Abu MUDI Ulas Kesabaran sebagai Senjata Menaklukkan Hawa Nafsu
Jumat, 24 Juli 2026 | 07:00 WIB
Mustasyar PBNU/Mudir Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Abu Syeikh H. Hasanoel Bashry HG (Abu MUDI), (Foto: Helmi)
Bireuen, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Mudir Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Abu Syeikh H. Hasanoel Bashry HG (Abu MUDI), menegaskan bahwa sabar merupakan salah satu akhlak paling agung dalam Islam yang menjadi kunci keberhasilan seorang mukmin dalam menundukkan hawa nafsu, meraih petunjuk Allah, serta memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat.
Hal tersebut disampaikan Abu MUDI saat mengisi pengajian rutin Tastafi di Balee Al-Bakri, Samalanga, Kabupaten Bireuen, yang dihadiri jamaah dari berbagai daerah di Aceh, Rabu (22/7/2026)
Baca Juga
Kisah Nabi Ayub dan Kesabarannya
Dalam pengajiannya, Abu MUDI mengulas kandungan Kitab Mau'izhatul Mu'minin min Ihya' Ulumiddin karya Syaikh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi, ringkasan dari kitab monumental Ihya' Ulumiddin karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, khususnya pada bab tentang keutamaan dan hakikat sabar.
Ulama kharismatik Aceh itu Abu MUDI menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap sabar. Bahkan, kata beliau, kata sabar dan berbagai turunannya disebutkan lebih dari 70 kali dalam Al-Qur'an sebagai bukti betapa agung kedudukannya dalam kehidupan seorang mukmin.
"Allah mengaitkan begitu banyak kemuliaan dengan sifat sabar. Kepemimpinan, pahala, rahmat, petunjuk hingga kebersamaan Allah semuanya diberikan kepada orang-orang yang sabar," ujar Abu MUDI.
Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Surah As-Sajdah ayat 24 yang menjelaskan bahwa Allah mengangkat para pemimpin yang memberi petunjuk karena kesabaran mereka.
Menurut Abu MUDI, kepemimpinan dalam Islam bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan atau kekuatan, tetapi lahir dari kemampuan seseorang bersabar dalam menghadapi berbagai ujian, tantangan, dan amanah.
Selain itu, Allah juga menjanjikan balasan terbaik bagi orang-orang yang sabar sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nahl ayat 96, bahkan pahala mereka diberikan tanpa batas sebagaimana firman-Nya dalam Surah Az-Zumar ayat 10.
"Semua amal ibadah memiliki ukuran pahala yang telah ditentukan. Akan tetapi, sabar merupakan satu-satunya amalan yang Allah nyatakan pahalanya tanpa batas," jelasnya.
Abu MUDI juga mengingatkan bahwa kemuliaan terbesar bagi orang yang sabar ialah memperoleh kebersamaan Allah sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 153.
Menurutnya, kebersamaan Allah bukan sekadar pertolongan, tetapi juga bimbingan, perlindungan, dan rahmat yang senantiasa menyertai orang-orang yang mampu bersabar dalam menjalani kehidupan.
Baca Juga
Kesabaran Doa Nabi Zakaria
Dalam kesempatan tersebut, Abu MUDI menjelaskan hakikat sabar sebagaimana diterangkan Imam Al-Ghazali. Menurutnya, sabar bukan hanya menahan diri ketika mendapat musibah, tetapi merupakan kemampuan menjaga dorongan agama agar tetap lebih kuat daripada dorongan hawa nafsu dan bisikan setan.
"Sabar adalah kekuatan agama yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Selama agama memimpin hawa nafsu, seseorang akan berada di jalan keselamatan," terangnya.
Abu MUDI menjelaskan bahwa dalam diri manusia selalu terjadi pertarungan antara dua kekuatan, yaitu dorongan agama dan dorongan hawa nafsu.
Imam Al-Ghazali, lanjutnya, membagi keadaan manusia menjadi tiga golongan. Pertama, golongan yang berhasil mengalahkan hawa nafsu secara sempurna. Mereka merupakan golongan yang sangat sedikit jumlahnya, yaitu para shiddiqin dan orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Mereka istiqamah dalam ketaatan sehingga hawa nafsu tidak lagi mampu menguasai dirinya.
Kedua, golongan yang justru dikuasai hawa nafsu sepenuhnya. Pada kelompok ini, dorongan agama melemah sehingga kehidupan mereka dikendalikan oleh syahwat dan bisikan setan. Menurut Abu MUDI, kondisi ini merupakan keadaan yang sangat berbahaya karena seseorang kehilangan kemampuan membedakan antara yang benar dan salah.
Ketiga, golongan yang paling banyak dialami manusia, yaitu mereka yang terus berjuang melawan hawa nafsunya. Terkadang dorongan agama menang, namun pada waktu lain hawa nafsu kembali menguasai dirinya.
"Mereka inilah para mujahid. Mereka terus berjuang memperbaiki diri, bertaubat ketika tergelincir, kemudian bangkit kembali menuju Allah," ujar Abu MUDI.
Menurutnya, perjuangan melawan hawa nafsu merupakan jihad yang berlangsung sepanjang hayat. Karena itu, seorang muslim tidak boleh merasa puas terhadap amalnya, tetapi harus terus melakukan mujahadah agar dorongan agama semakin kuat.
Abu MUDI juga mengingatkan bahwa sabar bukanlah sikap pasif atau menyerah terhadap keadaan. Sebaliknya, sabar adalah kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi ujian, tetap istiqamah dalam menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta tetap tenang ketika menghadapi berbagai cobaan kehidupan.
Ia mengajak seluruh jamaah untuk membiasakan diri bersabar dalam tiga keadaan, yaitu sabar menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar meninggalkan maksiat, dan sabar menghadapi musibah.
Menurutnya, ketiga bentuk kesabaran tersebut menjadi fondasi utama dalam membentuk pribadi muslim yang kuat, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menutup pengajiannya, Abu MUDI mengajak kaum muslimin untuk terus memperbanyak doa, memperkuat kesabaran, serta menjadikan Al-Qur'an dan tuntunan para ulama sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
"Sabar bukan sekadar menahan diri, tetapi jalan menuju kedekatan dengan Allah. Orang yang mampu bersabar akan memperoleh petunjuk, rahmat, keberkahan, dan pertolongan Allah dalam setiap langkah kehidupannya," pungkas Abu MUDI.