NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Peran Tasawuf di Tengah Kompleksitas Masyarakat Modern

NU Online·
Peran Tasawuf di Tengah Kompleksitas Masyarakat Modern
Ilustrasi sufi. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Masyarakat modern seringkali menghadapi sebuah paradoks. Di antaranya, meskipun pencapaian materi dan teknologi berkembang pesat, hal ini tidak serta-merta menghasilkan kebahagiaan atau kedamaian yang diidamkan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orientasi rasional-empiris dan positivistik cenderung mendahulukan akal daripada spiritualitas. Pada akhirnya memicu krisis spiritual. Sayyed Hossein Nasr misalnya, menyatakan bahwa akibat masyarakat modern yang terlalu mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan mereka berada dalam krisis spiritual. Akibatnya, mereka mengalami kehampaan, kegelisahan, disorientasi, ketidakbahagiaan, dan akhirnya bunuh diri (Ahmad Sidqi, Wajah Tasawuf di Era Modern; Antara Tantangan dan Jawaban, hlm. 7).

Tasawuf, sebagai dimensi spiritual Islam, hadir di tengah hiruk-pikuk modernitas bukan sekadar warisan kuno, akan tetapi kunci penting agar jiwa dan raga kita tetap seimbang. Tasawuf datang sebagai 'obat' penting untuk memperbaiki cara berpikir modern yang serba kekurangan ini. Dia menawarkan keseimbangan antara logika (akal) dan jiwa (spiritual). 

Apa itu Tasawuf?

Syekh Abul ‘Abbas Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Isa Zarruq Al-Fasi, (wafat 899 H) seorang ulama sufi, asal Maroko mengatakan:

التَصَوُّفُ عِلْمٌ قُصِدَ لِاِصْلَاحِ الْقُلُوْبِ وَاِفْرَادِهَا للهِ تَعَالَى عَمَّا سِوَاهُ

Artinya, “Tasawuf adalah ilmu yang dimaksudkan untuk memperbaiki hati dan memfokuskannya (hati) hanya untuk Allah swt dari selain-Nya,” (Ahmad Zarruq al-Fasi, Qawa’idut Tasawwuf, [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah: 2005], hlm. 25).

Ilmu tasawuf sendiri lebih cenderung tentang urusan hati dan cara-cara membersihkannya, sebagaimana disampaikan oleh Sayyid Murtadha Az-Zabidi:

تَطْهِيْرُ الْبَاطِنِ وَالظَّاهِرِ مِنَ الْآثَامِ الخَفِيَّةِ وَالْجَلِيَّةِ مِنْ أَوَائِلِ التَّصَوُّفِ

Artinya, “Menyucikan batin dan lahir dari dosa-dosa yang tidak jelas dan yang jelas, merupakan awal mula dari tasawuf,” (Sayyid Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin, [Beirut, Tarikh al-‘Arabi: 1994], jilid. VIII, hlm. 477).

Dari kedua definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa tasawuf adalah ilmu yang bertujuan untuk memurnikan hati agar terfokus hanya kepada Allah SWT. Proses ini dimulai dengan menyucikan diri secara lahiriah dan batiniah dari semua jenis dosa.

Kebutuhan Tasawuf dalam Menghadapi Kompleksitas Masyarakat Modern

Tasawuf hadir untuk mengobati krisis spiritual masyarakat modern. Dalam studi klinis dan psikologis, tradisi ini terbukti mampu mengatasi gangguan kejiwaan. Hal ini menegaskan bahwa Tasawuf kini dilihat bukan sekadar praktik agama, melainkan metode penyembuhan psikologis Islami yang sah, menjadikannya terapi spiritual kontemporer. (Rama Armedi dkk, Relevansi Tasawuf dalam Islam di Era Modern, [Jurnal Hikamia, Volume 5, No 1, Maret 2025], hlm. 47-48)

Untuk mengatasi keterasingan jiwa dan menjaga integritas pribadi, Tasawuf mengajarkan pengawasan batin melalui konsep Muraqabah. Muraqabah (pengawasan diri) adalah kesadaran penuh bahwa Allah selalu melihat segala sesuatu, termasuk apa yang ada di hati dan pikiran kita. Konsep ini berfungsi sebagai mekanisme akuntabilitas diri internal yang sangat penting di tengah lingkungan modern yang serba anonim, membantu seorang sufi menjaga perilaku dan tetap fokus pada tujuan spiritual. (Ahmad Junaedi Sitika dkk, Dalil-Dalil Tasawuf: Dasar-Dasar Al-Qur’an dan Hadits serta Implementasinya dalam Kehidupan Nabi dan Sahabat, [Jurnal Pendidikan Multidisipliner, Volume 7 Nomor 11, November 2024], hlm. 42)

Ajaran Tasawuf yang paling relevan untuk masyarakat modern adalah Tasawuf Akhlaki (Sufisme Etika). Ajaran sufi ini berfokus pada teori perilaku, karakter, dan perkembangan moral, dengan tujuan membentuk manusia yang berakhlak mulia di tengah kemerosotan etika kontemporer. (Muhammad Nur dkk, Tasawuf dan Modernisasi: Urgensi Tasawuf Akhlaki Pada Masyarakat Modern, [Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, Volume 25 Nomor 1, April 2023], hlm. 114-118)

Tasawuf Akhlaki menawarkan solusi sistematis dan prosedural terhadap moralitas yang terfragmentasi melalui dua langkah utama, yakni takhalli dan tahalli. Berikut adalah paparan lebih rinci mengenai keduanya:

1. Takhalli (Pembersihan Diri)

Menurut Syekh Amin Al-Kurdi dalam kitab Tanwirul Qulub, takhalli adalah proses menghilangkan sifat-sifat buruk (yang kotor secara makna). Takhalli ini adalah langkah awal seseorang setelah ia bertobat. Setelah bertobat dari dosa lahir dan batin, ia diwajibkan membersihkan diri dari semua sifat yang bisa menjauhkan ia dari Allah. Proses pemurnian diri ini menjadi inti dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), yang merupakan tujuan utama dalam Tasawuf. 

Tanpa proses takhalli, hati seseorang akan tetap terhalang dari menerima cahaya Ilahi, karena sifat-sifat tercela ini bertindak sebagai hijab (penghalang) yang menutupi cahaya dan kebenaran. Simak penjelasan beliau berikut:

اعلم أيها المريد أنه ينبغي لك بعد التوبة أن تتخلى عن الأوصاف الذميمة لأنها نجاسات معنوية لا يمكن التقرب بها إلى الحضرة القدسية الإلهية ، كما لا يمكن التقرب بالنجاسات الصورية إلى العبادات الإلهية فلابد للمسالك أن يزكي نفسه من جميعها ويتحلى بالأوصاف الحميدة . فالأوصاف الذميمة كالحسد ، والحقد ، والكبر، والعجب، والبخل ، والرياء ، وحب الجاه ، والرياسة والتفاخر ، والغضب ، والغيبة ، والنميمة ، والكذب، وكثرة الكلام ونحو ذلك 

Artinya: “Ketahuilah wahai orang-orang yang menghendaki jalan Tuhan, setelah bertobat, kamu harus takhalli atau membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, karena sifat-sifat tersebut adalah najis secara maknawi yang tidak dapat mendekatkan diri kepada hadirat suci Ilahi. Sebagaimana najis secara fisik tidak dapat digunakan untuk mendekatkan diri dalam ibadah kepada Allah. 

Maka, setiap pejalan (menuju Allah) harus mensucikan dirinya dari semua sifat tercela tersebut dan menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji. Sifat-sifat tercela seperti hasad (dengki), dendam, kesombongan, ujub (bangga diri), kikir, riya (pamer), cinta kedudukan, kepemimpinan, berbangga diri, marah, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dusta, banyak bicara, dan sifat-sifat sejenisnya," (Syekh Amin Al-Kurdi, Tanwirul Qulub fi Mu’amalati ‘Alamil Ghuyub, (Damaskus, Darul Qalam: tt), hlm. 488).

Ajaran takhalli ini memberikan kontribusi nyata di tengah carut-marutnya moral manusia. Misalnya, praktik tobat (bagian dari takhalli) mendorong penyesalan atas kesalahan praktis, seperti ghasab (mengambil barang orang lain tanpa izin), yang mengembalikan kesadaran akan hak milik dan tanggung jawab personal. Dengan menargetkan akar tersebut sebagai maksiat utama yang harus dihilangkan, Tasawuf memastikan fondasi moral yang dibangun setelahnya kokoh.

Di tengah derasnya arus modernitas, institusi pesantren yang berafiliasi dengan tarekat berfungsi sebagai benteng moralitas dan tempat perlindungan spiritual. Di wilayah seperti Purworejo, pengaruh tarekat berkembang pesat sebagai respons terhadap keterasingan jiwa dan ketidakpuasan moral masyarakat.   

Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan mengimplementasikan ajaran Tasawuf melalui penggabungan Dzikir Jahr (suara keras, dari Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani) dan Dzikir Sirri (bacaan lemah, dari Syekh Mulana Muhammad Naqsyabandi).

Dzikir tersebut digunakan sebagai teknis pokok untuk mencapai kesempurnaan ibadah dan yang terpenting, memperoleh ketentraman dan ketenangan hati. Motivasi para pengikut adalah meningkatkan amal ibadah dan mengharap keridhaan Allah, yang berfungsi sebagai pondasi untuk keluar dari kebuntuan modernitas dan menemukan makna hidup yang hakiki.  (Arifin, Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Gebang Purworejo Jawa Tengah: Studi tentang Perkembangan dan Sistemnya, [Skripsi Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2007], hlm. 83).

2. Tahalli (Penghiasan Diri)

Setelah hati dibersihkan dari segala maksiat, sufi mencapai tahap tahalli, di mana mereka berusaha menghiasi diri dengan nilai-nilai terpuji (akhlak mahmudah) dan beramal baik.

Tahalli sendiri adalah menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji seperti keikhlasan, kerendahan hati, kasih sayang, dan kesabaran. Tahalli merupakan wujud nyata dari implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, yang melahirkan akhlak mulia dan perilaku terpuji. (Tanwirul Qulub fi Mu’amalati ‘Alamil Ghuyub, hlm. 499)

Pelaksanaan tahalli menuntut individu mendasarkan semua tindakan, besar maupun kecil, pada ajaran agama, mencakup kewajiban lahiriah (seperti shalat dan puasa) dan batiniah (seperti iman dan kasih kepada Tuhan). Integrasi ketaatan lahiriah dan kualitas batiniah ini mencerminkan kesalehan yang menyeluruh. Implementasi kedua prosedur ini merupakan mekanisme psikologis-spiritual yang terstruktur, bertujuan untuk mengatasi fragmentasi ruh dan mencapai kepuasan optimal dalam kehidupan. (Muhammad Nur dkk, Tasawuf dan Modernisasi: Urgensi Tasawuf Akhlaki Pada Masyarakat Modern, [Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, Volume 25 Nomor 1, April 2023], hlm. 111-112)

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kebutuhan akan Tasawuf di masa modern ini bersifat fundamental. Tasawuf merupakan penawar terhadap krisis makna dan spiritual yang diakibatkan oleh dominasi rasionalisme. Rasionalisme yang tidak seimbang telah memicu kekosongan jiwa dan keterpecahan batin. Tasawuf hadir sebagai penyejuk, menawarkan penyatuan kembali antara akal dan spiritualitas.

Melalui Tasawuf Akhlaki yang sudah ada aturannya (takhalli dan tahalli), Tasawuf menyediakan jalan terstruktur untuk membersihkan diri dari keterikatan duniawi (yang merupakan akar kemerosotan moral modern) dan menghiasi diri dengan karakter mulia. Wallahu a’lam.

Ustadz Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.

Artikel Terkait

Peran Tasawuf di Tengah Kompleksitas Masyarakat Modern | NU Online