Ilmu Hadits

Kutip Sejumlah Hadits, Rais Aam PBNU Ingatkan Ulama untuk Tidak Gunakan Ilmu untuk Kepentingan Duniawi

Kamis, 27 Agustus 2026 | 17:36 WIB

Kutip Sejumlah Hadits, Rais Aam PBNU Ingatkan Ulama untuk Tidak Gunakan Ilmu untuk Kepentingan Duniawi

Rais Aam

Rais Aam mengingatkan pentingnya para ulama untuk menjaga kemuliaan ilmu serta tidak menjadikannya sebagai sarana untuk memperoleh kepentingan duniawi. Pesan tersebut disampaikan setelah mengutip Surat al-Baqarah ayat 269 tentang hikmah sebagai karunia besar dari Allah.

 

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ ۝٢٦٩

 

Artinya; Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya), kecuali ululalbab.

 

Dalam kesempatan itu juga, Rais Aam mengutip riwayat sahabat Abdullah bin Mas'ud yang berbunyi;


لَوْ أَنَّ أَهْلَ الْعِلْمِ صَانُوا الْعِلْمَ وَوَضَعُوهُ عِنْدَ أَهْلِهِ لَسَادُوا بِهِ أَهْلَ زَمَانِهِمْ


Artinya, “Andai para ahli ilmu menjaga ilmu dan menempatkannya kepada orang yang tepat, niscaya mereka akan menjadi mulia di tengah masyarakat pada zamannya. Namun, ketika ilmu diberikan kepada pemilik kepentingan dunia demi mendapatkan keuntungan duniawi, para ahli ilmu justru dapat kehilangan kehormatannya,” (Mulla Ali al-Qari, Mirqatul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih [Beirut: Darul Fikr, 2002], jilid I, halaman 331–332).


Riwayat tersebut tidak berhenti di sana. Ibnu Mas'ud menyampaikan sabda Nabi Muhammad SAW, 


مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ آخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ


Artinya, “Siapa pun yang menjadikan berbagai kegelisahannya menjadi satu kegelisahan, yaitu urusan akhiratnya, Allah akan mencukupkan baginya urusan dunianya.” 


Hadits tersebut diriwayatkan Ibnu Majah dan juga al-Baihaqi dalam karyanya yang berjudul Syu'abul Iman. (Mirqatul Mafatih, jilid I, halaman 331–332).


Menilik penjelasan riwayat di atas, Syekh Mulla Ali al-Qari menjelaskan bahwa menjaga ilmu berarti menjaganya dari kehinaan, termasuk dengan memelihara diri dari ketergantungan kepada pemilik kekuasaan dan harta semata-mata karena mengharapkan kedudukan atau keuntungan material. Ilmu yang mulia, menurutnya, akan mengangkat derajat orang yang mampu menjaganya dari kepentingan rendah. (Mirqatul Mafatih, jilid I, halaman 331–332).


Rais Aam juga mengutip nasihat Abu Qilabah kepada Ayyub as-Sakhtiyani:


إِذَا أَحْدَثَ اللَّهُ تَعَالَى لَكَ عِلْمًا فَأَحْدِثْ لَهُ عِبَادَةً، وَلَا يَكُنْ هَمُّكَ مَا تُحَدِّثُ بِهِ النَّاسَ


Artinya, “Apabila Allah memberikan ilmu kepadamu, maka hadirkanlah ibadah bersamanya. Janganlah perhatianmu hanya tertuju pada apa yang akan engkau sampaikan kepada manusia.” (Abu Nu'aim al-Ashbahani, Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya [Beirut: Darul Kutub al-'Ilmiyyah, 1988], jilid II, halaman 283).


Pesan tersebut menegaskan bahwa ilmu tidak semestinya berhenti pada kemampuan berbicara atau mengajarkannya kepada orang lain. Ilmu harus melahirkan ibadah, ketakwaan, serta tanggung jawab moral pada diri orang yang memilikinya.


Di sisi lain, sejumlah riwayat di atas juga memberi pelajaran penting agar kita senantiasa menjaga kemuliaan ilmu, tidak merendahkannya dengan sikap menjilat penguasa, serta tidak menjadikannya semata-mata sebagai sarana meraih kepentingan dan kenikmatan duniawi. Wallahu a'lam.


------------
Amien Nurhakim, Redaktur Keislaman NU Online dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta.