Daerah

Libur Panjang Idul Fitri Usai: Kini Santri Kembali, Denyut Aktivitas Dayah di Aceh Hidup Lagi

Ahad, 29 Maret 2026 | 21:00 WIB

Libur Panjang Idul Fitri Usai: Kini Santri Kembali, Denyut Aktivitas Dayah di Aceh Hidup Lagi

Momen santri di Aceh kembali ke Dayah. (Foto: dok. Helmi Abu Bakar)

Bireuen, NU Online

Libur panjang Idul Fitri 1447 Hijriah telah usai. Ribuan santri kini kembali ke dayah-dayah di Aceh, menghidupkan kembali aktivitas pendidikan Islam tradisional yang sempat lengang selama masa Lebaran.


Arus kedatangan santri terlihat di berbagai dayah besar di Aceh, seperti Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Dayah Ummul Ayman Samalanga, dan Pondok Pesantren Darul Munawwarah.


Para santri datang secara bertahap dari berbagai daerah, dengan puncak kedatangan terjadi pada Jumat, 27 Maret 2026, yang telah ditetapkan sebagai jadwal resmi masuk kembali ke pondok.


Suasana yang sebelumnya sepi kini berubah menjadi ramai. Di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, para santri tampak berdatangan membawa perlengkapan belajar, diantar oleh orang tua, lalu kembali menempati bilik-bilik sederhana yang menjadi tempat mereka menuntut ilmu.


Wakil Kepala Bagian Pendidikan Dayah MUDI Samalanga, Tgk Hendri, mengatakan bahwa pihak dayah telah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut kembalinya para santri.


“Alhamdulillah, santri sudah mulai kembali. Jadwal resmi masuk pada hari Jumat, 27 Maret 2026, dan insyaallah kegiatan belajar mengajar akan kembali berjalan normal,” ujarnya.


Ia menjelaskan bahwa masa pasca-Lebaran menjadi fase penting untuk mengembalikan ritme pendidikan di lingkungan dayah.


“Biasanya di awal-awal ini ada masa penyesuaian. Tapi kami yakin santri sudah siap kembali fokus belajar,” tambahnya.


Hal senada disampaikan guru senior Dayah MUDI Samalanga, Tgk Muhammad Ali. Ia menegaskan bahwa kembalinya santri ke dayah bukan sekadar melanjutkan pembelajaran, tetapi juga momentum untuk menata kembali niat dan memperkuat adab.


“Dayah ini bukan hanya tempat belajar kitab kuning, tapi tempat membentuk akhlak, kesabaran, dan kedisiplinan. Kembalinya santri adalah awal dari perjalanan itu kembali,” ujarnya.


Ia juga mengingatkan pentingnya adab dalam menuntut ilmu.


“Ilmu tanpa adab tidak akan berkah. Maka yang utama bukan hanya pintar, tetapi juga berakhlak,” katanya.


Fenomena serupa juga terjadi di Dayah Ummul Ayman Samalanga dan Pondok Pesantren Darul Munawwarah. Aktivitas dayah kembali berjalan, ditandai dengan dimulainya pengajian, halaqah, serta berbagai kegiatan rutin lainnya.


Rais Syuriah PWNU Aceh, Waled Nuruzzahri (Waled Nu) yang juga pimpinan Dayah Ummul Ayman Samalanga, menyampaikan harapannya agar seluruh santri dan dewan guru kembali sesuai jadwal yang telah ditentukan.


“Kami sangat berharap santri dan dewan guru kembali tepat waktu agar roda pendidikan di dayah dapat berjalan dengan baik dan maksimal,” ujarnya.


Menurutnya, kedisiplinan waktu merupakan bagian penting dari proses pendidikan di dayah.


“Dayah mengajarkan keteraturan. Jika semua kembali sesuai jadwal, maka proses pendidikan akan berjalan lebih baik,” tambahnya.


Di sisi lain, para wali santri juga merasakan haru saat mengantar anak-anak mereka kembali ke dayah. Momen perpisahan setelah kebersamaan selama Lebaran menjadi pengalaman emosional yang sarat makna.


Tgk Muhajir, salah seorang wali santri Dayah MUDI Samalanga, mengaku bahwa perasaan tersebut selalu menjadi campuran antara berat dan bangga.


“Sebagai orang tua tentu berat melepas anak kembali ke dayah, apalagi setelah lama bersama saat Lebaran. Tapi ini demi masa depan mereka,” ujarnya.


Ia berharap anak-anak yang menuntut ilmu di dayah dapat tumbuh menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.


“Kami titipkan anak-anak kami kepada guru-guru di dayah. Semoga mereka menjadi anak yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan keluarga,” tambahnya.


Kembalinya para santri juga membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Aktivitas ekonomi mulai kembali bergerak, terlihat dari ramainya warung kopi, kios kebutuhan santri, hingga jasa transportasi yang sebelumnya sempat sepi selama masa libur.


Seorang pedagang di sekitar Dayah MUDI mengaku mulai merasakan peningkatan pembeli sejak para santri kembali berdatangan.


“Kalau santri sudah masuk, suasana langsung ramai. Alhamdulillah, dagangan juga ikut laku,” ujarnya.


Bagi masyarakat Aceh, dayah bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan juga pusat kehidupan sosial dan spiritual. Tradisi mengirim anak ke dayah telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas masyarakat yang religius.


Momentum kembalinya santri pasca-Lebaran pun memiliki makna tersendiri. Setelah merayakan hari kemenangan bersama keluarga, para santri kembali dengan semangat baru untuk menuntut ilmu dan memperbaiki diri.


Dengan dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar, dayah-dayah di Aceh kembali menjadi pusat denyut keilmuan dan pembinaan generasi muda. Dari tempat-tempat sederhana inilah lahir para ulama, tokoh masyarakat, serta generasi yang menjaga nilai-nilai Islam dan budaya Aceh.