplegia atau quadriplegia –kelumpuhan yang disebabkann cidera atau penyakit yang menyebabkan manusia tidak bisa bergerak- dengan musik.

Al-Kindi menggunakan musik yang dikomposnya sendiri sebagai terapi untuk mengobati pasiennya yang mengalami lumpuh total tersebut. Cerita tentang hal ini juga ditegaskan R Sound dalam tulisannya The Arab Contribution to the Music of the Western World. Di situ, Sound mengemukakan kalau al-Kindi sudah menggunakan musik yang dikomposnya sebagai terapi pengobatan sejak abad ke-9 M.

Tony Abboud dalam bukunya Al-Kindi: Perintis Dunia Filosofi Arab mengungkapkan kalau al-Kindi membuat alat musik sendiri, mengembangkan teori musik sendiri, dan memainkannya pun sendiri. 

Tidak hanya itu, al-Kindi juga memiliki teori tentang gelombang bunyi. Ia berteori kalau bunyi dari musik menghasilkan gelombang di udara. Gelombang tersebut menyentuh gendang telinga dan getaran pergerakan udara menyebabkan bunyi-bunyian. Suatu hari nanti Sebagian besar ilmuwan membenarkannya teori gelombang bunyi al-Kindi ini.

Al-Kindi berpendapat jika sebuah musik memiliki komposisi nada dan frekuensi yang tepat, maka akan tercipta harmoni sehingga enak didengar. Orang yang mendengarkannya pun menjadi rileks dan tenang. Hal itu menjadikannya sebagai filsuf Muslim pertama yang menjadikan musik sebagai terapi pengobatan.

“Al-Kindi merupakan pemusik hebat yang sangat percaya kekuatan penyembuh dari musik,” kata Tony Abboud.

Kecakapan dan kompetensi al-Kindi dalam hal musik dan pengobatan tidak perlu diragukan lagi. Dalam kitabnya Risalah Fi al-Luhun wa al-Naghmi misalnya, al-Kindi menjelaskan secara detil dan cemerlang tentang komposisi melodi, acord, dan kecapi -sekaligus cara memainkannya. 

Dalam hal musik, al-Kindi menulis beberapa kitab. Ada yang menyebut delapan dan yang lainnya mengatakan 15 –namun hanya lima yang masih eksis. Diantaranya al-Kubra fi al-Ta’lif (Mengenai Harmoni), Tartib an-Nagham al-Dallah ala Taba’i al-Ashkhas al-Aliyah wa Tasyabuhal-Ta’lif (Mengenai Tata Nada yang Menunjukkan Sifat Benda Langit dan Kemiripan Harmoni), dan al-Madkhal ila Sina’at al-Musiqi (Pengantar Seni Musik).

Ada juga al-Iqa (Keselarasan Bunyi), Khabar Ta’lif al-Alhan (Seni Penyusunan Melodi), Sina’at al-Shi’r (Seni Syair), al-Za’ Khabariyyah fi al-Musiqa (Bagian-bagian Pengetahuan Musik), al-Mukhtasar al-Musiqa fi Ta’lif al-Nagham wa Sina’at al-Ud (Ikhtisar Musik Mengenai Komposisi Nada dan Pembuatan Gitar), dan Risalah Fi al-Luhun wa al-Naghmi. Kata 'al-Musiq' dalam beberapa kitab al-Kindi tersebut dipercaya sebagai asal usul dari kata ‘musik’ atau ‘music.’

Sementara itu, al-Kindi juga menulis beberapa kitab mengenai pengobatan seperti al-A’rad al-Hadithath minal-Balgham wa ‘Illah Mawt al-Fuja’ah (Mengenai Kejang Akibat Lendir dan Penyebab Kematian Mendadak) dan Risalah Fi Ma’rifat Quwa al-Adwiya al-Murakkaba yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin De Medicinarum Compositarum Gradibus Investigandis Libellus (Penyelidikan atas Keampuhan Campuran Obat), sebuah kitab yang membahas dosis obat-obatan. (A Muchlishon Rochmat)
Sabtu 3 November 2018 15:30 WIB
Wirid dari Kiai As'ad Syamsul Arifin agar Mudah Naik Haji
Wirid dari Kiai As'ad Syamsul Arifin agar Mudah Naik Haji
Ilustrasi (Getty Images)
Semuanya berpulang kepada Allah Swt saat awal tahun ini penulis mendapat tugas meliput Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama di Jakarta. Di sela tugas peliputan, sembari menghirup kopi, penulis menikmati senja di lobi hotel tempat penyelenggaraan. Dari jauh terlihat Rektor UIN Sunan Ampel (waktu itu) Prof. Dr. Abd A’la. Tak menunggu lama, penulis mendekatinya. “Sore Prof, lagi nyantai?” Basa-basi penulis kepadanya. “Iya, Mas,” sahutnya pendek. Kami pun terlibat obrolan ringan hingga entah—malaikat dari mana—membisiki penulis untuk bertanya kepada Prof Abd A’la. “Prof, mbok saya dikasih amalan harian...”

Tercenung agak lama, Prof. Abd A’la memandang penulis. Hingga akhirnya beliau berbisik, “Saya dulu dapat ijazah wirid dari guru saya KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo: Shalallâhu alaika yâ Rasûlallâh.” Menurut Prof. Abd A’la, wirid itu dibaca 1.000 kali dalam sehari semalam. Boleh dicicil usai shalat ataupun di waktu senggang. “Yang penting dibaca dalam sehari-semalam seribu kali,” ujarnya.

“Kalau mau baca wirid itu, mendawamkan tiap hari Anda bisa sesegera mungkin ziarah langsung ke makam Nabi ﷺ,” tegasnya mantap. “Dalam shalawat ini menggunakan kata ganti orang kedua ‘alaika yâ Rasûlâllâh’ yakni "atasmu wahai Rasulullah", jadi seolah-olah Rasulullah hadir di depan kita, Mas, atau tepatnya kita hadirkan,” sambungnya.

Kejadian pada akhir Januari 2018 itu tentu tak akan terlupa. Singkat cerita, Maret 2018, dibuka lowongan petugas haji sebagai bagian dari Media Center Haji (MCH). Beberapa yang dipersyaratkan penulis masuk untuk mendaftar. Sebulan berikutnya ikut tahapan seleksi. Dan kabar bahagia datang di bulan Mei 2018: penulis dinyatakan lolos menjadi MCH. Bulan Juni 2018 penulis mengikuti pelatihan selama 10 hari di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Pada 17 Juli 2018 berangkat ke Jakarta untuk keesokan harinya terbang ke Jeddah.

Selama 61 hari, penulis mendapat kesempatan yang tak ternilai harganya untuk meliput aneka macam pemberitaan di Tanah Suci. Masjidil Haram yang selama ini hanya ada di benak dan bayangan, kini nyata di depan mata. Tak terbayangkan bahwa ini semua menjadi riil, bukan angan semata. Selama di Tanah Suci, penulis mendapat amanah menjadi MCH Daerah Kerja Makkah. Pula mendapat kesempatan untuk liburan ziarah ke makam Nabi Muhammad ﷺ selama tiga hari di Madinah. Alhamdulillah ya Allah. Semua menjadi nyata...

Semoga Allah limpahkan ampunan kepada kita, permudah jalan untuk ziarah ke Makkah dan Madinah. Wabil khusus kepada KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo dan Prof. Abd A’la, al-fâtihah...


Bramma Aji Putra, Humas Kanwil Kemenag DIY