NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Bangunan Sosial Kita Rapuh Tanpa Adab

NU Online·
Bangunan Sosial Kita Rapuh Tanpa Adab
Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Dalam banyak situasi, persoalan yang awalnya sepele bisa berubah menjadi ramai hanya karena kita sebagai manusia kehilang­an sedikit adab dan ketenangan. Salah satu contohnya adalah kasus yang belakangan ini viral tentang hilangnya sebuah tumbler milik penumpang transportasi umum.

Prasangka yang terburu-buru, emosi yang tidak terkendali, serta kurangnya penghargaan terhadap petugas yang sedang bekerja membuat masalah sederhana menjadi tampak jauh lebih rumit dari seharusnya.

Dalam ajaran Islam, kita diingatkan bahwa adab adalah fondasi penting dalam menjaga hubungan baik antar manusia. Dengan adab, kita dilatih untuk berbicara dengan santun, bersikap tenang, rendah hati, mampu menahan emosi, dan menghargai siapa pun yang sedang menjalankan tugasnya. 

Adab juga mengajarkan kita agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan atau bertindak tanpa pertimbangan yang matang. Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar terciptanya hubungan sosial yang harmonis.

Karena itu, setiap dari kita punya tanggung jawab untuk saling berbuat baik dan menghargai satu sama lain. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 36:

 وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ۝

wa‘budullâha wa lâ tusyrikû bihî syai'aw wa bil-wâlidaini iḫsânaw wa bidzil-qurbâ wal-yatâmâ wal-masâkîni wal-jâri dzil-qurbâ wal-jâril-junubi wash-shâḫibi bil-jambi wabnis-sabîli wa mâ malakat aimânukum, innallâha lâ yuḫibbu mang kâna mukhtâlan fakhûrâ

Artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”

Ayat ini menjelaskan bahwa berbuat baik (ihsan) haruslah dimulai dari kerabat paling dekat yang kemudian meluas ke lingkungan sosial yang lebih luas. Dalam Tafsir al-Misbah, M. Quraish Shihab menerangkan bahwa makna “ihsan” pada ayat tersebut berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sekadar berbuat adil. Keadilan berarti memperlakukan orang lain sebagaimana mereka memperlakukan kita.

Namun ihsan menuntut lebih dari itu, yakni memperlakukan orang lain lebih baik daripada perlakuan mereka kepada kita. Dengan kata lain, ihsan adalah memberi lebih banyak dari yang seharusnya kita beri, dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya kita ambil. (Tafsir Al-Mishbah, M. Quraish Shihab, Vol. II, hlm. 35-36).

Berakar dari perintah berbuat baik tersebut, konsep penting dalam kehidupan bersosial dalam Islam adalah adanya ikatan ukhuwah, baik ukhuwah basyariyah (kemanusiaan) maupun ukhuwah imaniyah (keimanan). Dengan ini, maka setiap individu akan merasakan bahwa sesamanya adalah saudara yang wajib dihormati dan dijaga hak-haknya.

Karena itu, tak selayaknya seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain sehingga berlaku semena-mena, membebani,  dan tidak menghargainya. Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin pada bab adab menuturkan:

بِأَنْ لَا يُكَلِّفَ أَخَاهُ مَا يَشُقُّ عَلَيْهِ، بَلْ يُرَوِّحَ سِرَّهُ مِنْ مُهِمَّاتِهِ وَحَاجَاتِهِ، وَيُرَفِّهَهُ عَنْ أَنْ يَحْمِلَهُ شَيْئًا مِنْ أَعْبَائِهِ. قَالَ بَعْضُهُمْ: مَنِ اقْتَضَى مِنْ إِخْوَانِهِ مَا لَا يَقْضُونَهُ فَقَدْ ظَلَمَهُمْ، وَمَنِ اقْتَضَى مِنْهُمْ مِثْلَ مَا يَقْتَضُونَهُ فَقَدْ أَتْعَبَهُمْ، وَمَنْ لَمْ يَقْتَضِ فَهُوَ الْمُتَفَضِّلُ عَلَيْهِمْ.

Artinya, “(Hak-hak dalam persaudaraan) adalah dengan tidak membebani saudaramu dengan sesuatu yang memberatkan dirinya. Justru engkau hendaknya memberi kelapangan bagi hatinya dari berbagai urusan dan kebutuhannya, serta membuatnya nyaman agar ia tidak memikul sedikit pun dari bebanmu. Sebagian ulama berkata: Barang siapa menuntut dari saudara-saudaranya sesuatu yang mereka tidak mampu menunaikannya, maka ia telah menzalimi mereka. Barang siapa menuntut dari mereka sebesar apa yang mereka tuntut darinya, maka ia telah menyusahkan mereka. Dan barang siapa tidak menuntut apa pun dari mereka, maka dialah yang benar-benar berbuat ihsan kepada mereka.” (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, (Beirut: Darul Ma’rifah, t.th.), Juz II, h. 189).

Tidak sepatutnya sesama manusia menjatuhkan marwah lainnya bahkan hingga menghilangkan pekerjaan yang menjadi sumber kehidupan. Hal ini tentu tidak sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW yang selalu menekankan untuk berlaku baik sesama saudara, menjadi pelindung dari bahaya, bukan malah menjerumuskan kepada kesulitan. Pengibaratan hubungan sesama manusia disabdakan Nabi Muhammad SAW dalam hadits:

المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا (رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)

Artinya, “Orang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan; saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka dari itu, perumpamaan yang diberikan Nabi SAW bukan sekadar ajakan untuk bersatu, tetapi peringatan agar setiap individu tidak merusak ‘bangunan’ itu dengan perilaku yang dapat menyakiti atau menjatuhkan saudaranya.

Termasuk dalam hal ini adalah para petugas dan pekerja yang menjalankan tugasnya. Mereka adalah bagian dari bangunan masyarakat yang mesti dihormati, bukan dijadikan sasaran kemarahan atau beban tuntutan yang melampaui batas kewajaran. Apabila satu unsur dari bangunan itu disakiti atau dilemahkan, maka seluruh tatanan sosial akan terdampak.

Dalam konteks kehidupan profesional, nilai-nilai adab yang diajarkan oleh Islam juga dapat diterapkan dalam etika kerja sehingga tercipta lingkungan yang sehat serta bebas dari sikap toksik. Sebagaimana disampaikan oleh Abiola Isawumi dalam publikasinya yang berjudul Promoting Healthy Work Ethics and Culture, bahwa setiap individu akan lebih sehat ketika berada pada lingkungan kerja yang memberi ketenangan dan rasa damai. Lingkungan kerja sangat memengaruhi kualitas hidup seseorang, ia bisa membuat hidup lebih bermakna atau justru sebaliknya. Berikut beberapa poin penting untuk membangun lingkungan kerja yang sehat:

  1. Saling menghormati dan menghargai, sehingga setiap orang akan merasa berharga dan kualitas diri serta kinerja akan menjadi lebih baik. 
  2. Menurunkan ego dan menghindari sikap merasa lebih tinggi dari orang lain, karena kerendahan hati akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih kondusif dan terhindar dari gesekan antarpekerja.
  3. Tidak membebankan rekan kerja dengan tugas di luar tanggung jawabnya, karena poin paling utama adalah setiap orang bekerja sesuai porsi masing-masing.
  4. Mengelola perbedaan sifat dan karakter, meskipun perbedaan adalah hal yang wajar, tetapi kedewasaan dalam menyikapi perbedaan tersebut diperlukan agar tidak menjadi konflik.
  5. Menghindari prasangka buruk dan membangun komunikasi dua arah. Jika ada masalah, bicarakan secara terbuka dengan yang berkaitan, hindari memperluas masalah dengan membicarakannya ke forum yang tidak berkepentingan.
  6. Tidak mencampuri hal di luar ranah pekerjaan. Fokus pada tanggung jawab masing-masing dan hindari memihak hanya karena ketidaksukaan pribadi.
  7. Menjaga profesionalitas tanpa terpengaruh perbedaan ras, agama, atau keyakinan, sehingga bisa saling menghormati. 

Dengan demikian, menjaga adab, mengendalikan emosi, serta mengedepankan ihsan dalam bermuamalah, adalah hal-hal yang harus diutamakan dalam hubungan sosial. Karena melalui itulah, sesungguhnya kita tengah mengokohkan bangunan kemanusiaan yang diajarkan oleh Nabi SAW. Wallahu a’lam.

Ustadzah Tuti Lutfiah Hidayah, Alumnus Farmasi UIN Jakarta, dan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat.

Artikel Terkait