IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Meniup dan Mengipas Makanan atau Minuman Panas

Senin 26 November 2018 21:45 WIB
Share:
Hukum Meniup dan Mengipas Makanan atau Minuman Panas
(Foto: @pinterest)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, bapak pernah menegur adik saya yang mendinginkan mie rebus di piringnya dengan kipas bambu. Kata bapak kami, meniup atau mendinginkan makanan panas dilarang dalam agama Islam. Saya minta keterangan perihal ini. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nandar/Bandung)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Larangan meniup atau mengipas untuk mendinginkan makanan atau minuman panas dapat ditemukan dalam hadits riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi berikut ini.

وعن ابن عباس رضي اللّه عنهما أن النبي نهى أن يتنفس في الإناء أو ينفخ فيه

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi Muhammad SAW melarang pengembusan nafas dan peniupan (makanan atau minuman) pada bejana,” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Dari hadits ini para ulama terbelah menjadi beberapa pendapat. Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum meniup makanan atau minuman adalah makruh tanzih karena ini berkaitan dengan adab dan kebersihan.

Adapun ulama lain memberikan tafsil. Menurut sebagian ulama ini, larangan makruh ini berlaku dengan asumsi bila seseorang itu mengikuti jamuan makan bersama-sama dengan orang lain di satu wadah besar atau satu wadah bersama, atau satu wadah yang dipakai bersama orang lain. Pasalnya, orang lain kemungkinan akan merasa jijik atau menduga masuknya kotoran atau penyakit di mulutnya ke dalam wadah bersama itu.

Ketika seseorang makan sendiri atau makan bersama keluarga atau muridnya, maka larangan meniup makanan dan minuman tidak berlaku karena orang yang makan bersama dia tidak merasa jijik dengan tindakan peniupan itu.

قوله (نهى عن النفخ في الطعام) لأنه يؤذن بالعجلة وشدة الشره وقلة الصبر قال المهلب : ومحل ذلك إذا أكل مع غيره فإن أكل وحده أو مع من لا يتقذر منه شيئا كزوجته وولده وخادمه وتلميذه فلا بأس

Artinya, “Kata (Nabi Muhammad SAW melarang peniupan makanan) karena itu mengisyaratkan ketergesa-gesaan, kerakusan dan kurang sabar. Al-Mahlab mengatakan bahwa letak larangan itu terdapat ketika seseorang makan bersama orang lain pada satu wajan. Jika seseorang makan sendiri atau bersama orang yang tidak menganggap ‘kotor’ apa pun yang keluar dari dirinya, seperti istri, anak, bujang, dan muridnya, maka tidak masalah,” (Lihat Al-Munawi, Faidhul Qadir, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1994 M/1415 H], juz VI, halaman 420).

Sebagian ulama Mazhab Maliki dan Hanbali menyatakan bahwa peniupan makanan atau minuman tidak makruh untuk mendinginkan hidangan tersebut karena memakan makanan atau minuman panas dapat menghilangkan berkah.

وَفِي قَوْلٍ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ : إِنَّهُ لاَ يُكْرَهُ النَّفْخُ فِي الطَّعَامِ لِمَنْ كَانَ وَحْدَهُ. وَقَال الآْمِدِيُّ - مِنَ الْحَنَابِلَةِ - : إِنَّهُ لاَ يُكْرَهُ النَّفْخُ فِي الطَّعَامِ إِذَا كَانَ حَارًّا ، قَال الْمِرْدَاوِيُّ : وَهُوَ الصَّوَابُ إِنْ كَانَ ثَمَّ حَاجَةٌ إِلَى الأَْكْل حِينَئِذٍ

Artinya, “Satu pendapat di dalam Mazhab Maliki menyatakan bahwa peniupan atas makanan tidak dimakruh bagi orang yang makan sendiri. Al-Amidi dari Mazhab Hanbali mengatakan bahwa peniupan makanan tidak makruh bila makanan itu panas. Al-Mirdawi mengatakan bahwa, ini yang benar, (tidak makruh) jika ada keperluan untuk mengonsumsinya saat itu,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, Al-Mausuatul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Shafwah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz XXXXI, halaman 23).

Mayoritas ulama menyarankan orang yang memiliki punya waktu untuk menunggu dengan sabar makanan dan minumannya dingin seiring waktu. Sedangkan mereka yang berhajat untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang masih panas dapat mempercepat pendinginan makanan tersebut dengan bantuan kipas bambu atau alat bantu lain.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Share:
Ahad 25 November 2018 18:15 WIB
Hukum Menangisi Jenazah
Hukum Menangisi Jenazah
(Foto: @vocativ.com)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, saya pernah mendengar waktu kecil bahwa kita tidak boleh menangisi jenazah keluarga kita atau siapa saja. Ada kepercayaan bahwa tangisan kita akan menambah beban azab kubur almarhum di alam barzakh. Saya minta keterangan perihal ini. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Asep Suhendra/Ciamis)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Tangis sebagai tanda kesedihan atas kepergian seseorang merupakan hal yang sangat manusiawi. Sejauh tangis masih dalam batas kewajaran, Islam tidak melarangnya.

Ulama fiqih tidak memandang tangisan atas jenazah sebagai sebuah masalah. Rasulullah SAW sendiri meneteskan air mata ketika melepas putranya, Ibrahim, melewati detik-detik kehidupannya di dunia sebagaimana keterangan berikut ini:

ولا بأس بالبكاء على الميت من غير نوح ولا شق جيب ولا ضرب خد) يجوز البكاء على الميت قبل الموت وبعده أما قبله فلرواية أنس رضي الله عنه قال دخلنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم وإبراهيم ولده يجود بنفسه فجعلت عينا رسول الله صلى الله عليه وسلم تذرفان يعني تسيلان

Artinya, “(Tidak masalah menangisi jenazah tanpa meratap, merobek kantong, dan memukul pipi). Seseorang boleh menangisi orang lain baik sebelum maupun sesudah wafatnya. Kebolehan menangisi seseorang sebelum wafat didasarkan pada riwayat sahabat Anas RA, ia berkata, ‘Kami menemui Rasulullah SAW. Sementara Ibrahim, putra beliau, sedang mengembuskan nafas terakhirnya. Saat itu tampak air hangat mengalir, yaitu meluncur dari kedua mata Rasulullah SAW,’” (Lihat Taqiyyuddin Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 137-138).

Riwayat ini menunjukkan kebolehan menangisi seseorang menjelang wafatnya sebagaimana Rasulullah SAW menangis di akhir hayat putranya, Ibrahim. Dari riwayat ini, ulama menyimpulkan bahwa seseorang boleh menangisi orang lain sesaat sebelum orang lain tersebut wafat.

Adapun riwayat berikut ini mengisahkan tangisan Rasulullah SAW saat upacara pemakaman putrinya. Saat salah seorang putrinya dikebumikan, Rasulullah SAW tampak duduk di atas makam putrinya dan mengalirkan air mata di pipinya yang mulia.

وأما بعده فلما رواه أنس أيضا قال شهدنا دفن بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم فرأيت عينيه تذرفان وهو جالس على قبرها

Artinya, “Sedangkan kebolehan menangisi seseorang setelah wafat juga didasarkan pada hadits riwayat sahabat Anas RA. Ia berkata, ‘Kami menyaksikan pemakaman putri Rasulullah SAW. Aku melihat kedua matanya berlinang air mata. Sementara Rasulullah SAW duduk di atas makam putrinya,’” (Lihat Taqiyyuddin Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 138).

Dua riwayat dari sahabat Anas RA menjadi dasar atas argumentasi ulama bahwa tangis kesedihan atas kematian seseorang boleh dilakukan sebelum atau sesudah seseorang itu wafat. Yang tidak boleh dalam Islam adalah mengekspresikan kesedihan secara ekstrem atau berlebihan, yaitu meratao, memukul pipi, menyobek kantong pakaian, mogok makan, mogok bicara, dan seterusnya.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Sabtu 24 November 2018 22:5 WIB
Hukum Kentut di Ruang Publik
Hukum Kentut di Ruang Publik
(Foto: @via grid.id)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Pak ustadz, ketika kecil dahulu kami menganggap lumrah maaf kentut di hadapan teman-teman sebaya. Tetapi ketika dewasa kini kita terikat norma-norma sosial. Bagaimana kalau sebagian kami yang dewasa ini kentut sembarangan di depan umum. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdul Karim/Cilacap)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Maaf, kentut adalah peristiwa biologis biasa dan keniscayaan sebagaimana kita membuang air kecil dan air besar. Sampai di sini tidak ada masalah.

Persoalan ini akan menjadi berbeda ketika kentut di ruang publik. Kami melihat dua persoalan dalam hal ini, pertama soal bau atau aroma yang mengganggu dan kedua soal etika sosial.

Pada masalah pertama soal bau yang mengganggu dan aroma tidak sedap yang menyakiti orang lain, Islam melarang keras mereka yang tidak bersih-bersih mulut untuk menghadiri ruang publik seperti masjid dan ruang pertemuan lainnya.

Kita mendapati hadits Rasulullah SAW yang tidak memperkenankan orang yang memakan bawang putih tanpa bersih-bersih mulut untuk mendatangi masjid karena aromanya dapat mengganggu pengunjung lainnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud sebagai berikut:

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه و سلم قال من أكل من هذه الشجرة يعني الثوم فلا يقربن مسجدنا رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم فلا يقربن مساجدنا وفي رواية لهما فلا يأتين المساجد وفي رواية لابي داود من أكل من هذه الشجرة فلا يقربن المساجد

Artinya, “Dari Ibnu Umar RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Siapa saja yang memakan makanan ini, (maksudnya bawang putih), jangan mendekati masjid kami,’ (HR Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim, ‘jangan mendekati masjid-masjid kami.’ Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, ‘jangan mendatangi masjid-masjid.’ Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, ‘Siapa saja yang memakan pohon ini, jangan mendekati masjid-masjid,’” (Lihat Syekh Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1417 H], cetakan pertama, juz I, halaman 138).

Tentu saja hadits ini tidak dipahami harfiah yang menyempitkan maknanya. Larangan untuk menggangu orang lain dengan aroma tidak sedap dalam hadits ini juga mencakup tubuh dan pakaian. Seseorang harus memastikan tubuh dan pakaiannya tidak mengandung aroma busuk sebelum berjumpa dengan orang lain sebagaimana keterangan Sayyid Bakri Syatha berikut ini:

ومثل ذلك كل من ببدنه أو ثوبه ريح خبيث

Artinya, “Serupa dengan masalah itu (memakan bawang) adalah orang yang tubuh atau pakaiannya mengandung aroma busuk,” (Lihat Syekh Sayyid Bakri Syatha, I‘anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425 H-1426 H], juz II, halaman 51).

Dari sini kemudian para ulama membuat kaidah bahwa gangguan atas kenyamanan orang lain karena aroma dari mana pun sumbernya, yaitu mulut, tubuh, atau pakaian seseorang dilarang dalam Islam.

وَكُل رَائِحَةٍ مُؤْذِيَةٍ فَهِيَ مَمْنُوعَةٌ

Artinya, “Segala aroma yang menyakitkan orang lain maka itu dilarang,” (Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz X, halaman 104).

Hal ini bisa dipahami karena kita tidak dapat membayangkan bagaimana dampak aroma busuk atas kenyamanan orang lain ketika ada seseorang kentut (bau badan, bau ketiak, atau aroma tidak sedap lainnya) di ruang tertutup, pasar, bus kota, krl, atau ruangan berpendingin. Tentu saja kami tidak menyarankan seseorang untuk kentut sembarangan di ruang terbuka.

Lalu bagaimana dengan kentut yang tidak menghasilkan aroma busuk? Hal ini menurut hemat kami berkaitan dengan masalah kedua, yaitu etika sosial. Meski tidak melahirkan aroma busuk, suara kentut di depan umum dapat merusak mood, konsentrasi, dan gangguan psikis terhadap orang lain seperti mereka yang sedang makan atau minum.

Kami menyarankan mereka yang ingin kentut sebaiknya menjauh dari keramaian seperti menepi atau mencari ruang publik yang seharusnya seperti toilet umum.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Jumat 9 November 2018 23:10 WIB
Hukum Walk Out saat Khotbah Jumat karena Berisi Ujaran Kebencian
Hukum Walk Out saat Khotbah Jumat karena Berisi Ujaran Kebencian
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, pengaruh pilkada DKI Jakarta 2017 masuk jauh sampai forum khotbah Jumat. Tidak sedikit khotib di Jakarta terseret arus politik dan menjadikan mimbar khotbah sebagai orasi politik yang mengandung ujaran kebencian bahkan melemparkan tuduhan munafik dan kafir terhadap sesama Muslim.

Apakah saya berdosa ketika seorang khotib menyampaikan materi khotbah yang tidak etis dengan semangat kebencian dan permusuhan, lalu saya keluar dari masjid (walk out) untuk meninggalkan ibadah Jumat dan pulang ke rumah membawa kekecewaan? Saya tidak sendiri. Tetangga dan sebagian karyawan dari kantor di sekitar saya ikut juga walk out. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Beni/Kebayoran Lama)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Walk out atau praktik meninggalkan khotbah Jumat semacam ini pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Bahkan ketika itu, Rasulullah SAW sendiri yang menjadi khatibnya sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim berikut ini.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَجَاءَتْ عِيرٌ مِنْ الشَّامِ فَانْفَتَلَ النَّاسُ إِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا

Artinya, “ Dari Jabir bin Abdillah RA bahwa Nabi Muhammad SAW berkhutbah dalam posisi berdiri pada hari Jumat, lalu datang rombongan saudagar berkendaraan unta dari Syam, lalu sebagian besar jamaah Jumat berpaling menyongsongnya hingga tidak ada yang tersisa kecuali dua belas jamaah laki-laki,” (HR Muslim).

Dari hadits ini, diskusi ulama tertuju pada jumlah jamaah shalat Jumat dan praktik walk out oleh sebagian jamaah saat khotbah Jumat berlangsung.

Kedua masalah ini kemudian menentukan keabsahan shalat Jumat sebagaimana keterangan Mazhab Syafi‘i yang memandang kehadiran jamaah dengan bilangan tertentu sebagai syarat berlakunya sebuah rangkaian ibadah Jumat.

وَلَوْ انْفَضَّ الْأَرْبَعُونَ أَوْ بَعْضُهُمْ فِي الْخُطْبَةِ لَمْ يُحْسَبْ الْمَفْعُولُ فِي غَيْبَتِهِمْ

Artinya, “Kalau 40 orang atau sebagiannya memisahkan diri saat khotbah, maka rukun yang sedang dilakukan tidak masuk hitungan saat mereka absen,” (Lihat Imam An-Nawawi, Minhajut Thalibin pada Hamisy Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazil Minhaj, [Beirut, Darul Makrifah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz I, halaman 423).

Syekh M Khotib As-Syarbini dari Mazhab Syafi’i merinci jumlah jamaah Jumat dan jumlah orang yang walk out dalam ibadah Jumat. Selagi jumlah minimal jamaah Jumat terpenuhi, yaitu 40 orang  (syarat dan ketentuan berlaku), maka berapa pun jumlah jamaah yang walk out tidak mempengaruhi keabsahan khotbah.

وقد قال تعالى إذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا [الأعراف]. قال أكثر المفسرين المراد به الخطبة، فلا بد أن يسمع أربعون جميع أركان الخطبتين …والمقصود من الخطبة إسماع الناس، فإذا انفض الأربعون بطل حكم الخطبة، وإذا انفض بعضهم بطل حكم العدد، والمراد بالأربعين العدد المعتبر، وهو تسعة وثلاثون على الأصح، فلو كان مع الإمام الكامل أربعون فانفض واحد منهم لم يضر

Artinya, “ Allah berfirman, ‘Jika dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah,’ (Surat Al-A‘raf ayat 204). Mayoritas ulama tafsir mengatakan, kata ‘Al-Qur’an’ yang dimaksud pada ayat ini adalah khotbah. Jadi tiada jalan lain, 40 jamaah ini harus mendengarkan semua rukun dua khotbah… Tujuan khotbah sendiri adalah memperdengarkannya kepada jamaah. Jika 40 jamaah ini memisahkan diri, maka batal hukum khotbah. Jika hanya sebagian dari 40 jamaah itu memisahkan diri, maka batal hukum jumlah minimal. Yang dimaksud dengan ‘40’ ini adalah bilangan muktabar, yaitu 39 orang menurut qaul yang paling shahih. Tetapi jika ada 40 jamaah dengan seorang imam, lalu seorang dari mereka memisahkan diri, maka tidak masalah,” (Lihat Syekh As-Syarbini, Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj, [Beirut, Darul Makrifah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz I, halaman 423).

Syekh Wahbah Az-Zuhayli menyebut jumlah 40 jamaah menjadi syarat sah Jumat dalam Mazhab Syafi’I sehingga kehadiran mereka untuk mendengarkan khotbah menjadi keharusan.

فلو انفض الأربعون أو بعضهم في الخطبة، لم تصح الجمعة؛ لأن سماع الأربعين جميع أركان الخطبة مطلوب، والمقصود من الخطبة إسماع الناس، فإن نقصوا عن الأربعين قبل إتمام الجمعة استأنفوا ظهراً ولم يتموها جمعة؛ لأن العدد شرط

Artinya, “Kalau 40 orang atau sebagiannya memisahkan diri saat khotbah, maka shalat Jumat tidak sah karena 40 jamaah ini wajib mendengarkan seluruh rukun khotbah. Tujuan khotbah sendiri adalah memperdengarkannya kepada jamaah. Jika jumlah jamaah kurang dari 40 orang sebelum ibadah Jumat kelar, maka mereka harus memulai shalat Zuhur dan tidak melanjutkan ibadah Jumatnya karena jumlah minimal itu menjadi syarat,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz II, halaman 276-277).

Hanya saja semangat walk out di zaman nabi berbeda dengan semangat walk out yang dideskripsikan dalam pertanyaan di atas. Semangat walk out di zaman nabi lebih dilatarbelakangi oleh semangat duniawi. Sebaliknya, praktik walk out yang dideskripsikan dalam pertanyaan di atas justru didorong oleh semangat moral keagamaan yang menghendaki sakralitas mimbar Jumat.

Lalu bagaimana menyelesaikan persoalan ini? Menurut hemat kami, masing-masing pihak baik khotib maupun jamaah yang walk out bersikap ekstrem atau melewati batas. Padahal, khotib dan jamaah Jumat adalah entitas penting yang menentukan keabsahan ibadah Jumat. Tidak akan ada Jumat tanpa jamaah. Sebaliknya, tidak ada Jumat tanpa khotib.

Seharusnya, jamaah yang walk out menahan diri untuk bertahan meskipun khotib memperkosa sakralitas mimbar khotbah Jumat karena ibadah Jumat merupakan kewajiban yang sangat istimewa. Sementara para khotib seharusnya menahan diri untuk membatasi diri pada tujuan mimbar khotbah untuk menyampaikan ketakwaan belaka atau riwayat yang menginspirasi dan tidak menyalahgunakannya untuk menyampaikan aspirasi politik pribadi atau kelompok tertentu.

Selain membatasi durasi khotbah, pihak pengurus atau takmir masjid perlu membuat sejumlah tata tertib untuk para khotib Jumat, tidak segan menegur khotib setelah shalat Jumat, dan memberikan sanksi "pemberhentian" bila perlu. Pilkada DKI Jakarta 2017 merupakan pengalaman penting bagi umat Islam untuk mengambil pelajaran, berbenah, dan mengevaluasi diri.

Pada prinsipnya hukum walk out dari khotbah Jumat dalam kondisi terpaksa boleh. Orang yang walk out dapat menggantinya dengan shalat Zuhur.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)