Home Bahtsul Masail Shalawat/Wirid Ramadhan Jenazah Ubudiyah Ilmu Hadits Tasawuf/Akhlak Khutbah Sirah Nabawiyah Doa Tafsir Haji, Umrah & Qurban Hikmah Tafsir Mimpi Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Lainnya

Kisah Kaum Muslim Hijrah Pertama ke Ethiopia di Bulan Rajab

Kisah Kaum Muslim Hijrah Pertama ke Ethiopia di Bulan Rajab
Untuk menghindari kecurigaan dari orang Quraisy, rombongan hijrah pergi ke Ethiopia pada malam hari dengan sembunyi-sembunyi.
Untuk menghindari kecurigaan dari orang Quraisy, rombongan hijrah pergi ke Ethiopia pada malam hari dengan sembunyi-sembunyi.

Memasuki pertengahan atau akhir tahun keempat dari nubuwah, berbagai tekanan terus dilakukan oleh orang-orang musyrik kepada umat Muslim. Hari demi hari berlalu. Hingga memasuki tahun kelima umat Muslim berpikir bagaimana agar bisa lepas dari kekejaman musuh.

 

Dalam kondisi susah seperti ini, turun surat Az-Zumar yang yang memberi isyarat untuk mengambil jalan hijrah.


قُلۡ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٞۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ  


Artinya: “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu’. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)


Setelah perintah hijrah tersebut, terbesit dalam pikiran Rasulullah tentang sosok raja bernama Asshamah an-Najasy, seorang raja di Ethiopia (Habasyah) yang terkenal adil lagi bijaksana. Yakin akan mendapat perlakuan baik di negeri hijrah, beliau pun meminta agar beberapa orang Muslim untuk hijrah ke sana. (Safyurrahman al-Mubarakfuri, Raḫîqul Makhtûm, [Bairut: Daru Ihya’it Turats, tt], h. 81)


Peristiwa hijrah ini terjadi pada bulan Rajab tahun kelima dari nubuwah. Muslim yang berangkat hijrah sebanyak 16 orang, yaitu 12 laki-laki dan 4 perempuan. Rombongan tersebut dipimpin oleh Utsman bin Affan. Salah seorang putri Rasulullah bernama Ruqayyah juga ikut serta bersama rombongan. (Shafyuddin al-Mubarakfuri, Wa Innaka La 'Ala Khuluqin 'Adzim, [Tk: Syirkatu KIndah, 2006], juz 1, h. 71)


Tentang Utsman dan Ruqayyah saat itu, Rasulullah bersabda:


إنهما أول بيت هاجر في سبيل الله بعد إبراهيم ولوط عليهما السلام


Artinya: “Mereka berdua adalah penduduk Baitul Haram pertama yang hijrah di jalan Allah setelah Ibrahim dan Luth.” 


Untuk menghindari kecurigaan dari orang Quraisy, rombongan hijrah pergi ke Ethiopia pada malam hari dengan sembunyi-sembunyi. Perjalanan ke Ethiopia harus menyeberangi laut. Beruntung, ketika hendak menyeberang, di pelabuhan Syaibah ada dua kapal tujuan Etiopia. Rombongan pun menggunakan moda tersebut. Sementara orang-orang Quraisy yang sempat memergoki aksi mereka terlambat untuk mengejar.


Sujudnya orang musyrik

Pada bulan Ramadhan di tahun yang sama, Rasulullah keluar dari Masjidil Haram dan secara kebetulan bertemu dengan para pembesar Quraisy yang sedang berkumpul. Di hadapan mereka Rasulullah membacakan surat An-Najm. Setiap orang yang mendengar lantunan ayat tersebut terpesona dengan keindahannya. Peristiwa ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an berikut:


وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَسۡمَعُواْ لِهَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ وَٱلۡغَوۡاْ فِيهِ لَعَلَّكُمۡ تَغۡلِبُونَ  


Artinya: “Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.” (QS. Fusshilat [41]: 26)


Mereka hanyut dalam bacaan Al-Qur’an Rasulullah, hingga pada ayat terakhir surat An-Najm yang berbunyi:


فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ۩  


Artinya: “Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).” (QS. An-Najm [53]: 62)


Begitu selesai ayat itu dibaca, orang-orang Quraisy yang masih hanyut dalam bacaan tiba-tiba tertunduk sujud. Peristiwa ini menjadi bahan ejekan orang-orang Quraisy lain yang tidak ada di lokasi itu kepada mereka yang sujud.


Kabar sujudnya orang musyrik sampai ke telinga rombongan Muslim yang sedang berada di Ethiopia. Hanya saja informasi yang mereka dengar keliru, mereka menganggap sujudnya orang musyrik itu sebagai bukti bahwa orang musyrik sudah memeluk agama Islam. Gembira akan hal ini, mereka pun kembali ke Makkah pada bulan Syawwal.


Sebelum mereka tiba di Makkah, ternyata mereka tahu info yang sebenarnya. Maka sebagian ada yang kembali lagi ke Ethiopia dan sebagian yang lain tetap memasuki kota Makkah secara sembunyi-sembunyi.


Setelah kejadian itu, ditambah beberapa orang Muslim yang sebelumnya berhasil meloloskan diri untuk hijrah, orang-orang musyrik naik pitam dan semakin kejam melakukan penindasan. Hingga pada akhirnya Rasulullah menyuruh kepada umat Islam untuk melakukan hijrah yang kedua Ethiopia demi keselamatan nyawa mereka. Hijrah kedua ini  terdiri dari 83 kali-laki dan 18 atau 19 perempuan. 


Muslihat orang musyrik

Sesampainya rombongan hijrah gelombang dua ini di Ethiopia, mereka mendapat sambutan hangat dan perlindungan dari penduduk setempat. Menyadari hal ini, orang musyrik tidak tinggal diam, mereka mengutus Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah (sebelum keduanya masuk Islam) untuk melobi sang raja agar mau mengusir kaum Muslim dengan iming-iming hadiah.


Kedua delegasi kaum musyrik ini terus menghasut sang raja, hingga akhirnya sang raja meminta penjelasan langsung kepada pihak Muslim untuk menjelaskan duduk permasalahan sebenarnya. Ja’far bin Abu Thalib pun datang sebagai juru bicara kaum Muslim. Setelah Ja’far panjang lebar menjelaskan, sang raja lebih percaya kepada pihak Muslim dan mengusir kedua utusan kaum musyrik tadi.


Ketika itu Ja’far diminta untuk menjelaskan perihal Nabi Isa sesuai permintaan sang jara. Jika yang dijelaskan Ja’far sesuai dengan keyakinan raja, maka kaum Muslim akan tetap mendapatkan perlindungan. Akan tetapi jika sebaliknya, maka sang raja akan mengusir mereka.


Ringkas hikayat, Ja’far menjelaskan perihal Nabi Isa dengan apa adanya, sesuai penjelasan perspektif agama Islam. Setelah mendengar penjelasan Ja’far, sang raja mengiyakan semua yang dikatakannya. “Demi Allah, Isa bin Maryam tak berbeda jauh dengan apa yang engkau katakan, seperti potongan dahan ini,” aku sang raja. (Safyurrahman al-Mubarakfuri, h. 81-85)


Penulis: Muhamad Abror

Editor: Fathoni Ahmad



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Sirah Nabawiyah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×