NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Puisi

Puisi-puisi Dedi Febriyanto

NU Online·
Puisi-puisi Dedi Febriyanto
Ilustrasi: freepik
Bagikan:

Ziarah

aku mengitari tiga pusara kekasih
di bumi Ruwa Jurai penuh berkah
berharap diri yang merasa kinasih
kembali rebah mengecup tanah

ziarahku
mengitari tiga pusara kekasih
yang hidup juga menghidupi
yang cukup juga mencukupi
yang terang juga menerangi

padahal kata orang kebanyakan
itu pusara orang mati
tapi apanya yang mati
bahkan mereka lebih hidup
daripada yang hidup

yang tidur dapat mereka bangunkan
yang sakit dapat mereka sembuhkan
bahkan yang mati dapat mereka hidupkan

lalu sebagai perbandingan
kucoba mengetuk pintu hati
menziarahi diri sendiri
benar kulihat
aku hidup menebar duri
aku hidup memberi mati
aku hidup nyatanya mati

dari ziarah
lekaslah rebah
dirimu itu tanah

Bandar Lampung, 2020

Ziarah 2

menziarahi pusara suci
lalu menziarahi diri sendiri
seolah menepi di kebun duri
setelah sebelumnya
singgah di taman surgawi

menziarahi pusara suci
jadikan segala ke-Aku-an bersimpuh luruh
tuan rumah menyambut ramah
air mata tumpah ruah
angin segar semilir datang

lalu aku pun pulang
kemudian duduk bersimpuh di sepetak ruangan
seketika raja durjana terbuka mata
menguasai hati, lagi
menyuguhkan segala fana menipu diri

ziarahku
belum bisa kutanam
di kebun hati

Bandar Lampung, 2020

Realita Zaman

ada yang menebar melati sembunyi diri
ada yang menebar bangkai berbangga hati
ada yang berhati suci dicaci maki
ada yang tak berhati dipuji-puji
ada yang awas dengan noda saudara asli
tapi pura-pura buta dengan noda diri sendiri
kebaikan diri ditinggikan lewati awan
kebaikan orang ditenggelamkan ke lautan dalam
keburukan diri dikubur dalam-dalam
keburukan orang disebar sampai ke seberang
ada yang mengutuk anugerah tanpa lelah
ada yang menyukuri musibah dengan tabah
alam realita melukiskan semuanya
manusia pemeran utamanya
di mana kita ditempatkan?
tokoh apa yang kita perankan?
lihatlah sendiri!
koreksi diri!
lalu tatalah kembali!

Palembang, 2019

Kata Sang Kiai

kata Sang Kiai,
"Tuhan itu maha semau gue."
mengingat hal itu
raja sufi pingsan di tengah jalan
orang-orang arif menghujani negeri 
dengan air matanya
sedangkan orang kurang akal
berjoget ria di atas panggung kekosongan

kata Sang Kiai,
"Tuhan itu maha semau gue."
mengingat hal itu
orang-orang pilihan gemetar jiwanya
orang-orang berakal terguncang hatinya
sedangkan sisanya malah menggoyang muka fana

kata Sang Kiai,
"Tuhan itu maha semau gue."
tapi gue malah bertingkah semaunye
gile

Bandar Lampung, 2020

Penulis adalah santri di Pondok Pesantren Darussa’adah Kiai Haji Asyikin Gunung Terang, Bandar Lampung.

Artikel Terkait

Puisi-puisi Dedi Febriyanto | NU Online