IMG-LOGO
Trending Now:
Thaharah

Hukum Memegang Mushaf Al-Qur'an oleh Anak-anak

Kamis 6 Desember 2018 21:0 WIB
Share:
Hukum Memegang Mushaf Al-Qur'an oleh Anak-anak
(Foto: @thenational.ae)
Al-Quran merupakan rujukan utama umat Islam. Setiap anak perlu dikenalkan dengan Al-Quran sejak usia dini. Mulai belajar huruf-huruf hijaiyyah, harakat, menyambung dan seterusnya hingga tingkatan mereka bisa membaca Al-Quran atau menghafalkannya dengan fasih.

Mengajarkan Al-Quran kepada anak merupakan kewajiban orang tua masing-masing. Apabila orang tua tidak mampu, mereka bisa meminta tolong kepada guru-guru yang kredibel dan kompeten di bidangnya. Meski demikian, kewajiban dasar mengajar tetap tetap dipikul orang tua masing-masing. Guru hanya sebagai pembantu.

Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:

مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَلْيُحْسِنِ اسْمَهُ وَأَدَبَهُ، فَإِذَا بَلَغَ فَلْيُزَوِّجْهُ فَإِنْ بَلَغَ وَلَمْ يُزَوِّجْهُ فَأَصَابَ إِثْمًا، فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى أَبِيهِ

Artinya, “Barang siapa yang dikaruniai anak, maka berilah nama yang bagus. Perbaiki pula sikapnya. Jika ia sudah mencapai umur baligh (dewasa), nikahkan. Apabila sudah baligh tidak segera dinikahkan lalu mereka terjerumus melakukan dosa, maka dosa ditanggung ayahnya,” (Lihat Al-Baihaqi, Syu’abul Îmân, [Riyadh, Maktabah Ar-Rusyd: 2003], juz XI, halaman 138).

Mengajarkan Al-Quran kepada anak yang masih kecil namun sudah cukup tahu (tamyiz) sekira anak sudah mulai sekitar usia 4 tahun atau usia belajar tidak bisa lepas dengan sentuhan mereka pada kitab suci Al-Quran. Bagaimana ulama memandang hukum anak-anak yang menyentuh Al-Quran?

Bagi anak-anak yang sudah mulai pada fase usia belajar (tamyiz), memegang Al-Quran dengan tanpa mempunyai wudhu menurut pendapat pertama yaitu yang lebih shahih, hukumnya diperbolehkan asalkan mereka menyentuh atau membawa Al-Quran tersebut dengan tujuan untuk belajar, bukan semata-mata mendaras Al-Quran sebagai sarana ibadah sebagaimana orang dewasa yang sedang mengaji pada umumnya. 

Kebolehan menyentuh dengan hadats tersebut hanya berlaku bagi anak-anak yang cukup umur. Hal ini disebabkan susahnya menjaga mereka untuk melanggengkan wudlu secara total, sedangkan mengajari mereka pada naskah-naskah suci Al-Quran sangat penting untuk dipersiapkan. Memaksa mereka untuk selalu suci dari hadats sangat memberatkan. 

Adapun anak yang masih terlalu kecil, belum bisa mengenali huruf, belum fase belajar Al-Quran, sekira umur satu tahun misalnya, mereka baru hanya murni menyentuh saja, mereka belum bisa belajar, hukumnya tidak boleh.

Begitu pula bagi anak-anak yang sudah baligh. Walaupun baru kelas 4 SD, umurnya 10 tahun, namun sudah baligh misalnya, dia sudah tidak boleh lagi menyentuh Al-Quran dengan tanpa wudlu. Jika kedapatan demikian, bagi wali, atau orang dewasa yang melihat harus melarang.

Jadi yang diperbolehkan menyentuh adalah anak tamyiz namun belum baligh. Sedangkan anak yang masih terlalu dini usianya atau bahkan sudah baligh tetap dilarang menyentuh dengan tanpa wudhu meskipun dengan tujuan belajar.

Bagi guru yang mengajar Al-Quran berlaku hukum sebagaimana orang dewasa pada umumnya yaitu harus suci dari hadas kecil dan besar.

Pendapat kedua menyatakan haram menyentuh secara mutlak.

الْأَصَحُّ (أَنَّ الصَّبِيَّ الْمُحْدِثَ لَا يُمْنَعُ) مِنْ مَسِّ الْمُصْحَفِ وَاللَّوْحِ وَحَمْلِهِمَا لِحَاجَةِ تَعَلُّمِهِ مِنْهُمَا وَمَشَقَّةِ اسْتِمْرَارِهِ عَلَى الطَّهَارَةِ. وَالثَّانِي عَلَى الْوَلِيِّ وَالْمُعَلِّمِ مَنْعُهُ مِنْ ذَلِكَ. قوله: (أَنَّ الصَّبِيَّ) أَيْ الْمُمَيِّزَ وَإِلَّا فَيَحْرُمُ تَمْكِينُهُ مِنْهُ لِفَقْدِ تَعَلُّمِهِ وَخَرَجَ بِالصَّبِيِّ الْبَالِغُ وَإِنْ شَقَّ عَلَيْهِ دَوَامُ الطَّهَارَةِ كَمُؤَدِّبِ الْأَطْفَالِ، وَمَا نُقِلَ عَنْ الشَّيْخِ ابْنِ حَجَرٍ مِنْ جَوَازِ الْمَسِّ وَالْحَمْلِ لَهُ مَعَ التَّيَمُّمِ غَيْرُ مُعْتَمَدٍ عِنْدَ شَيْخِنَا

Artinya, “Pendapat yang lebih shahîh, sesungguhnya anak kecil yang mempunyai hadats tidak dilarang menyentuh mushaf dan kayu (hiasan dinding yang ada tulisan Al-Qur’an) serta membawanya karena merupakan kebutuhan dia untuk mempelajarinya dan sulitnya menjaga mereka untuk selalu dalam keadaan suci. Pendapat kedua, wali atau pendidik harus melarang jika melihat anak menyentuh Al-Quran atau membawanya tanpa keadaan suci,” (Lihat Qulyubi dan Umairah, Hâsyiyah Qulyubi wa Umairah, [Beirut, Dârul Fikr: 1995), juz I, halaman 41-42).

Hal senada juga dikatakan Imam Nawawi Al-Jawi dalam Kitab Nihayatuz Zain dan Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati dalam tulisannya I’anatuth Thâlibîn.

Masih dalam kitab yang sama dijelaskan, yang dimaksud dengan anak kecil adalah anak kecil yang sudah tamyîz (walau ia sudah hafal Al-Qur’an). Jika anak tersebut belum tamyiz, hukum membiarkan mereka menyentuh mushaf adalah haram sebab mereka bisa belajar sehingga belum membutuhkan menyentuh mushaf tersebut.

Orang dewasa yang menjadi pendidik bidang kajian Al-Quran, meski ia mengajar seharian penuh dengan tanpa jeda, ia tetap harus konsisten menjaga dirinya dari hadats. Apabila batal, harus wudhu lagi atau penghilang hadats sejenisnya. Wallâhu a’lam. (Ahmad Mundzir)
Share:
Selasa 27 November 2018 8:30 WIB
Hukum Nifas Perempuan setelah Operasi Sesar
Hukum Nifas Perempuan setelah Operasi Sesar
(Foto: @pinterest)
Perkembangan teknologi kedokteran ikut memudahkan teknik persalinan bagi ibu yang hendak melahirkan, salah satunya dengan operasi sesar. Operasi sesar adalah proses persalinan melalui pembedahan dengan melakukan irisan di perut dan rahim perempuan untuk mengeluarkan bayi.

Setelah melahirkan, ibu biasanya mengalami nifas, yakni darah yang keluar dari rahim usai melahirkan. Nifas terjadi karena plasenta keluar dan organ dalam rahim mengalami masa pemulihan untuk bisa kembali ke bentuk semula. Rahim bersifat elastis, saat mengandung, rahim bisa menampung bayi seberat 3 hingga 4 kg. 

Setelah melahirkan, rahim akan mengecil menjadi sekitar dua kepalan tangan laki-laki dewasa. Sekitar dua minggu kemudian, rahim akan  mengecil hingga satu kepalan tangan, kemudian menjadi seukuran telur ayam hingga akhirnya rata dan tak dapat diraba lagi melalui perut. Bila tidak terjadi masalah, proses pengecilan rahim terjadi selama 40 hari.

Lalu apakah perempuan yang melakukan operasi sesar juga menjalani masa nifas?

Operasi sesar berfungsi sebagai pengganti proses persalinan normal yang melalui farji. Meskipun prosesnya berbeda, namun tujuannya tetap sama, yakni untuk mengeluarkan bayi yang ada di kandungan. Oleh karena itu, nifas bagi ibu yang bersalin sesar tetap berlaku sebagaimana melahirkan normal. Hal ini berdasarkan kaidah fiqih

حُكْمُ البَدَلِ حُكْمُ المُبْدَلْ مِنْهُ

Artinya, “Hukum pengganti sama dengan hukum yang digantikan.”

Meskipun sebagian darah sudah keluar saat proses sesar, ibu yang melakukan persalinan sesar tetap akan mengalami nifas. Namun proses kesembuhan organ-organ bagian dalamnya akan sedikit berbeda dengan ibu yang bersalin normal. Pasalnya, saat menjalani sesar lapisan-lapisan perut dibuka, mulai dari otot perut, dinding perut, hingga dinding rahim.

Secara umum tidak ada perbedaan masa nifas antara ibu yang bersalin normal dan sesar. Ibu yang bersalin sesar bahkan memiliki kemungkinan menjalani masa nifas yang lebih sebentar karena sebagian darah sudah dikeluarkan saat pembedahan rahim. 

Terdapat beberapa pendapat mengenai batas maksimal nifas. Adapun Imam Atha, As-Sya’bi, dan Aisyah berpendapat bahwa batas maksimal nifas 60 hari. Namun, mayoritas ulama mengatakan 40 hari. Ibnu Rusyd dalam Kitab Bidayatul Mujtahid menyatakan:

وأما أكثره فقال مالك مرة: هو ستون يوما، ثم رجع عن ذلك، فقال: يسأل عنذلك النساء، وأصحابه ثابتون على القول الأول، وبه قال الشافعي. وأكثر أهل العلم من الصحابة على أن أكثره أربعون يوما، وبه قال أبو حنيفة.

Artinya, “Batas maksimal nifas, Imam Malik suatu kali pernah mengatakan 60 hari, namun ia meralat perkataannya dan mengatakan “Tentang hal itu ditanyakan kembali pada para wanita.” Mayoritas pengikutnya mengikuti perkataan yang pertama, begitu pula yang dikatakan Imam As-Syafi‘i. Mayoritas ulama dari kalangan sahabat berpendapat maksimalnya 40 hari, begitu pula yang dikatakan Imam Abu Hanifah,” (Lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, [Kairo, Darussalam: 2018 M), halaman 69).

Ulama yang menyatakan masa nifas 40 hari mendasari pendapatnya pada teks-teks hadits, salah satunya hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: كَانَتِ النُّفَسَاءُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَجْلِسُ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، وَكُنَّا نَطْلِي وُجُوهَنَا بِالْوَرْسِ مِنَ الْكَلَفِ

Artinya, “Dari Ummu Salamah ia berkata, ‘Pada masa Rasulullah SAW perempuan-perempuan yang nifas duduk berdiam diri (menunggu masa nifas) selama empat puluh hari, dan kami membersihkan wajah kami dari kotoran dengan wars (semacam tumbuhan yang wangi),’” (HR Ibnu Majah).

Ibnul Jarud dalam kitabnya, Al-Muntaqa minas Sunnanil Musnadah meriwayatkan sebagai berikut:

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ، أَنَّهُ كَانَ لَا يَقْرَبُ النِّسَاءَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا يَعْنِي فِي النِّفَاسِ

Artinya, “Dari Utsman bin Abil ‘Ash, ‘Sesungguhnya ia tidak mendekati (menjimak) perempuan (istrinya) selama 40 hari ketika masa nifas.’”

Dalam ilmu kesehatan, darah yang keluar dari rahim terbagi atas beberapa fase, yaitu:

Fase Lochia rubra (Cruenta), yakni tahap keluarnya darah berwarna merah segar, terjadi selama dua hari pascapersalinan.

Fase lochia sanguinolenta, yakni tahap keluarnya darah berwarna kecokelatan dan kekuningan, biasanya terjadi pada hari ketiga sampai ketujuh pascapersalinan.

Fase lochia serosa, tahap keluarnya darah berwarna kuning dan cairan ini tidak berdarah lagi pada hari ketujuh sampai keempat belas pascapersalinan.

Fase lochi alba, cairan putih kekuningan yang keluar setelah dua minggu.

Lochia purulenta, terjadi karena infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk, (Lihat Suherni dkk, Perawatan Masa Nifas [Yogyakarta, Fitramaya: 2009 M), halaman 78-79).

Darah yang keluar pada empat fase pertama merupakan darah nifas, normalnya ini terjadi selama 6 hingga 8 minggu (42 hingga 56 hari). Jika darah merah dan pekat keluar lagi setelah fase lochi alba selesai, maka darah itu termasuk darah infeksi atau disebut lochia purulenta. Faselochia puruleta inilah yang merupakan masa istihadah.

Meskipun kebanyakan perempuan mengalami nifas selama 40 hari, bukan berarti ini menjadi satu-satunya rujukan, karena siklus nifas semua perempuan tidak selalu sama, kadang kala ada yang mengalami lebih sebentar, ada pula yang mengalami lebih dari 40 hari. Bahkan Imam Malik menyatakan bahwa perihal itu ditanyakan lagi kepada perempuan. Namun apabila selama delapan minggu sang ibu masih mengeluarkan darah, hendaklah ia mengonsultasikannya kepada dokter, karena kemungkinan ia mengalami infeksi. Wallahu a’lam. (Fera Rahmatun Nazilah)
Sabtu 24 November 2018 18:30 WIB
Apakah Darah Pasca-Kuret Perempuan Hamil Termasuk Nifas?
Apakah Darah Pasca-Kuret Perempuan Hamil Termasuk Nifas?
Ilustrasi (WordPress.com)
Angka kematian ibu dan anak adalah salah satu fokus pelayanan kesehatan negeri ini. Dalam beberapa tahun terakhir, angka ini mengalami penurunan, sebagaimana dilansir dalam data laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari Kementerian Kesehatan RI.

Kehamilan penting diperhatikan terkait keselamatan nyawa ibu dan juga bayi yang dikandung. Salah satu insiden yang bisa mengancam nyawa ibu adalah perdarahan saat kehamilan. Hal tersebut bisa membahayakan terlebih jika perdarahan tersebut masif, karena bisa memicu gangguan sistemik pada tubuh yang membahayakan ibu dan janin.

Perdarahan ini bisa disebabkan oleh perkembangan janin yang abnormal dalam rahim, atau plasenta (ari-ari) yang tidak menempel dengan baik dengan dinding rahim. Salah satu tindakan yang dilakukan untuk mengeluarkan sisa jaringan dari rahim adalah kuretase, agar perdarahan bisa dihentikan dan mencegah risiko lebih lanjut. 

Tindakan yang umum disebut kuret ini, diindikasikan semisal pada jaringan yang tersisa akibat abortus (keluarnya jaringan embrio/janin secara spontan sebelum mampu bertahan hidup) atau hamil anggur (mola hidatidosa). Keluhan yang dialami pasien biasanya adalah perdarahan yang banyak dari jalan lahir.

Setelah dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari organ kandungan, perdarahan ini mesti segera ditangani, sebelum memicu gangguan sistemik yang lebih lanjut pada tubuh (syok). Begitu pula sisa jaringan dalam rahim yang tak segera dievakuasi, juga bisa memicu infeksi rahim. Keduanya bisa meningkatkan risiko kematian ibu.

Secara teknis kuretase dibagi menjadi dua metode yaitu kuretase hisap dan kuretase tajam. Metode ini disesuaikan dengan kondisi ibu, jaringan yang akan diambil, dan ketersediaan fasilitas kesehatan. Biasanya, setelah dilakukan kuret, ada darah yang masih sedikit keluar akibat tindakan medis tersebut. Bagaimana status darah perempuan yang usai dikuret itu?

Kuret adalah tindakan mengeluarkan jaringan dari dalam rahim baik dengan alat hisap atau sejenis alat “pengerok” jaringan di dinding rahim, setelah dilakukan pembiusan dan pelebaran serviks (leher rahim) agar memudahkan masuknya alat kuret. 

Dalam beberapa literatur, disebutkan kuret mesti dilakukan pada kehamilan muda yang kurang dari trimester pertama kehamilan. Karena usianya masih pada tahap awal kehamilan jaringan yang dikuret ini biasanya berupa jaringan embrionik yang belum mewujud manusia. Mudahnya, mirip gumpalan daging atau darah.
Apakah tindakan kuret yang “hasilnya” belum mewujud manusia ini dihukumi sebagaimana wiladah, sehingga darah pasca-kuret dapat dihukumi nifas? Berikut keterangan fiqih yang bisa Anda rujuk:

يَثْبُتُ لِلْعَلَقَةِ مِنْ أَحْكَامِ الْوِلَادَةِ وُجُوبُ الْغُسْلِ وَفِطْرُ الصَّائِمَةِ بِهَا وَتَسْمِيَةُ الدَّمِ عَقِبَهَا نِفَاسًا وَيَثْبُتُ لِلْمُضْغَةِ ذَلِكَ

“‘Alaqah (gumpalan darah yang keluar dari jalan lahir) ditetapkan memiliki hukum sebagaimana melahirkan, sehingga diwajibkan mandi, boleh tidak berpuasa, dan darah yang keluar setelah itu dianggap sebagai nifas. Dan demikian juga mudigah (gumpalan jaringan yang padat).” (Syekh Sulaiman al-Ujaili, Hasyiyatul Jumal, Beirut-Darul Fikr, juz 1, hal. 234)

Dengan demikian, darah yang keluar pascatindakan kuret termasuk darah nifas juga. Dalam kitab-kitab fiqih darah nifas paling sedikitnya adalah sebercak saja, dan lumrahnya sekitar 30-40 hari. Darah yang keluar pasca-kuret biasanya terjadi hanya beberapa jam atau sekian hari saja. Karena itu, jika darah sudah berhenti, maka Anda bisa segera bersuci, dan kembali melakukan ibadah sebagaimana biasa.

Meski begitu, kapan seseorang pasca-kuret diperkenankan untuk hamil lagi? Mengenai hal ini mesti dikonsultasikan ke tenaga medis terkait, mengingat ada ketentuan dan waktu penyembuhan sebelum perempuan yang dikuret diperkenankan hamil lagi. Tidak semata darah berhenti lantas segera merencanakan kehamilan kembali.

Ulama mungkin berbeda pandangan tentang darah pasca-kuret, mengingat pada masa itu teknologi deteksi kehamilan belum seperti sekarang. Saat ini, dengan alat USG misalnya, adanya pertumbuhan jaringan di rahim bisa segera dideteksi, baik yang normal maupun abnormal. Semoga kita senantiasa sehat. Wallahu a’lam.

(Muhammad Iqbal Syauqi)

Senin 19 November 2018 16:30 WIB
Memegang Al-Qur’an Terjemahan tanpa Wudhu, Bolehkah?
Memegang Al-Qur’an Terjemahan tanpa Wudhu, Bolehkah?
Ilustrasi (al-sharq.com)
Membaca Al-Qur’an terjemahan saat ini sudah banyak dilakukan oleh siapa pun, khususnya orang-orang yang ingin mengetahui kandungan arti kata yang terlafalkan dalam Al-Qur’an. Bagi orang yang tak memiliki pengetahuan bahasa Arab yang memadai, Al-Qur’an terjemahan pun menjadi solusi paling mudah.

Lantas muncul pertanyaan, apakah Al-Qur’an terjemahan statusnya sama dengan Al-Qur’an tanpa terjemah, sehingga dalam memegang dan membawanya wajib dalam keadaan suci dari hadats? Atau hukumnya berbeda?

Kaidah yang harus diketahui sebelum menjawab pertanyaan ini adalah bahwa Al-Qur’an menjadi hilang kewajiban memegang dalam keadaan suci ketika di dalamnya lebih dominan penafsiran Al-Qur’an dari pada teks asli Al-Qur’an dalam segi hurufnya. Dalam artian, jika jumlah huruf Al-Qur’an dikalkulasikan (menurut sebagian pendapat, jumlah huruf Al-Qur’an sebanyak 162.671) masih tidak sebanding dengan jumlah huruf yang ada pada tafsir Al-Qur’an. Sehingga diperbolehkan untuk menyentuhnya meski tanpa wudhu, sebab hal tersebut tidak lagi dinamakan mushaf Al-Qur’an tapi beralih menjadi kitab Tafsir. Hal ini seperti yang sering kita lihat dalam kitab-kitab tafsir yang berjilid-jilid seperti tafsir Fakhrurrazi, Al-Qurtuby, Ibnu katsir, dll. 

Sedangkan untuk kitab tafsir Jalalain menurut sebagian pendapat jumlah hurufnya lebih banyak dua huruf jika dibandingkan dengan huruf Al-Qur’an sehingga boleh menyentuhnya tanpa wudhu.meski begitu para ulama tetap menganjurkan orrang yang membawa kitab tafsir Jalalain agar tetap dalam keadaan suci, sebab dikhawatirkan adanya kesalahan cetakan atau penulisan dalam kitabnya hingga akhirnya mengurangi jumlah huruf tafsiran yang ada pada kitab tafsir Jalalain.

Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah terjemahan dihukumi sebagai tafsir?

Dalam Manahil al-Irfan dijelaskan bahwa terjemah terbagi menjadi dua. Pertama, terjemah harfiyyah, yakni penerjemahan Al-Qur’an per kata dengan memberikan pada masing-masing kata dalam Al-Qur’an dengan makna yang sesuai (dalam hal ini menggunakan bahasa Indonesia) tanpa adanya loncatan penerjemahan untuk mewujudkan runtutan arti yang sesuai. Kedua, terjemah tafsiriyyah, yaitu penerjemahan Al-Qur’an yang lebih dominan dalam hal mewujudkan rangkaian makna yang sesuai dan mudah dipahami, sehingga penerjemahan dengan model seperti ini sering terjadi loncatan kata yang terdapat dalam Al-Qur’an (Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqani, Manahil al-Irfan, juz 2, hal. 80).

Terjemahan yang biasanya kita temui dan digunakan oleh khalayak umum termasuk dalam kategori terjemah Tafsiriyyah, sebab jika diteliti secara mendalam banyak sekali ditemukan lompatan-lompatan makna yang tidak sesuai dengan runtutan kata yang terdapat dalam Al-Qur’an, hal ini dikarenakan tujuan penulisan terjemah tersebut lebih ke arah memahamkan pembaca pada maksud dalam kata Al-Qur’an secara umum, bukan mengartikan per-kosa kata dalam Al-Qur’an.

Segala jenis terjemah, baik terjemah tafsiriyyah ataupun harfiyyah tidak berstatus sebagai tafsir yang dapat merubah Al-Qur’an menjadi dapat dipegang meski dalam keadaan hadats. Sebab arti tafsir sendiri adalah:

وان التفسير: هو التوضيح لكلام الله تعالى سواء كانت بلغة الأصل {اللغة العربية} أم بغيرها، بطريق اجمالي أو تفسيري، متناولا كافة المعانى والمقاصد أو مقتصرا على بعضها دون بعض

“Tafsir adalah memperjelas kalam Allah, baik dengan menggunakan bahasa asli (bahasa Arab) atau dengan Bahasa yang lain. Baik penjelasan secara global ataupun dengan cara penafsiran . mencakup terhadap keseluruhan makna dan maksud dalam Al-Qur’an ataupun meringkas dengan sebagian makna dan tujuan tanpa menjelaskan makna dan tujuan yang lain” (Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqani, Manahil al-Irfan, Juz 2, Hal. 80)

Terjemahan Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang memperjelas kandungan makna dalam Al-Qur’an, akan tetapi hanya sebatas mengartikan kata yang terdapat dalam Al-Qur’an, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai tafsir. Oleh sebab itu, maka orang yang memegang terjemahan wajib dalam keadaan suci ketika memegang atau membawa Al-Qur’an terjemahan. Hukum ini ditegaskan dalam kitab Nihayah az-Zain:

أما ترجمة المصحف المكتوبة تحت سطوره فلا تعطي حكم التفسير بل تبقى للمصحف حرمة مسه وحمله كما أفتى به السيد أحمد دحلان

“Adapun terjemahan mushaf Al-Qur’an yang ditulis dibawah kertas dari mushaf maka tidak dihukumi sebagai tafsir, akan tetapi tetap berstatus sebagai mushaf yang haram memegang dan membawanya (dalam keadaan hadats), hukum ini seperti halnya yang difatwakan oleh Sayyid Ahmad Dahlan.” (Muhammad Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain juz. 1, Hal. 33)

Demikian penjelasan tentang materi ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa status Al-Qur’an terjemahan tetap dihukumi sebagai Al-Qur’an yang wajib membawa dan memegangnya dalam keadaan suci. Wallahu a’lam.

(Ali Zainal Abidin)