IMG-LOGO
Trending Now:
Shalat

Makmum Tunarungu saat Imam Shalat Membaca Surat Pendek

Jumat 30 November 2018 19:0 WIB
Share:
Makmum Tunarungu saat Imam Shalat Membaca Surat Pendek
Ilustrasi (Reuters)
Memperhatikan gerakan dan bacaan imam adalah salah satu syarat mengikuti imam dalam melakukan shalat jamaah. Bahkan dalam beberapa hal, makmum diharuskan untuk tidak membaca surat sendiri agar tetap bisa mendengarkan surat yang dibaca oleh imam.

Dalam hadits riwayat Imam an-Nasai disebutkan bahwa jika shalat yang dikerjakan adalah shalat jamaah, maka cukup mendengarkan bacaan imam.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

“Dari Abu Hurairah  berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesunggunya orang yang dijadikan imam itu untuk diikuti. Maka ketika ia membaca takbir, bertakbirlah kalian semua, dan jika ia membaca bacaan, diamlah dan dengarkan. Dan jika ia mengucapkan samiallahu liman hamidah, maka ucapkanlah allahumma rabbana lakal hamd.” (Abu Abdurrahman an-Nasai, al-Mujtaba minas Sunan, Sunan an-Nasai, j. 2, h. 141.).

Namun, hal ini tidak berlaku untuk Surat al-Fatihah, karena membaca Surat al-Fatihah adalah termasuk rukun dan tetap harus dilakukan oleh seorang makmum, walaupun imam telah membacanya. Hal ini sesuai dengan sebuah hadits riwayat Imam an-Nasai.

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ : صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بَعْضَ الصَّلَوَاتِ الَّتِي يُجْهَرُ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ : لاَ يَقْرَأَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إِذَا جَهَرْتُ بِالْقِرَاءَةِ إِلاَّ بِأُمِّ الْقُرْآنِ.

“Dari Ubadah bin as-Shamit berkata bahwa Rasulullah pernah shalat yang bacaanya dibaca dengan keras. Kemudian Rasul bersabda, “Janganlah kalian membaca bacaan ketika aku sedang membaca bacaan dengan keras, kecuali Surat al-Fatihah.”  (Abu Abdurrahman an-Nasai, al-Mujtaba minas Sunan, Sunan an-Nasai, j. 2, h. 139.)

Jika makmum tugasnya mendengarkan bacaan surat Imam, lalu bagaimana dengan makmum tunarungu? Masihkah ia membaca surat? Mengingat ia tidak bisa mendengarkan bacaan Imam.

Menjawab hal ini, Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuz Zain menyebutkan bahwa makmum tunarungu, tetap membaca surat pendek, satu kali atau dua kali, agar ibadah shalatnya saat berdiri diisi hal-hal yang dapat mendulang pahala.

إن لم يسمعها لصمم أو بعد أو غيره قرأ سورة فأكثر إلى أن يركع الإمام إذ سكوته لا معنى له .

"Jika makmum tidak mampu mendengar karena ia tunarungu atau jaraknya jauh atau alasan lain (yang menyebabkan ia tidak mampu mendengar bacaan Imam), maka makmum tersebut tetap membaca satu surat atau lebih sampai imam melakukan ruku’. Karena diamnya makmum tersebut tidak berarti apa-apa." (Lihat: Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi, Nihayatuz Zein fi Irsyadil Mubtadiin, [Beirut: Darul Fikr, t.t], h. 64.)

Maksud ungkapan Imam an-Nawawi tidak berarti apa-apa adalah semacam nganggur, sehingga ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali gugurnya shalat. Sehingga lebih baik ia membaca surat hingga imam ruku'.

Hal ini juga berlaku bagi makmum yang shalat jamaahnya sirr (pelan) dan makmum yang jauh dari imamnya sehingga ia tidak mendengar bacaan imamnya.

Wallahu A'lam.

(M. Alvin Nur Choironi)

Tags:
Share:
Jumat 30 November 2018 21:45 WIB
Makna 27 Derajat dalam Pahala Shalat Berjamaah
Makna 27 Derajat dalam Pahala Shalat Berjamaah
Ilustrasi (via 4to40.com)
Shalat berjamaah adalah salah satu ibadah yang diberi keutamaan oleh Allah ﷻ berupa perolehan 27 derajat . Keutamaan ini tidak akan didapatkan oleh orang yang melaksanakan shalat dengan sendirian. Dalam beberapa hadits dijelaskan:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah melampaui shalat sendirian dengan (mendapatkan) 27 derajat.” (HR. Bukhari)

Penentuan bilangan 27 derajat dalam hadits ini adalah sesuatu yang bersifat ta’abbudi (tidak dapat dijangkau oleh akal), hanya cahaya kenabian yang dapat mengungkap rahasia di balik pemilihan angka 27 dalam keutamaan shalat berjamaah (Al-Munawi, Faidl al-Qadir, juz 11, hal. 536).

Poin yang perlu dijelaskan dalam hadits di atas adalah tentang makna keunggulan 27 derajat dalam shalat berjamaah. Sebenarnya apa makna 27 derajat ini? 

Para ulama mengartikan redaksi “derajat” dalam teks hadits di atas dengan makna “shalat”. Dengan begitu arti secara pemahaman dari hadits tersebut adalah “Shalat berjamaah melampaui shalat sendirian dengan keunggulan 27 shalat”. Dengan begitu orang yang melaksanakan shalat berjamaah jika dibandingkan dengan orang yang melaksanakan shalat dengan sendirian terlampau selisih 27 shalat.

Mengartikan kata “derajat” dengan kata “shalat” ini berlandaskan dalil berupa ditemukannya hadits dengan riwayat lain yang menjelaskan tentang keutamaan shalat berjamaah dengan menggunakan redaksi “shalat” sebagai ganti dari kata “derajat”. Hal ini seperti yang ditegaskan oleh Imam Ibnu Daqiq al-‘Ied:

ــ (قوله درجة) قال ابن دقيق العيد الأظهر أن المراد بالدرجة الصلاة ؛ لأنه ورد كذلك في بعض الروايات

“Imam Ibnu Daqiq al-‘Ied berkata: “pendapat yang paling jelas adalah mengartikan kata “derajat” dengan arti “shalat” karena terdapat penggunaan redaksi “shalat” dalam sebagian riwayat (hadits)” (Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 7, hal. 370)

Keunggulan 27 derajat ini, juga dapat diartikan secara rinci dengan menisbatkan 27 derajat pada setiap rukun yang dilakukan dalam shalat. Karena itu, satu bacaan Surat al-Fatihah yang dibacakan oleh orang yang shalat berjamaah melampaui 27 bacaan surat al-Fatihah yang dibacakan oleh orang yang shalat sendirian, begitu juga pada ruku’, sujud, dan rukun-rukun yang lain. Penjelasan ini sesuai dengan hal yang disampaikan oleh Syekh Sulaiman al-Jamal dan pengarang kitab syarah kitab Minhaj yang lainnya:

وإيضاحه أن الصلاة في جماعة تزيد على المنفرد بسبع وعشرين صلاة فالركوع في الجماعة يزيد على ركوع المنفرد بسبع وعشرين ركوعا

“Penjelasan tentang 27 derajat bahwa shalat berjamaah melampaui shalat sendirian dengan selisih 27 shalat, maka ruku’ yang dilakukan saat shalat berjamaah melampaui ruku’ yang dilakukan saat shalat sendirian dengan selisih 27 ruku’.” (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz 5, hal. 14)

Dengan begitu, dapat dipahami bahwa betapa ruginya jika seseorang melaksanakan shalatnya dengan tanpa jamaah, mengingat besarnya pahala yang didapatkan oleh orang yang melaksanakan shalat berjamaah. Wallahu a’lam.

(Ali Zainal Abidin)

Jumat 30 November 2018 13:0 WIB
Ini Susunan Dzikir dan Wirid sesudah Shalat Jumat
Ini Susunan Dzikir dan Wirid sesudah Shalat Jumat
(Foto: @stockfootage)
Rangkaian dzikir dan wirid yang perlu dibaca sesudah sembahyang Jumat sedikit berbeda dari dzikir setelah shalat Zuhur. Rangkaian dzikir setelah shalat Jumat diawali dengan pembacaan musabbi'at (serba 7 kali) pada Surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebagaimana diamalkan oleh Rasulullah SAW.

Tetapi setelah itu, susunan wirid setelah shalat Jumat ini memiliki kesamaan dengan dzikir setelah shalat Zuhur yang sebagian besar dikutip dari Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun].

1. Membaca istighfar 3 kali (tetap mempertahankan posisi kaki):

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِـيْم

2. Membaca sifat Allah dan bertobat:

الَّذِيْ لَااِلَهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ مِنْ جَمِيْعِ المَعَاصِي وَالذُّنُوبِ وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِـىِّ الْعَظِيْمِ

3. Membaca Surat Al-Fatihah sebanyak 7 kali.

أَعُوذُ باللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ. آمِيْنَ

4. Membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 7 kali.

أَعُوذُ باللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ 

5. Membaca Surat Al-Falaq sebanyak 7 kali.

أَعُوذُ باللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ. وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ. وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ.

6. Membaca Surat Al-Nas sebanyak 7 kali.

أَعُوذُ باللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ. إِلَهِ النَّاسِ. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.

7. Memohon doa kecukupan berikut ini sebanyak 4 kali.

اَللَّهُمَّ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيْدُ يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْدُ يَا رَحِيْمُ يَا وَدُوْدُ أَغْنِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

8. Membaca doa keselamatan:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَاَدْخِلْنَا الْـجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَاالْـجَلَالِ وَاْلإِكْرَام.

(Setelah membaca doa ini, mengubah posisi kaki menjadi duduk bersila)

9. Membaca doa warid berikut ini:

اَللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا رَآدَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَاالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

10. Lalu membaca doa warid berikut ini:

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

11. Lalu mengawali pujian dengan seruan ini:

إِلَهِيْ يَا رَبِّ

12. Membaca tasbih sebanyak 33 kali:

سُبْحَانَ اللهِ

13. Mengakhiri tasbih dengan lafal tasbih berikut ini:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ دَائِمًا أَبَدًا

14. Membaca tahmid sebanyak 33 kali:

اَلْحَمْدُ لِلهِ

15. Mengakhiri tahmid dengan lafal tahmid berikut ini:

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَفِي كُلِّ حَالٍ وَنِعْمَةٍ

16. Membaca takbir sebanyak 33 kali:

اَللهُ اَكْبَرْ

17. Kemudian mengakhiri takbir dengan lafal takbir panjang dan tahlil berikut ini:

اَللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ، وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِـىِّ الْعَظِيْمِ .

18. Membaca istighfar tiga kali:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِـيْم

19. Membaca doa singkat berikut ini:

الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْ سَادَاتِنَا أَصْحَابِ سَيِّدِنَا رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ

20. Membaca doa lainnya yang lazim dibaca sesudah shalat wajib. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)
Jumat 30 November 2018 9:0 WIB
Tak Mendengar Fatihah Imam, Bagaimana Makmum Membaca Amin?
Tak Mendengar Fatihah Imam, Bagaimana Makmum Membaca Amin?
Ilustrasi (via pinterest)
Shalat jamaah memiliki keutamaan melebihi shalat sendirian. Shalat Jamaah memiliki ketentuan yang tidak sama dengan shalat sendirian. Banyak beberapa persoalan yang dibahas dalam bab shalat jamaah. Sehingga ada beberapa kitab yang secara khusus membahasnya, seperti kitab Ahkam al-Imam wa al-Ma’mum karya al-Imam Ibnu al-‘Imad.

Di antara permasalahan yang ada dalam shalat jamaah adalah anjuran membaca “âmîn” bagi makmum. Membaca âmîn disunahkan setelah selesai membaca fatihah. Dalam konteks shalat berjamaah, selain anjuran membaca âmîn setelah selesai membaca fatihah, makmum dianjurkan untuk membaca âmîn bersamaan dengan âmîn-nya imam. Anjuran ini berlaku di dalam shalat yang bacaannya keras (maghrib, isya’ dan subuh). Keutamaan menyertainya bacaan âmîn-nya imam dan makmum adalah diampuninya dosa-dosa yang telah lampau, sebagaimana ditegaskan dalam sabda Nabi:

إذا أمن الإمام فأمنوا فإن من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه

“Apabila imam mebaca âmîn, maka ikutlah membaca âmîn. Sesungguhnya orang yang bacaan âmîn-nya menyertai âmîn-nya malaikat, diampuni dosa-dosanya yang telah lampau”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Problematika muncul saat bacaan imam terlalu pelan atau jumlah makmum yang membludak, sebagian makmum tidak dapat mendengarkan bacaannya imam, mereka hanya mendengar bacaan âmîn makmum di depannya. Bacaan âmîn di barisan depan merupakan indikasi bahwa imam membaca âmîn dan telah menyelesaikan bacaan fatihahnya.

Pertanyaannya adalah, bagi makmum yang hanya bisa mendengar bacaan âmîn dari makmum lain, bagaimana hukumnya membaca âmîn bagi makmum tersebut? Padahal ia tidak dapat mendengar bacaannya imam?.

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i, hal tersebut tidak disunahkan. Menurut pendapat ini, anjuran membaca âmîn bagi makmum hanya berlaku bagi makmum yang mendengarkan bacaan fatihahnya imam secara jelas. Sehingga bila ia tidak mendengar bacaan imam atau tidak dapat membedakan huruf-huruf yang dibaca imam, maka tidak disunahkan lagi membaca âmîn, meski makmum mendengar bacaan âmîn dari makmum lain.

Sedangkan menurut pendapat yang lemah, hukumnya sunah. Menurut pendapat ini, meski makmum tidak dapat mendengar bacaan fatihahnya imam, namun sudah terwakili dengan bacaan âmîn dari makmum lain yang mendengarnya. Pendapat kedua ini sebagaimana diterangkan al-Imam al-Muzajjad dalam kitab al-Ubab. Menurut informasi dari Syekh al-Barmawi, pendapat kedua ini dilemahkan oleh beberapa guru al-Barmawi.

Keterangan tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Sulaiman al-Jamal berikut ini:

ولا يؤمن المأموم إذا لم يسمع قراءة الإمام أو لم يميز ألفاظه وفي العباب أنه يؤمن إذا سمع تأمين المأمومين وضعفه مشايخنا إهـ برماوي

“Dan makmum tidak dianjurkan membaca âmîn apabila ia tidak mendengar bacaan imam atau tidak dapat membedakan huruf-hurufnya. Dalam kitab al-Ubab disampaikan, dianjurkan bagi makmum tersebut membaca âmîn apabila ia mendengar bacaan âmîn makmum yang lain. Dan pendapat ini dilemahkan oleh guru-guru kami. Keterangan dari Syekh al-Barmawi.” (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj, juz 1, hal. 355).

Pendapat pertama senada dengan sebagian pendapat dalam mazhab Maliki. Sedangkan pendapat kedua sama dengan pendapat kalangan Hanafiyyah dan satu pendapat kalangan Malikiyyah, sebagaimana ditegaskan dalam referensi berikut ini:

اتفقت المذاهب الأربعة على أنه يسن التأمين عند سماع قراءة الإمام أما إن سمع المأموم التأمين من مقتد آخر فللفقهاء في ذلك رأيان الأول ندب التأمين وإليه ذهب الحنفية وهو قول للمالكية وقول مضعف للشافعية الثاني لا يطلب التأمين وهو المعتمد عند الشافعية والقول الآخر للمالكية، ولم نقف على نص للحنابلة في هذا إهـ

“Mazhab empat sepakat bahwa sunah membaca âmîn bagi makmum ketika ia mendengar bacaan imam. Adapun bila makmum mendengar âmîn dari makmum lain, para pakar fiqih terdapat dua pendapat. Pendapat pertama sunah membaca âmîn, ini adalah pendapat Hanafiyyah, sebagian qaul dalam mazhab Maliki dan qaul lemah mazhab Syafi’i. Pendapat kedua mengatakan tidak disunahkan membaca âmîn, ini adalah pendapat yang dibuat pegangan menurut ulama Syafi’iyyah dan pendapat lain dari kalangan Malikiyyah. Kami tidak mengetahui penegasan ulama Hanabilah dalam masalah ini.” (Hai’ah kibar al-Ulama bil Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 1, hal. 112).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Dua pendapat di atas sama-sama dapat dipakai dan dipertanggungjawabkan, yang paling prisip adalah bagaimana kita bisa saling menghormati atas perbedaan-perbedaan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

(M. Mubasysyarum Bih)