IMG-LOGO
Syariah

Keharusan Menghormati Ahlul Bait dan Menasihati jika Mereka Menyimpang

Senin 3 Desember 2018 17:20 WIB
Share:
Keharusan Menghormati Ahlul Bait dan Menasihati jika Mereka Menyimpang
Sebagai Muslim kita harus menghormati sekaligus mencintai keluarga dan keturunan Rasulullah ﷺ yang disebut Ahlul Bait. Rasulullah memang mengimbau agar umatnya menghormati dan mencintai keluarga dan keturunannya. Hal ini karena Ahlul Bait memang memiliki kemuliaan tersendiri sebagai kerabat Rasulullah. Namun apabila di antara mereka ada yang menyimpang dari jalan leluhurnya, hendaklah ada yang menasihatinya. 

Imbauan seperti itu sebagaimana dikemukakan oleh salah seorang ulama sekaligus habib yang merupakan dzurriah Rasulullah ﷺ asal Tarim Hadramaut Yaman, yakni Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad (1634-1720 M) dalam kitabnya berjudul Al-Fushul al-‘Ilmiyyah wal Ushul al-Hikamiyyah, (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 89 ) sebagai berikut: 

لأهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم شرف، ولرسول الله صلى اللهعليه وسلم  بهم مزيد عناية وقد أكثر على أمته من الوصيّة بهم والحث على حبّهم ومودتهم. وبذالك أمرالله تعالى في كتابه في قوله تعالى: "قل لا أسألكم عليه أجرا إلا المودة في القربى" .(الشورى، ٢٣) ـ

Artinya: “Ahlul Bait memiliki kemuliaan tersendiri, dan Rasulullah telah menunjukkan perhatiannya yang besar kepada mereka. Beliau berulang-ulang berwasiat dan mengimbau agar umatnya mencintai dan menyayangi mereka. Dengan itu pula Allah subhanahu wataála telah memerintahkan di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya: “Katakanlah wahai Muhammad, tiada aku minta suatu balasan melainkan kecintan kalian pada kerabatku.” (QS 42:23). 

Dari kutipan di atas dapat ditegaskan bahwa kaum Muslimin memang harus menghormati dan mencintai Ahlul Bait bukan saja karena kekerabatan mereka dengan Rasulullah ﷺ, tetapi juga karena Allah telah memerintahkan kepada beliau untuk berseru kepada umatnya agar mencintai kerabat beliau. Dengan kata lain perintah untuk mencintai Ahlul Bait merupakan perintah dari Allah subhanahu wataála. Rasulullah sebagai pemimpin kaum Muslimin tidak meminta balasan apa pun dari umatnya kecuali kecintaan mereka kepada keluarga dan keturunan beliau. 

Namun Sayyid Abdullah Al-Haddad mengingatkan agar dalam memberikan penghormatan dan kecintaan kepada Ahlul Bait, kaum Muslimin bersikap wajar dan tidak berlebih-lebihan. Hal ini sebagaimana ditegaskannya dalam kutipan berikut: 

فعلى كافة المسلمين أن يعتقدوا حبّهم ومودتهم، وان يوقّروهم ويعظّموهم من غير غلوّ ولا إسراف. 

Artinya: “Seluruh kaum Muslimin hendaknya memastikan kecintaan dan kasih sayang mereka kepada Ahlul Bait, serta menghormati dan memuliakan mereka secara wajar dan tidak berlebih-lebihan.”

Terhadap Ahlul Bait yang menyimpang dari apa yang dicontohkan Rasulullah ﷺ, Sayyid Abdullah Al-Haddad mengimbau agar mereka tetap dihormati semata-mata karena mereka adalah kerabat Nabi Muhammmad ﷺ dengan tidak meninggalkan perlunya memberikan nasihat kepada mereka sebagaimana kutipan berikut: 

وأما من كان من أهل هذا البيت ليس على مثل طرائق أسلافهم الطاهرين، وقد دخل عليهم شيئ من التخليط لغلبة الجهل، فينبغي أيضا أن يعظّموا ويحترموا لقرابتهم من رسول الله الله صلى الله عليه وسلم. ولا يدعوا المتأهل للنصيحة نصحهم وحثّهم على الأخذ بما كان عليه سلفهم الصالح, من العلم والعمل الصالح، والأخلاق الحسنة والسيرالمرضية.

Artinya: “Adapun mereka yang berasal dari keluarga dan keturunan Rasulullah ini yang tidak menempuh jalan leluhur mereka yang disucikan, lalu mencampur adukkan antara yang baik dan yang buruk disebabkan kejahilannya, seyogyanyalah mereka tetap dihormati semata-mata karena kekerabatan mereka dengan Nabi ﷺ. Namun siapa saja yang memiliki keahlian atau kedudukan untuk memberi nasihat, hendaknya tidak segan-segan menasihati dan mendorong mereka kembali menempuh jalan hidup para pendahulu mereka yang saleh-saleh, yang berilmu dan beramal kebajikan, berakhlak terpuji dan berperilaku luhur.” (Lihat hal. 90). 

Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa dalam masyarakat tidak tertutup kemungkinan ada dari Ahlul Bait yang berperilaku tidak sebagaimana dicontohkan para leluhurnya khususnya Rasulullah ﷺ. Kepada Ahlul Bait yang seperti itu Sayyid Abdullah Al-Haddad mengimbau agar siapa pun yang memiliki kepasitas keilmuan dan kewenangan untuk tidak segan-segan memberikan nasihat dengan tetap bersikap hormat dan cinta kepada mereka secara wajar. 

Nasihat-nasihat yang hendaknya disampaikan kepada mereka adalah perlunya kembali menempuh jalan hidup sebagaimana para pendahulu yang berilmu dan beramal saleh serta berakhlak mulia sebagaimana dicontohkan Baginda Rasulullah ﷺ. Imbauan dari Sayyid Abdullah Al-Haddad ini sekaligus merupakan jawaban atas adanya sikap sebagian kaum Muslimin yang menganggap bahwa jika ada dari Ahli Bait yang melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari agama, mereka tidak perlu diingatkan karena menganggap Rasulullah sudah pasti akan memberinya syafaat di akhirat kelak. 

Sayyid Abdullah Al-Haddad tidak setuju atas anggapan seperti itu sebagaimana kutipan berikut: 

فيقول هؤلاء أهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم، ورسول الله شفيع لهم، ولعل الذنوب لا تضرهم، وهذا قول شنيع، يضر القائل به نفسه، ويضر به غيره من الجاهلين، وكيف يقول أحد ذالك وفي كتاب الله العزيز ما يدل غلى اهل أن أهل البيت يضاعف لهم الثواب على الحسنات، والعقاب على السيئات. 

Artinya: “Ada yang mengatakan,”Biarlah, mereka adalah dari Ahlul Bait, Rasulullah ﷺ pasti akan bersyafaat kepada mereka, dan mungkin pula dosa-dosa yang mereka lakukan tak akan menjadi mudarat atas mereka.” Sungguh ini adalah ucapan yang amat buruk, yang menimbulkan mudarat bagi si pembicara sendiri dan bagi orang-orang lainnya yang tergolong kaum jahil. Bagaimana bisa seseorang berkata seperti itu, sedangkan dalam Al-Qurán, Kitab Allah yang mulia terdapat petunjuk bahwa anggota keluarga Rasulullah dilipat gandakan bagi mereka pahala amal baiknya, demikian pula hukuman atas perbuatan buruknya.” (Lihat hal. 88).

Sangat jelas bahwa Sayyid Abdullah Al-Haddad tidak setuju terhadap anggapan bahwa orang-orang tertentu seperti Ahlul Bait memiliki kekebalan hukum atas hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah subhanahu wataála disebakan kemuliaan nasabnya yang bersambung kepada Rasulullah. Ulama yang diyakini sebagai pembaharu abad 11 hijriyah ini menyebut orang yang memiliki anggapan seperti itu telah melakukan perbuatan dusta tentang Allah subhanahu wataála serta menyalahi ijma’ seluruh kaum Muslilimin. (Lihat hal. 89).

Sebelumnya pada halaman 87, Sayyid Abdullah Al-Haddad mengutip sebuah hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dari Abu Hurairah. Hadits itu berisi peringatan kepada putri beliau bernama Sayyidah Fathimah agar tidak mengandalkan pembelaan dari ayahnya di hadapan Allah subhanu wa taála sebagai berikut: 

يا فاطمة بنت ممدs لا أغني عنكِ من الله شيئا.

Artinya: “Hai Fathimah binti Muhammad, sungguh aku takkan cukup sebagai pembelamu di hadapan Allah.”

Baca juga:
Ini Alasan Kenapa Nahdliyin Cinta Habib
Kenapa Keturunan Nabi Tak Tentu Berakhlak Baik? Ini Penjelasan Habib Luthfi
Habib Zen Minta Maaf Jika Ada Keturunan Rasulullah Minta Dilayani

Jadi sekali lagi, ada kewajiban bagi kaum Muslimin untuk menghormati dan mencintai Ahlul Bait karena mereka memiliki kekerabatan dengan Rasulullah ﷺ. Perintah ini memiliki dasar di dalam Al-Qur’an, surat Asy-Syura, ayat 23. Disamping itu ada kewajiban lain bagi orang-orang tertentu yang memiliki kapasitas untuk menasihati jika ada dari mereka berbuat kemaksiatan dan berperilaku tercela. Perbuatan dosa yang mereka lakukan akan dilipat gandakan hukumannya. Namun cara menasihati mereka harus tetap baik dan hormat karena bagaimanapun mereka adalah dzurriah Rasulullah ﷺ. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Share:
Sabtu 24 November 2018 19:30 WIB
Hukum Membunuh Semut
Hukum Membunuh Semut
Ilustrasi (via stmed.net)
Semut adalah salah satu hewan yang sering kita jumpai di mana pun. Seringkali hewan ini muncul ketika menemui sesuatu yang mengandung rasa manis. Terkadang aktivitas semut tidak sampai menyakiti manusia, hanya sebatas berkeliling mencari makanan saja, namun tak jarang juga kita lihat dalam jenis semut tertentu aktivitasnya sampai mengganggu bahkan menyakiti manusia, hingga akhirnya semut itu dibunuh dengan tujuan supaya tidak mengganggu dan menyakiti lagi. Sebenarnya bagaimana hukum membunuh semut itu?

Dalam salah satu hadits dijelaskan:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ الصُّرَدِ ، وَالضِّفْدَعِ ، وَالنَّمْلَةِ ، وَالْهُدْهُدِ

“Rasulullah ﷺ melarang membunuh burung shurad, kodok, semut dan burung hud-hud” (HR. Ibnu Majah)

Selintas jika dipahami dari hadits di atas menyatakan bahwa membunuh semut adalah hal yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ, sehingga termasuk perbuatan yang harus dihindari. Namun para ulama mengarahkan bahwa semut yang dimaksud dalam hadits tersebut tidaklah bermakna mutlak yang mencakup seluruh jenis semut, namun hanya tertentu pada semut-semut besar dan panjang yang tersebut dalam kisah Nabi Sulaiman. Sehingga ketika semut selain jenis ini boleh-boleh saja untuk dibunuh, terlebih ketika semut itu menyakiti terhadap manusia atau mengganggu aktivitasnya. Bahkan jika semut besar dan panjang  yang haram dibunuh ini menyakiti manusia maka keharaman membunuhnya menjadi hilang, sehingga boleh-boleh saja hewan ini dibunuh.

Bolehnya membunuh semut ini dengan catatan sekiranya cara membunuhnya tidak dengan cara membakarnya, tapi dengan cara lain seperti memukul atau menginjaknya, sebab membunuh semut dengan perantara membakar akan menyakiti terhadap semut itu sendiri. Kita diperintahkan untuk menggunakan cara yang baik dalam membunuh hewan. Salah satu cara yang baik adalah tidak membunuh dengan sesuatu yang akan semakin menyiksa hewan tersebut.

Baca juga: Gara-gara Burung dan Semut, Rasulullah Tegur Para Sahabat
Penjelasan tentang ketentuan ini terdapat dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin:

ـ (مسألة : ك) : روى أبو داود "أنه نهى عن قتل أربع من الدواب : النملة والنحلة والهدهد والصرد" والمعروف حمل النهي على النمل الكبير السليماني الطويل الذي يكون في الخراب فيحرم قتله على المعتمد ، إذ الأصل في النهي التحريم ، وخروجه عنه في بعض المواضع إنما هو بدليل يقتضيه ، أما النمل الصغير المسمى بالذر فيجوز بل يندب قتله بغير الإحراق لأنه مؤذ ، فلو فرض أن الكبير دخل البيوت وآذى جاز قتله اهـ. قلت : ونقل العمودي في حسن النجوى عن شيخه ابن حجر أنه إذا كثر المؤذي من الحشرات ولم يندفع إلا بإحراقه جاز اهـ

“Imam Abu Daud meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ melarang untuk membunuh empat jenis binatang yaitu semut, tawon, burung hud-hud dan burung shurad. Hal yang telah diketahui bahwa larangan membunuh semut dalam hadits tersebut diarahkan pada semut yang besardan panjang yang terdapat di masa Nabi Sulaiman AS yang biasa terdapat di reruntuhan bangunan, maka haram membunuh semut jenis ini menurut pendapat yang kuat, sebab hukum asal dari sebuah larangan adalah menuntut keharaman, dan keluarnya larangan dari hukum haram di sebagian teks dikarenakan adanya dalil yang menuntut menghukumi tidak haram. Adapun semut yang kecil, yang dalam istilah Arab dikenal dengan nama dzurr maka boleh bahkan Sunnah membunuhnya namun dengan selain dengan cara membakar, sebab membakar ini menyakitkan. Jika terdapata semut besar yang masuk ke rumah dan menyakiti penghuni rumah itu maka boleh untuk membunuhnya. Dikutip dari pendapatnya Imam ‘Amudi  dalam kitab Husni an-Najwa dari gurunya, Imam Ibnu Hajar bahwa boleh membunuh hewan hasyarat (hewan melata kecil, termasuk semut) ketika menyakiti dengan cara membakarnya ketika memang tidak ad acara lain selain membakarnya” (Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar Ba’lawy, Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 551)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membunuh semut adalah hal yang diperbolehkan kecuali pada jenis semut yang besar dan panjang yang biasa ditemui saat membongkar rumah, sedangkan pada jenis selain itu diperbolehkan terlebih saat wujudnya dapat menyakiti manusia. Wallahu a’lam.

(Ali Zainal Abidin)

Sabtu 24 November 2018 15:0 WIB
Menentukan Waktu Ibadah Bukan Berarti Bid’ah
Menentukan Waktu Ibadah Bukan Berarti Bid’ah
Banyak kasus di mana beberapa tradisi yang berlaku di masyarakat dianggap bid’ah oleh sebagian kalangan sebab di dalamnya ada unsur ibadah yang diklaim waktunya ditentukan sendiri tanpa ada tuntunan dari Allah dan Rasulullah ﷺ. Dalam tradisi Tahlilan dan Yasinan misalnya, ada kegiatan membaca Al-Qur’an dan dzikir yang waktunya ditentukan dalam hari-hari tertentu setelah kematian seseorang, demikian juga dalam tradisi peringatan Maulid ada kegiatan membaca shalawat dan sedekah di momen Maulid, padahal tak ada tuntunan dari Allah dan Rasul untuk membaca al-Qur’an, shalawat, dan sedekah di hari-hari tersebut. Benarkah penentuan waktu seperti ini masuk dalam kategori bid’ah?

Baca juga:
• Inilah Penjelasan Mengenai Aswaja Perspektif NU
• Jawaban Metodologis untuk Orang yang Gemar Menvonis Bid’ah
Bila kita melihat contoh dari masa Rasulullah dan para sahabatnya, akan kita dapati bahwa Sahabat Bilal telah memperbanyak shalat sunnah di waktu yang ia tentukan sendiri sesuai kesempatan yang dia punya. Kesempatan tersebut baginya adalah setiap selesai berwudhu sehingga secara rutin beliau shalat sunnah setiap kali usai berwudhu. Tindakan sahabat Bilal dilakukan tanpa adanya tuntunan spesifik dari Rasulullah ﷺ. Padahal, mudah bagi Bilal untuk bertanya dahulu pada Rasul sebelum melakukannya namun ia memilih untuk berijtihad langsung dari ajaran Rasul yang sudah ada lalu melakukannya tanpa ada restu dari Rasulullah ﷺ.  Ternyata Nabi Muhammad bersabda pada Bilal: 

فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الجَنَّةِ

“Sesungguhnya aku mendengar suara kedua sandalmu di depanku di surga.” (HR. Bukhari)

Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bâri menjadikan hadits Bilal tersebut sebagai dalil kebolehan menentukan waktu khusus untuk ibadah yang memang tak terikat waktu.

وَيُسْتَفَادُ مِنْهُ جَوَازُ الِاجْتِهَادِ فِي تَوْقِيتِ الْعِبَادَةِ لِأَنَّ بِلَالًا تَوَصَّلَ إِلَى مَا ذَكَرْنَا بِالِاسْتِنْبَاطِ فَصَوَّبَهُ النَّبِيُّ ﷺ

“Dipahami dari hadits tersebut adanya kebolehan berijtihad dalam menentukan waktu ibadah karena Bilal sampai pada apa yang telah kami sebutkan itu dengan ijtihadnya, kemudian Nabi ﷺ membenarkannya.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâri, Juz III, halaman 34)

Hal yang sama juga dilakukan oleh sahabat Khubaib bin Adiy. Ia membuat sebuah tradisi baru yang tak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ berupa shalat sunnah mutlak dua rakaat sebagai permintaan terakhir sebelum dibunuh. Dalam Shahih Bukhari diceritakan:

فَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الرَّكْعَتَيْنِ عِنْدَ القَتْلِ.

“Dia (Khubaib bin Adiy) adalah orang pertama yang mentradisikan salat sunnah sebelum dihukum mati.” (HR. Bukhari)

Khubaib saat itu tak pernah bertanya kepada Rasulullah apakah boleh shalat sunnah sebelum dihukum mati? Para Sahabat juga, sepengetahuan penulis, juga tak tercatat menanyakan pada Rasulullah bagaimana hukumnya meniru tindakan Khubaib itu yang hingga wafat tak sempat mengonfirmasi tindakannya pada Rasulullah sebagaimana dilakukan Bilal itu. Namun tindakan yang jelas-jelas baik dan tak bertentangan dengan syariat itu begitu saja mentradisi setelah itu tanpa pernah Nabi menyebutnya sebagai bid’ah.

Penentuan waktu ibadah seperti yang dilakukan oleh Bilal atau Khubaib di atas bukanlah bid'ah, terbukti Nabi kemudian mengakuinya sebagai kebaikan meskipun jelas itu inovasi dalam hal agama. Andai penentuan waktu bagi ibadah yang waktunya memang bebas itu dianggap bid’ah, tentu Nabi akan melarangnya sebab seluruh bid’ah adalah terlarang. Di sini harus dipahami bahwa istilah bid’ah sendiri dalam istilah Syariat hanya khusus bagi segala hal baru yang buruk dalam arti melawan aturan syariat yang telah ada sebelumnya. Imam az-Zarkasyi, dengan menukil pernyataan Syekh Ibnu Durustawaih, menjelaskan maksud istilah bid’ah sebagai berikut:

هِيَ فِي اللُّغَةِ إحْدَاثُ سُنَّةٍ لَمْ تَكُنْ، وَتَكُونُ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ... فَأَمَّا فِي الشَّرْعِ فَمَوْضُوعَةٌ لِلْحَادِثِ الْمَذْمُومِ، وَإِذَا أُرِيدَ الْمَمْدُوحُ قُيِّدَتْ، وَيَكُونُ ذَلِكَ مَجَازًا شَرْعِيًّا حَقِيقَةً لُغَوِيَّةً.

“Bid’ah dalam perspektif kebahasaan adalah melakukan sesuatu yang tak ada sebelumnya, baik berupa kebaikan atau keburukan ... Adapun dalam perspektif syariat, maka dipakai sebagai istilah bagi hal baru yang tercela. Bila dimaksudkan adalah hal baru yang terpuji, maka harus diberi batasan (embel-embel semisal hasanah). Istilah bid’ah dengan batasan ini adalah secara syariat adalah ungkapan majazi (konotatif) dan secara kebahasaan adalah ungkapan hakiki (denotatif).” (Badruddin az-Zarkasyi, al-Mantsûr Fî al-Qawâ’id al-Fiqhiyah, juz I, halaman 217).

Jadi, menentukan waktu khusus bagi ibadah yang memang dibebaskan oleh syariat untuk dilakukan kapan pun, seperti shalat sunnah mutlak, membaca Al-Qur’an, sedekah dan lain sebagainya bukanlah hal yang dilarang oleh syariat, justru hal seperti ini diakui oleh Rasulullah ﷺ. Hal semacam ini secara syariat tidak boleh disebut bid’ah. Kalau pun mau dianggap bid’ah sebab secara kebahasaan memang hal baru, maka harus diberi embel-embel seperti bid’ah hasanah, bid’ah mamdûhah atau bid’ah mustahabbah. Istilah bid’ah dengan embel-embel seperti ini adalah istilah kebahasaan, bukan istilah syariat.

Yang dianggap salah dan tercela adalah apabila suatu ibadah telah mempunyai waktu khusus dari Syariat, misalnya shalat wajib lima waktu, zakat fitrah, haji, dan sebagainya dipindah waktunya ke luar dari waktu yang ditentukan, atau ibadah tersebut sebenarnya luas waktunya tetapi sengaja dilakukan di waktu yang memang terlarang seperti shalat sunnah mutlak tanpa sebab dilakukan setelah subuh sebelum matahari meninggi. Penentuan waktu yang melanggar syariat inilah yang masuk kategori bid’ah dalam kacamata syariat. Imam Mutawalli, mencontohkan kasus “bid’ah” dalam perspektif kebahasaan yang tidak cocok dengan syariat dengan ungkapan:  بِأَنْ يَتَعَبَّدَ فِي وَقْتِ الْكَرَاهَةِ  (dengan cara dilakukan ibadah di waktu yang tidak disukai oleh syariat). (Badruddin az-Zarkasyi, al-Mantsûr Fî al-Qawâ’id al-Fiqhiyah, juz I, halaman 217).

Bila seseorang hendak melarang kegiatan membaca surat Yasin, shalawat atau dzikir tertentu di saat kematian seseorang, di saat bulan Rabiul Awwal dalam rangka Maulid Nabi, di saat tasyakuran atau waktu-waktu lain sesuai tradisi masyarakat, maka dia dituntut untuk mendatangkan dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang menyatakan bahwa melakukan ibadah-ibadah di atas memang dillarang di waktu-waktu tersebut. Bila dia tak mampu melakukannya, maka tanpa sadar dia telah membuat-buat syariat baru alias melakukan bid’ah yang tercela. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jatim.

Jumat 23 November 2018 17:0 WIB
Menyoal ‘Andai Itu Baik Tentu Generasi Salaf Sudah Melakukannya’ (II)
Menyoal ‘Andai Itu Baik Tentu Generasi Salaf Sudah Melakukannya’ (II)
Sebelumnya telah dibahas tiga kelemahan dalam pemberlakuan ungkapan “andai itu baik tentu generasi salaf sudah melakukannya” sebagai sebuah kaidah. Kali ini akan penulis bahas empat kelemahan lainnya yang membuktikan bahwa ungkapan ini bukanlah sebuah kaidah universal namun hanya sekedar ungkapan dialektis dari Ibnu Katsir.

Keempat, patokan permanen umat Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah dan bila umat Islam berselisih pendapat maka harus dikembalikan pada keduanya (QS. An-Nisa’: 59). Pengamalan Al-Qur’an dan Sunnah itu sendiri dilakukan dengan dua cara, yakni cara tekstual bagi hal-hal yang mempunyai petunjuk teks dan cara istinbath bagi yang tak terdapat teks yang jelas. Imam Nawawi menjelaskan:

وقد قال الله تعالى ما فرطنا في الكتاب من شيء ومعناه أن من الأشياء ما يعلم منه نصا ومنها ما يحصل بالاستنباط

"Allah telah berfirman: “Kami tak menyisakan dalam Al-Qur’an sesuatu pun”, maknanya adalah sebagian hal ada yang diketahui secara tekstual dan sebagian lagi dapat dihasilkan dengan cara penggalian hukum (istinbâth).” (an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, juz XI, halaman 88).

Cara istinbatnya dilakukan dengan mencocokkan hal baru dengan kaidah hukum yang ada; bila cocok dengan kaidah kewajiban maka dianggap wajib, bila dianggap cocok dengan kaidah kesunnahan maka dianggap sunnah dan demikian seterusnya. Imam Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan:

وَالطَّرِيقُ فِي مَعْرِفَةِ ذَلِكَ أَنْ تُعْرَضَ الْبِدْعَةُ عَلَى قَوَاعِدِ الشَّرِيعَةِ: فَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْإِيجَابِ فَهِيَ وَاجِبَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ التَّحْرِيمِ فَهِيَ مُحَرَّمَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمَنْدُوبِ فَهِيَ مَنْدُوبَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمَكْرُوهِ فَهِيَ مَكْرُوهَةٌ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمُبَاحِ فَهِيَ مُبَاحَةٌ

“Metode untuk mengetahui klasifikasi hal baru adalah dengan cara hal baru itu dikembalikan pada kaidah syariat. Bila ia masuk pada kaidah wajib maka berarti wajib, bila masuk pada kaidah haram berarti haram, bila masuk pada kaidah sunnah berarti sunnah, bila masuk dalah kaidah makruh berarti makruh dan bila masuk dalam kaidah mubah maka mubah.” (Izzuddin bin Abdissalam, Qawâ’id al-Ahkâm Fî Mashâlih al-Anâm, juz II, halaman 204)

Ketiadaan tindakan dari Rasul, apalagi dari para sahabat atau tabi’in sama sekali bukanlah dalil untuk menentukan hukum. Ketiadaan berarti tak ada putusan apapun, tidak boleh secara otomatis dipahami sebagai suatu pengharaman dengan alasan apapun, baik ketiadaan contoh itu dalam hal agama atau duniawi. Selengkapnya tentang hal ini dapat dibaca dalam kitab karya Syekh al-Muhaddits Abdullah al-Ghummari yang berjudul Husnu at-Tafahhum wad-Darki Limas’alat at-Tark atau karya Syekh Abdul Ilah al-Arfaj yang berjudul Mafhûm al-Bid’ah

Baca juga:

Menyoal ‘Andai itu Baik Tentu Generasi Salaf Sudah Melakukannya’ (I)

• Inilah Penjelasan Mengenai Aswaja Perspektif NU
• Jawaban Metodologis untuk Orang yang Gemar Menvonis Bid’ah
Kelima, benar bahwa para sahabat paling bersemangat melakukan kebaikan, tapi mereka adalah manusia biasa yang kemampuannya terbatas. Tak semua jenis kebaikan mampu mereka ketahui, apalagi mereka kerjakan. Banyak kebaikan yang tak terpikirkan di suatu masa tetapi terpikirkan di masa berikutnya. Contoh sederhana, pada awalnya Nabi Muhammad berkhutbah di permukaan tanah yang datar seperti biasa dan para sahabat pun merasa itu sudah sempurna dan wajar. Namun belakangan mereka terpikirkan membuat mimbar khutbah supaya sabda Nabi lebih mudah terdengar. Itu adalah inovasi belakangan tetapi tak bertentangan dengan prinsip syariat yang ada sebelumnya. Demikianlah banyak inovasi lain yang berhubungan dengan agama yang muncul setelah era mereka. 

Selama hal baru tak bertentangan dengan satu pun prinsip syariat maka tak masalah dan bukan bid'ah, seperti penjelasan Imam Syafi’i berikut: 

المحدثات من الأمور ضربان أحدهما ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه البدعة الضلالة، والثاني ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، فهذه محدثة غير مذمومة

“Hal-hal baru itu ada dua macam, salah satunya adalah hal baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, Atsar atau Ijmak, maka inilah bid’ah yang sesat. Kedua, adalah hal baru yang tidak bertentangan dengan salah satu hal ini, maka ini adalah hal baru yang baik.” (al-Baihaqi, Manâqib as-Syâfi’i, juz I, halaman 469)

Keenam, para ulama ahli tahqiq tak memakai perkataan Ibnu Katsir di atas sebagai kaidah general tentang bid'ah. Bahkan Ibnu Katsir sendiripun tak memakainya secara general. Lihat saja bagaimana pujian Ibnu Katsir terhadap Raja Irbil yang menyelenggarakan peringatan maulid Nabi dengan amat meriah. Beliau berkata:

"Dan dia (Raja Mudzaffar Kokburi) menyelenggarakan Maulid Nabi yang mulia di bulan Rabi’ul Awwal secara besar-besaran. Ia juga seorang raja yang cerdas, pemberani kesatria, pandai, dan adil, semoga Allah mengasihinya dan menempatkannya di tempat yang paling baik.” (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wan-Nihâyah, juz XVII, halaman 205)

Kalau memang ungkapan itu dipakai secara konsisten sebagai kaidah universal, maka tentu reaksi Ibnu Katsir akan mencela perayaan Maulid Nabi dan para pelakunya secara membabi buta dengan alasan tak dilakukan di era sahabat. 

Ketujuh, ungkapan tidak akurat itu dapat dipatahkan dengan kaidah yang juga tak berdasar kecuali akal-akalan berikut:

"Andai itu memang buruk, tentu para generasi salaf sudah lebih dahulu melarangnya sebab mereka adalah generasi yang paling getol terhadap nahi munkar".

Dasar argumen kaidah akal-akalan ini adalah para sahabat dan para ulama salaf tak ada yang permisif menyikapi bid'ah dan kemungkaran apapun. Setiap ada kemungkaran pasti mereka ingkari. Ketika tak pernah ada dari mereka yang mengingkarinya, maka berarti itu tandanya tidak mengapa. Sebagai kebalikannya, kaidah akal-akalan di poin ketujuh ini punya nilai kebenaran dan akurasi yang sama persis dengan ungkapan yang dinyatakan Imam Ibnu Katsir di atas. Di bagian benarnya ia juga akan benar dan di bagian salahnya ia juga akan salah. Keduanya sama-sama tak akurat, sama-sama tak bisa dipakai secara general sebagai kaidah.

Dengan husnudhan kepada Imam Ibnu Katsir, penulis yakin sepenuhnya bahwa beliau tak bermaksud menjadikan ucapan itu sebagai sebuah kaidah yang berlaku umum tanpa kecuali sebagaimana dipahami sebagian orang terbukti ia memuji Raja Mudhaffar yang menjadi pionir penyelenggaraan peringatan Maulid Nabi di kalangan Sunni. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jatim.