IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Pola Penulisan Al-Qur’an, dari Nabi atau Ijtihad Sahabat?

Selasa 27 November 2018 18:0 WIB
Share:
Pola Penulisan Al-Qur’an, dari Nabi atau Ijtihad Sahabat?
Ilustrasi (emaze.com)
Pola penulisan mushaf dalam Al-Qur’an yang sekarang beredar adalah Rasm Utsmani. Kata “utsmanî” sendiri merujuk kepada nama khalifah ketiga, yaitu Utsman bin Affan, atas jasa dan kontribusinya dalam pembukuan dan pembakuan Al-Qur’an secara sempurna dan utuh. 

Pola penulisan mushaf ini, sebagaimana disinggung pada pembahasan yang lalu, tidak memiliki kaidah yang baku sesuai dengan penulisan bahasa Arab secara konvensional.

Baca:
Enam Pola Penulisan Al-Qur’an yang Berbeda dari Kaidah Arab Konvensional
Siapa yang Memberi Nama-nama Surat dalam Al-Qur'an?
Siapa yang Menyusun Urutan Surat-surat dalam Al-Qur’an?
Sehubungan dengan itu, para ulama berbeda pendapat tentang pola penulisan Al-Qur’an ini, apakah pola penulisan ini sesuai petunjuk Nabi (tauqifî) atau hasil itijhad para sahabat? 

Dalam kitab Manahilul Irfân karya Syekh Abdul Adhim al-Zurqani dijelaskan bahwa perbedaan ini terbagi dalam tiga pendapat:

Pertama, pendapat mayoritas ulama, menurutnya pola penulisan Al-Qur’an dalam mushaf adalah bersifat tauqifî, yaitu sesuai petunjuk dan perintah Nabi. Hal ini didasarkan pada dua hal: (1) penulisan Al-Qur’an dilakukan oleh kuttab al-wahyi (para penulis Al-Qur’an) di masa Nabi ﷺ. Apa yang ditulis oleh mereka tentu telah mendapatkan persetujuan dari Nabi; (2) tulisan ini tetap ada dan terus berlanjut pada masa Abu Bakar, dan pada masa Utsman bin Affan hingga sampai masa para tabi’in (generasi yang menjumpai sahabat) dan tabi’it tabi’in (generasi yang menjumpai tabi’in). Dengan demikian, penulisan ini merupakan kesepakatan sahabat. Tidak mungkin para sahabat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan penetapan Nabi, baik menambah huruf maupun menguranginya tanpa petunjuk Nabi.

Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan, “Haram hukumnya menyalahi penulisan Rasm Utsmanî, baik dalam penulisan huruf, ya’, alif, dan wawu.”

Kedua, sebagian ulama, termasuk Imam al-Baqillanî dan Ibnu Khaldun, berpendapat bahwa penulisan Al-Qur’an dalam mushaf itu merupakan hasil ijtihad para sahabat Nabi. Tidak bersifat tauqifî. Hal ini didasarkan pada dua fakta: (1) tidak ditemukan nash (dalil) baik berupa ayat Al-Qur’an maupun sunnah, yang menunjukkan keharusan menulis Al-Qur’an sesuai Rasm Utsmanî; (2) seandainya pola penulisan mushaf itu bersifat tauqifî, sesuai petunjuk Nabi, kenapa menggunakan istilah “rasm ustmanî” bukan “rasm nabawî”?.

Imam al-Baqillanî menyatakan bahwa sunnah menuliskan Al-Qur’an dengan pola yang mudah, sebab Nabi memerintahkan para sahabat menulis Al-Qur’an namun beliau tidak menunjukkan pola tertentu dan tidak melarang menulis pola tertentu juga.

Oleh sebab itu, bentuk dan model penulisan itu tidak lain hanyalah suatu tanda atau simbol. Segala bentuk serta model penulisan Al-Qur’an yang menunjukkan arah bacaan yang benar, dapat dibenarkan. Sedangkan rasm utsmani yang menyalahi rasm imla’î  (menurut kaidah penulisan Arab konvensional) yang dikenal masyarakat, menyulitkan banyak orang dan dapat mengakibatkan kesulitan dan keserupaan bagi pembaca.

Ketiga, pendapat ini sepertinya ingin mengakomodasi dua pendapat di atas dengan melihat kebutuhan dan kondisi sosialnya. Di satu sisi memperbolehkan bahkan mengharuskan menulis Al-Qur’an dengan menggunakan pola imla’î, dalam rangka memudahkan masyarakat umum. Artinya, bagi mereka yang tidak mengerti, tidak boleh menulis Al-Qur’an dengan Rasm Utsmanî agar tidak jatuh pada keserupaan dan perubahan. 

Di sisi yang lain dianjurkan menulis dengan pola Rasm Utsmani untuk menjaga dan melestarikan sebagai warisan yang berharga bagi generasi selanjutnya. Pendapat ini merupakan pendapat Imam Nawawi dan Imam al-Zarkasyi.

Sehubungan dengan ini, Imam al-Zurqanî berkata:

 وهذا الرأي يقوم على رعاية الاحتياط للقرآن من ناحيتين: ناحية كتابته في كل عصر بالرسم المعروف فيه إبعادا للناس عن اللبس والخلط في القرآن وناحية إبقاء رسمه الأول المأثور يقرؤه العارفون ومن لا يخشى عليهم الالتباس. ولا شك أن الاحتياط مطلب ديني جليل خصوصا في جانب حماية التنزيل

“Pendapat ini dimaksudkan untuk menjaga eksistensi Al-Qur’an dari dua aspek: pertama, yaitu penulisan Al-Qur’an dengan penulisan yang dikenal (masyarakat umum), agar terhindar dari keserupaan dan kekacauan dan kesalahan dalam membacanya. Kedua, upaya pelestarian rasm-nya yang orisinil, yang diperuntukkan bagi orang-orang yang mengerti (arif), yang tidak dikhawatirkan terjadi kekacauan dalam membacanya. Tidak diragukan lagi bahwa berhati-hati merupakan tuntutan agama yang agung, utamanya dalam hal menjaga Al-Qur’an”.

Oleh karena itu, dari tiga pendapat di atas, penulis menyimpulkan sebagai berikut: 

1. Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Muslim di seluruh dunia. Penulisan Al-Qur’an dengan pola Rasm Utsmani, jika tidak dikatakan sebagai petunjuk Nabi, ia merupakan suatu kesepakatan para sahabat. Kesepakatan sahabat memiliki kekuatan hukum yang mengikat, yang wajib diikuti oleh kaum Muslim. Termasuk pola penulisan Al-Qur’an.

2. Penulisan Al-Qur’an dengan pola Rasm Utsmani merupakan sunnah yang harus dikuti. Hal ini dinyatakan dalam kitab al-Minhaj fi fiqh al-Syafi’i, “Kalimat (الربوا) ditulis dengan wawu dan alif sebagaimana dalam Rasm Utsmani. Dalam Al-Qur’an tidak ditulis dengan ya’ dan alif, karena Rasm Utsmani adalah sunnah yang harus diikuti.”

3. Pola penulisan Al-Qur’an sesuai dengan Rasm Utsmani adalah sebuah keniscayaan, utamanya penyatuan pola penulisan Al-Qur’an bagi seluruh ummat Muslim dengan rasm utsmani, agar seragam sesuai dengan penulisan awal dan agar terhindar dari fitnah. Sehingga tidak ada ungkapan-ungkapan yang muncul, “Mushaf kami lebih bagus dari mushaf kalian, rasm kami lebih baik daripada rasm kalian!” 

4. Boleh menulis Al-Qur’an tanpa menggunakan Rasm Utsmani apabila digunakan untuk kepentingan pembelajaran bagi orang masyarakat awam, umumnya di kalangan sekolah-sekolah yang masih butuh pengetahuan tentang bahasa Arab.

5. Pola penulisan Al-Qur’an dengan rasm utsmani memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah memiliki petunjuk pada makna yang tersembunyi, seperti dalam surat al-Dzarîat ayat 47, pada lafadz (بأييد).

والسماء بنيناها بأييد

Dalam lafadz tersebut ditambah huruf ya’ setelah huruf ya’, karena mempunyai petunjuk atas keagungan kekuatan Allah ﷻ, yang dapat menciptakan langit, kekuatan ini tidak sama dengan kekuatan makhluknya. Dalam kaidah dikatakan: ziyâdatul mabnâ tadullu ‘alâ ziyâdatil ma‘nâ (penambahan konsonan huruf menunjukkan atas penambahan makna).


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

Share:
Kamis 22 November 2018 23:15 WIB
Siapa yang Memberi Nama-nama Surat dalam Al-Qur'an?
Siapa yang Memberi Nama-nama Surat dalam Al-Qur'an?
Ilustrasi (via Twitter.com)
Secara etimologi, surat ini berasal dari kata (السور) atau (السؤر) yang berarti sisa minuman dalam suatu bejana. Dengan pengertian seperti ini, maka surat Al-Qur’an berarti sebagian kecil dari Al-Qur’an.

Sedangkan secara termenologi, surat adalah sebuah jumlah ayat-ayat Al-Qur’an yang terdiri atas awal dan akhir surat. Sedikitnya dalam satu surat adalah tiga ayat. Senada dengan definisi di atas, Imam Zarkasyi berkata: 

قرأن يشتمل على آي ذوات فاتحة وخاتمة وأقلها ثلاث أيات

Artinya: “Al-Qur’an yang mencakup atas beberapa ayat teridiri atas awal surat dan akhir surat paling sedikit tiga ayat, sebagaimana yang terdapat dalam surat al-Kautsar.”

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3) ـ

Untuk banyaknya jumlah surat dalam Al-Qur’an, jumhur ulama menyatakan ada 14 surat. Pendapat ini sesuai dengan jumlah surat yang ada dalam mushaf saat ini. Ada pendapat lain menyatakan bahwa surat-surta dalam Al-Qur’an adalah 13 surat, karena surat al-Anfal dan al-Taubah dianggap satu.
Di samping itu, para ulama mengelompokkan surat-surat Al-Qur’an ke dalam empat kelompok:

Pertama, ath-thiwâl (الطوال) atau surat-surat Al-Qur’an yang panjang. Yang masuk ke dalam kelompok ini ada tujuh surat, yang dikenal dengan sebutan ath-thiwâl as-sab‘ (السبع الطوال). Ketujuh surat-surai yang panjang itu adalah sebagai berikut: (1) al-Baqarah, (2) Ali Imran, (3) al-Nisa, (4) al-Maidah, (5) al-An’am, (6) al-A’raf, (7) Yunus. Pendapat ini diutarakan oleh Said bin Jubair bin Hisyam.

Sebagian pendapat yang lain menyatakan bahwa surat yang ke tujuh itu bukan surat Yunus tapi surat al-Anfal-al-Taubah karena kedua surat tersebut tidak dipisah oleh kalimat basmalah.

Kedua, al-mi’ûn (المئون) yaitu surat-surat Al-Qur’an yang terdiri atas seratus ayat atau lebih. Surat yang termasuk 100 ayat ini dimulai dari akhir surat (السبع الطوال) sampai akhir Surat al-Sajadah.

Ketiga, al-matsanî (المثاني) yaitu surat-surat Al-Qur’an yang jumlah ayatnya kurang dari 100 ayat. Surat-surat yang tergolong al-matsanî ini adalah dari awal Surat al-Ahzab sampai awal sUrat Qaf.

Keempat, al-mufashshal (المفصل) yaitu surat-surat Al-Qur’an yang pendek-pendek, yang terdapat di bagian akhir-akhir Al-Qur’an. Surat ini dikelompokkan dalam tiga kelompok:

Pertama, al-mufashshaal thiwâl (طوال المفصل), yang tergolong kelompok ini adalah surat al-Hujarat sampai al-Buruj. 

Kedua, al-mufashshaal ausâth (أوساط المفصل), yang tergolong kelompok ini adalah al-Thariq sampai al-Bayyinah, 

Ketiga, al-mufashshaal qishâr (قصار المفصل), yang tergolong kelompok ini adalah Surat al-Zalzalah sampai akhir Al-Qur’an.

Penamaan Surat Al-Qur’an

Ulama berbeda pendapat tentang penamaan Al-Qur’an, apakah ia termasuk tauqifî, yakni sesuai petunjuk dari Nabi atas penamaan itu, atau taufiqî, yaitu hasil ijtihad sahabat?

Jumhur ulama menyatakan bahwa seluruh nama-nama surat adalah tauqifî, artinya sesuai atas petunjuk dan perintah Nabi ﷺ. Pendapat ini dikuatkan dengan beberapa dalil hadits:

من قرأ هاتين الأيتين من أخر سورة البقرة في ليلة كفتاه 

Artinya: Barangsiapa yang membaca dua ayat dari akhir surat al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan dicukupkan.

من قرأ الزهراوين: البقرة وآل عمران فإنهما تأتيان يوم القيامة كأنهما غمامتان تحاجان عن أصحابهما 

Artinya: “Bacalah al-Zahrawain, yakni surat al-Baqarah dan Ali Imran, kelak keduanya akan datang menaungi pembacanya.”

من قرأ عشر أيات من أول الكهف عصم من الدجال 

Artinya: “Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat di awal Surat al-Kahfi, maka akan terjaga dari (godaan) dajjal.”

Hadits-hadits di atas mengindikasikan bahwa Nabi yang memberi nama-nama surat dalam Al-Qur’an.

Sementara itu, sebagian ulama menyatakan bahwa penamaan surat ini dilakukan atas dasar ijtihad para sahabat dan tabi’in. Hal ini didasarkan pada penamaan yang disematkan Imam Sufyan bin Uyainah terhadap surat al-Fatihah. Imam Sufyan memberi nama surat al-Fatihah dengan nama surat al-Wafîah (sempurna), sebab dalam surat al-Fatihah mencakup seluruh makna yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Imam al-Tsa’labî memberi alasan lain tentang penamaan di atas, yaitu bahwa Surat al-Fatihah ini tidak menerima tanshif (setengah-setengah). Sebab setiap surat Al-Qur’an apabila dibaca dalam shalat, boleh dibaca separuh di rakaat pertama, kemudian dilanjutkan separuhnya di rakaat kedua, berbeda dengan al-Fatihah, ia tidak bisa dibaca kecuali harus dibaca secara utuh dan lengkap.

Dalam hal ini, baik Imam Sufyan maupun al-Tsa’labî memberi nama pada surat al-Fatihah sesuai makna yang terkandung dalam surat al-Fatihah, tanpa berdasarkan pada petunjuk Nabi. 

Perlu diketahui bahwa ada sejumlah surat yang tidak hanya memiliki satu nama saja, termasuk di antaranya adalah Surat al-Fatihah. Surat ini memiliki banyak nama, ada yang sesuai petunjuk Nabi (tauqifî), ada yang sesuai ijtihad sahabat atau tabi’in (taufiqî).

Nama-nama Surat al-Fatihah, yang sesuai dengan petunjuk Nabi adalah sebagai berikut:

1. Ummul Qur’an
2. Fatihah al-Kitab
3. Al-Sab’u al-Matsanî.

Ketiga nama-nama di atas sesuai dengan sabda Nabi: 

عن  أبي هريرة، عن النبي أنه قال: هي أم القرأن، وهي الفاتحة، وهي السبع المثاني 

Artinya: “Surat al-Fatihah itu adalah ummul Qur’an, al-Fatihah, dan al-Sab’u al-Matsanî.”

Adapun nama-nama atas ijtihad sahabat atau tabi’in beserta alasan penamaannya adalah sebagai berikut:

1. Al-Wafîah, karena mencakup seluruh makna yang terkandung dalam Al-Qur’an

2. Al-Kafîah, karena bacaan al-Fatihah mencukupi dalam shalat, sedangkan yang surat yang tidak bisa menggantikan al-Fatihah,

3. Al-Munajah, karena seorang hamba bermunajat kepada Tuhannya dengan ucapan: (إياك نعبد وإياك نستعين) 

4. Al-Du’a, karena mencakup unsur doa, (اهدنا الصراط المستقيم),

5. Al-Tafwîd, karena mengandung unsur kepasrahan dan ketulusan beribadah kepada-Nya dengan ucapan: (إياك نعبد وإياك نستعين).

Dengan demikian, penamaan surat-surat dalam Al-Qur’an secara umum adalah tauqifî, sesuai petunjuk Nabi. Namun sebagian nama-nama itu ada yang ijtihad sahabat atau para tabi’in karena melihat pada kandungan makna yang terdapat surat itu. Wallahu a’lam.


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo


Penjelasan ini merupakan ringkasan dari kitab "Tarikh al-Qur'an al-Karim" karya Dr Muhammad Salim Muhaisin (hal. 76-108) 
Rabu 14 November 2018 18:30 WIB
Mengapa di Al-Qur’an Ada Bacaan ‘Alaihu-Llah’, Bukan ‘Alaihi-Llah’?
Mengapa di Al-Qur’an Ada Bacaan ‘Alaihu-Llah’, Bukan ‘Alaihi-Llah’?
Pada dasarnya, dalam kaidah bahasa Arab yang baku, ha’ dhamir mudzakkar (kata ganti tunggal yang maskulin) apabila didahului oleh kasrah atau ya’ sukun, maka harus dibaca kasrah, karena untuk menyesuaikan harakat sebelumnya, seperti lafadz (بِهِ) atau (عَلَيْهِ). Namun dalam riwayat Imam Hafs, kaidah ini tidak berlaku, yakni pada Surat al-Fath ayat 10 (عليهُ الله) dan Surat al-Kahfi ayat 63 (وما أنسابيهُ). Pada kedua lafadz di atas, ha’ dhamirnya dibaca dhammah, padahal menurut kaidah bahasa seharusnya dibaca kasrah.

Dua ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS al-Fath: 10)

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

Artinya: “Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali’.” (QS al-Kahfi:63)

Mengapa demikian? Padahal, untuk mengidentifikasi keotentikan sebuah qira’at Al-Qur’an harus memenuhi tiga syarat, yaitu (1) tersambungnya sanad secara mutawatir, (2) sesuai dengan rasm utsmaniy, dan (3) sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Apabila syarat di atas tidak terpenuhi, maka bacaan tersebut dihukumi syadz (nyeleneh) dan tidak shahih, walaupun bacaan itu bagian dari Qira’at Sab’ah. Dalam hal ini Imam Al-Jazariy bersenandung lewat bait syairnya, yaitu:

فكل ما وافق وجه النحو *** وكان للرسم احتمالا يحوي
وصح إسنادا هو القرأن *** فهذه الثلاثة الأركان
وحيثما يختل ركن أثبت *** شذوذه لو أنه في السبعة

Dalam bahasa Arab, asal mula ha’ dhamir mudzakkar (kata ganti tunggal yang maskulin) adalah “هو” (huwa; dhammah ha’-nya). Dalam dunia pesantren, lafadz ini kenal dengan sebutan “dhamir munfashil” (kata ganti tunggal maskulin yang terpisah dari lafadz lain). Apabila dhamir ini disambung dengan lafadz lain, maka dhamir itu dikenal dengan sebutan “dhamir muttashil”.

Dalam bacaan riwayat Imam Hafs, pada kedua lafadz di atas (عليهُ الله) (وما أنسابيهُ) dibaca dhammah, apabila ditinjau dari sisi kaidah bahasa Arab, sebenarnya tidak keluar dari pakem bahasa Arab, sebab asal mula harakat ha’ dhamir itu sendiri adalah dhammah. Artinya, dalam hal ini ha’ dhamir dibaca dhammah karena mengukuti sesuai asalnya, yaitu dhammah. Demikian ini merupakan dialek (lahjah) Qurasy.

Sementara itu, apabila dipandang dari sisi pemaknaan, pada kasus Surat al-Fath ayat 10 (عليهُ الله) ha’ dhamir yang bersambung dengan lafadz Allah, menurut Syekh Al-Sayyid Al-Tanthawiy dalam tafsirnya Al-Wasith menguraikan bahwa alasan dibaca dhammah ha’ dhamir pada lafadz itu karena bersambung dengan lafadz Allah. Untuk mengagungkan lafadz, seyogianya dibaca tebal (tafkhim). Selain itu, dalam ayat tersebut menceritakan tentang “Sulh Al-Hudaibiyah” di mana antara Nabi dan umat Islam melakukan perjanjian dengan kaum musyrik yang harus ditepati oleh kedua belah pihak. Karena dalam perjanjian ini adalah perjanjian yang sangat berat, maka sewajarnya ditekankan suara dengan membaca dhammah ha’ dhamir dengan menebalkan lafadz Allah agar sesuai dengan besarnya tanggung jawab perjanjian dan juga dalam rangka menyesuaikan antara lafadz dan makna yang terkandung di dalamnya.

Meskipun demikian, apabila dipandang dari sisi ilmu qira’at, bacaan ini (dhammah ha’ dhamir) merupakan bacaan yang sahih dan mutawatir, yang dihasilkan dari transmisi yang jelas dan penukilan yang sahih dari Nabi ﷺ., kepada para sahabat, dan dilanjutkan oleh para tabi’in hingga sampai kepada kita.

Secara silsilah sanad, bacaan ini diriwayatkan oleh Sayyidina Ali karramallâhu wajhah kepada muridnya, Abu Abdurrahman Al-Sullamiy, kemudian diriwayatkan oleh muridnya Imam Ashim, dan dilanjutkan oleh muridnya Imam Hafs, hingga sampai kepada kita secara mutawatir.

Perlu diketahui bahwa dalam periwayatan qira’at Al-Qur’an tidak ada istilah ijtihad bacaan atau mengekor pada kaidah bahasa Arab, justru sebaliknya bahasa Arab harus mengikuti periwayatan qira’at Al-Qur’an. Sementara penggalian pada sisi pemaknaan, bahasa dan lainnya sebagai bukti kebeneran dan otentifikasi qira’at Al-Qur’an. Wallahu a’lam.


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

Selasa 30 Oktober 2018 10:0 WIB
Enam Pola Penulisan Al-Qur’an yang Berbeda dari Kaidah Arab Konvensional
Enam Pola Penulisan Al-Qur’an yang Berbeda dari Kaidah Arab Konvensional
Ilustrasi (via Twitter)
Pada dasarnya, penulisan bahasa Arab harus sesuai antara apa yang tertulis dan apa yang diucapkan, tanpa harus ada penambahan dan pengurangan, sesuai kaidah yang berlaku pada penulisan bahasa Arab. Penulisan samacam ini dikenal dengan “rasm imla’î”. Sementara itu, dalam penulisan mushaf Al-Qur’an yang kita ketahui bersama terdapat beberapa penulisan yang berbeda dan tidak sesuai dengan pola penulisan bahasa Arab secara konvensional.

Hal itu lantaran teks Al-Qur’an yang sampai pada kita sekarang menggunakan standar rasm mushaf utsmanî. Secara definitif, rasm mushaf utsmanî adalah penulisan kalimat-kalimat atau huruf-huruf Al-Qur’an yang dilaksanakan dan disahkan oleh khalifah Utsman bin 'Affan radliyallahu ‘anh.

Penulisan mushaf memiliki beberapa kaidah (pola penulisan) baik dalam khat dan rasm-nya. Pola penulisan ini terbagi enam:

Pertama, kaidah hadf (pengurangan huruf). Dalam pola ini ada beberapa pengurangan; alif, ya’, wawu dan lam.

• Pengurangan huruf alif, seperti lafadz: (الرّحمن) (سبحن), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya (الرّحمان) (سبحان).

• Pengurangan huruf ya’ seperti, (غير باغ ), penulisan secara imla’I seharusnya (غير باغي ).

• Pengurangan huruf wawu seperti, (يدع) (يمح الله), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya: (يدعو) (يمحو الله)

• Pengurangan huruf lam, seperti (اليل) (الذي), penulisan bahasa Arab yang benar seharusnya, (الليل) (اللذي). 

Kedua, pola penambahan huruf, yakni alif, wawu dan ya’. 

• Penambahan huruf alif, seperti: (مائة), penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (مئة).

• Penambahan huruf ya’ seperti, (بأييد), penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (بأيد).

• Penambahan huruf wawu seperti, (أولئك) (أولو),penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (أولئك) (أولو). 

Ketiga, pola penulisan hamzah, secara ringkas bahwa hamzah sukun ditulis sesuai huruf harakat sebelumnya, seperti pada lafadz (البأساء) (آؤتمن) (آئذن). Sedangkan hamzah yang berharakat apabila di awal kalimat dan bersambung dengan huruf tambahan, maka ditulis dengan huruf alif, baik berharakat fathah maupun berharakat kasrah, seperti (أيوب) (إذا) (سأنزل). Adapun apabila hamzah berada di tengah-tengah kalimat, maka ia ditulis sesuai dengan jenis harakatnya, seperti (سأل) (سئل) (تقرؤه). Sementara hamzah yang berada di ujung kalimat, maka ditulis sesuai dengan harakat sebelumnya, seperti (سبأ) (شاطئ) (لؤلؤ). 

Keempat, pola pergantian huruf dengan huruf yang lain, seperti pergantian huruf alif dengan huruf wawu pada kalimat berikut ini (الصلوة) (الزكوة) (الحيوة), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya (الصلاة) (الزكاة) (الحياة). 

Kelima, pola persambungan dan pemisahan huruf dengan huruf yang lain atau sebaliknya. 

• Pola persambungan seperti (ألن نجمع عظامه) yang lazimnya ditulis (أن لن نجمع عظامه).

• Pola pemisahan seperti (أنّ ما) yang lazimnya ditulis (أنّما).

Keenam, pola tulisan yang memiliki dua bacaan, yaitu seperti: (مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) (يُخَدِعُوْنَ). kedua contoh tersebut dalam mushaf tidak ditulis huruf alif sebagai tanda panjang namun ada riwayat yang membaca panjang. Seharusnya, secara penulisan imla’I ditulis sebagai berikut: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) (يُخَادِعُوْنَ).

Demikian penjelasan yang disarikan dari kitab Manâhil ‘Irfân fî Ulûmil Qur’ân (Kairo: Maktabah Isa Al-Halabi, tt. h. 369). Perlu diketahui bahwa kaidah penulisan yang telah disebutkan di atas, tidak sepenuhnya berlaku pada penulisan Al-Qur’an, sebab ada banyak lafadz-lafadz dalam Al-Qur’an yang pada suatu ayat ditulis dengan pola tertentu, tetapi pada ayat yang lain—padahal lafadznya sama—ditulis dengan pola lain. Oleh karena itu, pola penulisan Al-Qur’an tidak bisa dijadikan pedoman yang baku, tidak bisa dijadikan qiyas atau standar (خط المصحف لا يقاس عليه).
 
Kaitannya dengan ini, maka tidak boleh seseorang membaca Al-Qur’an hanya berpedoman pada penulisan mushaf tanpa disertai talaqqi atau berguru kepada seorang guru yang mutqin (ahli). 


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo