IMG-LOGO
Ubudiyah

Jangan Lakukan Semua Ibadah di Masjid

Senin 3 Desember 2018 18:45 WIB
Share:
Jangan Lakukan Semua Ibadah di Masjid
Ilustrasi (via Pinterest)
Masjid merupakan tempat yang sangat mulia. Banyak ibadah yang mempunyai nilai lebih jika dilakukan di masjid. Ada beberapa ibadah yang memang dianjurkan atau sunnah jika dilaksanakan di masjid seperti jamaah shalat maktûbah (shalat wajib lima waktu), shalat tahiyyatul masjid, i'tikaf, dan lain sebagainya. 

Walaupun masjid merupakan tempat mulia, tidak semua ibadah afdlal dilakukan di masjid. Ada sebagian ibadah yang sebaiknya malah jangan dilakukan di masjid. Di antara hikmah yang terkandung, apabila ibadah sunah dilakukan di dalam rumah, tersembunyi dari pandangan masyarakat sehingga aman dari riya’ (pamer). 

Dalam hadits riwayat Zaid bin Tsabit, Rasulullah ﷺ bersabda: 

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: عَلَيْكُمْ بِالصَّلَاةِ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْجَمَاعَةَ

Artinya: “Lakukan selalu shalat di dalam rumah-rumah kalian. Sesungguhnya sebaik-baik shalat seseorang adalah ketika dilaksanakan di rumahnya sendiri kecuali shalat jamaah. (Sunan Ad-Dârimî: 1406)

Melakukan ibadah-ibadah di rumah cukup penting. Karena jika semua ibadah di masjid, rumah akan menjadi kering. Jauh dari nilai-nilai barakah dari intisari ibadah yang dilakukan. Sehingga jika ibadah dilakukan di dalam suatu rumah, rumah akan didatangi malaikat yang baik-baik. 

Sayyidah Aisyah mengaku bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ pernah mendaras Al-Qur’an di pangkuan Sayyidah Aisyah. Sebagaimana yang sudah kita ketahui, lazimnya orang haid itu tidak berada di masjid, namun di rumah. Artinya, di sini Rasulullah mendaras Al-Qur’an berada di rumah Beliau sendiri. Kata Aisyah “Rasulullah ﷺ tiduran di pangkuanku padahal aku sedang haid, kemudian Rasulullah membaca Al-Qur’an.” (HR Bukhari: 297)

Selain hadits di atas, Rasulullah juga berpesan agar rumah-rumah kita tidak dijadikan kuburan. Rumah yang tidak pernah dibacakan Al-Qur’an tidak ada sinarnya sama sekali. Nur (cahaya) kosong, sehingga gelap gulita, tanpa ada pelita di dalam rumah itu. Kalau gelap, setan akan betah di rumah itu. Namun apabila dibacakan Al-Qur’an, setan akan lari. Hadits riwayat Abu Hurairah meyebutkan sabda Rasulullah ﷺ: 

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Artinya: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan Surat al-Baqarah.” (HR Muslim: 780)

Dalam hadits lain riwayat al-Baihaqiy, Rasulullah berpesan:
 
نَوِّرُوْا بُيُوْتَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ 

Artinya: “Terangilah rumah-rumah kalian dengan shalat dan membaca al-Quran.” (HR: al-Baehaqi)

Baca juga:
Amalan Menempati Rumah Baru
Tips Rumah Tangga Langgeng Dunia-Akhirat
Menyinari rumah dengan ibadah, juga supaya kita tidak terjebak menjadi orang yang aneh sebagaimana disebutkan dalam kitab Tanbîhul Ghâfilîn, halaman 422, hadits riwayat Muadz yang menyebutkan, terdapat tiga hal yang aneh terjadi di dunia ini. 

Pertama, Al-Qur’an dalam hafalan orang yang zalim. Kedua, lelaki baik (shalih) yang hidup di dalam komunitas orang-orang yang buruk. Yang ketiga, mushaf di dalam sebuah rumah namun tidak pernah dibaca. 

Dengan demikian, rumah sangat penting dibuat melakukan ibadah-ibadah seperti shalat dan membaca Al-Qur’an. Jangan lakukan semua ibadah di masjid. Sebagian di masjid sesuai porsinya dan di rumah sesuai porsinya. Jangan sampai kita rajin di masjid untuk melakukan ibadah, lalu mengabaikan keteduhan spiritual rumah kita. Jangan-jangan gara-gara suasana gersang itu, rumah kita kadang berisi pertengkaran dan ketidaktenangan? Wallâhu a’lam

(Ahmad Mundzir) 


Tags:
Share:
Rabu 28 November 2018 12:0 WIB
Mana Lebih Baik, Baca Al-Qur’an dengan Keras atau Lirih?
Mana Lebih Baik, Baca Al-Qur’an dengan Keras atau Lirih?
Ilustrasi (thenational.ae)
Rasulullah ﷺ telah menjanjikan pahala bagi orang yang giat membaca Al-Qur’an. Sebagaimana definisi Al-Qur’an, yaitu al-muta‘abbad li tilâwatih (bernilai ibadah bagi orang yang membacanya). Namun, terkait cara membacanya, beberapa orang memiliki perbedaan selera. Ada yang suka membaca dengan lirih ada juga yang membacanya dengan kencang. 

Ada beberapa alasan yang mungkin terjadi, orang yang membaca lirih merasa suaranya kurang bagus, sehingga ia malu menunjukkan suaranya. Atau bisa juga ia membaca lirih karena khawatir mengganggu orang lain.

Sedangkan bagi orang yang mengeraskan bacaanya, mungkin, mereka berpikir jika mengencangkan baca Al-Qur’an akan mendukung syiar Islam, atau bisa jadi karena suaranya cukup bagus, sehingga ia merasa nyaman membaca Al-Qur’an dengan keras.

Lalu, mana yang lebih baik, bacaan keras atau lirih?

Menurut Imam an-Nawawi, baik bacaan keras atau lirih, masing-masing memiliki dasar dan keutamaan yang bisa dipertanggungjawabkan. Hanya saja, menurut Imam an-Nawawi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni membaca Al-Qur’an dengan lirih lebih baik daripada membaca Al-Qur’an dengan keras, karena hal itu jauh dan terbebas dari sikap riya’.

والجمع بينهما أن الإسرار أبعد من الرياء ، فهو أفضل في حق من يخاف ذلك  

Artinya, “(Imam an-Nawawi menyebutkan) untuk mengompromikan antara dasar keutamaan membaca Al-Qur’an dengan keras dan dasar membaca dengan lirih, maka sesungguhnya membaca Al-Qur’an dengan lirih, lebih jauh dari riya’. Juga lebih utama bagi orang yang takut melakukan riya’ (jika membacanya dengan keras).” (Muhyiddin an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar Kutub, 2004], j. 1, h. 166.)

Namun, menurut Imam an-Nawawi, bagi orang yang tidak khawatir bahwa dirinya akan melakukan perbuatan riya’, maka membaca dengan keras lebih utama, asalkan tidak mengganggu orang yang sedang tidur atau orang yang sedang istirahat.

فإن لم يخف الرياء ، فالجهر أفضل ، بشرط أن لا يؤذي غيره من مصل ، أو نائم أو غيرهما.

Artinya, “Jika tidak takut terjadi riya’, maka membaca Al-Qur’an dengan suara keras lebih utama, dengan syarat tidak mengganggu orang lain, baik itu orang yang shalat, orang yang sedang tidur atau yang lain.” (Muhyiddin an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar Kutub, 2004], j. 1, h. 166.)

Oleh karena itu, jika membaca Al-Qur’an dengan keras hanya membuat kita merasa diri kita paling baik di antara yang lain, atau suara kita bagus agar orang lain memuji kita dan lain sebagainya, maka lebih baik membaca dengan lirih. 

Namun, jika hati kita tidak memiliki keinginan demikian, maka lebih baik dibaca dengan keras, karena menurut Imam an-Nawawi, membaca Al-Qur’an dengan keras dapat menggugah semangat orang lain agar melakukan hal serupa, yakni membaca Al-Qur’an, juga dapat meresap di hati orang yang membacanya, daripada dibaca dengan lirih. Juga yang paling penting, dapat memberi semangat orang lain yang sedang tidur atau malas-malasan. 

Tidur dalam hal ini berbeda dengan tidur yang dimaksud dalam larangan di atas. Tidur dalam hal ini adalah tidur yang tidak pada tempatnya, misalnya tidur pada waktu-waktu produktif. Justru dianjurkan untuk dibaca dengan keras agar dapat membangunkan orang yang tidur pada waktu kerja sehingga bisa kerja dan menggunakan waktunya dengan hal yang bermanfaat.

Hal ini berbeda dengan orang yang tidur pada waktunya, atau tidur karena kecapekan bekerja. Dalam kondisi ini, kita dilarang membaca Al-Qur’an dengan keras sehingga dapat mengganggu waktu istirahat orang tersebut.

Wallahu a’lam.

(Muhammad Alvin Nur Choironi)

Sabtu 24 November 2018 16:30 WIB
Mana Lebih Baik, Umur Panjang atau Pendek?
Mana Lebih Baik, Umur Panjang atau Pendek?
Ilustrasi (iStock)
Jika sebuah pertanyaan diajukan manakah yang lebih baik, umur panjang ataukah umur pendek? Jawabannya, sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah subhanu wata’la. Jawaban ini berdasarkan penjelasan dari Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 47) sebagai berikut: 

وخير العمر: بركته، والتوفيق فيه للأعمال الصالحة، والخيرات الخاصة والعامة 

Artinya: “Sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah subhanu wata’la, yang diberi-Nya taufiq untuk mengerjakan amalan saleh dan kebajikan-kebajikan lain baik yang khusus maupun yang umum.”

Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah subhanu wata’la, yang diberi-Nya bimbingan untuk melakukan berbagai kesalehan dan kebajikan. Penjelasan ini tidak mensyaratkan umur panjang dalam arti harfiah sebagaimana dipahami sebagian orang dari apa yang disampaikan Rasulullah shallahu alaihi wa sallam dalam sebuah haditsnya sebagai berikut:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

Artinya: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” Beliau menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR: Tirmidzi) 
 
Baca juga: Bolehkah Berdoa Memohon Kematian?
Beberapa orang memahami secara literal bahwa umur yang baik adalah umur panjang yang penuh dengan kebaikan. Pemahaman ini memang tidak salah, hanya belum akomodatif terhadap fakta bahwa banyak orang saleh tidak berumur panjang. Orang-orang seperti ini meskipun tidak berumur panjang, namun amal-amal kebaikannya sangat banyak. Beberapa di antara mereka amal kebaikannya setara atau bahkan ada yang memelibihi mereka yang berumur panjang. 

Sayyid Abdullah Al-Haddad menyebutkan contoh beberapa orang saleh yang tidak berumur panjang namun amal kebaikannya terbukti sangat banyak dan dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Di antaranya adalah Imam Syafií rahimahullah yang wafat dalam usia 54 tahun. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali wafat dalam usia 55 tahun. Al-Imam al-Quthub as-Syarif Abdullah bin Abu Bakar Al-Aydrus al-Alawi wafat dalam usia 54 tahun. Khalifah Umar bin Abdul Aziz wafat dalam usia kurang dari 40 tahun. Imam Nawawi wafat dalam usia kurang dari 50 tahun. 

Jadi sebaik-baik umur adalah umur yang diberkati Allah subhanu wata’la. Umur yang diberkati adalah umur yang benar-benar panjang secara harfiah dan banyak digunakan untuk melakukan amal-mal saleh dan kebajikan-kebajikan lainnya. Atau umur yang tidak panjang secara harfiah, namun banyak digunakan untuk mengerjakan kesalehan-kesalehan hingga pada tingkat tertentu yang setara atau malahan lebih banyak dari mereka yang berumur panjang. 

Terhadap kelompok kedua, yakni mereka yang tidak berumur panjang namun banyak mengerjakan kesalehan-kesalehan dan kebajikan-kebajikan seperti Imam Syafi’i dan Imam Al-Ghazali, Sayyid Abdullah Al-Haddad menyebutnya sebagai hamba-hamba Allah yang terpilih dan diberkati sehingga amal kebaikannya lebih banyak dan lebih terasa manfaatnya dari pada yang dipanjangkan umurnya. 

Mengenai batasan umur panjang (a’mârun thawîlah) di kalangan umat Islam, memang tidak ada patokan khusus yang telah disepakati bersama. Hanya kebanyakan umat Islam menjadikan umur Rasulullah  shallahu alaihi wa sallam yang mencapai 63 tahun sebagai standar. Artinya mereka yang mencapai umur di atas 63 tahun diyakini telah mendapatkan bonus umur dari Allah subhanu wata’la. Sedangkan mereka yang tidak mencapai umur 63 tahun, semisal 50-55 tahun, sebagaimana para imam di atas dikategorikan berumur pendek (a’mârun qashîrah). Istilah ini sebagaimana dipergunakan Sayyid Abdullah Al-Haddad dalam pembahasan topik ini. (Lihat hal. 47). 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. 

 
Jumat 23 November 2018 2:30 WIB
Ini Lafal Dzikir Utama di Waktu Subuh
Ini Lafal Dzikir Utama di Waktu Subuh
(Foto: @tokkoro.com)
Imam Nawawi dalam Kitab Al-Azkar menyebutkan bahwa banyak lafal dzikir yang baik dibaca di waktu subuh berasal dari Rasulullah SAW. Mereka yang dapat mengamalkan semuanya terbilang orang beruntung yang mendapatkan nikmat dan anugerah Allah SWT.

Adapun mereka yang tidak sanggup mengamalkan semuanya dapat menyingkat amalan tersebut meski hanya satu lafal dzikir.

Imam Nawawi menyebutkan sejumlah ayat Al-Qur’an yang menjadi dasar anjuran dzikir di waktu Subuh, yaitu Surat Thaha ayat 130, Surat Ghafir ayat 55, Surat An-Nisa ayat 148, Al-An‘am ayat 52, An-Nur ayat 36, dan Surat As-Shad ayat 18.

Ada baiknya kami kutip dua ayat darinya sebagai berikut:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

Artinya, “Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit dan sebelum terbenam matahari,” (Surat Thaha ayat 130).

Sedangkan Surat Ghafir ayat 55 berbunyi sebagai berikut:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

Artinya, “Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada pagi dan petang,” (Surat Ghafir ayat 55).

Semua ayat ini menunjukkan anjuran agar manusia berdzikir memuji Allah pada waktu subuh atau pagi hari dan tentu saja sore hari.

Imam An-Nawawi menyebut Sayyidul Istighfar sebagai lafal yang baik dan utama dibaca saat subuh atau pagi hari dan petang. Bunyi lafal Sayyidul Istighfar sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat Imam Bukhari adalah sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Allâhumma anta rabbî, lâ ilâha illâ anta khalaqtanî. Wa anâ ‘abduka, wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu. A‘ûdzu bika min syarri mâ shana‘tu. Abû’u laka bini‘matika ‘alayya. Wa abû’u bidzanbî. Faghfirlî. Fa innahû lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta.

Artinya, “Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.”

Perihal keutamaan Sayyidul Istighfar yang dibaca waktu pagi atau sore hari disebutkan di ujung hadits riwayat Imam Bukhari. Mereka yang mengamalkan Sayyidul Istighfar kemudian wafat beberapa jam kemudian mendapat garansi surga dari Allah SWT.

إذا قال ذلك حين يمسي فمات من ليلته دخل الجنة، أو كان من أهل الجنة، وإذا قال ذلك حين يصبح فمات من يومه...مثله

Artinya, “Dalam Shahih Bukhari terdapat riwayat dari Syaddad bin Aus RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang membacanya [Sayyidul Istighfar] ketika sore, lalu ia wafat pada malamnya, maka ia masuk surga atau ia tergolong penghuni surga. Siapa yang membacanya ketika pagi, lalu ia wafat pada siangnya, maka nasibnya sama seperti orang yang mengamalkannya pada petang hari,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 63).

Adapun dzikir lainnya adalah lafal tasbih sebagaimana dipahami secara harfiah dari ayat-ayat tersebut. Riwayat hadits pada Shahih Muslim menyebut lafal tasbih sebagai berikut:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Subhānallāhi wa bi hamdih.

Artinya, “Mahasuci Allah dengan segala puji bagi-Nya.”

Adapun riwayat hadits pada Sunan Abu Dawud menyebut lafal tasbih sebagai berikut

سُبْحَانَ اللهِ العَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

Subhānallāhil ‘azhīmi wa bi hamdih.

Artinya, “Mahasuci Allah yang maha agung dengan segala puji bagi-Nya.”

Lafal tasbih yang dianjurkan untuk dibaca sebanyak 100 kali ini memiliki keutamaan luar biasa. Siapa saja yang mengamalkannya akan membawa amal terbaik pada hari kiamat kelak sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim berikut ini:

وروينا في صحيح مسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قال حين يصبح وحين يمسي سبحان الله وبحمده مائة مرة لم يأت أحد يوم القيامة بأفضل مما جاء به إلا أحد قال مثل ما قال أو زاد عليه

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami di Shahih Muslim dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang membaca ketika pagi dan ketika sore ‘Subhānallāhi wa bi hamdih,’ sebanyak 100 kali, niscaya pada hari kiamat tidak ada orang yang lebih baik membawa amal daripadanya selain orang yang mengamalkan seperti apa yang diamalkan olehnya atau bahkan melebihi amalnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 63).

Imam An-Nawawi, sebagaimana di awal disebutkan, mengatakan bahwa lafal dzikir di waktu subuh atau pagi hari begitu banyak yang tidak mungkin disebutkan satu per satu. Masih banyak lagi lafal dzikir di waktu subuh yang belum tertera di sini. Semua lafal itu mengandung keutamaan luar biasa sebaiknya tidak dilewatkan meski hanya satu jenis dzikir. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)