Daerah

Dampak Gempa Flores: dari Krisis Air hingga Persoalan Sosial

Ahad, 27 September 2026 | 12:30 WIB

Dampak Gempa Flores: dari Krisis Air hingga Persoalan Sosial

Direktur Eksekutif Daerah Walhi NTT Yuvensius Stefanus Nonga dalam Konferensi Pers di Jakarta pada Jumat (25/9/2026). (NU Online/Jannah)

Jakarta, NU Online

 

Gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 tidak hanya meninggalkan kerusakan rumah dan infrastruktur. Warga di sejumlah wilayah terdampak masih menghadapi kesulitan mengakses kebutuhan dasar, mulai dari air hingga pangan. Bahkan, persoalan sosial turut muncul setelah bencana.

 

Direktur Eksekutif Daerah Walhi NTT Yuvensius Stefanus Nonga mengatakan telah menjangkau sekitar 450 titik dalam pelaksanaan respons tanggap darurat. Dari pemantauan tersebut, masih ditemukan wilayah yang mengalami kesulitan memperoleh akses terhadap sumber air dan pangan.

 

"Per hari ini, banyak kemudian akses-akses ke sumber-sumber pangan, akses-akses ke sumber air, itu juga menjadi kesulitan masyarakat di Flores itu sendiri," katanya dalam Konferensi Pers di Jakarta pada Jumat (25/9/2026).

 

Ia mengatakan bahwa dampak pascagempa tidak berhenti pada kerusakan bangunan. Kesulitan mengakses kebutuhan dasar juga berpotensi memunculkan persoalan sosial lain di tengah masyarakat.

 

"Sebetulnya cukup banyak resiko yang dihasilkan pasca gempa gitu. Tidak hanya rumah yang runtuh, kemudian terdampak ke air dan lain sebagainya, tapi resiko sosial juga timbul dari situ," ujarnya.

 

Yuvensius mengatakan bahwa persoalan akses air ditemukan hampir di seluruh titik yang dijangkau Walhi NTT dalam respons tanggap darurat. Selain itu, masih terdapat permintaan bantuan dari sejumlah wilayah yang dinilai belum terjangkau secara optimal oleh pemerintah.

 

"Ada yang kemudian di level masyarakat sendiri banyak sekali bencana-bencana sosial lain, turunan-turunan lain seperti misalnya akses ke air yang sulit dan itu kami temukan di hampir semua titik yang kami jangkau di respon tanggap darurat," katanya.

 

Yuvensius mengungkapkan bahwa beberapa aliran sungai dan mata air mengalami penurunan debit maupun perubahan kualitas. Situasi tersebut semakin serius karena terjadi di tengah musim kemarau.

 

Sementara itu, Manajer Pengelolaan Isu Bencana Ekologis Walhi Melva Harahap mengatakan kondisi pengungsian yang buruk tidak hanya meningkatkan risiko penyakit, tetapi juga membuka kerentanan terhadap kekerasan, terutama bagi kelompok rentan.

 

Melva menemukan kasus kekerasan seksual terhadap anak perempuan di sekitar lokasi pengungsian. Temuan ini menunjukkan masih perlunya penguatan mekanisme perlindungan bagi perempuan dan anak selama masa tanggap darurat.

 

"Bencana di Flores yang dibutuhkan bukan hanya respons setelah bencana terjadi, tetapi penguatan mitigasi, kesiapsiagaan masyarakat, perlindungan kelompok rentan, dan pembangunan yang berbasis pada pengurangan risiko bencana. Tanpa itu, tragedi yang sama akan terus berulang," ucapnya.