Hadits Imam Bukhari ini dikutip oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam Kitab Nihayatuz Zain berikut ini:
Artinya, “Keempat adalah (puasa sunah enam hari di bulan Syawal) berdasarkan hadits, ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu mengiringinya dengan enam hari puasa di bulan Syawal, ia seakan puasa setahun penuh.’ Hadits lain mengatakan, puasa sebulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Semua itu seakan setara dengan puasa (wajib) setahun penuh’. Keutamaan sunah puasa Syawal sudah diraih dengan memuasakannya secara terpisah dari hari Idul Fithri. Hanya saja memuasakannya secara berturut-turut lebih utama. Keutamaan sunah puasa Syawal luput seiring berakhirnya bulan Syawal. Tetapi dianjurkan mengqadhanya,” (Lihat Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Nihayatuz Zain, Al-Maarif, Bandung, Tanpa Tahun, Halaman 197).
Mengiringi hari raya Id dengan puasa sunah Syawal lebih utama. Tetapi orang yang mengamalkan puasa sunah Syawal yang terpisah dari hari Id tetap mendapatkan keutamaan sunah Syawal sebagaimana keterangan Syekh Sayyid Bakri bin Sayyid Syatha Dimyathi berikut ini:
Artinya, “(Menyambung puasa sunah Syawal dengan hari raya Id lebih utama) daripada tidak menyambung keduanya. Tetapi dengan hanya berpuasa sunah tanpa menyambungnya dengan hari raya Id sekalipun, keutamaan puasa sunah Syawal sudah didapat sebagaimana juga keutmaan itu didapat dengan berpuasa Syawal tanpa berurutan, yaitu terpisah di sepanjang bulan Syawal,” (Lihat Syekh Sayyid Bakri bin Sayyid Syatha Dimyathi, I‘anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425 H-1426 H], juz II, halaman 304).
Pengamalan puasa Syawal yang beriringan adalah puasa sunah pada tanggal 2-7 Syawal. Pengiringan puasa dengan hari Id jauh lebih utama daripada yang terpisah karena secara sederhana itu bagian dari menyegerakan ibadah sebagaimana keterangan Syekh Sayyid Bakri bin Sayyid Syatha Dimyathi:
Artinya, “(Untuk menyegerakan ibadah) sebagai sebab keutamaan sambungan puasa sunah Syawal dan hari raya Id. Sambungan antara Hari Id dan puasa sunah Syawal menjadi lebih utama karena menyegerakan dalam masalah ibadah,” (Lihat Syekh Sayyid Bakri bin Sayyid Syatha Dimyathi, I‘anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425 H-1426 H], juz II, halaman 304). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Terpopuler
1
Para Kiai Sepuh ‘Turun Gunung’ Jelang Muktamar 1984
2
BEM PTNU Se-Nusantara Desak DPR RI Evaluasi Menyeluruh Tata Kelola Kejaksaan demi Perkuat Kepercayaan Publik
3
LF PBNU Sebut Suara Dentuman Semalam Berasal dari Meteor Jatuh
4
Ketum PBNU Sebut Tambakberas Jalan Tengah Terbaik untuk Muktamar Ke-35 NU
5
Hukum Memberi Amplop Setelah Shalat Jenazah
6
Kajian Hadits: Bolehkah Orang Fasik Melakukan Amar Makruf–Nahi Mungkar?
Terkini
Lihat Semua