Daerah

Satu Korban Hilang Banjir Bandang Solok Ditemukan, 480 Warga Masih Mengungsi

Ahad, 27 September 2026 | 21:30 WIB

Satu Korban Hilang Banjir Bandang Solok Ditemukan, 480 Warga Masih Mengungsi

Tim SAR gabungan berhasil menemukan sisa satu korban hilang pada Jumat (25/9/2026). (Dok BPBD Kabupaten Solok)

Jakarta, NU Online

Satu warga yang sebelumnya dinyatakan hilang akibat banjir bandang di kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Jumat (25/9/2026). Dengan ditemukannya korban tersebut, jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang Kabupaten Solok menjadi dua orang.


Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan mengatakan bahwa korban terakhir ditemukan setelah tim gabungan melakukan operasi pencarian dengan mengerahkan berbagai unsur dan sumber daya.


Sebelumnya, satu korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sedangkan satu korban lainnya masih dalam pencarian. Kedua korban meninggal dunia masing-masing berinisial DA (21) dan A (59).


“Setelah seluruh korban yang dilaporkan hilang berhasil ditemukan, operasi pencarian dinyatakan selesai dan penanganan selanjutnya difokuskan pada pembersihan serta pemulihan wilayah terdampak,” kata Berton dalam keterangan diterima NU Online, Ahad (27/9/2026).


Selain korban meninggal dunia, empat warga mengalami luka. Dia menyebut tiga korban mengalami luka ringan, sedangkan satu korban mengalami luka berat dan telah mendapatkan penanganan medis sebelum dirujuk ke rumah sakit di Kota Padang. Jumlah warga yang mengungsi diperkirakan mencapai 480 orang.


Berton menjabarkan dampak banjir bandang terjadi pada Senin (21/9/2026) malam menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas pemerintahan. Sebanyak 12 gedung perkantoran terdampak, terdiri atas enam gedung mengalami kerusakan berat dan enam gedung mengalami kerusakan ringan.


“Pada sektor permukiman, sementara tercatat 98 rumah terdampak, terdiri atas 19 rumah rusak berat, 16 rumah rusak sedang, 52 rumah rusak ringan, delapan rumah terendam dan tiga rumah berada dalam kondisi rawan,” katanya.


Dia menambahkan, banjir bandang juga berdampak terhadap tujuh kendaraan roda empat, sedangkan pendataan kendaraan roda dua masih dilakukan. Pada sektor pertanian, bencana diperkirakan berdampak terhadap sekitar 57 hektare lahan, terdiri atas 42 hektare sawah dan 15 hektare lahan kering.


“Terhadap infrastruktur juga tercatat pada lima ruas jalan dan dua jembatan. Gangguan jaringan air bersih terjadi pada lima kompleks perumahan yang membutuhkan percepatan pemulihan jaringan serta dukungan tandon air,” tuturnya.


Setelah operasi pencarian selesai, Berton mengatakan bahwa tim gabungan melanjutkan kegiatan pembersihan material banjir, pemetaan dan pengolahan data wilayah terdampak, serta pendataan pengungsi.


“PLN melakukan perbaikan jaringan listrik yang terputus, sementara unsur pekerjaan umum melakukan penanganan jalur aliran sungai dan infrastruktur yang terdampak,” imbuhnya.


Dia mengatakan bahwa perhatian penanganan kini diarahkan agar warga terdampak tidak terlalu lama tinggal di tenda pengungsian.


“BNPB mengarahkan agar masyarakat terdampak tidak terlalu lama berada di tenda pengungsian. Pemerintah daerah diminta menyiapkan alternatif tempat tinggal sementara yang aman dan layak, khususnya bagi masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan berat,” ujarnya.


Berton mengatakan bahwa penanganan selanjutnya akan diarahkan pada pemulihan layanan dasar dan penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P).


“Penanganan kini berlanjut pada tahap pembersihan, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat serta percepatan pemulihan wilayah terdampak,” katanya.