Muktamar Petani Nahdliyin Buka Ruang Aspirasi Pertanian dan Peternakan
Senin, 10 Agustus 2026 | 19:30 WIB
SEMARANG, NU Online Jateng
Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama LPP NU dan jaringan petani Nahdliyin menggelar Muktamar Petani Nahdliyyin di Pesantren Al-Itqon, Semarang, Jawa Tengah, Senin (10/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju Muktamar ke-35 NU sekaligus ruang konsolidasi petani Nahdliyin untuk merumuskan penguatan ekosistem ekonomi pertanian dari sektor hulu hingga hilir.
Agenda ini diselenggarakan melalui kerja sama LPP PBNU, Tim Koordinasi dan Akselerasi (TKA) PBNU, serta Pesantren Al-Itqon Semarang. Kegiatan melibatkan jaringan LPP NU dari sejumlah wilayah, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh mengatakan, forum Muktamar Petani Nahdliyyin lahir dari kegelisahan bersama atas kondisi petani, khususnya warga NU yang selama ini menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Menurutnya, forum tersebut bukan dimaksudkan sebagai bentuk perlawanan terhadap pihak tertentu, melainkan menjadi ruang bagi petani Nahdliyin untuk berkumpul, menyampaikan aspirasi, serta memperjuangkan kepentingan mereka secara mandiri.
“Kegiatan ini adalah kegelisahan kita semua yang ada di Jawa Tengah dan lainnya. Muktamar petani ini lisensi Jawa Tengah, bukan berarti untuk menunjukkan perlawanan atau tandingan. Merupakan wadah petani-petani jamiyah NU yang berdaulat dan merdeka,” ujarnya.
Kiai Ubaid juga meminta LPP NU menjalankan fungsi pendampingan secara serius. Ia mengingatkan agar LPP tidak sekadar hadir secara struktural, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi petani Nahdliyin.
“Kami mohon untuk serius LPP. LPP adalah pendamping menjadi pendamping di ekonomi lingkungan NU bukan menjadi pemain," ujarnya
Menurutnya, kader NU yang ditempatkan di sektor pertanian harus hadir sebagai agen yang mendampingi dan memperjuangkan kepentingan petani. Ia mengutip pandangan Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’rani tentang pentingnya kecintaan terhadap petani serta pandangan KH Hasyim Asy’ari yang menempatkan petani sebagai salah satu kelompok penting bagi kehidupan bangsa.
Dalam Muktamar Petani NU ini disebutakan jumlah petani Indonesia saat ini mencapai sekitar 29,34 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen disebut merupakan warga NU yang hidup dan menggantungkan perekonomiannya dari sektor pertanian.
Karena itu, penguatan sektor pertanian dinilai penting bagi kemandirian ekonomi warga Nahdliyin sekaligus ketahanan pangan nasional. Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah keterlibatan petani NU dalam ekosistem program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya MBG berbasis pesantren.
Selengkapnya klik di sini.