IMG-LOGO
Hikmah

Kenapa Allah Menciptakan Neraka?

Kamis 29 November 2018 21:30 WIB
Share:
Kenapa Allah Menciptakan Neraka?
Nabi Musa alaihis salâm merupakan satu di antara nabi yang mempunyai pangkat ulul azmi. Ia diberi keistimewaan oleh Allah berupa akses secara mudah untuk bisa langsung bermunajat kepada Allah subhânahu wa ta’âlâ tanpa melalui perantara. 

Suatu ketika, Nabi Musa bermunajat kepada Allah, ia mengadukan masalah yang mengganjal di benak. “Ya Allah, Engkau sendiri yang menciptakan para makhluk dengan aneka ragam bentuk ciptaan. Selain itu, Engkau juga merawat makhluk-makhluk itu dengan kenikamatan-kenikmatan dan rezeki yang juga bersumber dari Engkau sendiri. Lalu mengapa Engkau ciptakan sendiri, namun pada akhirnya di antara makhluk-makhluk tersebut ada yang Engkau masukkan ke dalam neraka-Mu sendiri.” 

Mendapat pertanyaan demikian, Allah menjawab, “Hai Musa. Sekarang coba kamu berdiri! Bercocok tanamlah!”

Nabi Musa mengikuti perintah Allah. Ia bercocok tanam. Agak tumbuh besar, ia sendiri yang menyirami. Tanaman itu, ia rawat sendiri secara penuh dengan tanpa mewakilkan orang lain sampai pada saatnya tiba masa panen. 

Setelah memanen secara tuntas, Nabi Musa ditanya oleh Allah. “Hai Musa, bagaimana dengan panen rayamu?”

“Iya, Tuhan. Kami telah memanen dan membawa panenan-panenan tersebut.” 

“Lalu apakah tidak ada panenan sedikit pun yang kamu tinggalkan di sana?”

“Ya Tuhan, ya mestinya yang saya bawa adalah panenan yang bagus-bagus saja. Adapun buah yang jelek saya tinggalkan,” jelas Musa.

Selepas Nabi Musa mengutarakan alasannya, Allah pun kemudian berfirman:

فَاِنِّيْ اُدْخِلُ النَّارَ مَنْ لاَ خَيْرَ فِيْهِ

Artinya: “(Begitu pula Aku [Allah]). Sesungguhnya aku memasukkan neraka kepada orang yang tidak punya unsur kebaikan sama sekali.”

Musa penasaran, “Siapa mereka, Tuhan?.”

“Orang yang tidak mau berkata “Lâilâha illallâh Muhammadur Rasûlullâh.” (Ahmad Mundzir) 


Cerita di atas disarikan dari Muhammad bin Abi Bakar Ushfiuriy, Al-Ushfûriyyah, tanpa keterangan cetak, halaman 5  

Share:
Kamis 29 November 2018 14:0 WIB
Gus Dur yang Tak Punya Dompet, Kesaksian Gus Mus
Gus Dur yang Tak Punya Dompet, Kesaksian Gus Mus
Gus Dur dan Gus Mus (ist)
Dompet merupakan benda yang bisa dipastikan dipunyai dan dibawa oleh semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Dompet identik berisi uang dan kartu dan berkas penting seperti ATM, KTP, SIM, NPWP, STNK, dan lain-lain.

Begitu pentingnya dompet sebagai wadah benda-benda berharga terutama uang, tidak berlaku bagi seorang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Telah banyak riwayat yang menceritakan bahwa jangan dompet, uang pun kerap kali Gus Dur tidak memegangnya. Hal ini lantaran sikap zuhudnya terhadap dunia.

“Gus Dur itu sepanjang hidupnya selalu bersahaja, sederhana, dan tidak bergantung kepada selain Allah. Selama itu, Gus Dur tak punya dompet. Saya sudah mengonfirmasi hal ini kepada keluarganya,” ungkap KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).

Pernyataan Gus Mus tersebut dikemukakan oleh KH Husein Muhammad dalam bukunya Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (2015). Tidak familiarnya Gus Dur dengan dompet sebab seringkali Gus Dur tidak punya uang. Karena ketika mempunyai uang, Gus Dur langsung membagikannya kepada orang lain atau pihak yang memerlukannya.

Menurut kesaksian Kiai Husein Muhammad, saat ada orang yang menipunya, Gus Dur tahu tetapi dia diam saja, tidak menanyakannya. Inilah mengapa Kiai Husein menyebut Gus Dur sebagai seorang zahid yang menurutnya adalah terminologi mendasar dalam dunia sufisme.

Seorang Sufi berpandangan, zuhud adalah adam al-huzn ‘ala ma faat (tidak berduka ketika kehilangan). Sufi lain mengatakan, zahid adalah orang yang hatinya taki bergejolak riang manakala diberi rezeki dan tidak gelisah saat tidak punya apa-apa.

Singkatnya, riwayat tentang Gus Dur yang sering tidak memegang uang telah banyak diketahui dan dibaca masyarakat. Termasuk ketika keempat putrinya mengetahui sendiri ketika Gus Dur hendak meminjam uang untuk sebuah keperluan karena tidak sedang memegang uang.

Saat itulah putri-putrinya menangis sesenggukan. Bukan karena menangisi Gus Dur yang tidak mempunyai uang, tetapi karena begitu zuhudnya ia yang tidak pernah mau terikat dengan perkara-perkara duniawi. Bahkan, Gus Dur kerap menegaskan kepada putri-putrinya bahwa uang yang dipegangnya adalah hak rakyat, hak orang banyak.

Gus Dur bukan tidak mempunyai uang. Bahkan dia bisa saja dengan mudah mendapatkannya, tetapi ketika mendapatkan uang, Gus Dur seketika itu pula mengeluarkannya bagi siapa pun yang membutuhkan dan datang kepadanya saat itu.

Itu artinya, uang merupakan benda yang mudah saja mendekati Gus Dur tetapi sekaligus gampang sekali menjauhinya sebab dikeluarkan juga Gus Dur untuk orang-orang yang seketika itu membutuhkannya. (Fathoni)
Rabu 28 November 2018 12:0 WIB
Umar bin Khatab dan Panci Rakyat Miskin
Umar bin Khatab dan Panci Rakyat Miskin
Suatu masa dalam kepemimpinan ‘Umar, terjadi “Tahun Abu”. Masyarakat Arab menderita masa paceklik berat. Hujan tak lagi turun, pepohonan mengering, hewan-hewan mati. Tanah tempat berpijak hampir menghitam layaknya abu. 
Suatu malam, bersama sahabatnya Aslam, Khalifah ‘Umar berjalan-jalan ke kampung terpencil yang berada di tengah gurun sepi. Tiba-tiba beliau terkaget. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar suara gadis kecil menangis keras. ‘Umar bin Khaththab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, untuk mengecek bila penghuninya membutuhkan bantuan. 

Umar: Assalamualaikum.. 
Wanita Janda: Waalaikumsalam (sedikit mengabaikan, dan kemudian melanjutkan pekerjaanya yaitu sambil mengaduk panci) 
Umar: Boleh aku mendekat? 

Wanita Janda: Silahkan, jika kau membawa kebaikan 
(Kemudian umar mendekati wanita yang sendang mengaduk panci tersebut) 
Umar: Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu? 
Wanita Janda: Anakku…. 
Umar: Kenapa anak-anakmu menangis? Apakah ia sakit? 
Wanita Janda: Tidak, mereka lapar. 

(Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya) 
Umar: Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu? 
Wanita Janda: Hmmm, kau lihatlah sendiri! 
(Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak) 
Umar: Apakah kau memasak batu?! 

Wanita Janda: Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi apa belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan. 



(Wanita janda itu diam sejenak, kemudian ia melanjutkan) 
Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya. 
(Mendengar penuturan wanita itu, Aslam berniat menegur perempuan itu. Namun Khalifah ‘Umar sempat mencegah) 
(Dengan air mata berlinang beliau bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, ‘Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua nan sengsara itu.) 

Umar: Angkatkan ke punggungku. 
Aslam: Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu… 
Umar: Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak? (dengan wajah yang merah padam) 
(Aslam tertunduk. Tersuruk-suruk Khalifah ‘Umar berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus membelai tanah Arab yang dilanda paceklik.) 
(Sesampainya ditempat wanita jandi tersebut umar langsung menyuruh dan mebantu wanita tersebut untuk memasak.) 

Umar: (sambil memberikan serantang gandum) Masukkan gandumnya dan aku yang akan mengaduknya. 
(Umar sembari meniup asap untuk menghidupkan apinya) 
(Setelah masak, Sayyidina Umar pun mengajak keluarga yang miskin itu untuk makan.) 
Wanita janda: Kemarilah,,, kemarilah anaku,, ayo kita makan. 
(Sambil melihat mereka makan, Umar duduk tersenyum dalam hatinya. Hatinya berasa sangat lega kerana melihat anak-anak kecil itu kembali gembira.) 
Wanita janda: Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan yang lebih baik. Engkau lebih baik dibanding khalifah Umar. 

Umar: Berkatalah yang baik-baik, besok termui Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga disana. InsyaAllah ia akan mencukupimu 
(Pada keesokan hari itu, datanglah ibu itu ke Baitul Mal. Umar pun menyambut dengan senyum bahagia. Ketika ibu itu melihat wajah Khalifah, dia menyadari bahwa orang yang membantunya semalam adalah Umar sang Amirul Mu'minin, ) 

(Wanita itu gemetaran dan terlihat ketakutan) 
Wanita janda: Aku mohon maaf! aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. aku sudah siap menerima hukuman yang akan ditimpakan. 
Umar: Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah selama ini. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaannku, bagaimana aku mempertanggungjawabkan dihadapan Allah?. Sudi kiranya Ibu memaafkan aku? 
(Beliau masih sempat datang membawa makanannya sendiri sekedar untuk memenuhi kebutuhan makanan wanita dan anaknya yang kelaparan).(Abdullah Alawi)

Rabu 28 November 2018 3:23 WIB
Umar bin Abdul-Aziz dan Lampu Negara
Umar bin Abdul-Aziz dan Lampu Negara
Ilustrasi: slideshare.net
Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Abdul Aziz (62 101 H) sedang asyik bekerja di ruangannya. Tiba-tiba suara pintu diketuk seseorang. 

”Siapa?” tanya khalifah. 

”Saya, putramu!”

"Silakan masuk!” jawab khalifah sambil memadamkan lampu di dekatnya. 

Melihat mangan jadi gelap gulita, maka terkejutlah si anak itu. Ia mempertanyakannya. Dengan tersenyum Khalifah Umar bin Abdul-Aziz menjawab, ”Sebab, lampu itu, minyaknya dibeli dengan uang negara! Sedang urusan yang dibicarakan, adalah urusan pribadi!”  

Di dalam sumber lain, dalam buku Kisah-kisah dari Tarikh (Endang Basri Ananda,1977) yang mengetuk pintu itu adalah pembantu khalifah. Ketika Umar mematikan lampu, ia tak berani bertanya. Namun, menceritakan hal itu kepada permaisuri, istri khalifah. 

Ketika bertemu dengan khalifah, Sang Permaisuri segera bertanya, ”Mengapa kakanda mematikan Iampu, sewaktu pembantu kita masuk ke kamar kerja kakanda?” 

Dengan tersenyum Khalifah Umar bin Abdul-Aziz menjawab, ”Sebab, lampu itu. . . minyaknya dibeli dengan uang negara! Sedang urusan yang dibicarakan, adalah urusan pribadi! ” ' 

Khalifah Umar bin Abdul Aziz memang khalifah yang adil dan bijaksana. Sekalipun hanya memerintah selama dua setengah tahun (717 720 M), namun karyanya sangat mengagumkan. Banyak sekali kisah-kisah menarik tentang dirinya.

Oleh sebab itu, dia sering disebut orang dengan gelar khulafaur rasyidin yang kelima. Padahal sebenarnya yang termasuk khulafaur rasyidin itu hanya empat orang yaitu: Khalifah Abu-Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Mereka memérintah berganti-ganti selama 29 tahun, sejak Rasulullah wafat. Tepatnya, dari tahun ll sampai 40 H, atau 632-661M. 

Sesudah itu terjadilah percekcokan antara Bani Umayyah dengan Bani Abbasiyyah selama 59 tahun. Baru pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, percekcokan itu dapat diakhiri.

Leluhur Umar bin Abdul Aziz terhubung kepada salah seorang sahabat utama Nabi Muhammad, yaitu Umar bin Khatab. Pada masa mudanya ia menimba ilmu kepada sejumlah sahabat dan kebanyak para tabi'in. (Abdullah Alawi)