NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Shalawat/Wirid

Bacaan Shalawat dari Syekh Hasan al-Ghazzi untuk Ketengangan Hati

NU Online·
Bacaan Shalawat dari Syekh Hasan al-Ghazzi untuk Ketengangan Hati
Bacaan Shalawat dari Syekh Hasan al-Ghazzi (Freepik)
Sunnatullah
SunnatullahKolomnis
Bagikan:

Shalawat Nabi merupakan amalan utama dalam Islam yang memiliki banyak manfaat spiritual, terutama untuk menenangkan hati dan pikiran. Membaca shalawat secara rutin sejatinya dapat meredakan kegelisahan, menghilangkan kesedihan, serta membantu seseorang menghadapi tekanan hidup dengan lebih tenang dan penuh harapan.

Di antara berbagai shalawat yang diajarkan para ulama, terdapat shalawat khusus dari Syekh Hasan Abi Halawah al-Ghazzi. Menurut Syekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani dalam kitab Sa’âdatud Dârain fis Shalâti ‘alâ Sayyidil Kaunain shalawat ini berkhasiat untuk mengatasi depresi, kecemasan, dan kesusahan hidup.

Simak penjelasan Syekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani berikut terkait keutamaan shalawat ini;

هَذِهِ الصَّلاَةُ مُجَرَّبَةٌ لِتَفْرِيْجِ الْكُرُوْبِ

Artinya, “Shalawat ini terbukti efektif untuk menghilangkan kesulitan.” (Sa’âdatud Dârain fis Shalâti ‘alâ Sayyidil Kaunain, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 2019, muhaqqiq: Syekh Abdul Waris Muhamad Ali], halaman 323).

Nah berikut bacaan shalawat Syekh Hasan al-Ghazzi, transliterasi, dan terjemahannya:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الحَبِيْبِ الْمَحْبُوْبِ شَافِي الْعِلَلِ وَمُفَرِّجِ الْكُرُوْبِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Allahumma shalli ‘ala sayyidini Muhammadinil habibil mahbub, syafil ‘ilali wa mufarrijil kurub, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallim

Artinya, “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, kekasih yang dicintai, penyembuh penyakit, pelepas kesusahan, serta kepada keluarga dan sahabatnya. Dan berikanlah keselamatan.”

Kisah Keistimewaan Shalawat Ini

Kisah tentang shalawat ini bermula ketika Syekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani menghadapi kesulitan dan ujian berat dalam hidupnya. Ia merasa gundah gulana, hatinya dipenuhi dengan kegelisahan, dan pikirannya diliputi oleh berbagai macam masalah.

Dalam keadaan yang serba sulit itu, ia mendatangi Syekh Hasan Abi Halawah al-Ghazzi, seorang ulama yang menetap di Baitul Maqdis, untuk mengadukan keadaannya yang serba kesulitan. Setelah mendengar keluh kesah Syekh Yusuf, Syekh Hasan Abi Halawah al-Ghazzi memberikan ijazah shalawat di atas kepadanya. Setelah secara rutin mengamalkan shalawat tersebut, Allah swt dengan segera menghilangkan semua kesulitan yang menimpanya.

Kisah di atas kemudian ia abadikan dalam kitab Sa’âdatud Dârain fis Shalâti ‘alâ Sayyidil Kaunain yang merupakan salah satu karyanya yang membahas secara khhusus tentang shalawat kepada Rasulullah dan faedah-faedah yang akan didapatkan oleh mereka yang membacanya. Dalam kitab tersebut dikisahkan:

وقد شكوت له ما كان ألم بي من الهمم والكرب، فبعد أن تلوتها فرج الله كربتي وبلغني فوق أمنيتي بفضله وإحسانه وبركة الصلاة على النبي بهذه الصيغة الشريفة

Artinya, “Sungguh, aku (Yusuf an-Nabhani) telah mengadukan kepadanya (Syekh Hasan Abi Halawah al-Ghazzi) tentang apa yang menimpaku berupa kesusahan dan kesedihan. Maka setelah aku membacanya (shalawat ini), Allah menghilangkan kesulitanku dan menyampaikan aku melebihi apa yang aku harapkan, dengan karunia dan kebaikan-Nya, serta berkah shalawat kepada Nabi dengan redaksi yang mulia ini.” (Yusuf an-Nabhani, 324).

Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa shalawat tidak hanya sebatas bacaan saja, tetapi juga merupakan wasilah atau perantara yang sangat ampuh untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Dengan bershalawat, hati kita akan menjadi lebih lembut, pikiran menjadi lebih jernih, dan jiwa menjadi lebih tenang.

---------
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

Kolomnis: Sunnatullah

Artikel Terkait