IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Makan dan Minum sambil Berdiri

Rabu 28 November 2018 12:45 WIB
Share:
Hukum Makan dan Minum sambil Berdiri
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, beberapa teman saya menegur salah seorang sahabat saya  karena minum sambil berdiri di depan gallon air. Pasalnya, makan dan minum dalam posisi berdiri dilarang oleh agama. Mohon keterangannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Hadi/Medan)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Makan dan minum dalam posisi berdiri ini kerap menjadi perbincangan kecil beberapa orang di tengah masyarakat. Pada kesempatan ini, kami mencoba memberikan informasi keagamaan perihal ini.

Praktik makan dan minum dalam posisi berdiri disinggung dalam sejumlah hadits Nabi Muhammad SAW. Sebagian hadits nabi melarang umat Islam melakukan praktik ini. Larangan ini tampak jelas dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan Muslim berikut ini:

وعن أبي سعيد أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم نهى عن الشرب قائما رواه أحمد ومسلم

Artinya, “Dari Abu Said bahwa Nabi SAW melarang minum sambil berdiri,” (HR Ahmad dan Muslim).

Pada kesempatan lain, Nabi SAW juga pernah meminum air zam-zam dalam posisi berdiri. Riwayat Imam Ahmad dan Bukhari berikut ini mengisahkan Sayyidina Ali RA yang minum dalam posisi berdiri:

وعن الإمام علي رضي الله عنه أنه في رحبة الكوفة شرب وهو قائم قال إن ناسا يكرهون الشرب قائما وإن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم صنع مثل ما صنعت رواه أحمد والبخاري

Artinya, “Dari Imam Ali RA bahwa ia di satu lapangan di Kota Kufah meminum dalam posisi berdiri. Ia berkata, ‘Banyak orang memakruhkan minum dalam posisi berdiri. Padahal Rasulullah SAW melakukan apa yang kulakukan,’” (HR Ahmad dan Bukhari).

Bagaimana menyikapi dua dalil yang bertentangan perihal praktik makan dan minum smabil berdiri? Imam An-Nawawi mencari titik temu antara kedua hadits tersebut. Metode ini digunakan agar semangat kedua hadits tersebut tetap terakomodasi dalam putusan hukum sebagai berikut ini:

ولا يكره الشرب قائما وحملوا النهي الوارد على حالة السير قلت هذا الذي قاله من تأويل النهي على حالة السير قد قاله ابن قتيبة والمتولي وقد تأوله آخرون بخلاف هذا والمختار أن الشرب قائما بلا عذر خلاف الأولى للأحاديث الصريحة بالنهي عنه في صحيح مسلم وأما الحديثان الصحيحان عن علي وابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم شرب قائما فمحمولان على بيان الجواز جمعا بين الأحاديث

Artinya, “Minum sambil berdiri tidak makruh. Ulama memahami larangan yang tersebut itu dalam keadaan perjalanan. Menurut saya, pendapat yang dikatakan ini berdasar pada takwil larangan dalam keadaan perjalanan sebagaimana dipegang oleh Ibnu Qutaibah dan Al-Mutawalli. Ulama lain menakwil berbeda. Pendapat yang kami pilih, minum sambil berdiri tanpa uzur menyalahi yang utama berdasarkan larangan pada hadits riwayat Imam Muslim. ” Lihat Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin, [Beirut, Al-Maktab Al-Islami: 1405 H], juz VII, halaman 340).

Mayoritas sendiri dari hadits yang ada perihal makan dan minum sambil berdiri menganjurkan mereka yang tidak memiliki uzur apa pun untuk makan dan minum sambil duduk. Sedangkan makan dan minum sambil berdiri menyalahi keutamaan.

لا خلاف بين الفقهاء أنه يندب الْجُلُوسُ لِلأكْل وَالشُّرْبِ وَأَنَّ الشُّرْبَ قَائِمًا بِلاَ عُذْرٍ خِلاَفُ الأَوْلَى عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ

Artinya, “Tiada khilaf di kalangan ahli fiqih bahwa seseorang dianjurkan makan dan minum sambil duduk. Tetapi minum sambil berdiri tanpa uzur menyalahi yang afdhal menurut mayoritas ulama,” (Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz XV, halaman 270-271).

Pada prinsipnya, praktik makan dan minum sambil berdiri boleh dilakukan. Hanya saja makan dan minum sambil duduk lebih utama.

ويجوز الشرب قائماً، والأفضل القعود

Artinya, “Minum sambil berdiri boleh. Tetapi afdhalnya minum dilakukan sambil duduk,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz III, halaman 536).

Kami menyarankan orang-orang yang tidak memiliki uzur atau hajat tertentu untuk makan dan minum sambil duduk untuk mengejar keutamaan.

Bagi mereka yang memiliki uzur, hajat tertentu, atau lupa, apa boleh buat makan dan minum dalam kondisi berdiri sebagaimana Rasulullah SAW melakukannya yang disaksikan oleh sejumlah sahabat. Tetapi hal ini sebaiknya tidak menjadi kebiasaan.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Share:
Senin 26 November 2018 21:45 WIB
Hukum Meniup dan Mengipas Makanan atau Minuman Panas
Hukum Meniup dan Mengipas Makanan atau Minuman Panas
(Foto: @pinterest)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, bapak pernah menegur adik saya yang mendinginkan mie rebus di piringnya dengan kipas bambu. Kata bapak kami, meniup atau mendinginkan makanan panas dilarang dalam agama Islam. Saya minta keterangan perihal ini. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nandar/Bandung)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Larangan meniup atau mengipas untuk mendinginkan makanan atau minuman panas dapat ditemukan dalam hadits riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi berikut ini.

وعن ابن عباس رضي اللّه عنهما أن النبي نهى أن يتنفس في الإناء أو ينفخ فيه

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi Muhammad SAW melarang pengembusan nafas dan peniupan (makanan atau minuman) pada bejana,” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Dari hadits ini para ulama terbelah menjadi beberapa pendapat. Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum meniup makanan atau minuman adalah makruh tanzih karena ini berkaitan dengan adab dan kebersihan.

Adapun ulama lain memberikan tafsil. Menurut sebagian ulama ini, larangan makruh ini berlaku dengan asumsi bila seseorang itu mengikuti jamuan makan bersama-sama dengan orang lain di satu wadah besar atau satu wadah bersama, atau satu wadah yang dipakai bersama orang lain. Pasalnya, orang lain kemungkinan akan merasa jijik atau menduga masuknya kotoran atau penyakit di mulutnya ke dalam wadah bersama itu.

Ketika seseorang makan sendiri atau makan bersama keluarga atau muridnya, maka larangan meniup makanan dan minuman tidak berlaku karena orang yang makan bersama dia tidak merasa jijik dengan tindakan peniupan itu.

قوله (نهى عن النفخ في الطعام) لأنه يؤذن بالعجلة وشدة الشره وقلة الصبر قال المهلب : ومحل ذلك إذا أكل مع غيره فإن أكل وحده أو مع من لا يتقذر منه شيئا كزوجته وولده وخادمه وتلميذه فلا بأس

Artinya, “Kata (Nabi Muhammad SAW melarang peniupan makanan) karena itu mengisyaratkan ketergesa-gesaan, kerakusan dan kurang sabar. Al-Mahlab mengatakan bahwa letak larangan itu terdapat ketika seseorang makan bersama orang lain pada satu wajan. Jika seseorang makan sendiri atau bersama orang yang tidak menganggap ‘kotor’ apa pun yang keluar dari dirinya, seperti istri, anak, bujang, dan muridnya, maka tidak masalah,” (Lihat Al-Munawi, Faidhul Qadir, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1994 M/1415 H], juz VI, halaman 420).

Sebagian ulama Mazhab Maliki dan Hanbali menyatakan bahwa peniupan makanan atau minuman tidak makruh untuk mendinginkan hidangan tersebut karena memakan makanan atau minuman panas dapat menghilangkan berkah.

وَفِي قَوْلٍ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ : إِنَّهُ لاَ يُكْرَهُ النَّفْخُ فِي الطَّعَامِ لِمَنْ كَانَ وَحْدَهُ. وَقَال الآْمِدِيُّ - مِنَ الْحَنَابِلَةِ - : إِنَّهُ لاَ يُكْرَهُ النَّفْخُ فِي الطَّعَامِ إِذَا كَانَ حَارًّا ، قَال الْمِرْدَاوِيُّ : وَهُوَ الصَّوَابُ إِنْ كَانَ ثَمَّ حَاجَةٌ إِلَى الأَْكْل حِينَئِذٍ

Artinya, “Satu pendapat di dalam Mazhab Maliki menyatakan bahwa peniupan atas makanan tidak dimakruh bagi orang yang makan sendiri. Al-Amidi dari Mazhab Hanbali mengatakan bahwa peniupan makanan tidak makruh bila makanan itu panas. Al-Mirdawi mengatakan bahwa, ini yang benar, (tidak makruh) jika ada keperluan untuk mengonsumsinya saat itu,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, Al-Mausuatul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Shafwah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz XXXXI, halaman 23).

Mayoritas ulama menyarankan orang yang memiliki punya waktu untuk menunggu dengan sabar makanan dan minumannya dingin seiring waktu. Sedangkan mereka yang berhajat untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang masih panas dapat mempercepat pendinginan makanan tersebut dengan bantuan kipas bambu atau alat bantu lain.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Ahad 25 November 2018 18:15 WIB
Hukum Menangisi Jenazah
Hukum Menangisi Jenazah
(Foto: @vocativ.com)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, saya pernah mendengar waktu kecil bahwa kita tidak boleh menangisi jenazah keluarga kita atau siapa saja. Ada kepercayaan bahwa tangisan kita akan menambah beban azab kubur almarhum di alam barzakh. Saya minta keterangan perihal ini. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Asep Suhendra/Ciamis)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Tangis sebagai tanda kesedihan atas kepergian seseorang merupakan hal yang sangat manusiawi. Sejauh tangis masih dalam batas kewajaran, Islam tidak melarangnya.

Ulama fiqih tidak memandang tangisan atas jenazah sebagai sebuah masalah. Rasulullah SAW sendiri meneteskan air mata ketika melepas putranya, Ibrahim, melewati detik-detik kehidupannya di dunia sebagaimana keterangan berikut ini:

ولا بأس بالبكاء على الميت من غير نوح ولا شق جيب ولا ضرب خد) يجوز البكاء على الميت قبل الموت وبعده أما قبله فلرواية أنس رضي الله عنه قال دخلنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم وإبراهيم ولده يجود بنفسه فجعلت عينا رسول الله صلى الله عليه وسلم تذرفان يعني تسيلان

Artinya, “(Tidak masalah menangisi jenazah tanpa meratap, merobek kantong, dan memukul pipi). Seseorang boleh menangisi orang lain baik sebelum maupun sesudah wafatnya. Kebolehan menangisi seseorang sebelum wafat didasarkan pada riwayat sahabat Anas RA, ia berkata, ‘Kami menemui Rasulullah SAW. Sementara Ibrahim, putra beliau, sedang mengembuskan nafas terakhirnya. Saat itu tampak air hangat mengalir, yaitu meluncur dari kedua mata Rasulullah SAW,’” (Lihat Taqiyyuddin Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 137-138).

Riwayat ini menunjukkan kebolehan menangisi seseorang menjelang wafatnya sebagaimana Rasulullah SAW menangis di akhir hayat putranya, Ibrahim. Dari riwayat ini, ulama menyimpulkan bahwa seseorang boleh menangisi orang lain sesaat sebelum orang lain tersebut wafat.

Adapun riwayat berikut ini mengisahkan tangisan Rasulullah SAW saat upacara pemakaman putrinya. Saat salah seorang putrinya dikebumikan, Rasulullah SAW tampak duduk di atas makam putrinya dan mengalirkan air mata di pipinya yang mulia.

وأما بعده فلما رواه أنس أيضا قال شهدنا دفن بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم فرأيت عينيه تذرفان وهو جالس على قبرها

Artinya, “Sedangkan kebolehan menangisi seseorang setelah wafat juga didasarkan pada hadits riwayat sahabat Anas RA. Ia berkata, ‘Kami menyaksikan pemakaman putri Rasulullah SAW. Aku melihat kedua matanya berlinang air mata. Sementara Rasulullah SAW duduk di atas makam putrinya,’” (Lihat Taqiyyuddin Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 138).

Dua riwayat dari sahabat Anas RA menjadi dasar atas argumentasi ulama bahwa tangis kesedihan atas kematian seseorang boleh dilakukan sebelum atau sesudah seseorang itu wafat. Yang tidak boleh dalam Islam adalah mengekspresikan kesedihan secara ekstrem atau berlebihan, yaitu meratao, memukul pipi, menyobek kantong pakaian, mogok makan, mogok bicara, dan seterusnya.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Sabtu 24 November 2018 22:5 WIB
Hukum Kentut di Ruang Publik
Hukum Kentut di Ruang Publik
(Foto: @via grid.id)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Pak ustadz, ketika kecil dahulu kami menganggap lumrah maaf kentut di hadapan teman-teman sebaya. Tetapi ketika dewasa kini kita terikat norma-norma sosial. Bagaimana kalau sebagian kami yang dewasa ini kentut sembarangan di depan umum. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdul Karim/Cilacap)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Maaf, kentut adalah peristiwa biologis biasa dan keniscayaan sebagaimana kita membuang air kecil dan air besar. Sampai di sini tidak ada masalah.

Persoalan ini akan menjadi berbeda ketika kentut di ruang publik. Kami melihat dua persoalan dalam hal ini, pertama soal bau atau aroma yang mengganggu dan kedua soal etika sosial.

Pada masalah pertama soal bau yang mengganggu dan aroma tidak sedap yang menyakiti orang lain, Islam melarang keras mereka yang tidak bersih-bersih mulut untuk menghadiri ruang publik seperti masjid dan ruang pertemuan lainnya.

Kita mendapati hadits Rasulullah SAW yang tidak memperkenankan orang yang memakan bawang putih tanpa bersih-bersih mulut untuk mendatangi masjid karena aromanya dapat mengganggu pengunjung lainnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud sebagai berikut:

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه و سلم قال من أكل من هذه الشجرة يعني الثوم فلا يقربن مسجدنا رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم فلا يقربن مساجدنا وفي رواية لهما فلا يأتين المساجد وفي رواية لابي داود من أكل من هذه الشجرة فلا يقربن المساجد

Artinya, “Dari Ibnu Umar RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Siapa saja yang memakan makanan ini, (maksudnya bawang putih), jangan mendekati masjid kami,’ (HR Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim, ‘jangan mendekati masjid-masjid kami.’ Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, ‘jangan mendatangi masjid-masjid.’ Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, ‘Siapa saja yang memakan pohon ini, jangan mendekati masjid-masjid,’” (Lihat Syekh Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1417 H], cetakan pertama, juz I, halaman 138).

Tentu saja hadits ini tidak dipahami harfiah yang menyempitkan maknanya. Larangan untuk menggangu orang lain dengan aroma tidak sedap dalam hadits ini juga mencakup tubuh dan pakaian. Seseorang harus memastikan tubuh dan pakaiannya tidak mengandung aroma busuk sebelum berjumpa dengan orang lain sebagaimana keterangan Sayyid Bakri Syatha berikut ini:

ومثل ذلك كل من ببدنه أو ثوبه ريح خبيث

Artinya, “Serupa dengan masalah itu (memakan bawang) adalah orang yang tubuh atau pakaiannya mengandung aroma busuk,” (Lihat Syekh Sayyid Bakri Syatha, I‘anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425 H-1426 H], juz II, halaman 51).

Dari sini kemudian para ulama membuat kaidah bahwa gangguan atas kenyamanan orang lain karena aroma dari mana pun sumbernya, yaitu mulut, tubuh, atau pakaian seseorang dilarang dalam Islam.

وَكُل رَائِحَةٍ مُؤْذِيَةٍ فَهِيَ مَمْنُوعَةٌ

Artinya, “Segala aroma yang menyakitkan orang lain maka itu dilarang,” (Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz X, halaman 104).

Hal ini bisa dipahami karena kita tidak dapat membayangkan bagaimana dampak aroma busuk atas kenyamanan orang lain ketika ada seseorang kentut (bau badan, bau ketiak, atau aroma tidak sedap lainnya) di ruang tertutup, pasar, bus kota, krl, atau ruangan berpendingin. Tentu saja kami tidak menyarankan seseorang untuk kentut sembarangan di ruang terbuka.

Lalu bagaimana dengan kentut yang tidak menghasilkan aroma busuk? Hal ini menurut hemat kami berkaitan dengan masalah kedua, yaitu etika sosial. Meski tidak melahirkan aroma busuk, suara kentut di depan umum dapat merusak mood, konsentrasi, dan gangguan psikis terhadap orang lain seperti mereka yang sedang makan atau minum.

Kami menyarankan mereka yang ingin kentut sebaiknya menjauh dari keramaian seperti menepi atau mencari ruang publik yang seharusnya seperti toilet umum.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)