IMG-LOGO
Trending Now:
Shalat

Baru Tahu Najis di Pakaian Selesai Shalat, Bagaimana?

Senin 3 Desember 2018 20:30 WIB
Share:
Baru Tahu Najis di Pakaian Selesai Shalat, Bagaimana?
Ilustrasi (info-islam.ru)
Suci dari najis adalah termasuk bagian dari syarat sahnya shalat yang dilakukan oleh seorang muslim. Maka baiknya sebelum melaksanakan shalat, seseorang meneliti terlebih dahulu apakah pakaian, tubuh dan tempat yang dibuat shalat sudah benar-benar suci dari najis atau justru masih terdapat najis. Sebab hal ini sangat berpengaruh terhadap keabsahan shalat yang dilakukan.

Dalil wajibnya suci dari najis pada saat melaksanakan shalat salah satunya berdasarkan hadis:

إِذَا أَصَابَ ثَوْبَ إِحْدَا كُنَّ الدَّمُ مِنْ الْحَيْضَةِ فَلْتَقْرُصْهُ ثُمَّ لِتَنْضَحْهُ بِمَاءٍثُمَّ لِتُصَلِّي فِيهِ

“Apabila pakaian salah satu dari kalian terkena darah haid, hendaknya ia menggosoknya kemudian membasuhnya dengan air, lalu ia boleh mengenakannya untuk shalat.” (HR. Bukhari Muslim)

Disamakan dengan darah haid dalam teks hadis diatas segala perkara yang dihukumi najis. Sehingga sebelum melakukan shalat wajib untuk menghilangkan dan menyucikan dirinya dari segala jenis najis.

Problem terjadi ketika seseorang merasa yakin bahwa dirinya telah suci dari najis, namun ternyata setelah selesai melaksanakan shalat, ia melihat bajunya terkena najis yang tidak ma’fu (ditoleransi), seperti bajunya terkena kotoran hewan dalam keadaan basah. Lantas bagaimana shalat yang baru saja ia lakukan? Apakah dianggap cukup atau ia wajib untuk mengulangi shalatnya?

Baca juga: Penjelasan tentang Najis yang Dimaafkan dan yang Tak Dimaafkan
Dalam menyikapi peristiwa demikian, para ulama terjadi perbedaan pendapat dalam menghukuminya. Pendapat pertama, menghukumi wajib untuk mengulangi kembali shalat yang dilakukannya. Pendapat ini merupakan pendapat dari Mazhab Syafi’I dan Mazhab Hanbali. Sedangkan pendapat kedua berpandangan tidak wajib mengulangi shalatnya kembali. Pendapat kedua ini adalah pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama mutaqaddimin (terdahulu). 

Perbedaan pendapat dalam menghukumi permasalahan ini, dijelaskan dalam kitab Al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:

ـ (فرع) في مذاهب العلماء فيمن صلى بنجاسة نسيها أو جهلها . ذكرنا أن الأصح في مذهبنا وجوب الإعادة وبه قال أبو قلابة وأحمد وقال جمهور العلماء : لا إعادة عليه، حكاه ابن المنذر عن ابن عمر وابن المسيب وطاوس وعطاء وسالم بن عبد الله ومجاهد والشعبي والنخعي والزهري ويحيى الأنصاري والأوزاعي وإسحاق وأبي ثور قال ابن المنذر وبه أقول، وهو مذهب ربيعة ومالك وهو قوي في الدليل وهو المختار 

“Cabang pembahasan dalam menjelaskan beberapa pendapat ulama tentang orang yang shalat dengan membawa najis yang ia lupakan atau tidak diketahuinya. Kami menyebutkan bahwa sesungguhnya qaul ashah (pendapat yang cenderung lebih benar) dalam mazhab kita (Mazhab Syafi’i): wajib mengulangi shalatnya. Pendapat demikian diikuti oleh Abu Qalabah dan Imam Ahmad. Mayoritas ulama berpendapat tidak wajib mengulangi shalatnya, pendapat demikian diungkapkan oleh Imam Ibnu Mundzir dari riwayat Sahabat Ibnu ‘Umar, Ibnu al-MusayyabThawus, Atha’, Salim bin ‘Abdullah, Mujahid, Sya’bi, Nukho’i, Zuhri,Yahya al-Anshari, Auza’i, Ishaq, dan Imam Abi Tsur.

Imam Ibnu Mundzir begitu juga aku (Imam Nawawi) berkata: “Pendapat tidak wajibnya mengulangi shalat adalah pendapat Imam Malik. Pendapat ini kuat dari segi dalilnya dan merupakan pendapat yang terpilih.” (Syarafuddin Yahya an-Nawawi, Al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, Juz 4, Hal. 163)  

Dua pendapat ini juga berlaku dalam permasalahan ketika seseorang tahu betul bahwa pakaian yang dikenakan telah terkena najis, namun saat hendak melaksanakan shalat, ia lupa bahwa pakaiannya telah terkena najis. Saat selesai shalat, ia baru ingat bahwa pakaian yang dikenakannya telah terkena najis. Maka dalam keadaan demikian berlaku dua pandangan hukum yang berbeda terkait wajib tidaknya mengulang kembali shalat yang telah ia lakukan.

Dalam menyikapi perbedaan pendapat ini, kita dibebaskan untuk memilih salah satu di antara dua pendapat di atas, sebab perbedaan pendapat di antara ulama merupakan wujud rahmat dari Allah ﷻ kepada umat Nabi Muhammad (ikhtilafu ummatî rahmatun). Meski begitu, sebaiknya  bagi penganut mazhab Syafi’i agar konsisten mengikuti pendapat dari mazhabnya sendiri yaitu wajib untuk mengulangi shalatnya, sebab dengan begitu ia lebih memilih jalan hati-hati dan konsisten mengikuti pandangan yang kuat dalam mazhabnya. Wallahu a’lam

(Ali Zainal Abidin)



Tags:
Share:
Sabtu 1 Desember 2018 13:0 WIB
Cara Shalat sambil Menggendong Anak
Cara Shalat sambil Menggendong Anak
Ilustrasi (Reuters)
Orang tua yang memiliki anak masih kecil terkadang merasa kerepotan dalam melaksanakan kewajiban shalatnya. Apalagi ketika sang buah hati belum mengerti bahwa shalat adalah ritual sakral yang tidak dapat diganggu oleh siapa pun. Saat anak menggelendot dan minta dimanja, orang tua kadang merasa perlu untuk memberi perhatian, salah satunya dengan menggendongnya. 

Lalu yang menjadi pertanyaan, bolehkah shalat sambil menggendong anak?

Praktik semacam itu sebenarnya pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, yakni ketika beliau menggendong cucunya, Umamah binti Abi al-‘Ash yang merupakan putri dari Sayyidah Zainab radliyallahu ‘anha. Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat Abu Qatadah al-Anshari:

رَأَيْتُ النَّبِىَّ ﷺ يَؤُمُّ النَّاسَ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ وَهْىَ ابْنَةُ زَيْنَبَ بِنْتِ النَّبِىِّ ﷺ عَلَى عَاتِقِهِ فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَهَا وَإِذَا رَفَعَ مِنَ السُّجُودِ أَعَادَهَا (رواه مسلم) ـ

“Aku melihat Rasulullah ﷺ shalat mengimami para sahabat sambil menggendong Umamah binti Abi al-‘Ash, putri dari Sayyidah Zainab di atas bahunya. Ketika rukuk Rasulullah ﷺ meletakkannya (di lantai) dan ketika selesai sujud, Rasulullah ﷺ menggendongnya kembali.” (HR. Muslim)

Sedangkan redaksi hadits yang terdapat dalam kitab al-Muwattha’ yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menegaskan bahwa Rasulullah meletakkan Umamah binti Abi al-‘Ash saat beliau hendak sujud, bukan saat ruku':

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَ 

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat sembari menggendong ‘Umamah binti Zainab binti Rasulullah ﷺ,  ‘Umamah merupakan putri Abi al-Ash bin Abd as-Syams, ketika sujud, Rasulullah ﷺ meletakkannya (di lantai) dan ketika berdiri (dari sujud), Rasulullah ﷺ menggendongnya kembali.” (HR. Bukhari)

Menurut ‘Amr bin Salim yang diriwayatkan oleh Zubair bin Bakr, Shalat yang dilaksanakan oleh Rasulullah ﷺ adalah shalat Subuh (Badruddin al-‘Ainy, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, juz 7, hal 285).

Para ulama menjadikan hadits di atas sebagai dalil bolehnya melaksanakan shalat sambil menggendong anak. Salah satunya seperti yang diungkapkan oleh Imam bin Hanbal ketika ditanya perihal shalat sambal menggendong anak:

سئل أحمدُ:َ أيأخذ الرجلُ ولده وهو يُصلي؟ قال: نعم، واحتج بحديث أبي قتادة.

“Imam Ahmad ditanya, 'Apakah seseorang boleh mengambil untuk menggendong anaknya ketika ia sedang shalat?' Beliau menjawab, 'Iya, boleh,' dengan menjadikan hadits riwayat Abi Qatadah sebagai dalil." (Badruddin al-‘Ainy, Syarh Abi Daud, Juz 4, Hal 146).

Bolehnya shalat sambil menggendong anak ini dibatasi selama anak yang digendong tidak dalam keadaan najis, seperti terdapat najis yang ada di pampers atau pakaian dan bagian tubuhnya. Maka ketika demikian, orang tua tidak dapat menggendongnya sebab shalatnya justru akan menjadi batal. Selain itu, orang yang sedang shalat dengan menggendong anaknya sebisa mungkin untuk menghindari gerakan-gerakan yang berlebihan dan sampai membatalkan shalat, seperti tiga gerakan atau lebih dalam waktu yang beriringan.

Menggendong anak ini bisa dilakukan sebelum shalat, atau ketika sedang shalat, dengan salah satu dari dua cara yang sesuai dengan dua hadits di atas yaitu meletakkan anak ketika hendak ruku’ atau ketika hendak sujud lalu menggendongnya kembali ketika berdiri dari sujud.

Demikian penjelasan tentang tema ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa menggendong anak ketika shalat adalah hal yang diperbolehkan karena pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dalam salah satu haditsnya. Bolehnya menggendong ini selama anak tidak terkena najis dan orang yang menggendong dapat menghindari gerakan berlebihan yang dapat membatalkan shalat. Selain itu, sebisa mungkin orang tua tetap menjaga kekhusyukan shalatnya, agar shalat yang dilaksanakan mendapatkan pahala yang sempurna dan diterima di sisi Allah subhanahu wata'ala. Wallahu a’lam.

(Ali Zainal Abidin)

Jumat 30 November 2018 21:45 WIB
Makna 27 Derajat dalam Pahala Shalat Berjamaah
Makna 27 Derajat dalam Pahala Shalat Berjamaah
Ilustrasi (via 4to40.com)
Shalat berjamaah adalah salah satu ibadah yang diberi keutamaan oleh Allah ﷻ berupa perolehan 27 derajat . Keutamaan ini tidak akan didapatkan oleh orang yang melaksanakan shalat dengan sendirian. Dalam beberapa hadits dijelaskan:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah melampaui shalat sendirian dengan (mendapatkan) 27 derajat.” (HR. Bukhari)

Penentuan bilangan 27 derajat dalam hadits ini adalah sesuatu yang bersifat ta’abbudi (tidak dapat dijangkau oleh akal), hanya cahaya kenabian yang dapat mengungkap rahasia di balik pemilihan angka 27 dalam keutamaan shalat berjamaah (Al-Munawi, Faidl al-Qadir, juz 11, hal. 536).

Poin yang perlu dijelaskan dalam hadits di atas adalah tentang makna keunggulan 27 derajat dalam shalat berjamaah. Sebenarnya apa makna 27 derajat ini? 

Para ulama mengartikan redaksi “derajat” dalam teks hadits di atas dengan makna “shalat”. Dengan begitu arti secara pemahaman dari hadits tersebut adalah “Shalat berjamaah melampaui shalat sendirian dengan keunggulan 27 shalat”. Dengan begitu orang yang melaksanakan shalat berjamaah jika dibandingkan dengan orang yang melaksanakan shalat dengan sendirian terlampau selisih 27 shalat.

Mengartikan kata “derajat” dengan kata “shalat” ini berlandaskan dalil berupa ditemukannya hadits dengan riwayat lain yang menjelaskan tentang keutamaan shalat berjamaah dengan menggunakan redaksi “shalat” sebagai ganti dari kata “derajat”. Hal ini seperti yang ditegaskan oleh Imam Ibnu Daqiq al-‘Ied:

ــ (قوله درجة) قال ابن دقيق العيد الأظهر أن المراد بالدرجة الصلاة ؛ لأنه ورد كذلك في بعض الروايات

“Imam Ibnu Daqiq al-‘Ied berkata: “pendapat yang paling jelas adalah mengartikan kata “derajat” dengan arti “shalat” karena terdapat penggunaan redaksi “shalat” dalam sebagian riwayat (hadits)” (Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 7, hal. 370)

Keunggulan 27 derajat ini, juga dapat diartikan secara rinci dengan menisbatkan 27 derajat pada setiap rukun yang dilakukan dalam shalat. Karena itu, satu bacaan Surat al-Fatihah yang dibacakan oleh orang yang shalat berjamaah melampaui 27 bacaan surat al-Fatihah yang dibacakan oleh orang yang shalat sendirian, begitu juga pada ruku’, sujud, dan rukun-rukun yang lain. Penjelasan ini sesuai dengan hal yang disampaikan oleh Syekh Sulaiman al-Jamal dan pengarang kitab syarah kitab Minhaj yang lainnya:

وإيضاحه أن الصلاة في جماعة تزيد على المنفرد بسبع وعشرين صلاة فالركوع في الجماعة يزيد على ركوع المنفرد بسبع وعشرين ركوعا

“Penjelasan tentang 27 derajat bahwa shalat berjamaah melampaui shalat sendirian dengan selisih 27 shalat, maka ruku’ yang dilakukan saat shalat berjamaah melampaui ruku’ yang dilakukan saat shalat sendirian dengan selisih 27 ruku’.” (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz 5, hal. 14)

Dengan begitu, dapat dipahami bahwa betapa ruginya jika seseorang melaksanakan shalatnya dengan tanpa jamaah, mengingat besarnya pahala yang didapatkan oleh orang yang melaksanakan shalat berjamaah. Wallahu a’lam.

(Ali Zainal Abidin)

Jumat 30 November 2018 19:0 WIB
Makmum Tunarungu saat Imam Shalat Membaca Surat Pendek
Makmum Tunarungu saat Imam Shalat Membaca Surat Pendek
Ilustrasi (Reuters)
Memperhatikan gerakan dan bacaan imam adalah salah satu syarat mengikuti imam dalam melakukan shalat jamaah. Bahkan dalam beberapa hal, makmum diharuskan untuk tidak membaca surat sendiri agar tetap bisa mendengarkan surat yang dibaca oleh imam.

Dalam hadits riwayat Imam an-Nasai disebutkan bahwa jika shalat yang dikerjakan adalah shalat jamaah, maka cukup mendengarkan bacaan imam.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

“Dari Abu Hurairah  berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesunggunya orang yang dijadikan imam itu untuk diikuti. Maka ketika ia membaca takbir, bertakbirlah kalian semua, dan jika ia membaca bacaan, diamlah dan dengarkan. Dan jika ia mengucapkan samiallahu liman hamidah, maka ucapkanlah allahumma rabbana lakal hamd.” (Abu Abdurrahman an-Nasai, al-Mujtaba minas Sunan, Sunan an-Nasai, j. 2, h. 141.).

Namun, hal ini tidak berlaku untuk Surat al-Fatihah, karena membaca Surat al-Fatihah adalah termasuk rukun dan tetap harus dilakukan oleh seorang makmum, walaupun imam telah membacanya. Hal ini sesuai dengan sebuah hadits riwayat Imam an-Nasai.

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ : صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بَعْضَ الصَّلَوَاتِ الَّتِي يُجْهَرُ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ : لاَ يَقْرَأَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إِذَا جَهَرْتُ بِالْقِرَاءَةِ إِلاَّ بِأُمِّ الْقُرْآنِ.

“Dari Ubadah bin as-Shamit berkata bahwa Rasulullah pernah shalat yang bacaanya dibaca dengan keras. Kemudian Rasul bersabda, “Janganlah kalian membaca bacaan ketika aku sedang membaca bacaan dengan keras, kecuali Surat al-Fatihah.”  (Abu Abdurrahman an-Nasai, al-Mujtaba minas Sunan, Sunan an-Nasai, j. 2, h. 139.)

Jika makmum tugasnya mendengarkan bacaan surat Imam, lalu bagaimana dengan makmum tunarungu? Masihkah ia membaca surat? Mengingat ia tidak bisa mendengarkan bacaan Imam.

Menjawab hal ini, Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuz Zain menyebutkan bahwa makmum tunarungu, tetap membaca surat pendek, satu kali atau dua kali, agar ibadah shalatnya saat berdiri diisi hal-hal yang dapat mendulang pahala.

إن لم يسمعها لصمم أو بعد أو غيره قرأ سورة فأكثر إلى أن يركع الإمام إذ سكوته لا معنى له .

"Jika makmum tidak mampu mendengar karena ia tunarungu atau jaraknya jauh atau alasan lain (yang menyebabkan ia tidak mampu mendengar bacaan Imam), maka makmum tersebut tetap membaca satu surat atau lebih sampai imam melakukan ruku’. Karena diamnya makmum tersebut tidak berarti apa-apa." (Lihat: Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi, Nihayatuz Zein fi Irsyadil Mubtadiin, [Beirut: Darul Fikr, t.t], h. 64.)

Maksud ungkapan Imam an-Nawawi tidak berarti apa-apa adalah semacam nganggur, sehingga ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali gugurnya shalat. Sehingga lebih baik ia membaca surat hingga imam ruku'.

Hal ini juga berlaku bagi makmum yang shalat jamaahnya sirr (pelan) dan makmum yang jauh dari imamnya sehingga ia tidak mendengar bacaan imamnya.

Wallahu A'lam.

(M. Alvin Nur Choironi)