IMG-LOGO
Jumat

Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Ba‘diyyah Jumat

Jumat 23 November 2018 11:0 WIB
Share:
Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Ba‘diyyah Jumat
(Foto: @prayerinislam.com)
Shalat sunnah ba‘diyyah adalah shalat sunnah rawatib yang dilakukan setelah shalat wajib. Khusus untuk shalat Subuh dan Ashar, tiada kesunnahan shalat ba‘diyyah. Bahkan shalat ba‘diyyah Subuh dan Ashar terbilang makruh yang mendekati haram.

Adapun kesunnahan shalat ba‘diyyah Jumat tetap berlaku sebagaimana shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat Zuhur.

قَوْلُهُ (نَفْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ) أَيْ سُنَّتُهَا الْقَبْلِيَّةُ وَأَمَّا الْبَعْدِيَّةُ فَفِعْلُهَا فِي الْبَيْتِ أَفْضَلُ

Artinya, “Redaksi (shalat nafilah hari Jumat), maksudnya shalat sunnah qabliyyah Jumat. Sedangkan shalat sunnah ba‘diyyah Jumat dikerjakan lebih utama di rumah,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi ‘alal Manhaj, juz II, halaman 458).

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dari Mazhab Syafi‘i mengatakan bahwa shalat ba‘diyyah Jumat dianjurkan dikerjakan di rumah. Pandangan ini didasarkan pada asumsi bahwa jarak masjid dan rumah cukup dekat. Menurut hemat kami, kalau masjid tempat ibadah Jumat itu jauh dari rumah, shalat ba‘diyyah Jumat sebaiknya dilakukan di masjid.

Berikut ini adalah lafal niat shalat sunnah ba‘diyyah Jumat:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatal Jumu‘ati rak‘ataini ba‘diyyatan lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah ba‘diyyah Jumat dua rakaat karena Allah SWT,” (Lihat Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun], halaman 13).

Hari Jumat tidak menghilangkan kesunnahan shalat sunnah ba‘diyyah setelah shalat Jumat. Shalat ba‘diyyah Jumat tetap disunnahkan sebagai kesunnahan shalat sunnah rawatib setelah Zuhur. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Jumat 23 November 2018 8:0 WIB
Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Qabliyyah Jumat
Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Qabliyyah Jumat
(Foto: @pixabay)
Shalat zuhur pada hari Jumat diganti dengan rangkaian ibadah shalat Jumat. Meski demikian, anjuran shalat sunnah rawatib pada hari Jumat tetap berlaku meski yang dilakukan umat Islam adalah shalat Jumat, bukan shalat zuhur.

Mazhab Syafi‘i menyebut adanya kesunnahan shalat sunnah qabliyyah Jumat sebagai pengganti posisi shalat sunnah qabliyyah zuhur. Sebagaimana diketahui, shalat sunnah qabliyyah adalah shalat sunnah yang dilakukan sebelum shalat wajib lima waktu dilakukan.

Shalat sunnah qabliyyah Jumat dilakukan setelah masuk waktu Jumat. Tetapi ketika khatib sudah mulai berkhutbah, shalat sunnah qabliyyah Jumat sebaiknya dilakukan secara ringkas.

قَوْلُهُ (نَفْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ) أَيْ سُنَّتُهَا الْقَبْلِيَّةُ وَأَمَّا الْبَعْدِيَّةُ فَفِعْلُهَا فِي الْبَيْتِ أَفْضَلُ

Artinya, “Redaksi (shalat nafilah hari Jumat), maksudnya shalat sunnah qabliyyah Jumat. Sedangkan shalat sunnah ba‘diyyah Jumat dikerjakan lebih utama di rumah,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi ‘alal Manhaj, juz II, halaman 458).

Adapun berikut ini adalah lafal niat shalat sunnah qabliyyah Jumat:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatal Jumu‘ati rak‘ataini qabliyyatan lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah qabliyyah Jumat dua rakaat karena Allah SWT,” (Lihat Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun], halaman 13).

Shalat sunnah qabliyyah pada hari Jumat ini tetap dianjurkan. Kekhususan ibadah di hari Jumat tidak menghalangi kesunnahan shalat sunnah rawatib yang lazim mengiringi shalat wajib lima waktu baik sebelum dan sesudahnya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 19 November 2018 19:0 WIB
Bolehkah Menggabungkan Mandi Janabah dan Mandi Jumat?
Bolehkah Menggabungkan Mandi Janabah dan Mandi Jumat?
Ilustrasi (utilities-me.com)
Salah satu adab yang dianjurkan Nabi di hari Jumat adalah mandi Jumat. Anjuran mandi Jumat tidak hanya bagi laki-laki, namun juga bagi perempuan yang berniat menjalankan Jumat. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda:

مَنْ أَتَى الْجُمُعَةَ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ النِّسَاءِ فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ لَمْ يَأْتِهَا فَلَيْسَ عَلَيْهِ غُسْلٌ

“Barangsiapa dari laki-laki dan perempuan yang menghendaki Jumat, maka mandilah. Barangsiapa yang tidak berniat menghadiri Jumat, maka tidak ada anjuran mandi baginya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Waktu pelaksanaan mandi Jumat dimulai sejak terbit fajar Shadiq sampai pelaksanaan Jumat. Lebih utama dilakukan menjelang keberangkatan menuju tempat shalat Jumat. Mandi Jumat juga bisa diqadla’ pelaksanaannya bila terlewat dari waktunya.

Persoalan muncul saat pagi hari Jumat janabah menghampiri. Mimpi basah atau melakukan hubungan suami istri menyebabkan seseorang wajib mandi janabah. Pertanyaannya kemudian, bolehkan niat mandi janabah dibarengkan dengan mandi Jumat? Apakah mendapat pahala keduanya?

Ulama di kalangan mazhab Syafi’i berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian ulama berpendapat, hukumnya tidak sah, baik janabah atau mandi Jumatnya. Pendapat ini dipilih oleh Syekh Abu Sahl al-Sha’luki. Menurut versi ini, mandi janabah dan mandi Jumat harus dilaksanakan sendiri-sendiri. Sehingga dalam pelaksanaannya dibutuhkan dua kali mandi, mandi janabah dan  mandi jumat. Tidak ada ketentuan mana yang harus didahulukan.

Sementara menurut mayoritas ulama, hukumnya boleh dan sah. Satu kali mandi dengan dua niat sekaligus, mandi janabah dan mandi Jumat, menurut pendapat ini diperbolehkan dan dapat hasil dua pahala.

Syekh al-Imam Syarafuddin Yahya al-Nawawi mengatakan:

ولو نوى بغسله غسل الجنابة والجمعة حصلا جميعا هذا هو الصحيح وبه قطع المصنف في باب هيئة الجمعة والجمهور وحكي الخراسانيون وجها انه لا يحصل واحد منهما: قال امام الحرمين هذا الوجه حكاه أبو علي وهو بعيد قال ولم أره لغيره وحكاه المتولي عن اختيار ابي سهل الصعلوكي

“Apabila berniat mandi janabah dan mandi Jumat, maka keduanya hasil semua. Ini adalah pendapat al-Shahih dan ditegaskan oleh sang pengarang dalam bab tata cara Jumat, demikian pula ditegaskan oleh mayoritas ulama. Dan ulama Khurasan menceritakan satu pendapat bahwa tidak hasil keduanya. Al-Imam al-Haramain berkata, ini adalah pendapat yang diceritakan oleh Imam Abu Ali, ini adalah pendapat yang jauh dari kebenaran, aku tidak pernah mengetahui selain dari kutipan Abu Ali ini. Pendapat ini juga dikutip al-Imam al-Mutawalli dari pendapat yang dipilih oleh Imam Abu Sahl al-Sha’luki. (Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 1, hal. 368).

Bila melihat pertimbangan keutamaan, mandi janabah dan jumat sebaiknya diniati dan dilakukan sendiri-sendiri, untuk menghindari pendapat yang tidak mengesahkan diniati secara bersamaan. Sesuai dengan kaidah fiqih:

الخروج من الخلاف مستحب

“Keluar dari perbedaan ulama adalah sunah.”

Ketika dilakukan sendiri-sendiri, para ashab menegaskan yang lebih utama adalah melakukan mandi janabah terlebih dahulu kemudian disusul mandi Jumat.

Syekh Zainuddin al-Malibari menegaskan:

ـ ( فرع ) لو اغتسل لجنابة ونحو جمعة بنيتهما حصلا وإن كان الأفضل إفراد كل بغسل 

“Cabangan permasalahan. Apabila seseorang mandi janabah dan semisal mandi Jumat dengan diniati keduanya, maka hasil keduanya, meski yang lebih utama adalah menyendirikan masing-masing mandi tersebut. (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in Hamisy Hasyiyah I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 79).

Syekh Abu Bakr bin Syatha memberi komentar referensi di atas dalam keterangannya sebagai berikut:

ـ (قوله حصلا) أي حصل غسلهما كما لو نوى الفرض وتحية المسجد  ( قوله وإن كان الأفضل إلخ ) غاية للحصول  وقوله إفراد كل بغسل قال ع ش قال في البحر والأكمل أن يغتسل للجنابة ثم للجمعة ذكره أصحابنا  اه عميرة  اه

“Ucapan Syekh Zainuddin, maka hasil keduanya, maksudnya hasil kedua mandi itu sebagaimana permasalahan niat shalat fardlu sekaligus niat tahiyyatul masjid. Ucapan Syekh Zainuddin, meski yang lebih utama adalah menyendirikan masing-masing, ini adalah puncak keabsahan. Syekh Ali Syibramalisi berkata, al-Imam al-Rauyani berkata, yang lebih sempurna adalah mandi janabah terlebih dahulu kemudian mandi Jumat. Demikian disebutkan oleh para ashab. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Hasyiyah I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 79)

Demikianlah penjelasan mengenai hukum mandi janabah dilakukan bersamaan dengan mandi Jumat. Semoga bermanfaat dan bisa dipahami dengan baik. Wallahu a’lam.

(M. Mubasysyarum Bih)

Senin 19 November 2018 15:0 WIB
12 Adab Khatib Menurut Imam Al-Ghazali
12 Adab Khatib Menurut Imam Al-Ghazali
Beberapa shalat mensyaratkan adanya khutbah dan menjadi bagian integral dengan shalat tersebut. Misalnya adalah shalat Jumat yang harus didahului dengan khutbah yang disampaikan oleh khatib. Imam Al-Ghazali dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, t.th., halaman 437), menyebutkan adab-adab seorang khatib sebagai berikut:

أداب الخطيب: يأتى المسجد وعليه السكينة والوقار، ويبدأ بالتحية ويجلس وعليه الهيبة، و يمتنع عن التخاطب، وينتظر الوقت، ثم يخطو إلى المنبر و عليه الوقار، كأنه يحب أن يعرض ما يقول على الجبار، ثم يصعد للخشوع، ويقف على المرقاة بالخشوع ويرتقي بالذكر، ويلتفت إلى مستمعيه باجتماع الفكر، ثم يشيرإليهم بالسلام ليستمعوا منه الكلام، ثم يجلس للأذان فزعا من الديان، ثم يخطب بالتواضع، ولا يشير بالأصابع، ويعتقد ما يقول لينتفع به، ثم يشير اليهم بالدعاء، وينزل إذا أخذ المؤذن في الإقامة، ولا يكبر حتى يسكتوا، ثم يفتتح الصلاة، ويرتل ما يقرأ. 

Artinya: “Adab khatib, yakni berangkat ke masjid dengan hati dan pikiran tenang; terlebih dahulu shalat sunnah dan duduk dengan khidmat; tidak berbincang-bincang dan menunggu waktu; kemudian melangkah ke mimbar dengan rasa terhormat seolah-olah senang mengatakan sesuatu yang akan disampaikan kepada Yang Maha Perkasa; kemudian naik dan berdiri di tangga dengan khusyu’ sambil berdzikir; berputar untuk melayangkan pandangan kepada para pendengarnya dengan penuh konsentrasi kemudian menyampaikan salam kepada pendengar agar mereka mendengarkan; kemudian duduk untuk mendengarkan adzan dengan penuh rasa takut kepada Yang Maha Kuasa; kemudian berkhutbah dengan penuh tawadhu’; tidak menunjuk dengan jari-jari; merasa yakin bahwa yang disampaikan bermanfaat; kemudian memberi isyarat kepada makmun agar berdoa; turun dari mimbar jika muadzin sudah bersiap-siap iqamat; tidak bertakbir sebelum jamaah tenang; kemudian mulai shalat dan membaca ayat-ayat Al-Qurán dengan tartil.”

Dari kutipan di atas dapat diuraikan kedua belas adab khatib sebagai berikut:

Pertama, berangkat ke masjid dengan hati dan pikiran tenang. Seorang khatib memiliki tanggung jawab penuh terhadap sah tidaknya khutbah yang dia sampaikan terutama yang menyangkut syarat-syarat dan rukun-rukun khutbah. Oleh karena itu seorang khatib hendaknya dalam kondisi fisik dan psikis yang baik ketika menyampaikan khutbah.  

Kedua, terlebih dahulu shalat sunnah dan kemudian duduk dengan khidmat. Seorang khatib setelah sampai dan memasuki masjid hendaknya melakukan shalat sunnah sebelum duduk menunggu tibanya waktu shalat Jumat dengan tidak berbincang-bincang dengan orang-orang di sekitarnya kecuali sangat terpaksa. 

Ketiga, melangkah menuju mimbar dengan rasa terhormat seakan-akan hendak mengatakan sesuatu kepada Yang Maha Perkasa. Seorang khatib hendaknya merasa percaya diri dengan tugas yang dijalankan karena ia memang sedang melaksanakan tugas keagamaan yang sangat penting dan terhormat. 

Keempat, naik ke tangga mimbar dan berdiri di mimbar dengan khusyu’ sambil berdzikir. Sesampai di mimbar, seorang khatib hendaknya berdiri dengan khusyu’ dan selalu mengingat Allah dengan bacaan-bacaan dzikir. Hal ini untuk membantu mengkondisikan suasana sakral karena khutbah tidak sama dengan pengajian umum yang bersifat bebas. 

Kelima, berputar untuk menatap para hadirin dengan penuh konsentrasi dan kemudian segera beruluk salam kepada mereka agar mereka mendengarkan. Hal ini penting karena para jamaah hendaknya mendengarkan apa yang disampaikan khatib dengan baik. Seorang khatib dalam menyampaikan khutbahnya sebaiknya tidak ngelantur, apalagi keluar dari konteks. 

Keenam, duduk untuk mendengarkan adzan dengan penuh rasa takut kepada Yang Maha Kuasa. Setelah beruluk salam khatib hendaknya duduk di kursi yang telah disediakan untuk mendengarkan adzan yang dikumandangkan oleh muadzin. Adzan tersebut hendaknya direspon oleh khatib dengan bacaan-bacaan tertentu secara lirih termasuk bacaan doa seusai adzan dikumandangkan. 

Ketujuh, seusai adzan seorang khatib menyampaikan khutbahnya dengan sikap tawadhu’ dan tidak menunjuk dengan jari-jari. Seorang khatib sebaiknya tidak menunjukkan sikap sombong atau bahkan arogan baik yang tercermin dalam kata-kata maupun dalam bahasa tubuh. Oleh karena itu, penggunaan jari-jari untuk menunjuk sesuatu atau seseorang sebagaimana biasa dilakukan dalam orasi politik harus dihindari selama khutbah berlangsung. 

Kedelapan, merasa yakin bahwa yang disampaikan bermanfaat. Materi yang disampaikan dalam khutbah harus dipastikan berisi tentang hal-hal yang bermafaat bagi para jamaah seperti ajakan untuk selalu bertakwa kepada Allah subhanu wat’ala dan berakhlak mulia. Oleh karena itu seorang khatib hendaknya menyiapakan materi yang baik dan benar sebelum naik ke mimbar. 

Kesembilan, memberi isyarat kepada jamaah agar berdoa. Pada saat khatib sampai pada doa, ia hendaknya memberi isyarat dengan mengangkat tangannya agar para hadirin mengetahui dan mengikutinya dengan mengangkat tangan sambil mengamini doa yang dipanjatkannya. 

Kesepuluh, turun dari mimbar jika muadzin sudah bersiap-siap iqamat. Seusai khutbah, khatib hendaknya tidak langsung turun dari mimbar hingga muadzin mulai menyerukan iqamat yang kemudian diikuti para jamaah dengan berdiri. 

Kesebelas, tidak bertakbir sebelum jamaah tenang. Khatib bisa sekaligus bertindak sebagai imam. Sebelum memulai takbiratul ihram, ia harus memperhatikan keadaan para jamaah, apakah sudah berdiri dengan tenang dan diam atau masih ada yang bergerak merapatkan barisan. Jika jamaah dalam jangakaun pandangannya sudah terlihat diam dan berdiri dengan rapat, ia bisa memulai takbiratul ihram. 

Kedua belas, mulai shalat dan membaca ayat-ayat Al-Qurán dengan tartil. Setelah takbiratul ihram yang diikuti oleh para jamaah, imam dapat membaca surat Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surat lainnya secara tartil. 

Demikianlah kedua belas adab khatib sebagaimana disampaikan Imam Al-Ghazali. Poin nomor 1 hingga nomor 6 dilakukan sebelum adzan dikumandangkan oleh muadzin. Poin nomor 7 hingga nomor 9 dilakukan setelah adzan dikumandangkan. Poin nomor 10 hingga nomor 12 dilakukan setelah muadzin menyerukan iqamah. Kedua belas adab ini penting diketahui oleh para khatib khususnya para khatib pemula yang belum terbiasa. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.