NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Rahasia Wewangian Nabi Muhammad SAW: Dari Misik hingga Za’faran

NU Online·
Rahasia Wewangian Nabi Muhammad SAW: Dari Misik hingga Za’faran
Ilustrasi parfum. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW selalu menarik untuk dikaji. Selain perjuangan dan akhlak mulia beliau, masih ada sisi-sisi unik kehidupan Rasulullah yang kerap luput dari perhatian umat Islam. Salah satunya adalah kecintaan beliau terhadap wewangian, yang tidak hanya menunjang penampilan, tetapi juga menjadi bagian dari kosmetika yang digunakan Nabi.

Rasulullah SAW dikenal sangat memperhatikan penampilan fisik agar dakwahnya mudah diterima umat. Walaupun secara alami beliau memiliki keistimewaan rupa dan jasmani, Nabi tetap menghias diri dengan hal-hal yang dibolehkan syariat. Di antara yang paling beliau sukai adalah wangi-wangian atau parfum.

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama, menyinggung kebiasaan Nabi dalam kitabnya Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Cahaya Purnama Kekasih Tuhan. Beliau menulis:

Nabi SAW suka berharum-harum dan tidak suka bau yang tidak enak,” (Cahaya Purnama Kekasih Tuhan, terjemah Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin [Jombang: Pustaka Tebuireng, 2019], hlm. 125)

Segala sesuatu yang dapat mewangikan tubuh dan memperbaiki penampilan termasuk dalam kategori kosmetika. Wewangian yang digunakan Nabi biasanya berasal dari bahan alami, baik tumbuhan maupun hewan. Menariknya, parfum yang beliau gunakan tidak hanya memperindah penampilan, tetapi juga memiliki efek terapi bagi kesehatan.

Salah satu minyak wangi yang digemari Rasulullah adalah misik. Minyak ini dihasilkan dari kelenjar wangi hewan sejenis kijang atau rusa. Wangi misik dikenal khas, kuat, dan tahan lama, sehingga menjadi salah satu wewangian paling berharga pada masa itu.

مِنْ خَيْرِ طِيْبِكُمْ المِسْكُ

Artinya, “Sebaik-baik wewangian kalian adalah misik (kasturi).” (HR. An-Nasa’i)

Sejak lama, misik dari kijang dikenal sebagai bahan baku tertua untuk parfum dan obat tradisional. Selain di Arab, penggunaannya juga populer di India, China, Nepal, dan Jepang (Shrestha, 1998, Animal Welfare in the Musk Deer, Applied Animal Behaviour Science, Vol. 59 No. 1–3: hlm. 245–250).

Saat ini, untuk mencegah kepunahan kijang penghasil misik, bahan tersebut diproduksi secara sintetis. Namun, khasiat misik alami tidak sepenuhnya sama dengan misik sintetis. Dari sisi keamanan, misik alami bahkan dinilai lebih aman bagi tubuh manusia.

Selain misik, Nabi juga menggunakan minyak wangi dari tanaman. Salah satunya adalah minyak Dzarirah (dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai jeringau, dan dalam bahasa Jawa disebut dlingo). Dalam riwayat Imam Bukhari, Ummul Mukminin Aisyah RA menuturkan:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ أَوْ مُحَمَّدٌ عَنْهُ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُرْوَةَ سَمِعَ عُرْوَةَ وَالْقَاسِمَ يُخْبِرَانِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ طَيَّبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدَيَّ بِذَرِيرَةٍ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ لِلْحِلِّ وَالْإِحْرَامِ

Artinya, “Aku membubuhi minyak wangi kepada Rasulullah SAW dengan kedua tanganku menggunakan minyak dzarirah, ketika beliau menunaikan Haji Wada’ untuk tahallul dan ihram.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain, Nabi merekomendasikan minyak dzarirah untuk mengatasi jerawat dan bisul. Penelitian modern pun mendukung hal ini. Studi di Indonesia membuktikan bahwa ekstrak rimpang jeringau (Acorus calamus L.), bahan dasar minyak dzarirah, memiliki khasiat anti-jerawat (Helmidanora dkk, 2023, Journal of Pharmaceutical and Health Research 4(1): hlm. 122–128).

Kosmetika memang tidak hanya berfungsi mewangikan tubuh, tetapi juga memperbaiki penampilan. Hal ini sangat relevan bagi perempuan, khususnya yang sudah berumah tangga, agar terlihat segar dan percaya diri di hadapan suaminya. Nabi juga memberikan panduan khusus tentang karakteristik parfum bagi laki-laki dan perempuan:

إِنَّ طِيْبَ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيْحُهُ وَخَفِيَ لَوْنُهُ وَطِيْبَ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِيَ رِيْحُهُ

Artinya, “Wewangian laki-laki adalah yang baunya jelas tercium namun warnanya samar. Sedangkan wewangian perempuan adalah yang tampak warnanya tetapi baunya lembut (tidak menyengat).” (HR. Al-Bazzar)

Salah satu parfum khusus perempuan adalah za’faran (safron), yang berwarna kuning kemerahan. Imam Suyuthi menegaskan, laki-laki dilarang memakai pakaian yang dicelup dengan za’faran. Namun, bila digunakan sebagai bumbu atau obat dalam jumlah sedikit, hal itu diperbolehkan (al-Maqamat as-Suyuthiyyah Adabiyyah wat Thibbiyyah, Darul Qalam, Damaskus, t.t.). Hikmahnya, za’faran diperkenankan bagi perempuan untuk menambah keharmonisan rumah tangga, yaitu warnanya yang khas dan aromanya yang lembut dapat meningkatkan kualitas hubungan suami-istri.

Adapun untuk keperluan umum, seperti menghindari bau badan, parfum hendaknya digunakan secukupnya, tidak berlebihan. Cukup untuk mencegah bau yang mengganggu orang lain. Konteks ini penting terutama bagi pencari ilmu dan murid yang berinteraksi dengan gurunya. Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya kebersihan badan dan kerapian penampilan murid. Dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim, beliau menulis:

Hendaknya murid menemui gurunya dengan etika sempurna: badan bersih, pakaian rapi, kuku terpotong, dan tanpa bau yang tidak sedap,” (Asy’ari, 1415 H, Adabul ‘Alim wal Muta’allim, Maktabah At-Turots Al-Islami, Jombang, hlm. 23)

Dalam konteks kekinian, santri yang hendak menemui kiainya dianjurkan membersihkan diri terlebih dahulu, termasuk menggunakan kosmetika sederhana seperti deodoran atau parfum untuk mencegah bau badan.

Dengan demikian, memperhatikan wewangian adalah bagian dari meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Selain memperindah penampilan, wewangian yang tepat juga menjaga kenyamanan sosial, meningkatkan kualitas interaksi, serta membawa maslahat dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam bis shawab.

Ustadz Yuhansyah Nurfauzi, apoteker dan peneliti farmasi.

Artikel Terkait

Rahasia Wewangian Nabi Muhammad SAW: Dari Misik hingga Za’faran | NU Online