IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Al-Qur'an

Siapa yang Memberi Nama-nama Surat dalam Al-Qur'an?

Kamis 22 November 2018 23:15 WIB
Share:
Siapa yang Memberi Nama-nama Surat dalam Al-Qur'an?
Ilustrasi (via Twitter.com)
Secara etimologi, surat ini berasal dari kata (السور) atau (السؤر) yang berarti sisa minuman dalam suatu bejana. Dengan pengertian seperti ini, maka surat Al-Qur’an berarti sebagian kecil dari Al-Qur’an.

Sedangkan secara termenologi, surat adalah sebuah jumlah ayat-ayat Al-Qur’an yang terdiri atas awal dan akhir surat. Sedikitnya dalam satu surat adalah tiga ayat. Senada dengan definisi di atas, Imam Zarkasyi berkata: 

قرأن يشتمل على آي ذوات فاتحة وخاتمة وأقلها ثلاث أيات

Artinya: “Al-Qur’an yang mencakup atas beberapa ayat teridiri atas awal surat dan akhir surat paling sedikit tiga ayat, sebagaimana yang terdapat dalam surat al-Kautsar.”

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3) ـ

Untuk banyaknya jumlah surat dalam Al-Qur’an, jumhur ulama menyatakan ada 14 surat. Pendapat ini sesuai dengan jumlah surat yang ada dalam mushaf saat ini. Ada pendapat lain menyatakan bahwa surat-surta dalam Al-Qur’an adalah 13 surat, karena surat al-Anfal dan al-Taubah dianggap satu.
Di samping itu, para ulama mengelompokkan surat-surat Al-Qur’an ke dalam empat kelompok:

Pertama, ath-thiwâl (الطوال) atau surat-surat Al-Qur’an yang panjang. Yang masuk ke dalam kelompok ini ada tujuh surat, yang dikenal dengan sebutan ath-thiwâl as-sab‘ (السبع الطوال). Ketujuh surat-surai yang panjang itu adalah sebagai berikut: (1) al-Baqarah, (2) Ali Imran, (3) al-Nisa, (4) al-Maidah, (5) al-An’am, (6) al-A’raf, (7) Yunus. Pendapat ini diutarakan oleh Said bin Jubair bin Hisyam.

Sebagian pendapat yang lain menyatakan bahwa surat yang ke tujuh itu bukan surat Yunus tapi surat al-Anfal-al-Taubah karena kedua surat tersebut tidak dipisah oleh kalimat basmalah.

Kedua, al-mi’ûn (المئون) yaitu surat-surat Al-Qur’an yang terdiri atas seratus ayat atau lebih. Surat yang termasuk 100 ayat ini dimulai dari akhir surat (السبع الطوال) sampai akhir Surat al-Sajadah.

Ketiga, al-matsanî (المثاني) yaitu surat-surat Al-Qur’an yang jumlah ayatnya kurang dari 100 ayat. Surat-surat yang tergolong al-matsanî ini adalah dari awal Surat al-Ahzab sampai awal sUrat Qaf.

Keempat, al-mufashshal (المفصل) yaitu surat-surat Al-Qur’an yang pendek-pendek, yang terdapat di bagian akhir-akhir Al-Qur’an. Surat ini dikelompokkan dalam tiga kelompok:

Pertama, al-mufashshaal thiwâl (طوال المفصل), yang tergolong kelompok ini adalah surat al-Hujarat sampai al-Buruj. 

Kedua, al-mufashshaal ausâth (أوساط المفصل), yang tergolong kelompok ini adalah al-Thariq sampai al-Bayyinah, 

Ketiga, al-mufashshaal qishâr (قصار المفصل), yang tergolong kelompok ini adalah Surat al-Zalzalah sampai akhir Al-Qur’an.

Penamaan Surat Al-Qur’an

Ulama berbeda pendapat tentang penamaan Al-Qur’an, apakah ia termasuk tauqifî, yakni sesuai petunjuk dari Nabi atas penamaan itu, atau taufiqî, yaitu hasil ijtihad sahabat?

Jumhur ulama menyatakan bahwa seluruh nama-nama surat adalah tauqifî, artinya sesuai atas petunjuk dan perintah Nabi ﷺ. Pendapat ini dikuatkan dengan beberapa dalil hadits:

من قرأ هاتين الأيتين من أخر سورة البقرة في ليلة كفتاه 

Artinya: Barangsiapa yang membaca dua ayat dari akhir surat al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan dicukupkan.

من قرأ الزهراوين: البقرة وآل عمران فإنهما تأتيان يوم القيامة كأنهما غمامتان تحاجان عن أصحابهما 

Artinya: “Bacalah al-Zahrawain, yakni surat al-Baqarah dan Ali Imran, kelak keduanya akan datang menaungi pembacanya.”

من قرأ عشر أيات من أول الكهف عصم من الدجال 

Artinya: “Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat di awal Surat al-Kahfi, maka akan terjaga dari (godaan) dajjal.”

Hadits-hadits di atas mengindikasikan bahwa Nabi yang memberi nama-nama surat dalam Al-Qur’an.

Sementara itu, sebagian ulama menyatakan bahwa penamaan surat ini dilakukan atas dasar ijtihad para sahabat dan tabi’in. Hal ini didasarkan pada penamaan yang disematkan Imam Sufyan bin Uyainah terhadap surat al-Fatihah. Imam Sufyan memberi nama surat al-Fatihah dengan nama surat al-Wafîah (sempurna), sebab dalam surat al-Fatihah mencakup seluruh makna yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Imam al-Tsa’labî memberi alasan lain tentang penamaan di atas, yaitu bahwa Surat al-Fatihah ini tidak menerima tanshif (setengah-setengah). Sebab setiap surat Al-Qur’an apabila dibaca dalam shalat, boleh dibaca separuh di rakaat pertama, kemudian dilanjutkan separuhnya di rakaat kedua, berbeda dengan al-Fatihah, ia tidak bisa dibaca kecuali harus dibaca secara utuh dan lengkap.

Dalam hal ini, baik Imam Sufyan maupun al-Tsa’labî memberi nama pada surat al-Fatihah sesuai makna yang terkandung dalam surat al-Fatihah, tanpa berdasarkan pada petunjuk Nabi. 

Perlu diketahui bahwa ada sejumlah surat yang tidak hanya memiliki satu nama saja, termasuk di antaranya adalah Surat al-Fatihah. Surat ini memiliki banyak nama, ada yang sesuai petunjuk Nabi (tauqifî), ada yang sesuai ijtihad sahabat atau tabi’in (taufiqî).

Nama-nama Surat al-Fatihah, yang sesuai dengan petunjuk Nabi adalah sebagai berikut:

1. Ummul Qur’an
2. Fatihah al-Kitab
3. Al-Sab’u al-Matsanî.

Ketiga nama-nama di atas sesuai dengan sabda Nabi: 

عن  أبي هريرة، عن النبي أنه قال: هي أم القرأن، وهي الفاتحة، وهي السبع المثاني 

Artinya: “Surat al-Fatihah itu adalah ummul Qur’an, al-Fatihah, dan al-Sab’u al-Matsanî.”

Adapun nama-nama atas ijtihad sahabat atau tabi’in beserta alasan penamaannya adalah sebagai berikut:

1. Al-Wafîah, karena mencakup seluruh makna yang terkandung dalam Al-Qur’an

2. Al-Kafîah, karena bacaan al-Fatihah mencukupi dalam shalat, sedangkan yang surat yang tidak bisa menggantikan al-Fatihah,

3. Al-Munajah, karena seorang hamba bermunajat kepada Tuhannya dengan ucapan: (إياك نعبد وإياك نستعين) 

4. Al-Du’a, karena mencakup unsur doa, (اهدنا الصراط المستقيم),

5. Al-Tafwîd, karena mengandung unsur kepasrahan dan ketulusan beribadah kepada-Nya dengan ucapan: (إياك نعبد وإياك نستعين).

Dengan demikian, penamaan surat-surat dalam Al-Qur’an secara umum adalah tauqifî, sesuai petunjuk Nabi. Namun sebagian nama-nama itu ada yang ijtihad sahabat atau para tabi’in karena melihat pada kandungan makna yang terdapat surat itu. Wallahu a’lam.


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo


Penjelasan ini merupakan ringkasan dari kitab "Tarikh al-Qur'an al-Karim" karya Dr Muhammad Salim Muhaisin (hal. 76-108) 
Share:
Rabu 14 November 2018 18:30 WIB
Mengapa di Al-Qur’an Ada Bacaan ‘Alaihu-Llah’, Bukan ‘Alaihi-Llah’?
Mengapa di Al-Qur’an Ada Bacaan ‘Alaihu-Llah’, Bukan ‘Alaihi-Llah’?
Pada dasarnya, dalam kaidah bahasa Arab yang baku, ha’ dhamir mudzakkar (kata ganti tunggal yang maskulin) apabila didahului oleh kasrah atau ya’ sukun, maka harus dibaca kasrah, karena untuk menyesuaikan harakat sebelumnya, seperti lafadz (بِهِ) atau (عَلَيْهِ). Namun dalam riwayat Imam Hafs, kaidah ini tidak berlaku, yakni pada Surat al-Fath ayat 10 (عليهُ الله) dan Surat al-Kahfi ayat 63 (وما أنسابيهُ). Pada kedua lafadz di atas, ha’ dhamirnya dibaca dhammah, padahal menurut kaidah bahasa seharusnya dibaca kasrah.

Dua ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS al-Fath: 10)

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

Artinya: “Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali’.” (QS al-Kahfi:63)

Mengapa demikian? Padahal, untuk mengidentifikasi keotentikan sebuah qira’at Al-Qur’an harus memenuhi tiga syarat, yaitu (1) tersambungnya sanad secara mutawatir, (2) sesuai dengan rasm utsmaniy, dan (3) sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Apabila syarat di atas tidak terpenuhi, maka bacaan tersebut dihukumi syadz (nyeleneh) dan tidak shahih, walaupun bacaan itu bagian dari Qira’at Sab’ah. Dalam hal ini Imam Al-Jazariy bersenandung lewat bait syairnya, yaitu:

فكل ما وافق وجه النحو *** وكان للرسم احتمالا يحوي
وصح إسنادا هو القرأن *** فهذه الثلاثة الأركان
وحيثما يختل ركن أثبت *** شذوذه لو أنه في السبعة

Dalam bahasa Arab, asal mula ha’ dhamir mudzakkar (kata ganti tunggal yang maskulin) adalah “هو” (huwa; dhammah ha’-nya). Dalam dunia pesantren, lafadz ini kenal dengan sebutan “dhamir munfashil” (kata ganti tunggal maskulin yang terpisah dari lafadz lain). Apabila dhamir ini disambung dengan lafadz lain, maka dhamir itu dikenal dengan sebutan “dhamir muttashil”.

Dalam bacaan riwayat Imam Hafs, pada kedua lafadz di atas (عليهُ الله) (وما أنسابيهُ) dibaca dhammah, apabila ditinjau dari sisi kaidah bahasa Arab, sebenarnya tidak keluar dari pakem bahasa Arab, sebab asal mula harakat ha’ dhamir itu sendiri adalah dhammah. Artinya, dalam hal ini ha’ dhamir dibaca dhammah karena mengukuti sesuai asalnya, yaitu dhammah. Demikian ini merupakan dialek (lahjah) Qurasy.

Sementara itu, apabila dipandang dari sisi pemaknaan, pada kasus Surat al-Fath ayat 10 (عليهُ الله) ha’ dhamir yang bersambung dengan lafadz Allah, menurut Syekh Al-Sayyid Al-Tanthawiy dalam tafsirnya Al-Wasith menguraikan bahwa alasan dibaca dhammah ha’ dhamir pada lafadz itu karena bersambung dengan lafadz Allah. Untuk mengagungkan lafadz, seyogianya dibaca tebal (tafkhim). Selain itu, dalam ayat tersebut menceritakan tentang “Sulh Al-Hudaibiyah” di mana antara Nabi dan umat Islam melakukan perjanjian dengan kaum musyrik yang harus ditepati oleh kedua belah pihak. Karena dalam perjanjian ini adalah perjanjian yang sangat berat, maka sewajarnya ditekankan suara dengan membaca dhammah ha’ dhamir dengan menebalkan lafadz Allah agar sesuai dengan besarnya tanggung jawab perjanjian dan juga dalam rangka menyesuaikan antara lafadz dan makna yang terkandung di dalamnya.

Meskipun demikian, apabila dipandang dari sisi ilmu qira’at, bacaan ini (dhammah ha’ dhamir) merupakan bacaan yang sahih dan mutawatir, yang dihasilkan dari transmisi yang jelas dan penukilan yang sahih dari Nabi ﷺ., kepada para sahabat, dan dilanjutkan oleh para tabi’in hingga sampai kepada kita.

Secara silsilah sanad, bacaan ini diriwayatkan oleh Sayyidina Ali karramallâhu wajhah kepada muridnya, Abu Abdurrahman Al-Sullamiy, kemudian diriwayatkan oleh muridnya Imam Ashim, dan dilanjutkan oleh muridnya Imam Hafs, hingga sampai kepada kita secara mutawatir.

Perlu diketahui bahwa dalam periwayatan qira’at Al-Qur’an tidak ada istilah ijtihad bacaan atau mengekor pada kaidah bahasa Arab, justru sebaliknya bahasa Arab harus mengikuti periwayatan qira’at Al-Qur’an. Sementara penggalian pada sisi pemaknaan, bahasa dan lainnya sebagai bukti kebeneran dan otentifikasi qira’at Al-Qur’an. Wallahu a’lam.


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

Selasa 30 Oktober 2018 10:0 WIB
Enam Pola Penulisan Al-Qur’an yang Berbeda dari Kaidah Arab Konvensional
Enam Pola Penulisan Al-Qur’an yang Berbeda dari Kaidah Arab Konvensional
Ilustrasi (via Twitter)
Pada dasarnya, penulisan bahasa Arab harus sesuai antara apa yang tertulis dan apa yang diucapkan, tanpa harus ada penambahan dan pengurangan, sesuai kaidah yang berlaku pada penulisan bahasa Arab. Penulisan samacam ini dikenal dengan “rasm imla’î”. Sementara itu, dalam penulisan mushaf Al-Qur’an yang kita ketahui bersama terdapat beberapa penulisan yang berbeda dan tidak sesuai dengan pola penulisan bahasa Arab secara konvensional.

Hal itu lantaran teks Al-Qur’an yang sampai pada kita sekarang menggunakan standar rasm mushaf utsmanî. Secara definitif, rasm mushaf utsmanî adalah penulisan kalimat-kalimat atau huruf-huruf Al-Qur’an yang dilaksanakan dan disahkan oleh khalifah Utsman bin 'Affan radliyallahu ‘anh.

Penulisan mushaf memiliki beberapa kaidah (pola penulisan) baik dalam khat dan rasm-nya. Pola penulisan ini terbagi enam:

Pertama, kaidah hadf (pengurangan huruf). Dalam pola ini ada beberapa pengurangan; alif, ya’, wawu dan lam.

• Pengurangan huruf alif, seperti lafadz: (الرّحمن) (سبحن), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya (الرّحمان) (سبحان).

• Pengurangan huruf ya’ seperti, (غير باغ ), penulisan secara imla’I seharusnya (غير باغي ).

• Pengurangan huruf wawu seperti, (يدع) (يمح الله), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya: (يدعو) (يمحو الله)

• Pengurangan huruf lam, seperti (اليل) (الذي), penulisan bahasa Arab yang benar seharusnya, (الليل) (اللذي). 

Kedua, pola penambahan huruf, yakni alif, wawu dan ya’. 

• Penambahan huruf alif, seperti: (مائة), penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (مئة).

• Penambahan huruf ya’ seperti, (بأييد), penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (بأيد).

• Penambahan huruf wawu seperti, (أولئك) (أولو),penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (أولئك) (أولو). 

Ketiga, pola penulisan hamzah, secara ringkas bahwa hamzah sukun ditulis sesuai huruf harakat sebelumnya, seperti pada lafadz (البأساء) (آؤتمن) (آئذن). Sedangkan hamzah yang berharakat apabila di awal kalimat dan bersambung dengan huruf tambahan, maka ditulis dengan huruf alif, baik berharakat fathah maupun berharakat kasrah, seperti (أيوب) (إذا) (سأنزل). Adapun apabila hamzah berada di tengah-tengah kalimat, maka ia ditulis sesuai dengan jenis harakatnya, seperti (سأل) (سئل) (تقرؤه). Sementara hamzah yang berada di ujung kalimat, maka ditulis sesuai dengan harakat sebelumnya, seperti (سبأ) (شاطئ) (لؤلؤ). 

Keempat, pola pergantian huruf dengan huruf yang lain, seperti pergantian huruf alif dengan huruf wawu pada kalimat berikut ini (الصلوة) (الزكوة) (الحيوة), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya (الصلاة) (الزكاة) (الحياة). 

Kelima, pola persambungan dan pemisahan huruf dengan huruf yang lain atau sebaliknya. 

• Pola persambungan seperti (ألن نجمع عظامه) yang lazimnya ditulis (أن لن نجمع عظامه).

• Pola pemisahan seperti (أنّ ما) yang lazimnya ditulis (أنّما).

Keenam, pola tulisan yang memiliki dua bacaan, yaitu seperti: (مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) (يُخَدِعُوْنَ). kedua contoh tersebut dalam mushaf tidak ditulis huruf alif sebagai tanda panjang namun ada riwayat yang membaca panjang. Seharusnya, secara penulisan imla’I ditulis sebagai berikut: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) (يُخَادِعُوْنَ).

Demikian penjelasan yang disarikan dari kitab Manâhil ‘Irfân fî Ulûmil Qur’ân (Kairo: Maktabah Isa Al-Halabi, tt. h. 369). Perlu diketahui bahwa kaidah penulisan yang telah disebutkan di atas, tidak sepenuhnya berlaku pada penulisan Al-Qur’an, sebab ada banyak lafadz-lafadz dalam Al-Qur’an yang pada suatu ayat ditulis dengan pola tertentu, tetapi pada ayat yang lain—padahal lafadznya sama—ditulis dengan pola lain. Oleh karena itu, pola penulisan Al-Qur’an tidak bisa dijadikan pedoman yang baku, tidak bisa dijadikan qiyas atau standar (خط المصحف لا يقاس عليه).
 
Kaitannya dengan ini, maka tidak boleh seseorang membaca Al-Qur’an hanya berpedoman pada penulisan mushaf tanpa disertai talaqqi atau berguru kepada seorang guru yang mutqin (ahli). 


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

Rabu 17 Oktober 2018 11:15 WIB
Kenapa Bacaan Al-Qur’an Disandarkan kepada Imam Qira'at, Bukan Nabi?
Kenapa Bacaan Al-Qur’an Disandarkan kepada Imam Qira'at, Bukan Nabi?
Ilustrasi (pixabay)
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam, mengimaninya adalah bagian dari rukun iman. Ia adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, melalui malaikat Jibril dengan versi dan variasi yang berbeda-beda. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Sesunguhnya Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah (Al-Qur’an) itu yang mudah darinya.” (Imam Bukhari, Shahih Bukhariy, Beirut: Idar Al-Tiba’at Al-Miniriyyah, tt, juz 6, h. 227)

Adanya variasi bacaan dalam Al-Qur’an ini merupakan karunia Allah yang diberikan secara khusus kepada umat Nabi Muhammad ﷺ, sebagai bentuk kasih sayang Allah terhadap mereka agar mudah melafalkan dan membacanya. Dalam kajian Islam, studi tentang variasi bacaan Al-Qur’an ini kemudian dikenal dengan disiplin Ilmu Qira’at Al-Qur’an.

Pada masa Nabi, para sahabat menerima bacaan Al-Qur’an secara langsung dari beliau dan secara serius dan antusias mereka mempelajarinya dengan versi bacaan qira’atnya. Pada masa ini lahirlah ahli qira’at (qurra’) dari kalangan sahabat Nabi, seperti: Ubay bin Ka’ab (w. 20 H), Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H), Abu Al-Darda’ (w. 32 H) Ustaman bin Affan (w. 35 H), Ali bin Abi Thalib (w. 40 H), Abu Musa Al-Asy’ariy (w. 44 H), dan Zaid bin Tsabit (w. 45 H). (Abdul Hadi Al-Fadhliy, Al-Qira’at Al-Qur’aniyat: Tarikh wa Ta’rif, Beirut: Dar Al-Qalam, 1985, h. 18) 

Para ahli qira’at dari kalangan para sahabat ini dalam mempelajari dan mendalami qira’at Al-Qur’an dari Nabi berbeda-beda; ada yang memiliki satu, dua versi bacaan, ada yang memiliki tiga versi bacaan dan bahkan ada yang lebih dari itu. (Abdul Adhzim Al-Zurqaniy, Manahil Al-Irfan fi Ulum Al-Qur’an, Mesir: Isa Al-Halabiy, tt, juz 1, h. 406)

Setelah sepeninggal Nabi, pada sahabat berpencar-pencar hijrah ke berbagai negara dunia Islam. Ada yang ke Syam, seperti Abu Al-Darda’, ada yang ke Kufah seperti Ibnu Mas’ud dan Sayyidina Ali. Oleh sebab itu, para ahli qurra’ dari kalangan sahabat mengajarkan bacaan Al-Qur’an dengan berbagai versi yang mereka terima dari Nabi kepada generasi para tabi’in. Dari para sahabat inilah kemudian para tabi’in memiliki dan menguasai versi qira’at yang berbeda-beda pula. 

Setelah masa sahabat berlalu, para ahli qira’at dari generasi tabi’in mengajarkan Al-Qur’an sesuai dengan versi dan variasi qira’at yang mereka kuasai dan mereka terima dari para sahabat. 

Namun demikian, dalam perjalanan sejarahnya, muncul qira’at Al-Qur’an atau bacaan Al-Qur’an yang diragukan keberadaannya, dan diduga tidak bersumber dari Nabi. Hal ini disebabkan meluasnya daerah kekuasaan Islam dan semakin banyaknya penduduk Islam dari luar kalangan bangsa Arab. (Ibnu Al-Jazari, Al-Nasyr fi Al-Qira’at Al-Asyr, Mesir: Dar Al-Fikr, tt, h. 9)

Oleh karena itu, pertengahan kedua abad pertama hijriah dan pertengahan awal abad kedua hijriah, para ulama ahli qira’at terdorong untuk meneliti dan menyeleksi berbagai versi dan variasi qira’at Al-Qur’an yang berkembang waktu itu. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli qurra’ secara selektif dan akurat, maka dapat disimpulkan bahwa tujuh versi qira’at yang populer dan kemudian dilesrtarikan oleh para imam qira’at dinilai sebagai bacaan (qira’at) yang mutawatir, bersumber dari Nabi ﷺ Bacaan yang populer inilah kemudian dikenal dengan sebutan “qira’at sab’ah” atau tujuh qira’at. (Manna’ AL-Qatthan, Mabahits fi Ulum AL-Qur’an, Beirut: Mansyurat Al-Ashr Al-Hadits, 1973, h. 131)

Tujuh qira’at ini atau qira’at sab’ah ini kemudian dinisbahkan (disandarkan) kepada para Imam Qira’at yang berjumlah tujuh, yaitu: Pertama, Imam Nafi’ bin Abdurrahman (w. 169 H). Kedua, Imam Abdullah bin Katsir (w. 120 H). Ketiga, Imam Abu Amr, Zabban bin Al-Ala’ Al-Bashriy (w. 154 H). Keempat, Imam Abdullah Ibnu AmirAl-Syamiy (w. 118 H). Kelima, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy (w. 128 H). Keenam, Imam Hamzah bin Al-Zayyat (w. 156 H). Ketujuh, Imam Ali bin Hamzah Al-Kisa’i (w. 189 H). 

Penisbahan qira’at Al-Qur’an kepada para Imam Qira’at sab’ah ini bukan berarti qira’at itu adalah hasil ijtihad mereka (hasil karya dan rekayasa mereka). Ungkapan seperti qira’at Nafi’, qira’at Ibnu Katsir, qira’at Ashim, dan yang lain, hanya menunjukkan bahwa qira’at yang dinisbahkan kepada mereka adalah hasil penelitian dan seleksi mereka terhadap berbagai qira’at yang ada. Kemudian mereka secara rutin dan secara berkesinambungan membaca, mengajarkan dan melestarikannya. 

Oleh karena itu, penisbahan qira’at ini kepada para imam qira’at sama halnya dengan penisbahan hadits Nabi kepada imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Al-Tirmidziy. Apabila disebutkan hadits Bukhari, Muslim, Al-Tirmidziy, maka sependek pengetahuan kita menyimpulkan bahwa hadits itu bukan hasil karya dan rekayasa Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Tirmidzy. Dalam hal ini para imam itu hanya menyeleksi dan meriwayatkannya. Demikian pula qira’at Al-Qur’an yang dinisbahkan kepada Imam Qira’at.


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo