Kadang kita menjumpai ustadz baru yang bicara tentang agama dengan sangat percaya diri, tapi isinya jelas ngawur dan tidak karuan. Orang awam saja bisa tahu ada yang salah, karena yang disampaikan sebenarnya pengetahuan dasar agama yang dipahami keliru. Ironisnya, ia tetap yakin dirinya benar, padahal yang keluar justru seperti lelucon. Singkatnya, dia tidak sadar betapa tidak pahamnya ia.
Orang seperti ini sedang terkena dunning-kruger effect, yaitu fenomena ketika seseorang yang kemampuannya rendah justru merasa dirinya paling bisa, sementara yang benar-benar paham malah cenderung rendah hati dan tidak terlalu percaya diri. (Literaksi: Jurnal Manajemen Pendidikan, [Vol. 01 No. 01: 2023], hal. 188).
Menariknya, jauh sebelum David Dunning dan Justin Kruger meneliti fenomena ini, para ulama klasik sudah mengamati pola yang sama. Imam Khalil bin Ahmad, sebagaimana dikutip Imam Mawardi, membagi karakter manusia ke dalam empat tipe. Dan apa yang digambarkan pada paragraf sebelumnya termasuk ke dalam salah satu tipe yang beliau jelaskan.
وَقَدْ قَالَتْ عَائِشَةُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -: «يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَتَى يَعْرِفُ الْإِنْسَانُ رَبَّهُ؟ قَالَ: إذَا عَرَفَ نَفْسَهُ» . وَقَدْ قَسَّمَ الْخَلِيلُ بْنُ أَحْمَدَ أَحْوَالَ النَّاسِ فِيمَا عَلِمُوهُ أَوْ جَهِلُوهُ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ مُتَقَابِلَةٍ لَا يَخْلُو الْإِنْسَانُ مِنْهَا فَقَالَ: الرِّجَالُ أَرْبَعَةٌ: رَجُلٌ يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَذَلِكَ عَالِمٌ فَاسْأَلُوهُ، وَرَجُلٌ يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَذَلِكَ نَاسٍ فَذَكِّرُوهُ، وَرَجُلٌ لَا يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي فَذَلِكَ مُسْتَرْشِدٌ فَأَرْشِدُوهُ، وَرَجُلٌ لَا يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي فَذَلِكَ جَاهِلٌ فَارْفُضُوهُ
Artinya: "Siti Aisyah, radhiyallahu 'anha, berkata: 'Kapan seorang hamba makrifah Tuhannya?' Rasulullah SAW menjawab: 'Ketika ia mengetahui jati dirinya sendiri'. Imam Khalil bin Ahmad sungguh telah mengklasifikasikan (karakter) manusia dari sisi pengetahuan atau kepandirannya menjadi empat bagian perbandingan. Manusia tidak akan keluar dari empat karakter ini. Beliau berkata: '(Karakter) laki-laki (sebagai representasi dari manusia) itu ada empat, yakni:
- dia mengetahui bahwa dirinya seorang yang tahu. Dia termasuk orang alim, maka bertanyalah kalian kepadanya;
- dia orang mengerti, tapi tidak menyadarinya. Dia termasuk orang lupa, maka ingatkanlah dia!;
- dia orang tidak mengerti dan menyadari bahwa dirinya tidak mengerti. Dia termasuk orang yang bisa diberi petunjuk, maka tunjukkanlah dia!; dan
- dia orang tidak mengerti dan tidak menyadari bahwa dirinya tidak mengerti. Dia termasuk orang pandir, maka jauhilah dia!” (Imam Mawardi, Adabud Dunya wad-Din, [Mesir: Daru Maktabatul Hayat, t.t.], hal. 75—76).
Jadi, bukan hanya dalam dunia logika, tata bahasa, atau humor sebagaimana diteliti David Dunning dan Justin Kruger; dalam pendidikan agama pun fenomena dunning-kruger effect sudah lama menjadi perhatian para ulama. Manusia seperti ini tidak hanya tidak mengerti, tetapi juga tidak sadar bahwa dirinya tidak mengerti.
Dalam literatur klasik, karakter semacam ini disebut “jahlun murakkab”, atau kebodohan berlapis yang membuat seseorang merasa pintar padahal sebaliknya. Perhatikan kata-kata al-Khadimi berikut:
وَ) النَّوْعُ الثَّانِي جَهْلٌ (مُرَكَّبٌ) (هُوَ اعْتِقَادٌ غَيْرِ مُطَابِقٍ) لِلْوَاقِعِ كَاعْتِقَادَاتِ الْفَلَاسِفَةِ وَالْفِرَقِ الْمُخَالَفَةِ)
Artinya: "Macam kedua adalah "jahlun murakkab". Istilah ini merujuk pada keyakinan (seseorang) pada sesuatu, tapi tidak sesuai kenyataannya (salah paham). Misalnya, keyakinan sekte falasifah dan sekte yang melenceng." (Syekh Muhammad al-Khadimi, Bariqah Muhammadiyah, [Mesir: al-Halibi, t.t.], jilid II, hlm. 49).
Beberapa tahun terakhir di Indonesia, fenomena ini lazim kita jumpai, khususnya di ruang media sosial yang serba-transparan. Ada artis baru hijrah tiba-tiba bicara agama, baru beberapa tahun muallaf sudah membuat kajian keagamaan, belajar al-Qur'an cuma dari terjemahan sudah membuat podcast kajian tafsir, atau ada juga latarbelakangnya agamawan berbicara dengan lantang di publik tentang teknologi atau ekonomi yang baru ia selami.
Orang-orang semacam ini, dalam pandangan Syekh Muhammad al-Khadimi, sulit disembuhkan atau diberi nasihat. Sebab, mereka berkeyakinan dirinya berada di jalan yang sudah benar dan tepat. Satu-satunya obat yang bisa menyelamatkannya adalah kesadaran diri tentang kesalahannya.
وَأَمَّا الْجَهْلُ الْمُرَكَّبُ فَقَدْ أَعْيَانِي دَوَاؤُهُ (لِأَنَّ صَاحِبَهُ يَعْتَقِدُ أَنَّهُ) أَيْ جَهْلَهُ (عِلْمٌ وَكَمَالٌ لَا جَهْلٌ وَمَرَضٌ فَلَا يَطْلُبُ إزَالَتَهُ وَعِلَاجَهُ) ؛ لِأَنَّ دَاعِيَ الِاحْتِيَاجِ إلَى الْإِزَالَةِ إنَّمَا هُوَ مَعْرِفَةُ كَوْنِهِ نَقْصًا
Artinya: "Jahlun Murakkab merupakan penyakit yang obatnya saya tidak ketahui. Sebab, pemiliknya meyakini kepandirannya sebagai sebuah pengetahuan sempurna, bukan sebuah pandir dan penyakit yang perlu dihilangkan dan diobati. Oleh sebab itu, yang dibutuhkan untuk menghilangkan penyakit ini adalah kesadaran diri akan kekurangannya.” (Syekh Muhammad al-Khadimi, jilid II, hlm. 50).
Melihat uraian ini, masalah yang dihadapi oleh orang yang terjangkit penyakit ini bukan hanya salah memahami sebuah pengetahuan, melainkan juga sulitnya dinasihati oleh orang lain karena merasa benar, padahal mengerti saja tidak.
Sementara itu, orang yang terjangkit dunning-kruger effect sebenarnya sedang menghadapi dua masalah serius. Masalah pertama adalah kekeliruan informasi pada tahap awal seseorang belajar. Pada fase ini, seseorang sering menangkap informasi secara salah atau setengah-setengah, sehingga muncullah miskonsepsi. Misalnya ketika ia menerima pesan berantai berisi teori konspirasi, lalu ia merasa sangat yakin pesan itu benar dan menyebarkannya ke mana-mana tanpa sadar bahwa ia sedang ikut menyebarkan kebohongan.
Masalah kedua adalah ketidaksadaran atas keterbatasan dirinya sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa pengetahuan dan kemampuan mereka sebenarnya minim. Karena merasa selalu benar, mereka tidak terpikir untuk mengecek ulang atau mendalami informasi yang mereka terima. Akibatnya, kesalahan yang mereka lakukan justru semakin terlihat jelas. (Literaksi: Jurnal Manajemen Pendidikan, hlm. 189).
Untuk mengatasi hal ini, kita bisa membiasakan untuk bertanya dan mempertanyakan apa pun yang sedang kita pelajari. Dengan terus bertanya, seseorang tidak akan cepat puas dengan pengetahuan yang ia miliki. Ia akan sadar bahwa banyak hal masih perlu digali, dan bahwa wawasannya masih jauh dari cukup. Sikap ingin terus mencari tahu inilah yang membuat seseorang semakin paham dan semakin sadar batas dirinya. (hlm. 189).
Terkait pesan untuk selalu kritis dan terus belajar, Imam Mawardi, misalnya, menegaskan:
وَلْيَكُنْ مُسْتَقِلًّا لِلْفَضِيلَةِ مِنْهُ لِيَزْدَادَ مِنْهَا، وَمُسْتَكْثِرًا لِلنَّقِيصَةِ فِيهِ لِيَنْتَهِيَ عَنْهَا، وَلَا يَقْنَعْ مِنْ الْعِلْمِ بِمَا أَدْرَكَ؛ لِأَنَّ الْقَنَاعَةَ فِيهِ زُهْدٌ، وَلِلزُّهْدِ فِيهِ تَرْكٌ، وَالتَّرْكُ لَهُ جَهْلٌ
Artinya: “Hendaknya engkau menganggap sedikit keutamaan yang ada pada dirimu agar engkau menambahnya, dan anggaplah besar kekuranganmu agar engkau meninggalkannya. Jangan merasa cukup dengan ilmu yang telah engkau capai, karena merasa cukup dalam hal ilmu adalah kezuhudan; dan kezuhudan di sini berarti meninggalkan upaya menambah ilmu. Padahal meninggalkan pencarian ilmu adalah sebuah kebodohan.” (Imam Mawardi, hal. 75).
Pada akhirnya, semua nasihat ini bermuara pada satu pesan penting, yaitu menjadi penuntut ilmu sepanjang hayat adalah jalan keselamatan. Dengan merendahkan hati, terus belajar, dan tidak cepat merasa pintar, kita terhindar dari penyakit merasa benar, yang bukan hanya merusak diri sendiri, tetapi juga bisa menyesatkan orang lain melalui miskonsepsi yang tersebar di ruang publik. Semoga kita selalu dijauhkan dari sifat tersebut. Wallahu a'lam.
Ustadz Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil.
