Hukum musik dan seni secara umum dalam pandangan Islam tidak selesai-selesai diperbincangkan publik.
Ahmad Ali MD
Kolumnis
Akhir-akhir ini di media sosial (medsos) kembali muncul daftar nama-nama pekerjaan atau profesi yang diharamkam, di antaranya bermain musik, bernyanyi dan seni. Bagaimana sejatinya hukum musik, bernyanyi dan seni? Terdapat ikhtilaf atau perbedaan pendapat ulama mengenai hukum musik, bernyanyi, dan seni.
Ini sejatinya merupakan persoalan ijtihรขdiyah, yakni masalah dalam ranah ijtihad (fรฎ majรขl al-ijtihรขd), dalam arti tidak jumศd (kaku), melainkan terbuka lebar bagi penafsiran (interpretasi). Hal ini karena tidak ada nas yang secara qathโi (pasti) dan sharih (jelas) yang melarang musik, bernyanyi dan seni.
Telah maklum bahwa pada dasarnya sifat tafsir atau syarah kebenarannya tidaklah mutlak, melainkan nisbi atau relatif (zanni). Oleh karena itu, pendapat yang membolehkan musik, bernyanyi dan seni relevan digunakan sebagai panduan. Sungguhpun begitu, pendapat yang membolehkan tersebut dan untuk dijadikan panduan itu bukanlah berarti membolehkan secara mutlak, tanpa batasan, melainkan ada batasan atau syarat-syarat pembolehannya.
ย
Kebolehan Musik, Bernyanyi dan Seni
Pada dasarnya musik, bernyanyi, dan seni adalah boleh (mubรขh). Hal ini setidaknya merujuk pada dua kitab, Ihyรขโ โUlศm al-Dรฎn karya Imam al-Ghazรขlรฎ (450-505 H/1058-1111 M), dan al-Fiqh โal-Madzรขhib al-Arbaโah karya Syekh โAbd al-Rahmรขn al-Jazรฎrรฎ (1299-1360 H/1882-1941 M).
Terdapat sejumlah nama sahabat, tabiin dan ulama yang membolehkan musik. Hujjatul Islam Imam al-Ghazรขlรฎ memberi apresiasi begitu tinggi terhadap musik, nyanyian dan seni. Dalam Kitab Ihyรขโ โUlศm al-Dรฎn (Juz II, halaman 273), ia menyampaikan kata-kata indah:
ู
ููู ููู
ู ููุญูุฑูููููู ุงูุฑููุจูููุนู ููุฃูุฒูููุงุฑูููุ ููุงููุนูููุฏู ููุฃูููุชูุงุฑูููุ ูููููู ููุงุณูุฏู ุงููู
ูุฒูุงุฌูุ ููููุณู ูููู ุนููุงูุฌู
Artinya,โOrang yang jiwanya tak tergerak oleh semilir angin, bunga-bunga, dan suara seruling musim semi, adalah dia yang kehilangan jiwanya yang sulit terobati.โ
Lebih lanjut, al-Ghazรขlรฎ menjelaskan:
ูููู ุฃุจู ุทุงูุจ ุงูู
ูู ุฅุจุงุญุฉ ุงูุณู
ุงุน ุนู ุฌู
ุงุนุฉุ ููุงู: ุณู
ุน ู
ู ุงูุตุญุงุจุฉ ุนุจุฏ ุงููู ุจู ุฌุนูุฑ ูุนุจุฏ ุงููู ุจู ุงูุฒุจูุฑ ูุงูู
ุบูุฑุฉ ุจู ุดุนุจุฉ ูู
ุนุงููุฉ ูุบูุฑูู
ุ ููุงู: ูุฏ ูุนู ุฐูู ูุซูุฑ ู
ู ุงูุณูู ุงูุตุงูุญ ุตุญุงุจู ูุชุงุจุนู ุจุฅุญุณุงูุ ููุงู: ูู
ูุฒู ุงูุญุฌุงุฒููู ุนูุฏูุง ุจู
ูุฉ ูุณู
ุนูู ุงูุณู
ุงุน ูู ุฃูุถู ุฃูุงู
ุงูุณูุฉ ููู ุงูุงูุงู
ุงูู
ุนุฏูุฏุงุช ุงูุชู ุฃู
ุฑ ุงููู ุนุจุงุฏู ูููุง ุจุฐูุฑู ูุฃูุงู
ุงูุชุดุฑูู ููู
ูุฒู ุฃูู ุงูู
ุฏููุฉ ู
ูุงุธุจูู ูุฃูู ู
ูุฉ ุนูู ุงูุณู
ุงุน ุฅูู ุฒู
ุงููุง ูุฐุงุ ูุฃุฏุฑููุง ุฃุจุง ู
ุฑูุงู ุงููุงุถู ููู ุฌูุงุฑ ูุณู
ุนู ุงููุงุณ ุงูุชูุญูู ูุฏ ุฃุนุฏูู ููุตูููุฉุ ูุงู: ููุงู ูุนุทุงุก ุฌุงุฑูุชุงู ููุญูุงูุ ููุงู ุฅุฎูุงูู ูุณุชู
ุนูู ุฅูููู
ุง. ูุงู: ูููู ูุฃุจู ุงูุญุณู ุจู ุณุงูู
ููู ุชููุฑ ุงูุณู
ุงุนุ ููุฏ ูุงู ุงูุฌููุฏ ูุณุฑู ุงูุณูุทู ูุฐู ุงูููู ูุณุชู
ุนููุ ููุงู: ูููู ุฃููุฑ ุงูุณู
ุงุน ููุฏ ุฃุฌุงุฒู ูุณู
ุนู ู
ู ูู ุฎูุฑ ู
ููุุ ููุฏ ูุงู ุนุจุฏ ุงููู ุจู ุฌุนูุฑ ุงูุทูุงุฑ ูุณู
ุนุ ูุฅูู
ุง ุฃููุฑ ุงูููู ูุงููุนุจ ูู ุงูุณู
ุงุน.
Artinya,โAbรป Thรขlib al-Makkรฎ mengutip tentang kebolehan mendengar (syair, nyanyian) dari sekelompok ulama. Ada di antaranya sahabat โAbdullah bin Jaโfar, โAbdullah bin Zubair, Mughirah, Muawiyah, dan lainnya. Abรป Thรขlib al-Makkรฎ mengatakan bahwa banyak ulama salafus salih, baik sahabat atau tabiin, yang melakukan dengan memandangnya sebagai hal baik.
Abรป Thรขlib al-Makkรฎ mengatakan bahwa ulama Hijaz (Makkah dan Madinah, dahulu) selalu mendengarkan nyanyian pada hari utama dalam setahun, yaitu hari yang diperintahkan Allah untuk menyebut nama-Nya, seperti hari Tasyriq. Demikian pula dengan penduduk Madinah sampai zaman kami saat ini. Hingga kami menemukan Qadli Marwan, dia memiliki beberapa budak wanita yang bernyanyi untuk manusia dan ia siapkan untuk para Sufi. Athaโ juga memiliki dua budak wanita yang bernyanyi, maka saudara-saudaranya mendengarkan keduanya.ย
Abรป Thรขlib al-Makkรฎ mengatakan bahwa ada yang bertanya kepada Abรป Hasan bin Sรขlim, โBagaimana engkau ingkar (melarang) mendengarkan nyanyi, padahal al-Junaid, Sarรฎ Saqathรฎ, Dzun Nรปn membolehkan?โ Ia menjawab, โBagaimana aku melarang mendengarkan nyanyian padahal ada orang yang lebih baik dari aku yang membolehkan dan mendengarkan?โ Sungguh โAbdullah bin Jaโfar ath-Thayyรขr mendengarkan nyanyian. โYang aku ingkari adalah permainan yang ada dalam nyanyian,โโ (Ihyรขโ โUlศm al-Dรฎn, Juz II, halaman 267). Wallahu aโlam.
Ustadz Ahmad Ali MD, Pendiri dan Ketua Yayasan Manhajuna Madania Salam Kota Tangerang, Dosen Tetap Pascasarjana Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qurโan (Institut PTIQ) Jakarta.
Terpopuler
1
Gus Yahya Sampaikan Pesan KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Lirboyo
2
Meski Sudah Gabung BoP, Pasukan Perdamaian TNI Tewas Ditembak Israel di Lebanon
3
Halal Bihalal: Tradisi Otentik Nusantara Sejak Era Wali Songo
4
Gus Dur, Iran, dan Anti-Impersialisme
5
Penyelenggaraan Haji 2026 Sesuai Jadwal, Jamaah Mulai Berangkat 22 April
6
Jadwal Puasa Sunnah Selama April 2026
Terkini
Lihat Semua