IMG-LOGO
Hikmah

Kisah Orang yang Berlebihan dalam Beribadah (II)

Rabu 5 Desember 2018 15:0 WIB
Share:
Kisah Orang yang Berlebihan dalam Beribadah (II)
Ilustrasi (islamicsunrays.com)
Sepanjang hayat, saat Rasulullah memimpin ibadah, tidak pernah sekalipun menyusahkan para sahabat yang menjadi makmumnya. Hal ini karena kegiatan yang dilakukan Rasulullah selalu sedang-sedang saja, tidak terlalu cepat, juga tidak terlampau lama. Rasulullah tidak berlebihan. 

Sahabat Abdullah bin Jabir mengakui lewat ceritanya yang terekam pada sebuah hadits sebagai berikut:

كُنْتُ أصَلِّي مَعَ النَّبيِّ - صلى الله عليه وسلم - الصَّلَوَاتِ، فَكَانتْ صَلاتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا

Artinya: “Saya shalat bersama Nabi ﷺ berkali-kali. Shalat beliau sedang, khutbahnya juga sedang (tidak terlalu cepat dan tidak terlampau lama).” (HR Muslim: 866) 

Satu ketika Salman al-Farisi berkunjung ke rumah Abu Darda’. Kita tahu, antara mereka berdua sudah diikatkan persaudaraan oleh Rasulullah ﷺ. Rasulullah banyak mengikatkan persaudaraan sahabat, antara kaum muhajirin sebagai pendatang dengan kaum anshar sebagai pribumi. Sahabat Salman yang terkenal dengan ide briliannya membuat parit pada perang Khandaq ini merupakan asli warga Persia. Oleh Baginda Nabi Muhammad ﷺ, ia diikatkan persaudaraan dengan warga lokal (anshar) bernama Abu Darda’.

Saat Salman masuk ke rumah Abu Darda’ pada suatu ketika ia melihat ibunda Dar’da sedang memakai pakaian lusuh yang kurang layak pakai. Salman mencoba menelisik, apa gerangan yang menjadikan ibunda Darda’ memakai pakaian yang sedemikian buruk.

“Bu, anda ini kenapa?” tanya Salman pada sang Ibu. 

“Itu lho, saudaramu Abu Darda’ sudah tidak butuh dunia lagi.” 

Habis mengatakan begitu, Abu Darda’ datang, ia mempersiapkan jamuan makan untuk tamu yang sekaligus saudaranya tersebut. Sembari mempersilahkan, Abu Darda’ mengatakan, “Ayo, silakan dimakan. Saya sedang puasa ini.”

Salman menjawab, “Tidak, saya tidak mau makan kalau kamu tidak juga makan.” 

Akhirnya mereka makan bersama-sama. 

Usai makan, Salman menginap di rumah Abu Darda’. Di dalam keheningan malam, di saat seluruh anggota keluarga tidur, Abu Darda’ yang sedang tidur bersama Salman meninggalkan tempat. Ia melaksanakan shalat malam. Namun tiba-tiba Salman menyergahnya. “Ayo, tidur lagi!” suruh Salman. 

Setelah Abu Darda’ tidur, ia bangun lagi, dan disuruh tidur lagi oleh Salman untuk yang kedua kalinya. Hingga mereka berdua memasuki waktu subuh. Saat subuh benar-benar menyapa, Salman baru kemudian mengajak Abu Darda’ bangun. “Nah, kalau sekarang, ayo bangun!” Mereka berdua melakukan shalat secara berjamaah. 

Usai shalat, Salman menasihati saudaranya tersebut, “Tuhanmu mempunyai hak yang harus kamu tunaikan. Tubuhmu juga mempunyai hak yang harus kamu berikan. Begitu pula keluargamu juga mempunyai hak yang wajib kamu penuhi. Berilah haknya masing-masing sesuai porsinya.”

Setelah mendapat nasihat, Abu Darda’ sowan kepada Baginda Rasul ﷺ. Ia menuturkan kisah yang baru saja terjadi. Lalu Rasul menjawab, “Benar apa yang dikatakan Salman.” (HR Bukhari: 1968)

Hampir senada dengan cerita di atas, hadits riwayat dari Anas. Satu ketika Nabi Muhammad ﷺ masuk ke dalam masjid. Di sana, Rasul melihat ada tali yang membentang antara dua tiang masjid. 

“Tali apa ini?” tanya Rasul 

“Oh, itu tali milik ibu Zaenab, Ya Rasul. Saat letih, beliau berpegangan pada seutas tali itu,” jawab sahabat. 

Rasul kemudian berpesan, “Lepaskan tali itu. Shalatlah kalian saat bugar. Ketika capek, tidurlah.” (Muttafaq ‘Alaih)

Hadits di atas memberikan pelajaran kepada kita, ibadah-ibadah sunnah itu sangat bagus nilai pahalanya. Namun kita perlu adil dalam membagi waktu. Jangan sampai kita beribadah, namun ada hak lain yang perlu kita penuhi namun belum terbayarkan. Apalagi, makna ibadah sejatinya amat luas. Ia tak sebatas pada ritual-ritual, tapi juga mencakup berbagai aktivitas lain seperti bekerja, memasak, merawat keluarga, dan lainnya yang dilandasi niat ibadah. Wallâhu a’lam. (Ahmad Mundzir)

Share:
Selasa 4 Desember 2018 22:0 WIB
Kisah Orang yang Berlebihan dalam Beribadah (I)
Kisah Orang yang Berlebihan dalam Beribadah (I)
Ilustrasi (via Pinterest)
Semua manusia dan jin memang diciptakan oleh Allah untuk beribadah. Namun Allah ﷻ  dan Baginda Nabi Agung Muhammad ﷺ tidak menyuruh orang-orang untuk beribadah melebihi kemampuan masing-masing, agar tidak memberatkan.

طه مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى

Artinya: “Thâhâ. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepada-Mu (Muhammad) supaya engkau menjadi susah.” (QS Thâhâ: 1-2). 

Ayat lain menyebutkan:
 
يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya: “Allah menghendaki kalian kemudahan, dan Dia tidak menghendaki kalian kesulitan.” (QS Al-Baqarah: 185)

Dalam hal menjalankan ibadah, Nabi Muhammad ﷺ menyuruh umatnya untuk melakukan perintah agama semampunya. Berbeda jika berupa larangan, kita harus meninggalkan larangan secara total. Shalat wajib kita lakukan, tapi pada batas semampunya. Mampu berdiri, dengan berdiri; mampu duduk, dengan duduk; dan seterusnya. Orang puasa hanya bagi yang mampu. Orang yang sakit, kalau sampai tidak mampu, tidak wajib berpuasa.  Begitu pula zakat dan haji dan lain sebagainya. Semuanya berdasarkan kemampuan. 

Berikut contoh kisah tentang orang yang berlebihan dalam melakukan ibadah. 

Satu ketika, ada tiga kelompok orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi. Mereka menanyakan bagaimana ihwal ibadah yang dilakukan Rasulullah ﷺ. Saat mereka dikasih tahu, seolah-olah mereka menganggap bahwa yang dilakukan Rasulullah itu sedikit. 

“Terus di antara kita ini, mana coba yang termasuk seperti Nabi? Padahal Nabi adalah orang yang diampuni segala kesalahannya baik masa silam maupun yang akan datang,” tanya salah seorang di antara mereka kepada komunitasnya. 

Ada yang menjawab, “Aku shalat sepanjang malam penuh.”

“Aku puasa sepanjang tahun, tidak pernah bolong,” jawab yang lain. 

Yang satunya lagi mengatakan, “Kalau aku menghindari wanita. Aku tidak pernah menikah selamanya.”

Setelah mereka mengutarakan usahanya untuk bisa mirip dengan Rasulullah, Nabi kemudian datang seraya menanyakan, “Hai, apakah kalian tadi yang mengatakan demikian, kamu menyebutkan begini, begini? Perlu aku jelaskan, aku ini adalah orang yang paling takut kepada Allah jika dibanding dengan kalian. Aku juga orang yang paling taat kepada Allah. Meski begitu, aku terkadang berpuasa, kadang juga tidak. Aku juga melaksanakan ibadah, shalat malam, namun aku tidur juga. Aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, ia bukan dari golonganku,” tandas Rasulullah ﷺ. (HR Bukhari Muslim. Lihat: Muhammad bin Ismail al-Bukhâri, Shahih Bukhâri, [Dâru Thûqin Najâh, 1422 H], juz 7, halaman 2)

Dari cerita di atas, perlu kita garisbawahi, setiap sesuatu yang penting adalah konsistensi (istiqamah), bukan sekali gebyar, capai, kemudian menghilang. Sebab, yang dihitung pahala banyak itu konsistensinya. Jika hanya sekali, kemudian berhenti, pahalanya juga akan berhenti. Berbeda kalau terus-menerus, selama ibadah itu dilakukan, ibadahnya akan mengalirkan pahala. Wallâhu a’lam. (Ahmad Mundzir) 

Selasa 4 Desember 2018 19:0 WIB
Cerita Umar bin Khattab Menghadapi Wabah Kolera
Cerita Umar bin Khattab Menghadapi Wabah Kolera
Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab hendak berkunjung ke wilayah Syam –kini Suriah- yang baru saja jatuh ke tangan umat Islam. Namun ketika sang khalifah dan rombongan tiba di daerah Syargh, ada kabar kalau masyarakat Syam tengah menderita penyakit kolera. Mendengar informasi tersebut, Khalifah Umar bin Khattab tidak langsung melanjutkan perjanalannya ke Syam. Begitu juga tidak langsung membatalkannya.

Hal pertama yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab adalah menggelar musyawarah. Iya, mulanya Khalifah Umar bin Khattab meminta kaum Muhajirin angkatan pertama untuk menghadapnya guna menyelesaikan persoalan wabah kolera tersebut. Apakah tetap melanjutkan perjalanan ke Syam meski ada wabah kolera atau membatalkannya dan kembali ke Madinah?

Sebagian kaum Muhajirin berpendapat kalau Khalifah Umar bin Khattab dan rombongan hendaknya meneruskan perjalanan. Alasannya, Khalifah Umar bin Khattab ketika memutuskan untuk Syam tentunya dengan tujuan tertentu. Oleh karenanya, tidak patut kalau seandainya mengalihkan arah perjalanannya.

Sementara sebagian kaum Muhajirin yang lain mengatakan, sebaiknya Khalifah Umar bin Khattab dan rombongan yang terdiri dari para sahabat Rasulullah membatalkan perjalanannya. Mereka melarang Khalifah Umar dan para rombongan untuk memasuki wilayah yang tengah terkena wabah penyakit.

Khalifah Umar bin Khattab juga meminta pendapat dari kaum Anshar. Sama seperti kaum Muhajirin sebelumnya, sebagian kaum Anshar juga berpendapat bahwa sang khalifah harus tetap melanjutkan perjalanan. Sebagian lainnya mengusulkan agar sang khalifah membatalkannya. 

Tidak cukup sampai di situ, Khalifah Umar kemudian menggelar musyawarah untuk ketiga kalinya guna membahas perjalanannya ke wilayah yang terkena wabah penyakit tersebut. Apakah dilanjutkan atau dibatalkan. Pada musyawarah yang ketiga ini, Khalifah Umar mengundang para sesepuh Quraisy yang berhijrah pada saat Fathu Makkah untuk dimintai pendapat. 

“Menurut kami, engkau beserta orang-orang yang bersamamu sebaiknya kembali ke Madinah dan janganlah engkau bawa mereka ke tempat yang terjangkit penyakit itu,” kata sejumlah sesepuh Quraisy, sebagaimana dikutip dari buku Pesona Akhlak Nabi (Ahmad Rofi’ Usmani, 2015).

Segera setelah mendapat masukan dari para sesepuh Quraisy, Khalifah Umar mengumumkan untuk membatalkan agenda kunjungannya ke Syam. Ia dan rombongannya akan kembali ke Madinah. 

Keputusan Khalifah Umar tersebut tidak serta merta diterima begitu saja. Ada seorang yang mempertanyakan keputusannya itu. Dia lah Abu Ubaidah bin Jarrah, seorang panglima kaum Muslim saat itu. 

“Apakah engkau melarikan diri dari ketentuan Allah?” tanya Abu Ubaidah bin Jarrah kepada Khalifah Umar.

Khalifah Umar menjawab, memang dirinya dan rombongannya melarikan diri dari ketentuan Allah namun untuk menuju ketentuan-Nya yang lain. Khalifah Umar lantas memberikan ibarat tentang ketentuan Allah kepada Abu Ubaidah bin Jarrah;  seandainya engkau memiliki sejumlah unta. Kemudian ada dua tempat untuk menggembala unta. Yang satu hijau penuh tumbuh-tumbuhan dan yang satunya kering kerontang. 

“Jika engkau menggembalakan unta-untamu di tempat yang hijau, menurutmu bukankah itu karena ketentuan Allah? Demikian halnya jika engkau menggembalakannya di tempat yang kering kerontang,” tanya balik Khalifah Umar.

Mendengar penjelasan Khalifah Umar, Abu Ubaidah bin Jarrah akhirnya memahami dan membetulkan keputusan Umar untuk kembali ke Madinah. 

Khalifah Umar semakin mantap untuk kembali ke Madinah setelah menerima informasi dari Abdurrahman bin Auf bahwa suatu ketika Rasulullah melarang seseorang untuk memasuki suatu wilayah yang kena wabah penyakit. Begitu pun masyarakat yang tengah terjangkit wabah di suatu wilayah juga dilarang keluar dari wilayahnya tersebut. Tidak lain itu adalah cara untuk ‘mengisolasi’ wabah penyakit agar tidak merembet ke tempat lain. (A Muchlishon Rochmat)
Ahad 2 Desember 2018 9:0 WIB
Kisah Pemabuk Ditinggikan Derajatnya Berkah Shalawat
Kisah Pemabuk Ditinggikan Derajatnya Berkah Shalawat
Membaca shalawat memiliki keutamaan yang tidak diragukan lagi. Banyak kisah menakjubkan yang dialami oleh ahli shalawat. Nabi menjelaskan bahwa bacaan shalawat yang dibacakan oleh umatnya akan dibalas sepuluh kali lipat. Sebagian ulama bahkan menegaskan shalawat dapat menuntun seseorang menempuh jalan suluk. Shalawat sebagaimana ayat suci Al-Qur’an bernilai pahala dengan membacanya, meski tidak mengerti kandungan artinya, berbeda dengan dzikir-dzikir yang lain.

Ada satu kisah menarik berkaitan dengan keutamaan membaca shalawat. Kisah ini disampaikan oleh Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Tanqih al-Qaul. Syekh Nawawi mengutip cerita ini dari sebagian kaum sufi.

Diceritakan bahwa salah seorang tokoh sufi memiliki  tetangga yang pemabuk. Kegemarannya menenggak minuman keras berada dalam taraf di luar kewajaran, melebihi batas, hingga ia tidak bisa membedakan hari, sekarang, besok atau kemarin. Ia hanyut dalam minuman keras. Pemabuk ini berulang kali diberi nasihat oleh sang sufi agar bertobat, namun ia tidak menerimanya, ia masih tetap dengan kebiasaan mabuknya.

Yang menakjubkan adalah saat pemabuk tersebut meninggal dunia, dijumpainya oleh sang sufi dalam sebuah mimpi, ia berada dalam derajat yang luar biasa mulia, ia memakai perhiasan berwarna hijau, lambang kebesaran dan kemegahan di surga.

Sang sufi terheran-heran, ada apa gerangan? Mengapa tetangganya yang seorang pemabuk mendapat kedudukan semulia itu. Sang sufi bertanya:

بِمَا نِلْتَ هَذِهِ الْمَرْتَبَةَ الْعَلِيَّةَ

Artinya: “Dengan sebab apa engkau memperoleh derajat yang mulia ini?”

Kemudian pemabuk menjelaskan ihwal kenikmatan yang dirasakannya:

حَضَرْتُ يَوْمًا مَجْلِسَ الذِّكْرِ فَسَمِعْتُ الْعَالِمَ يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعَ صَوْتَهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ثُمَّ رَفَعَ الْعَالِمُ صَوْتَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعْتُ صَوْتِيْ وَرَفَعَ الْقَوْمُ أَصْوَاتَهُمْ فَغَفَرَ لَنَا جَمِيْعًا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ فَكَانَ نَصِيْبِيْ مِنَ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ  أَنْ جَادَ عَلَيَّ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ.

Artinya: “Aku suatu hari menghadiri majelis dzikir, lalu aku mendengar orang alim berkata, barangsiapa bershalawat kepada Nabi dan mengeraskan suaranya, surga wajib baginya. Lalu orang alim tadi mengeraskan suaranya dengan bershalawat kepada Nabi, aku dan jamaah juga menegeraskan suara seperti yang dilakukan orang alim itu. Kemudian Allah mengampuni kita semuanya pada hari itu, maka jatahku dari ampunan dan kasih sayang-Nya adalah Allah menganugerahkan kepadaku nikmat ini.”

Demikian keagungan dan kehebatan membaca shalawat, hingga dirasakan manfaatnya oleh seorang pemabuk. Kisah tersebut terang saja bukan hendak membenarkan praktik mabuk-mabukan yang memang diharamkan dalam Islam. Cerita itu sekadar merefleksikan keistimewaan shalawat yang bisa mengantarkan seseorang pada samudera kasih sayang dan pengampunan Allah ﷻ. Semoga kita senantiasa diberikan pertolongan oleh Allah untuk istiqamah membaca shalawat dan diakui sebagai umat baginda Nabi ﷺ.

(M. Mubasysyarum Bih)