IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Membeli Produk Luar Negeri Dibanding Produk Lokal

Kamis 6 Desember 2018 17:30 WIB
Share:
Hukum Membeli Produk Luar Negeri Dibanding Produk Lokal
(Foto: @emoe.it
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang kami hormati. Sampai detik ini masih banyak anak-anak negeri ini lebih suka memakai barang-barang impor. Biasanya kalau ada jenis barang sama di mana yang satu adalah produk lokal sedang yang lainnya adalah barang impor, orang-orang kita cenderung memilih untuk membeli barang impor. Padahal secara kualitas tidak jauh beda bahkan mutu barang lokal itu kadang lebih bagus. Pertanyaan yang ingin kami ajukan adalah bagaimana hukumnya lebih memilih barang impor ketimbang memilih untuk membeli barang lokal padahal secara kualitas adalah sama dan harganya tidak jauh berbeda? Atas penjelasanya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Andrew/Jakarta)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Fenomena produk impor dari luar negeri yang terus membanjiri negeri kita adalah hal yang bisa mengandung nilai positif dan negatif. Hadirnya produk-produk tersebut menyebabkan konsumen dalam negeri memiliki banyak pilihan yang beragam.

Aktivitas jual-beli adalah termasuk dalam kategori mu’amalah. Sedang pada dasarnya hukum bermuamalah adalah boleh sepanjang tidak ada dalil yang melarangnya. Tidak ada nash yang secara tegas melarang seorang Muslim untuk membeli barang impor. Karena itu harus dikembalikan kepada hukum asalnya yaitu kebolehan untuk membeli barang impor sepanjang barang yang dibeli tersebut bukan termasuk barang yang diharamkan dalam pandangan Islam.

Namun persoalannya ternyata tidak sesederhana itu karena kecenderungan konsumen dalam negeri untuk lebih memlih produk impor ternayata disadari atau turut serta menghambat kemajuan perekenomian masyarakat dalam negeri itu sendiri.

Sebab, sejatinya apabila konsumen dalam negeri lebih senang membeli barang-barang impor maka yang akan memetik manfaat terbesar adalah produsen barang di luar negeri. Uang kita akan mengalir ke luar tanpa ada manfaat ekonomi ke dalam.

Hal Ini tentu menjadi problem tersendiri karena sikap lebih senang membeli barang impor malah menguntungkan pihak luar (i’anah ‘alal ghair) dan merugikan pihak dalam negeri secara ekonomi.

Dengan demikian kebiasaan untuk membeli barang impor daripada barang buatan dalam negeri padahal ada barang buatan dalam negeri yang sama-sama berkualitas merupakan kebiasaan yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Sebab, kebiasaan tersebut malah menguntung pihak luar dan merugikan bangsa sendiri.

وَمِنْ هَذِهِ الْعَادَاتِ وُلُوعُ النَّاسِ بِالشِّرَاءِ مِنَ الْأَجْنَبِيِّ يُفَضِّلُونَ عَلَى أَبْنَاءِ الْوَطَنِ

Artinya, “Dari salah satu kebiasaan (yang tidak baik) ini adalah orang lebih suka membeli (produk, pent) orang asing ketimbang produk anak negeri,” (Lihat Ali Mahfudl, Al-Ibda’ fi Madharil Ibtida’, [Riyadl, Maktabah Ar-Rusyd: 1421 H/2000 M], cet pertama,  halaman 354).

Berpijak dari sini maka sudah sepatutnya bagi kita untuk mencintai produk buatan dalam negeri. Karena dengan mencintainya, maka sama dengan membantu memperkuat ekonomi sesama anak bangsa. Lain halnya jika kita lebih cenderung memilih produk impor.

Jika penjelasan singkat ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka jawaban atas pertanyaan tersebut adalah boleh membeli barang impor, tetapi kendati pun boleh tetapi sebaiknya dihindari jika memang masih ada produk dalam negeri karena berpotensi merugikan produsen dalam negeri sendiri.

Dengan kata lain, jika ada dua produk yang sama kualitas dan dengan harga yang tak jauh berbeda, di mana yang satu adalah produk impor sedang yang lainnya adalah produk dalam negeri, maka hukum membeli produk impor dalam konteks ini adalah makruh. Alasannya sebagaimana yang telah kami kemukakan di atas.

Untuk meningkatkan daya saing di antara gempuran produk-produk dari luar, para produsen lokal harus selalu membuat langkah-langkah terobosan dan inovatif sehingga membuat masyarakat lebih tertarik untuk melirik produk lokal. Sudah sepatutnya kita semua mendukung gerakan mencintai produk dalam negeri.

Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah bahwa status hukum makruh tersebut mesti dibaca dalam konteks ketika barang yang kita perlukan tidak bisa dipenuhi oleh produk lokal, tetapi harus didatangkan dari luar.

Demikian jawaban singkat yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)
Share:
Selasa 4 Desember 2018 21:0 WIB
Hukum Nazar Sedekah kepada Non-Muslim
Hukum Nazar Sedekah kepada Non-Muslim
(Foto: @steemit.com)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang kami hormati, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Dalam kesempatan ini kami akan menanyakan mengenai permasalahan yang terkait dengan nazar kepada non-Muslim. Apakah boleh kami bernazar untuk memberikan sedekah kepada tetangga non-Muslim kami yang baik ketika apa yang kami cita-citakan telah terwujud. Mohon penjelasanya. Kami ucapkan terima kasih atas tanggapannya. Kurang lebihnya mohon maaf. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (AA/Bekasi)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Dalam masyarakat kita istilah nadzar bukanlah sesuatu yang asing. Acapkali dalam kehidupan kita sehari-sehari kita menjumpai orang yang menjalankan nazarnya. Para ulama mendefinisikan arti kata nazar dengan setidaknya dua pengertian. Pertama pengertian secara kebahasaan yaitu janji untuk melakukan kebajikan atau sebaliknya. 

Sedang pengertian kedua adalah pengertian dalam ruang lingkup syara’. Dalam pengertian kedua ini nazar didefiniskan sebagai komitmen yang lahir dalam diri seseorang untuk suatu perbuatan ibadah atau mendekatkan diri kepada Allah yang bukan masuk kategori fardhu ain.

Kedua jenis pengertian ini setidaknya dapat dilihat dari keterangan yang dikemukakan dalam Kitab As-Sirajul Wahhaj berikut ini:

كِتَابُ النَّذْرِ هُوَ لُغَةً اَلْوَعْدُ بِخَيْرٍ أَوْ شَرٍّ وَشَرْعًا اِلْتِزَامُ قُرْبَةٍ لَمْ تَتَعَيَّنْ

Artinya, “Kitab tentang nazar, secara bahasa nazar adalah janji untuk melakukan perbuatan bajik atau buruk. Sedang menurut pengertian syara’ adalah komitmen diri untuk melakukan suatu perbuatan yang mengandung nilai qurbah (ibadah/mendekatkan diri kepada Allah) yang bukan fardhu ‘ain,” (Lihat Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawi, As-Sirajul Wahhaj ‘ala Matnil Minhaj, [Beirut, Darul Fikr: tt], halaman 583).

Lantas bagaimana jika ada seseorang yang bernazar untuk bersedekah kepada non-Muslim yang kurang mampu ketika apa yang diinginkan terwujud. Misalnya ada seseorang yang mengalami masalah dalam kehidupan rumah tangganya, kemudian ia bernazar bersedekah kepada tetangga non-Muslim yang tidak mampu. Apakah dalam kasus ini diperbolehkan?

Dalam kasus ini kami akan mengetengahkan pandangan Ibnu Hajar Al-Haitsami ketika ia ditanya mengenai status hukum bernazar untuk dalam bentuk sedekah kepada non-Muslim yang tidak mampu. Menurutnya, hal tersebut dibolehkan, bahkan kebolehan tersebut bukan hanya kepada non-Muslim yang tidak mempu tetapi boleh juga yang mampu.

وَسُئِلَ عَنْ حُكْمِ النَّذْرِ لِلْكَافِرِ فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ يَجُوز النَّذْرُ لِلْكَافِرِ لِأَنَّ الصَّدَقَةَ عَلَيْهِ قُرْبَةٌ كما يَجُوزُ لِلْغَنِيِّ لِذَلِكَ

Artinya, “Ibnu Hajar Al-Haitsami pernah ditanya tentang hukum nazar (dalam bentuk sedekah, pent) kepada non-Muslim. Kemudian beliau menjawab nazar (dalam bentuk sedekah) kepada orang kafir (yang tidak mampu) adalah boleh karena sedekah kepadanya itu adalah salah satu bentuk dari perbuatan yang mengandung nilai ibadah (qurbah) sebagaimana juga boleh diberikan kepada non-Muslim yang mampu,” (Lihat Ibnu Hajar Al-Haitsami, Al-Fatawi Al-Fiqhiyyah Al-Kubra, [Beirut, Darul Fikr: tt], juz IV, halaman 276).

Dari apa yang dikemukakan Ibnu Hajar Al-Haitsami ini, maka jawaban atas pertanyaan mengenai boleh apa tidaknya bernazar dalam bentuk sedekah kepada non-Muslim adalah boleh. Pasalnya, sedekah itu merupakan salah satu perbuatan yang mengandung nilai qurbah atau ibadah sebagaimana definisi nazar menurut syara` yang telah dikemukakan di atas.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)
Rabu 28 November 2018 12:45 WIB
Hukum Makan dan Minum sambil Berdiri
Hukum Makan dan Minum sambil Berdiri
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, beberapa teman saya menegur salah seorang sahabat saya  karena minum sambil berdiri di depan gallon air. Pasalnya, makan dan minum dalam posisi berdiri dilarang oleh agama. Mohon keterangannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Hadi/Medan)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Makan dan minum dalam posisi berdiri ini kerap menjadi perbincangan kecil beberapa orang di tengah masyarakat. Pada kesempatan ini, kami mencoba memberikan informasi keagamaan perihal ini.

Praktik makan dan minum dalam posisi berdiri disinggung dalam sejumlah hadits Nabi Muhammad SAW. Sebagian hadits nabi melarang umat Islam melakukan praktik ini. Larangan ini tampak jelas dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan Muslim berikut ini:

وعن أبي سعيد أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم نهى عن الشرب قائما رواه أحمد ومسلم

Artinya, “Dari Abu Said bahwa Nabi SAW melarang minum sambil berdiri,” (HR Ahmad dan Muslim).

Pada kesempatan lain, Nabi SAW juga pernah meminum air zam-zam dalam posisi berdiri. Riwayat Imam Ahmad dan Bukhari berikut ini mengisahkan Sayyidina Ali RA yang minum dalam posisi berdiri:

وعن الإمام علي رضي الله عنه أنه في رحبة الكوفة شرب وهو قائم قال إن ناسا يكرهون الشرب قائما وإن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم صنع مثل ما صنعت رواه أحمد والبخاري

Artinya, “Dari Imam Ali RA bahwa ia di satu lapangan di Kota Kufah meminum dalam posisi berdiri. Ia berkata, ‘Banyak orang memakruhkan minum dalam posisi berdiri. Padahal Rasulullah SAW melakukan apa yang kulakukan,’” (HR Ahmad dan Bukhari).

Bagaimana menyikapi dua dalil yang bertentangan perihal praktik makan dan minum smabil berdiri? Imam An-Nawawi mencari titik temu antara kedua hadits tersebut. Metode ini digunakan agar semangat kedua hadits tersebut tetap terakomodasi dalam putusan hukum sebagai berikut ini:

ولا يكره الشرب قائما وحملوا النهي الوارد على حالة السير قلت هذا الذي قاله من تأويل النهي على حالة السير قد قاله ابن قتيبة والمتولي وقد تأوله آخرون بخلاف هذا والمختار أن الشرب قائما بلا عذر خلاف الأولى للأحاديث الصريحة بالنهي عنه في صحيح مسلم وأما الحديثان الصحيحان عن علي وابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم شرب قائما فمحمولان على بيان الجواز جمعا بين الأحاديث

Artinya, “Minum sambil berdiri tidak makruh. Ulama memahami larangan yang tersebut itu dalam keadaan perjalanan. Menurut saya, pendapat yang dikatakan ini berdasar pada takwil larangan dalam keadaan perjalanan sebagaimana dipegang oleh Ibnu Qutaibah dan Al-Mutawalli. Ulama lain menakwil berbeda. Pendapat yang kami pilih, minum sambil berdiri tanpa uzur menyalahi yang utama berdasarkan larangan pada hadits riwayat Imam Muslim. ” Lihat Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin, [Beirut, Al-Maktab Al-Islami: 1405 H], juz VII, halaman 340).

Mayoritas sendiri dari hadits yang ada perihal makan dan minum sambil berdiri menganjurkan mereka yang tidak memiliki uzur apa pun untuk makan dan minum sambil duduk. Sedangkan makan dan minum sambil berdiri menyalahi keutamaan.

لا خلاف بين الفقهاء أنه يندب الْجُلُوسُ لِلأكْل وَالشُّرْبِ وَأَنَّ الشُّرْبَ قَائِمًا بِلاَ عُذْرٍ خِلاَفُ الأَوْلَى عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ

Artinya, “Tiada khilaf di kalangan ahli fiqih bahwa seseorang dianjurkan makan dan minum sambil duduk. Tetapi minum sambil berdiri tanpa uzur menyalahi yang afdhal menurut mayoritas ulama,” (Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz XV, halaman 270-271).

Pada prinsipnya, praktik makan dan minum sambil berdiri boleh dilakukan. Hanya saja makan dan minum sambil duduk lebih utama.

ويجوز الشرب قائماً، والأفضل القعود

Artinya, “Minum sambil berdiri boleh. Tetapi afdhalnya minum dilakukan sambil duduk,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz III, halaman 536).

Kami menyarankan orang-orang yang tidak memiliki uzur atau hajat tertentu untuk makan dan minum sambil duduk untuk mengejar keutamaan.

Bagi mereka yang memiliki uzur, hajat tertentu, atau lupa, apa boleh buat makan dan minum dalam kondisi berdiri sebagaimana Rasulullah SAW melakukannya yang disaksikan oleh sejumlah sahabat. Tetapi hal ini sebaiknya tidak menjadi kebiasaan.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Senin 26 November 2018 21:45 WIB
Hukum Meniup dan Mengipas Makanan atau Minuman Panas
Hukum Meniup dan Mengipas Makanan atau Minuman Panas
(Foto: @pinterest)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, bapak pernah menegur adik saya yang mendinginkan mie rebus di piringnya dengan kipas bambu. Kata bapak kami, meniup atau mendinginkan makanan panas dilarang dalam agama Islam. Saya minta keterangan perihal ini. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nandar/Bandung)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Larangan meniup atau mengipas untuk mendinginkan makanan atau minuman panas dapat ditemukan dalam hadits riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi berikut ini.

وعن ابن عباس رضي اللّه عنهما أن النبي نهى أن يتنفس في الإناء أو ينفخ فيه

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi Muhammad SAW melarang pengembusan nafas dan peniupan (makanan atau minuman) pada bejana,” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Dari hadits ini para ulama terbelah menjadi beberapa pendapat. Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum meniup makanan atau minuman adalah makruh tanzih karena ini berkaitan dengan adab dan kebersihan.

Adapun ulama lain memberikan tafsil. Menurut sebagian ulama ini, larangan makruh ini berlaku dengan asumsi bila seseorang itu mengikuti jamuan makan bersama-sama dengan orang lain di satu wadah besar atau satu wadah bersama, atau satu wadah yang dipakai bersama orang lain. Pasalnya, orang lain kemungkinan akan merasa jijik atau menduga masuknya kotoran atau penyakit di mulutnya ke dalam wadah bersama itu.

Ketika seseorang makan sendiri atau makan bersama keluarga atau muridnya, maka larangan meniup makanan dan minuman tidak berlaku karena orang yang makan bersama dia tidak merasa jijik dengan tindakan peniupan itu.

قوله (نهى عن النفخ في الطعام) لأنه يؤذن بالعجلة وشدة الشره وقلة الصبر قال المهلب : ومحل ذلك إذا أكل مع غيره فإن أكل وحده أو مع من لا يتقذر منه شيئا كزوجته وولده وخادمه وتلميذه فلا بأس

Artinya, “Kata (Nabi Muhammad SAW melarang peniupan makanan) karena itu mengisyaratkan ketergesa-gesaan, kerakusan dan kurang sabar. Al-Mahlab mengatakan bahwa letak larangan itu terdapat ketika seseorang makan bersama orang lain pada satu wajan. Jika seseorang makan sendiri atau bersama orang yang tidak menganggap ‘kotor’ apa pun yang keluar dari dirinya, seperti istri, anak, bujang, dan muridnya, maka tidak masalah,” (Lihat Al-Munawi, Faidhul Qadir, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1994 M/1415 H], juz VI, halaman 420).

Sebagian ulama Mazhab Maliki dan Hanbali menyatakan bahwa peniupan makanan atau minuman tidak makruh untuk mendinginkan hidangan tersebut karena memakan makanan atau minuman panas dapat menghilangkan berkah.

وَفِي قَوْلٍ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ : إِنَّهُ لاَ يُكْرَهُ النَّفْخُ فِي الطَّعَامِ لِمَنْ كَانَ وَحْدَهُ. وَقَال الآْمِدِيُّ - مِنَ الْحَنَابِلَةِ - : إِنَّهُ لاَ يُكْرَهُ النَّفْخُ فِي الطَّعَامِ إِذَا كَانَ حَارًّا ، قَال الْمِرْدَاوِيُّ : وَهُوَ الصَّوَابُ إِنْ كَانَ ثَمَّ حَاجَةٌ إِلَى الأَْكْل حِينَئِذٍ

Artinya, “Satu pendapat di dalam Mazhab Maliki menyatakan bahwa peniupan atas makanan tidak dimakruh bagi orang yang makan sendiri. Al-Amidi dari Mazhab Hanbali mengatakan bahwa peniupan makanan tidak makruh bila makanan itu panas. Al-Mirdawi mengatakan bahwa, ini yang benar, (tidak makruh) jika ada keperluan untuk mengonsumsinya saat itu,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, Al-Mausuatul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Shafwah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz XXXXI, halaman 23).

Mayoritas ulama menyarankan orang yang memiliki punya waktu untuk menunggu dengan sabar makanan dan minumannya dingin seiring waktu. Sedangkan mereka yang berhajat untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang masih panas dapat mempercepat pendinginan makanan tersebut dengan bantuan kipas bambu atau alat bantu lain.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)