IMG-LOGO
Shalat

Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Malam Jumat

Rabu 28 November 2018 13:0 WIB
Share:
Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Malam Jumat
(Foto: @reuters)
Malam Jumat identik dengan malam ibadah. Pada mala mini banyak orang membaca Surat Yasin, Surat Al-Kahfi, Surat Al-Jumuah, dan melantunkan doa dengan pelbagai keperluan. Pada malam ini kita juga dianjurkan untuk shalat sunnah malam Jumat yang mengandung keutamaan besar.

“Dan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallama, ‘Barang siapa sembahyang sunnah dua rakaat pada malam Jumat dibaca ayatnya sesudah Fatihah Iza Zulzilatil Ardhu hingga akhirnya lima belas kali berturut-turut dalam kedua rakaanya, ia tiada dimatikan Allah Ta‘ala hingga dilihatnya akan tempatnya di dalam surga,’” (Lihat Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun], halaman 44-45).

Berikut ini adalah lafal niat shalat sunnah malam Jumat.

أُصَلِّيْ السُنَّةَ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

Ushallis sunnata rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah ba‘diyyah Jumat dua rakaat karena Allah SWT,” (Lihat Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun], halaman 45).

Hari Jumat merupakan sayyidul ayyam, atau hari yang sangat terhormat dalam sepekan. Pada hari ini kita dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah melebihi hari lainnya, termasuk shalawat nabi. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Rabu 28 November 2018 18:30 WIB
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan saat Melakukan Iqamah
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan saat Melakukan Iqamah
Ilustrasi (reviewofreligions.org)
Jika azan dijadikan sebagai tanda masuk waktu shalat, maka iqamah adalah tanda bahwa shalat akan segera dilakukan. Memang antara azan dan iqamah memiliki fungsi yang cukup vital sebagai tanda pelaksanaan shalat. Namun jika dibandingkan, iqamah lebih vital daripada azan. Bahkan dalam tulisan sebelumnya, dijelaskan bahwa Iqamah bisa dilakukan tanpa azan.

Oleh karena itu, mengingat iqamah adalah salah satu komponen vital sebelum melakukan shalat, perlu kiranya kita mengetahui hal-hal penting dalam iqamah.

Musthafa Dib dan Musthafa al-Bugha menyebutkan beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam iqamah.

Pertama, jumlah pelafalan kalimat-kalimat iqamah berbeda dengan azan. Jika kalimat azan diucapkan dua kali-dua kali, maka kalimat iqamah cukup dibaca satu kali-satu kali, kecuali lafal “Qad qâmatis-shalâh.” Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim.

أمر بلال أن يشفع الأذان، ويوتر الإقامة، إلا الإقامة - أي لفظ قد قامت الصلاة - فإنها تكرر مرتين

Artinya, “Bilal diperintahkan untuk menggenapkan azan (dibaca dua kali-dua kali) dan mengganjilkan iqamah (dibaca satu kali-satu kali), kecuali lafal “qad qâmatis shalâh.” Karena lafal tersebut dibaca berulang dua kali.” (Musthafa Khin dan Musthafa al-Bugha, al-Fiqh al-Manhaji ala Mazhabi Imam as-Syafii, [Damaskus: Dar as-Syuruq, 1992 M], j.1, h. 119.)

Kedua, tidak terlalu panjang (lama) saat mengumandangkan iqamah. Dalam azan, memang dianjurkan untuk panjang dan lama karena menunggu jamaah datang, tapi dalam iqamah dianjurkan dan lebih etis dibaca cepat.

والإسراع في الإقامة، ...  لأن الإقامة للحاضرين، فكان الإسراع فيها أنسب.

Artinya, “mempercepat bacaan iqamah. Karena iqamah untuk orang-orang yang sudah hadir di tempat. Maka dari itu, mempercepat bacaan iqamah lebih etis.” (lihat: Musthafa Khin dan Musthafa al-Bugha, al-Fiqh al-Manhaji ala Mazhabi Imam as-Syafii, [Damaskus: Dar as-Syuruq, 1992 M], j.1, h. 119.)

Ketiga, syarat-syarat sah iqamah sama seperti syarat sah yang terdapat dalam azan. Dan syarat tersebut juga harus dipenuhi sebagaimana keharusan memenuhi syarat tersebut ketika azan, yaitu: Islam, tamyiz, berurutan, masuk waktu shalat dan beberapa syarat yang lain.

Baca juga: 
• Ini Sejumlah Syarat Sah Azan
• Ini Sunah-Sunah saat Azan
Keempat, sunnah-sunnah iqamah juga sama seperti sunnah-sunnah azan. Akan tetapi dalam iqamah disunnahkan untuk dilakukan oleh orang yang melakukan azan. Juga disunnahkan bagi orang yang mendengar iqamah untuk membaca doa berikut:

أَقَامَهَا اللهُ وَأَدَامَهَا

Artinya, “semoga Allah menegakkan dan mengekalkan.” (lihat: Musthafa Khin dan Musthafa al-Bugha, al-Fiqh al-Manhaji ala Mazhabi Imam as-Syafii, [Damaskus: Dar as-Syuruq, 1992 M], j.1, h. 119.)

Wallahu a’lam.

(Muhammad Alvin Nur Choironi)

Rabu 28 November 2018 15:0 WIB
Iqamah tanpa Azan Hanya Dianjurkan dalam Tiga Kondisi Ini
Iqamah tanpa Azan Hanya Dianjurkan dalam Tiga Kondisi Ini
Ilustrasi (prayerinislam.com)
Ketika Rasul ﷺ melakukan haji dan mabit (menetap) di Muzdalifah, Rasulullah melakukan shalat jamak dengan satu azan dan dua iqamah. Artinya, Rasul memerintahkan sahabat untuk melakukan azan di awal shalat jama’ tersebut dan memerintahkan sahabat melakukan iqamah di setiap awal shalat.

Hal ini terekam dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dalam Sahih-nya.

جمع بين المغريب والعشاء بمزدلفة بأذان واحد وإقامتين

Artinya, “Rasulullah ﷺ menjamak shalat maghrib dan isya di Muzdalifah dengan satu azan dan dua iqamah.” (HR. Muslim)

Hadits tersebut jelas menunjukkan kebolehan melakukan iqamah tanpa diiringi azan terlebih dahulu di shalat jamak, tepatnya di shalat jamak yang kedua. Tapi, jika shalat yang dilakukan bukan shalat jamak, yakni shalat hadir, apakah diperbolehkan melakukan iqamah tanpa azan terlebih dahulu?

Menjawab hal ini, beberapa ulama mengajukan pendapat terkait dengan kebolehan melakukan iqamah saja tanpa didahului dengan azan. Namun, hal ini tidak berlaku umum. Ada beberapa kondisi tertentu yang memperbolehkan seorang muqim (orang yang mengumandangkan iqamah) melakukan iqamah tanpa didahului dengan azan.

Pertama, ketika menjamak shalat, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits di atas. Yakni, melakukan azan di awal shalat jamak dan iqamah sebelum melakukan kedua shalat yang dijamak.

Kedua, ketika mengqadha beberapa shalat. Misalnya, kita terlewat dua shalat, yakni shalat subuh dan dhuhur karena tertidur, maka saat menqadha-nya kita melakukan azan dan iqmah di shalat yang pertama, dan iqamah saja tanpa azan di shalat yang kedua. 

Hal ini juga berlaku jika shalat yang diqadha lebih dari dua shalat. Dasar dari pendapat ini adalah diqiyaskan dengan hadits shalat jamak yang dilakukan oleh Rasul ﷺ di Muzdalifah, sebagaimana disebutkan dalam al-Fiqh al-Manhaji ala Mazhabi Imam as-Syafii:

من كان عليه فوائت وأراد أن يقضيها أذَّن للأولى فقط، وأقام لكل صلاة، ودليل ذلك أن الني ﷺ: "جمع بين المغرب والعشاء بمزدلفة بأذان واحد وإقامتين

Artinya, “Siapa yang memiliki kewajiban mengqadha shalat yang terlewat, maka ia melakukan azan di shalat yang pertama saja, dan melakukan iqamah di setiap shalat. Dasar dari hal ini adalah bahwa Rasulullah ﷺ menjamak shalat maghrib dan isya di Muzdalifah dengan satu azan dan dua iqamah.” (lihat: Musthafa Khin dan Musthafa al-Bugha, al-Fiqh al-Manhaji ala Mazhabi Imam as-Syafii, [Damaskus: Dar as-Syuruq, 1992 M], j.1, h. 119.)

Ketiga, jika semua orang sudah berkumpul dan tidak ada niatan lagi untuk memanggil para jamaah. Misalnya, sebelum masuk waktu shalat, sudah ada acara terlebih dahulu di masjid, ketika sudah masuk waktu shalat, semua orang yang hadir sudah siap melakukan shalat, maka cukup melakukan iqamah saja, tanpa azan.

Hal ini didasarkan pada perilaku Rasul ﷺ dan para sahabat ketika perang Khandaq yang terekam dalam sebuah hadits riwayat Abu Said al-Khudri:

قال: حبسنا يوم الخندق عن الصلاة، حتى كان بعد المغرب ... . فدعا رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بلالا، فأمره، فأقام صلاة الظهر فصلاها، ثم أقام العصر فصلاها، ثم أقام المغرب فصلاها، ثم أقام العشاء فصلاها

Artinya, “Abu Said al-Khudri berkata, “Ketika kita terhalang untuk melakukan shalat pada saat perang Khandaq, hingga tiba saatnya waktu Maghrib... kemudian Rasulullah ﷺ memanggil Bilal dan memerintahkanya, Bilal pun melakukan iqamah untuk shalat dhuhur dan Rasul melakukan shalat dhuhur, kemudian Bilal melakukan iqamah untuk shalat ashar dan Rasul melakukan shalat ashar, lalu Bilal melakukan iqamah untuk shalat maghrib dan Rasul pun melakukan shalat maghrib, setelah itu, Bilal melakukan iqamah untuk shalat Isya  dan Rasul pun melakukan shalat isya.” (lihat Yahya al-Imrani al-Yamani, al-Bayan fi Mazhab Imam as-Syafii, [Jeddah: Dar al-Minhaj, 2000], j. 2, h. 60.)

Hadits ini bisa dilacak dalam beberapa kitab hadits muktabar, seperti Sahih Ibn Hibban, Sahih Ibn Huzaimah, Musnad Ahmad dan beberapa kitab hadits lain.

Dari hadits tersebut Imam as-Syafii dalam kaul jadid-nya berpendapat bahwa tidak disunnahkan azan, sebagaimana pendapat Imam Malik, Imam al-Auzai dan Abu Ishaq dengan berlandaskan (mengqiyaskan) hadits tersebut, walaupun konteks hadits tersebut adalah shalat qadha’ karena terlewat saat perang.

Namun Abu Ishaq berpendapat, walaupun konteks pelaksanaan iqamah tersebut terjadi pada saat shalat qadha dan shalat jamak (sebagaimana dijelaskan dalam hadits pertama) tapi berlaku juga untuk shalat hadir (shalat yang dilakukan sesuai waktunya, bukan jamak dan bukan qadha).

قال أبو إسحاق: ولا فرق على هذا القول بين الفائتة، والحاضرة في وقتها، إذا صلى في موضع يرجو اجتماع الناس لها. . أذن وأقام، وإن لم يرج اجتماعًا. . أقام ولم يؤذن

Artinya, “Abu Ishaq berpendapat, “Untuk pendapat ini, tidak ada perbedaan antara shalat yang terlewat ataupun shalat tepat waktu (shalat hadir). Jika seseorang melakukan shalat di tempat yang diharapkan menusia bisa berkumpul untuk berjamaah, maka (disunnahkan) azan dan iqamah. Namun jika tidak mengharapkan berkumpulnya manusia, maka cukup iqamah saja, tanpa azan.” (lihat Yahya al-Imrani al-Yamani, al-Bayan fi Mazhab Imam as-Syafii, [Jeddah: Dar al-Minhaj, 2000], j. 2, h. 60-61.)

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya hakikat pelaksanaan azan adalah untuk memanggil dan mengumpulkan orang untuk melakukan shalat, jika orang atau jamaahnya sudah berkumpul dan siap melaksanakan shalat, maka cukup melakukan iqamah saja.

Wallahu a’lam.

(Muhammad Alvin Nur Choironi)



Selasa 27 November 2018 23:0 WIB
Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Qabliyyah Jumat
Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Qabliyyah Jumat
(Foto: @pinterest)
Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Qabliyyah Jumat
Shalat zuhur pada hari Jumat diganti dengan rangkaian ibadah shalat Jumat. Meski demikian, anjuran shalat sunnah rawatib pada hari Jumat tetap berlaku meski yang dilakukan umat Islam adalah shalat Jumat, bukan shalat zuhur.

Mazhab Syafi‘i menyebut adanya kesunnahan shalat sunnah qabliyyah Jumat sebagai pengganti posisi shalat sunnah qabliyyah zuhur. Sebagaimana diketahui, shalat sunnah qabliyyah adalah shalat sunnah yang dilakukan sebelum shalat wajib lima waktu dilakukan.

Shalat sunnah qabliyyah Jumat dilakukan setelah masuk waktu Jumat. Tetapi ketika khatib sudah mulai berkhutbah, shalat sunnah qabliyyah Jumat sebaiknya dilakukan secara ringkas.

قَوْلُهُ (نَفْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ) أَيْ سُنَّتُهَا الْقَبْلِيَّةُ وَأَمَّا الْبَعْدِيَّةُ فَفِعْلُهَا فِي الْبَيْتِ أَفْضَلُ

Artinya, “Redaksi (shalat nafilah hari Jumat), maksudnya shalat sunnah qabliyyah Jumat. Sedangkan shalat sunnah ba‘diyyah Jumat dikerjakan lebih utama di rumah,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi ‘alal Manhaj, juz II, halaman 458).

Adapun berikut ini adalah lafal niat shalat sunnah qabliyyah Jumat:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatal Jumu‘ati rak‘ataini qabliyyatan lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah qabliyyah Jumat dua rakaat karena Allah SWT,” (Lihat Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun], halaman 13).

Shalat sunnah qabliyyah pada hari Jumat ini tetap dianjurkan. Kekhususan ibadah di hari Jumat tidak menghalangi kesunnahan shalat sunnah rawatib yang lazim mengiringi shalat wajib lima waktu baik sebelum dan sesudahnya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)