NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Prof. Sri Mulyati dan Relevansi Tasawuf di Tengah Krisis Spiritual Manusia

NU Online·
Prof. Sri Mulyati dan Relevansi Tasawuf di Tengah Krisis Spiritual Manusia
Prof. Sri Mulyati
Bagikan:

Di tengah riuh modernitas yang sering memisahkan agama dari kehidupan nyata, Sri Mulyati hadir sebagai penenun jembatan yang menghubungkan kedalaman tasawuf dengan dinamika zaman. Ia adalah pribadi yang mampu memadukan keteguhan spiritual, keluasan intelektual, dan keberanian sosial seharmonis dirinya. Ia bukan hanya seorang guru besar, melainkan penjaga api ruhani yang memastikan tasawuf tetap menyala di tengah derasnya arus perubahan.

Sebagai Guru Besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Sri Mulyati menempatkan tasawuf dalam lanskap akademik yang kokoh sekaligus membumi. Di ruang-ruang kuliah, ia tidak sekadar mengajarkan teori sufisme, tetapi membangun kesadaran bahwa tasawuf adalah disiplin pembinaan jiwa yang relevan sepanjang zaman. 

Baginya, spiritualitas Islam bukanlah monumen masa silam yang dipuja dari kejauhan, melainkan energi hidup yang harus terus bergerak, bertransformasi, dan berdialog dengan perubahan sosial.

Komitmen itu tidak berhenti pada wacana ilmiah. Dalam ranah organisasi, ia pernah memimpin Fatayat Nahdlatul Ulama selama dua periode (1989–2000), masa yang penuh dinamika sosial-politik nasional. Ia juga mengemban amanah di Muslimat NU sebagai Ketua I serta menjadi anggota LBM PBNU hingga akhir hayatnya. 

Perjalanan organisasional ini menunjukkan satu hal penting: tasawuf yang ia pahami tidak menjauhkan seseorang dari gelanggang sosial, tetapi justru menguatkan keberpihakan pada umat.

Tasawuf: Jalan, Bukan Pelarian

Dalam karya monumentalnya Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, Prof. Sri Mulyati mengurai makna tarekat sebagai thariqah, jalan menuju Allah. Ia menjelaskan konsep wasilah dan rabithah sebagai metode pembinaan ruhani yang terstruktur, bukan sekadar praktik individual yang lepas dari bimbingan. Tarekat, dalam pandangannya, adalah sistem pendidikan spiritual yang memiliki sanad, metodologi, dan etika.

Ia menolak anggapan populer bahwa tasawuf identik dengan uzlah, mengasingkan diri dari dunia dan bersikap pasif terhadap realitas sosial. Baginya, pandangan itu adalah reduksi historis. 

Tarekat sendiri secara harfiah berarti jalan yang secara lebih luas diartikan sebagai wasilah dan rabithah menuju  Tuhan. Rabithah  sendiri merupakan salah satu kaifiat zikir dalam tarekat Naqsabandiyah yang merupakan kelanjutan dari wasilah. (Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2006, h. 88).

Banyak pendapat terbentuknya tarekat-tarekat sufi tersebut, namun yang paling penting adalah bahwa gerakan tasawuf yang sebelumnya merupakan sebuah realitas tanpa nama kini berubah menjadi komunitas dengan identitas baru dan membentuk mazhab-mazhab layaknya yang terjadi dalam tradisi fikih dan kalam. (Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, Jakarta, Kencana, 2006, h. 26).

Dalam sejarah Islam, para sufi justru tampil sebagai pendidik, pembaharu, bahkan penggerak sosial. Ia kerap merujuk pada keteladanan Hasan al-Syazhili, pendiri Tarekat Syadziliyah, yang membangun kekuatan spiritual umat tanpa meninggalkan tanggung jawab sosialnya. Spirit jihad melawan kezaliman, menurutnya, bukanlah antitesis dari tasawuf, melainkan buah dari kedalaman iman.

Melalui riset-risetnya, ia menunjukkan bahwa tarekat di Indonesia tidak pernah mati. Sebaliknya, ia tumbuh dan beradaptasi. Banyak tarekat mengelola lembaga pendidikan formal, aktif dalam kegiatan sosial, dan memanfaatkan teknologi modern sebagai media dakwah. Fakta ini menegaskan fleksibilitas tasawuf, ia dapat hidup dalam masyarakat rasional dan urban tanpa kehilangan substansi dzikir dan tazkiyatun nafs.

Kesatuan Syariat, Tarekat, dan Hakikat

Dalam kerangka teologis, Prof. Sri Mulyati menekankan pentingnya integrasi antara syariat, tarekat, dan hakikat. Syariat adalah fondasi normatif; tarekat adalah proses pembinaan dan latihan batin; sedangkan hakikat adalah pencerahan makna yang dicapai melalui perjalanan tersebut. Ketiganya merupakan satu kesatuan organik. Tasawuf yang benar, tegasnya, tidak boleh bertentangan dengan prinsip akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Penegasan ini penting di tengah munculnya berbagai bentuk spiritualitas instan yang cenderung memisahkan pengalaman batin dari disiplin syariat. Bagi Prof. Sri, kedalaman spiritual tanpa fondasi teologis yang benar justru berisiko menyesatkan. Karena itu, ia berdiri teguh pada tradisi keilmuan yang bersanad dan bertanggung jawab.

Prof. Sri Mulyati membaca dengan tajam krisis spiritual manusia modern. Perkembangan teknologi, kemajuan sains, dan kompetisi ekonomi global telah membawa kemudahan material, namun juga melahirkan tekanan psikologis, alienasi, dan fragmentasi sosial. Dalam konteks inilah tasawuf menemukan relevansinya.

Tasawuf, menurutnya, menawarkan ketenangan jiwa (sakinah), kejernihan hati, dan orientasi hidup yang transenden. Ia menggerakkan manusia untuk kembali menemukan jati diri di tengah arus kehidupan yang serba cepat. Spiritualitas bukanlah pelarian, melainkan penyeimbang, agar manusia tidak terjerumus pada kekosongan makna.

Lebih jauh, ia memberi perhatian besar pada peran perempuan dalam dunia tasawuf. Melalui pendekatan historis dan sosiologis, ia menunjukkan bahwa perempuan memiliki kontribusi signifikan dalam perkembangan tarekat dan pendidikan spiritual di Indonesia. Tasawuf, dalam perspektifnya, membuka ruang pemberdayaan memberi legitimasi teologis bagi keaktifan perempuan dalam ruang-ruang keagamaan dan sosial.

Sufisme Nusantara dan Moderasi

Dalam karyanya Tasawuf Nusantara: Rangkaian Mutiara Sufi Terkemuka, ia mengulas corak khas sufisme Indonesia yang berinteraksi dengan budaya lokal tanpa kehilangan universalitas ajaran Islam. 

Ia menyinggung dakwah kultural para Wali Songo yang menanamkan nilai-nilai Islam dengan pendekatan damai dan humanis. Dari sini tampak bahwa sufisme Nusantara memiliki karakter inklusif, adaptif, dan moderat.

Bagi Prof. Sri, tasawuf modern harus menumbuhkan tasamuh, kerendahan hati, dan pengendalian diri. Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting bagi harmoni kebangsaan. Spiritualitas yang matang akan melahirkan keikhlasan dalam pengabdian dan tanggung jawab sosial.

Warisan Intelektual dan Spiritualitas

Wafatnya Prof. Sri Mulyati pada 2023 meninggalkan duka mendalam di kalangan akademisi dan pegiat tasawuf. Namun, gagasan dan karya-karyanya tetap menjadi rujukan penting: Peran Edukasi Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, Tasawuf Nusantara, Warisan Agung Tasawuf, hingga Gus Dur di Mata Perempuan. Setiap karyanya memancarkan komitmen pada tasawuf yang otentik, kontekstual, dan membumi.

Pada akhirnya, pemikiran Prof. Sri Mulyati mengajak kita memahami tasawuf sebagai energi moral yang menyatu dengan profesionalitas kerja dan tanggung jawab sosial. Seorang sufi modern, dalam visinya, bukanlah sosok yang meninggalkan dunia, melainkan pribadi yang aktif bermuamalah, bekerja dengan integritas, dan tetap menjaga hubungan mendalam dengan Sang Khalik.

Warisan itulah yang membuat namanya tetap hidup sebagai penjaga api spiritualitas di tengah zaman yang berubah cepat, sekaligus sebagai teladan bahwa kedalaman batin dan keluasan pengabdian dapat berjalan seiring.

-------------
Tgk. Azmi Abubakar, Pengasuh di Dayah Jeumala Amal Lueng Putu, Penyuluh Agama Islam Di Kabupaten Pidie, Aceh.

Kolomnis: Azmi Abubakar