Abu MUDI Ingatkan Pentingnya Tata Kelola Dayah yang Modern Tanpa Tinggalkan Tradisi
Ahad, 29 Maret 2026 | 19:00 WIB
Momen foto bersama usai gelaran workshop penguatan struktur kelembagaan di Aula Ma’had Aly MUDI Samalanga, Ahad (29/3/2026). (Foto: dok. Helmi Abu Bakar)
Bireuen, NU Online
Mudir Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Syekh H Hasanoel Basri HG atau Abu MUDI, mengingatkan pentingnya pengelolaan dayah yang modern tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi keilmuan Islam.
Hal tersebut disampaikannya dalam workshop penguatan struktur kelembagaan yang digelar di Aula Ma’had Aly MUDI Samalanga, Ahad (29/3/2026).
Kegiatan bertema Penguatan Struktur Dayah MUDI Menuju Tata Kelola yang Lebih Amanah dan Berkelanjutan ini diikuti oleh jajaran pimpinan dan pengelola dayah, mulai dari unsur mudir, wakil direktur (wadir), guru senior, hingga kepala bagian (kabag) dan wakil kepala bagian (wakabag).
Abu MUDI menekankan bahwa penguatan struktur organisasi menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan dayah.
“Dayah harus terus berbenah, baik dalam sistem maupun tata kelola. Dengan struktur yang kuat dan tertata, maka proses pendidikan akan berjalan lebih baik dan berkelanjutan,” ujarnya, salah seorang Mustasyar PBNU itu.
Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan dayah di era modern membutuhkan keseimbangan antara tradisi keilmuan klasik dengan manajemen yang profesional.
“Nilai-nilai keilmuan dan adab harus tetap dijaga, namun tata kelola juga harus terus ditingkatkan agar mampu menjawab tantangan zaman,” tambahnya.
Pada kesempatan lain, saat silaturahmi Lebaran, Abu MUDI menyampaikan rencana pengembangan dayah ke depan, salah satunya melalui studi banding ke sejumlah dayah dan pesantren di Pulau Jawa.
“Ke depan kita akan mencoba studi banding ke Pulau Jawa, melihat bagaimana pengelolaan koperasi dan minimarket di pesantren yang sudah maju,” ujarnya, kepada NU Online.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi dayah agar kebutuhan santri dan dewan guru dapat terpenuhi secara mandiri.
“Kita berharap nantinya semua kebutuhan santri dan dewan guru tersedia di lingkungan Dayah MUDI, melalui market dayah yang dikelola secara profesional,” jelasnya.
Selain itu, ia menyinggung rencana pemberdayaan kembali lembaga keuangan internal, yakni Bank MUDI, yang sebelumnya sempat mengalami kendala operasional.
“Bank MUDI juga akan kita upayakan kembali aktif, agar dapat mendukung ekonomi dayah dan masyarakat sekitar,” tambahnya.
Sementara itu, panitia pelaksana menyebutkan bahwa workshop ini bertujuan memperkuat koordinasi internal antarunit serta meningkatkan efektivitas kerja di lingkungan Dayah MUDI.
Kegiatan ini bertujuan agar seluruh jajaran pengelola memiliki pemahaman yang sama terkait struktur organisasi, tugas pokok, serta fungsi masing-masing.
Workshop ini juga menjadi ruang diskusi strategis untuk merumuskan langkah-langkah peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan di lingkungan dayah.
Selain Abu MUDI, workshop ini turut dihadiri berbagai tokoh dan peserta dari beragam kalangan. Salah satunya Tgk Khalid dari Jeunieb yang mengikuti kegiatan sebagai peserta aktif.