IMG-LOGO
Shalat

Ini Lafal Niat Shalat Unsi atau Shalat Hadiah untuk Jenazah

Selasa 27 November 2018 0:0 WIB
Share:
Ini Lafal Niat Shalat Unsi atau Shalat Hadiah untuk Jenazah
(Foto: @reuters)
Ulama Syafi'iyah menganjurkan shalat unsi atau shalat hadiah yang pahalanya ditujukan untuk orang-orang yang sudah wafat. Tetapi shalat sunnah dua rakaat ini lebih baik dikerjakan ketika jenazah baru saja dikebumikan karena dapat meringankan beban jenazah di alam kuburnya.

Berikut ini adalah lafal niat shalat hadiah:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الهَدِيَّةِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatal hadiyyati rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah hadiah dua rakaat karena Allah SWT,” (Lihat Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun], halaman 21).

Syekh M Nawawi Banten dalam Kitab Nihayatuz Zain membawa sebuah riwayat perihal tata cara shalat hadiah:

روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لا يأتى على الميت أشد من الليلة الأولى, فارحموا بالصدقة من يموت. فمن لم يجد فليصل ركعتين يقرأ فيهما: أي في كل ركعة منهما فاتحة الكتاب مرة, وآية الكرسى مرة, وألهاكم التكاثر مرة, وقل هو الله أحد عشر مرات, ويقول بعد السلام: اللهم إني صليت هذه الصلاة وتعلم ما أريد, اللهم ابعث ثوابها إلى قبر فلان بن فلان فيبعث الله من ساعته إلى قبره ألف ملك مع كل ملك نور وهدية يؤنسونه إلى يوم ينفخ فى الصور

Diriwayatkan dari Rasulullah, Ia bersabda, “Tiada beban siksa yang lebih keras dari malam pertama kematiannya. Karenanya, kasihanilah mayit itu dengan bersedekah. Siapa yang tidak mampu bersedekah, maka hendaklah sembahyang dua raka‘at. Di setiap raka‘at, ia membaca surat Al-Fatihah 1 kali, Ayat Kursi 1 kali, surat Attaktsur 1 kali, dan surat Al-ikhlash 11 kali. Setelah salam, ia berdoa, ‘Allahumma inni shallaitu hadzihis shalata wa ta‘lamu ma urid. Allahummab ‘ats tsawabaha ila qabri fulan ibni fulan (sebut nama mayit yang kita maksud),’ Tuhanku, aku telah lakukan sembahyang ini. Kau pun mengerti maksudku. Tuhanku, sampaikanlah pahala sembahyangku ini ke kubur (sebut nama mayit yang dimaksud), niscaya Allah sejak saat itu mengirim 1000 malaikat. Tiap malaikat membawakan cahaya dan hadiah yang kan menghibur mayit sampai hari Kiamat tiba.” [Syekh Nawawi Albantani, Nihayatuz Zain, [Bandung, Al-Maarif], halaman 107).

Pahala shalat sunnah hadiah ini juga dapat mengalir kepada mereka yang mengamalkannya seperti keterangan sebuah hadits berikut ini:

أن فاعل ذلك له ثواب جسيم, منه أنه لا يخرج من الدنيا حتى يرى مكانه فى الجنة.

“Siapa saja yang melakukan sedekah atau sembahyang itu, akan mendapat pahala yang besar. Di antaranya, ia takkan meninggalkan dunia sampai melihat tempatnya di surga kelak.” Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Selasa 27 November 2018 23:0 WIB
Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Qabliyyah Jumat
Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Qabliyyah Jumat
(Foto: @pinterest)
Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Qabliyyah Jumat
Shalat zuhur pada hari Jumat diganti dengan rangkaian ibadah shalat Jumat. Meski demikian, anjuran shalat sunnah rawatib pada hari Jumat tetap berlaku meski yang dilakukan umat Islam adalah shalat Jumat, bukan shalat zuhur.

Mazhab Syafi‘i menyebut adanya kesunnahan shalat sunnah qabliyyah Jumat sebagai pengganti posisi shalat sunnah qabliyyah zuhur. Sebagaimana diketahui, shalat sunnah qabliyyah adalah shalat sunnah yang dilakukan sebelum shalat wajib lima waktu dilakukan.

Shalat sunnah qabliyyah Jumat dilakukan setelah masuk waktu Jumat. Tetapi ketika khatib sudah mulai berkhutbah, shalat sunnah qabliyyah Jumat sebaiknya dilakukan secara ringkas.

قَوْلُهُ (نَفْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ) أَيْ سُنَّتُهَا الْقَبْلِيَّةُ وَأَمَّا الْبَعْدِيَّةُ فَفِعْلُهَا فِي الْبَيْتِ أَفْضَلُ

Artinya, “Redaksi (shalat nafilah hari Jumat), maksudnya shalat sunnah qabliyyah Jumat. Sedangkan shalat sunnah ba‘diyyah Jumat dikerjakan lebih utama di rumah,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi ‘alal Manhaj, juz II, halaman 458).

Adapun berikut ini adalah lafal niat shalat sunnah qabliyyah Jumat:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatal Jumu‘ati rak‘ataini qabliyyatan lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah qabliyyah Jumat dua rakaat karena Allah SWT,” (Lihat Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun], halaman 13).

Shalat sunnah qabliyyah pada hari Jumat ini tetap dianjurkan. Kekhususan ibadah di hari Jumat tidak menghalangi kesunnahan shalat sunnah rawatib yang lazim mengiringi shalat wajib lima waktu baik sebelum dan sesudahnya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 26 November 2018 17:0 WIB
Baru Dapat Satu Rakaat, Tiba-tiba Masuk Waktu Shalat Lain, Bagaimana?
Baru Dapat Satu Rakaat, Tiba-tiba Masuk Waktu Shalat Lain, Bagaimana?
Allah ﷻ mewajibkan bagi seluruh umat Islam untuk menjalankan shalat pada masing-masing waktu yang telah ditentukan. Seperti yang difirmankan dalam kitabnya:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu bagi orang-orang mukmin adalah kewajiban yang ditentukan waktunya.”(QS. An-Nisa’ Ayat 103)

Dalam disiplin fiqih, waktu pelaksanaan shalat bersifat wajib yang longgar (muwassa’) dalam artian, shalat menjadi wajib bagi setiap muslim saat awal masuknya waktu shalat, kewajiban ini awalnya diharuskan untuk dilaksanakan dengan segera ketika masuknya waktu, namun boleh untuk diakhirkan sampai batas akhir waktu shalat tersebut dengan cara adanya ‘azm yaitu bertekad untuk melaksanakan shalat di waktu nanti sekiranya masih pada waktunya.

Dalam shalat juga dikenal istilah ada’ dan qadha. Ada’ berarti melaksanakan shalat ketika masih dalam waktu yang telah ditentukan, sedangkan qadha berarti melaksanakan shalat di luar waktu yang telah ditentukan. Seseorang yang menjalankan shalat dengan cara ada’ berarti ia melaksanakan ibadah sesuai dengan ketentuan yang diwajibkan oleh syara’, sedangkan jika shalat dijalankan dengan cara qadha maka ia termasuk melanggar ketentuan pelaksanaan shalat yang telah ditentukan oleh syara’ sehingga ia dihukumi dosa, kecuali ia melakukan shalat dengan qadha ini dikarenakan sebuah uzur, seperti lupa akan wajibnya shalat baginya, tertidur mulai awal waktu sampai habisnya waktu dan dalam contoh-contoh yang lain. Maka dalam keadaan demikian, shalatnya tetap dihukumi qadha, namun ia dianggap tidak melakukan suatu larangan yang mengakibatkan dosa.

Lalu pertanyaannya, kapan shalat seseorang disebut dengan ada’?

Seseorang dianggap melaksanakan shalat dengan ada’ ketika ia dapat melaksanakan satu rakaat shalatnya ketika waktu shalat masih ada (tentu melaksanakan dua, tiga, atau seluruh rakaat pada waktunya lebih layak dianggap melaksanakan shalat dengan ada’). Namun meski shalatnya disebut sebagai ada’, ia tetap dihukumi dosa dikarenakan melaksanakan rakaat shalat keluar dari waktu yang telah ditentukan. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Fath al-Mu’in:

ولو أدرك في الوقت ركعة لا دونها فالكل أداء وإلا فقضاء.ويأثم بإخراج بعضها عن الوقت وإن أدرك ركعة

“Jika seseorang menemukan satu rakaat pada waktu shalat yang dilaksanakannya, maka seluruh shalat itu menjadi shalat ada’ jika tidak menemukan minimal satu rakaat maka shalatnya menjadi shalat qadha. Dan ia tetap dihukumi dosa sebab mengeluarkan sebagian shalat dari waktunya, meskipun ia dapat melaksanakan satu rakaat pada waktunya.” (Syekh Zainuddin Al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 140)

Salah satu ketentuan yang dilakukan ketika shalat berstatus ada’ adalah ia dianjurkan untuk menyertakan niat ada’ pada niat shalat yang dilafalkan dalam hati saat bersamaan dengan takbiratul ihram. Begitu juga ia dianjurkan melafalkan dalam hati niat qadha ketika shalatnya berstatus shalat qadha. Wallahu a’lam.

(Ali Zainal Abidin)

Ahad 25 November 2018 19:30 WIB
Ini Susunan Dzikir dan Wirid setelah Shalat Zuhur, Ashar, dan Isya
Ini Susunan Dzikir dan Wirid setelah Shalat Zuhur, Ashar, dan Isya
(Foto: @mawdoo3.com)
Rasululah SAW melazimkan dzikir tertentu setiap kali selesai shalat wajib seperti tasbih, tahmid, dan takbir sebanyak 33 kali. Rasulullah SAW kemudian menyatakan bahwa dzikir-dzikir kelazimannya mengandung keutamaan luar biasa yang tidak selayaknya dilewatkan sebagaimana hadits riwayat Abu Hurairah RA sebagai berikut:

قال صلى الله عليه وسلم من سبح دبر كل صلاة ثلاثا وثلاثين وحمد ثلاثا وثلاثين وكبر ثلاثا وثلاثين وختم المائة بلا إله إلا الله لاشريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير غفرت ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setelah shalat sebanyak 33 kali dan menutupnya dengan membaca lâ ilâha illallâh lâ syarîka lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr, maka dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan,’” (HR Malik).

Adapun berikut ini adalah rangkaian dzikir dan wirid yang perlu dibaca sesudah sembahyang Zuhur, Ashar, dan Isya. Rangkaian susunan wirid ini sebagian besar dikutip dari Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun]. Rangkaian wirid ini dibaca sesudah salam sembahyang Zuhur, Ashar, dan Isya.

1. Membaca istighfar 3 kali (tetap mempertahankan posisi kaki):

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِـيْم

2. Membaca sifat Allah dan bertobat:

الَّذِيْ لَااِلَهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ مِنْ جَمِيْعِ المَعَاصِي وَالذُّنُوبِ وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِـىِّ الْعَظِيْمِ

3. Membaca doa keselamatan:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَاَدْخِلْنَا الْـجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَاالْـجَلَالِ وَاْلإِكْرَام.

(Setelah membaca doa ini, mengubah posisi kaki menjadi duduk bersila)
4. Membaca doa warid berikut ini:

اَللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا رَآدَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَاالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

5. Lalu membaca doa warid berikut ini:

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

6. Lalu mengawali pujian dengan seruan ini:

إِلَهِيْ يَا رَبِّ

7. Membaca tasbih sebanyak 33 kali:

سُبْحَانَ اللهِ

8. Mengakhiri tasbih dengan lafal tasbih berikut ini:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ دَائِمًا أَبَدًا

9. Membaca tahmid sebanyak 33 kali:

اَلْحَمْدُ لِلهِ

10. Mengakhiri tahmid dengan lafal tahmid berikut ini:

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَفِي كُلِّ حَالٍ وَنِعْمَةٍ

11. Membaca takbir sebanyak 33 kali:

اَللهُ اَكْبَرْ

12. Kemudian mengakhiri takbir dengan lafal takbir panjang dan tahlil berikut ini:

اَللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ، وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِـىِّ الْعَظِيْمِ .

13. Membaca istighfar tiga kali:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِـيْم

14. Membaca doa singkat berikut ini:

الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْ سَادَاتِنَا أَصْحَابِ سَيِّدِنَا رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ

15. Membaca doa lainnya yang lazim dibaca sesudah shalat wajib. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)