NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Sirah Nabawiyah

Raja Najasyi dan Warisan Akidah Tauhid di Habasyah

NU Online·
Raja Najasyi dan Warisan Akidah Tauhid di Habasyah
Raja Najasyi dan Warisan Akidah Tauhid di Habasyah (Freepik)
Bagikan:

Di antara istana dan hijrah pertama, terselip kisah tentang raja yang membaca tanda-tanda kenabian dengan jernih, dan tentang sebuah negeri Kristen yang menyimpan jejak samawi.

Sejarah Islam mencatat satu adegan yang selalu menggetarkan: seorang raja Kristen dari Habasyah berdiri, menundukkan kepala, lalu bersaksi, bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Ia adalah Ashamah, yang kita kenal sebagai Raja Najasyi. Seorang penguasa di wilayah yang kini disebut Ethiopia. Seorang raja di tengah rakyat yang mayoritas Nasrani. Dan seorang mukmin yang imannya lahir bukan dari pedang, melainkan dari bacaan dan perenungan.

Di titik inilah kisah Najasyi menjadi menarik, bahkan relevan untuk dibaca ulang hari ini. Ia bukan hanya simbol perlindungan bagi kaum muhajirin yang teraniaya di Makkah. Ia adalah potret tentang bagaimana ilmu, adab, dan moderasi beragama bertemu dalam satu sosok penguasa.

Raja yang Membaca dengan Hati

Dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud dikisahkan, ketika para sahabat hijrah ke Habasyah dan membawa kabar tentang Nabi Muhammad, Najasyi berkata:

حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَنْطَلِقَ إِلَى أَرْضِ النَّجَاشِيِّ فَذَكَرَ حَدِيثَهُ قَالَ النَّجَاشِيُّ أَشْهَدُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ الَّذِي بَشَّرَ بِهِ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَلَوْلَا مَا أَنَا فِيهِ مِنْ الْمُلْكِ لَأَتَيْتُهُ حَتَّى أَحْمِلَ نَعْلَيْهِ‏

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ['Abbad bin Musa] telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Ja'far] dari [Israil] dari [Abu Ishaq] dari [Abu Burdah] dari [ayahnya] ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami agar pergi ke Negerinya Najasyi. Kemudian ia menyebutkan haditsnya, An Najasyi berkata: Aku bersaksi bahwa ia adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan ia adalah orang yang dikabarkan oleh Isa bin Maryam, seandainya aku tidak mengurusi kerajaan niscaya aku akan mendatanginya hingga aku membawakan kedua sandalnya. (HR Abu Dawud)

Pernyataan ini bukan sekadar simpati politik. Ia adalah kesimpulan teologis. Najasyi sampai pada pengakuan itu karena ia mengenal teks-teks keagamaan yang bersih dari distorsi. Ia membaca Injil bukan sebagai dokumen beku, tetapi sebagai cahaya yang menunjuk pada nubuat.

Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam Fiqih Sirah menuturkan momen dramatis ketika Ja’far bin Abi Thalib membacakan Surah Maryam di hadapan Najasyi. Sang raja berkata, “Apa yang engkau baca dan apa yang dibawa oleh Isa sesungguhnya keluar dari pancaran sinar yang satu.” (Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Fiqih Sirah Nabawiyah, [Damaskus: Darul Fikr], 1991 M: 139)

Kalimat itu penting. Najasyi tidak melihat Islam sebagai ancaman bagi iman lamanya, melainkan sebagai kelanjutan dari mata air yang sama. Ia menemukan koherensi, bukan kontradiksi.

Tradisi membaca teks otoritatif secara mendalam, dengan sanad keilmuan yang terjaga, adalah ciri khas para ulama. Di pesantren, tradisi ini diwariskan dari kiai kepada santri: mengaji kitab, menelusuri tafsir, memahami syarah. Dalam konteks itu, Najasyi tampak seperti “santri” dalam arti paling substantif: pencari kebenaran yang tekun pada sumbernya.

Membawakan Sandal: Simbol Tunduknya Ilmu kepada Adab

Dalam kisah lainnya, Raja Najasyi pernah memberikan hadiah sepatu khuf kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

وَعَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّجَاشِيَّ أَهْدَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُفَّيْنِ أَسْوَدَيْنِ سَاذَجَيْنِ فَلَبِسَهُمَا. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ‏

Artinya: Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, bahwa Raja Najasyi memberikan hadiah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa sepasang sepatu khuf yang berwarna hitam polos dan Nabi memakainya. (HR Ibnu Majah)

Kalimat Najasyi tentang “membawakan sandal Nabi” sering dibaca sebagai ungkapan kerendahan hati. Tetapi ia juga memantulkan satu etos adab yang khas dalam tradisi Islam: memuliakan guru dan pembawa risalah.

Di pesantren, kisah santri membawakan sandal kiai bukan sekadar romantika. Ia adalah simbol bahwa ilmu tidak hanya ditransmisikan lewat teks, tetapi juga lewat adab. Hormat mendahului paham.

Menariknya, Najasyi tidak hanya berhenti pada retorika. Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan bahwa ia pernah menghadiahkan sepasang khuf hitam polos kepada Nabi, dan Nabi memakainya. Ada relasi timbal balik antara raja dan rasul, bukan relasi kuasa, melainkan relasi cinta.

Seorang raja yang ingin membawakan sandal seorang nabi adalah paradoks yang indah. Di situ, takhta tidak membatalkan tawaduk.

Gaharu dari Habasyah dan Aroma Nusantara

Kisah lain yang jarang disorot adalah peran keluarga Najasyi dalam pernikahan Ummu Habibah dengan Rasulullah. Najasyi menjadi wali sekaligus wakil dalam akad tersebut. Istrinya, melalui seorang budak perempuan, mengirimkan hadiah berupa minyak wangi dan perlengkapan pernikahan.

Di antara hadiah itu terdapat gaharu, aroma yang dalam banyak riwayat disebut sebagai wewangian kesukaan Nabi. Ibnul Jauzi dalam Al-Wafa menyebutkan bahwa parfum yang paling disukai Rasulullah adalah gaharu.

Diriwayatkan dari Aisyah Radliyalllahu ‘anha  dia berkata: “Parfum yang paling disukai Rasulullah adalah aroma gaharu.” (Ibnul Jauzi, 2005, Al-Wafa: Kesempurnaan Pribadi Nabi Muhammad SAW, Pustaka Al-Kautsar: halaman 496).

Gaharu, dengan nama latin Aquilaria malaccensis, justru banyak tumbuh di kawasan Nusantara. Dari Malaka, dari hutan-hutan tropis Asia Tenggara, aroma itu menempuh jalur perdagangan panjang hingga menjadi bagian dari peradaban Islam.

Parfum atau minyak wangi dari bahan seperti kayu gaharu merupakan tradisi santri hingga masa kini. Kayu gaharu memang dikenal dalam Islam sebagai wewangian yang disukai oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Uniknya, sumber utama gaharu adalah pohon yang berasal dari Nusantara. Pohon gaharu itu dikenal dengan nama latin Aquilaria malaccensis karena merujuk pada tempat asal tanaman tersebut yaitu Malaka yang termasuk Nusantara. Khasiat wewangian yang berasal dari gaharu adalah untuk ketenangan jiwa.

Parfum bagi Nabi bukan sekadar estetika. Ia adalah bagian dari kesucian, ketenangan jiwa, dan penghormatan pada sesama. Hingga kini, tradisi memakai minyak wangi, terutama di kalangan santri, adalah warisan adab profetik itu.

Menariknya, budak yang membawa hadiah tersebut kemudian masuk Islam setelah menyaksikan akhlak Ummu Habibah. Sekali lagi, dakwah di Habasyah tidak berjalan lewat debat sengit, tetapi lewat keteladanan. (Nizar Abazah, 2009, Bilik-Bilik Cinta Muhammad: Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi , terjemah dari Fii Baytirrosul, Penerbit Zaman: halaman 160) 

Tradisi Keranda Bertutup dari Habasyah dan Wasiat Sayyidah Fatimah

Menutup aurat merupakan ajaran Islam yang senantiasa dijaga oleh para santri dan kaum muslimin yang taat. Kewajiban ini tidak hanya berlaku semasa hidup, tetapi juga setelah seseorang wafat. Aurat jenazah tetap harus dijaga dan tidak boleh terlihat oleh orang lain.

Ketika kaum muslimin berhijrah ke Habasyah, Asma binti Umais radhiyallahu ‘anha menyaksikan suatu tradisi masyarakat setempat: jenazah perempuan diusung ke pemakaman menggunakan keranda yang tertutup rapat. Tradisi ini menjaga kehormatan dan aurat jenazah dari pandangan orang-orang yang mengantarnya.

Praktik tersebut kemudian menginspirasi Sayyidah Fatimah radhiyallahu ‘anha. Menjelang wafatnya, beliau berwasiat agar jenazahnya kelak dibawa dengan keranda tertutup sebagaimana yang diceritakan oleh Asma binti Umais. Sejak saat itu, penggunaan keranda bertutup menjadi bagian dari tradisi kaum muslimin di berbagai penjuru dunia sebagai bentuk penjagaan kehormatan jenazah.

Tradisi ini juga menjadi salah satu jejak sejarah yang menunjukkan adanya pengaruh ajaran agama samawi di Habasyah. Pada masa itu, mayoritas penduduknya memeluk agama Nasrani yang sebagian ajarannya masih mengandung nilai-nilai ajaran Nabi Isa ‘alaihis salam yang sejalan dengan Islam, meskipun sebagian lainnya telah mengalami perubahan.

Islam sendiri masuk ke Habasyah melalui para sahabat Nabi yang berhijrah ke sana. Interaksi mereka dengan masyarakat setempat membawa pengaruh besar. Diriwayatkan bahwa sebagian budak Raja Najasyi masuk Islam setelah berinteraksi dengan Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebelum menjadi istri Nabi, Ummu Habibah adalah istri Abdullah bin Jahsy yang turut berhijrah ke Habasyah. Namun, Abdullah bin Jahsy kemudian berpindah ke agama Nasrani dan wafat di sana. Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminang Ummu Habibah melalui Raja Najasyi, dan pernikahan tersebut dilangsungkan di Habasyah.

Ulama sejarawan Ibnu Katsir dalam kitab sirahnya menyebutkan bahwa terdapat kerabat Najasyi, bernama Dzu Mikhbar, yang kemudian menjadi pelayan bighal (keledai tunggangan) milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara kaum muslimin dan penduduk Habasyah.

Ibnul Jauzi dalam Al-Wafa juga meriwayatkan bahwa setelah dinikahi Rasulullah, Ummu Habibah dikirim dari Habasyah ke Madinah atas permintaan Nabi melalui surat kepada Najasyi. Raja Najasyi pun memenuhi permintaan tersebut. Bahkan, ketika para utusan Najasyi tiba di hadapan Rasulullah, beliau sendiri yang menjamu mereka sebagai bentuk penghormatan.

Kisah-kisah ini tidak hanya memperlihatkan hubungan harmonis antara kaum muslimin dan Habasyah, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah masuknya tradisi yang menjaga kehormatan jenazah dalam Islam, sebagaimana wasiat mulia Sayyidah Fatimah radhiyallahu ‘anha.

-------

Yuhansyah Nurfauzi, apoteker, peneliti farmasi dan pemerhati sejarah Islam*

Artikel Terkait