Khutbah Jumat: Beberapa Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir Setelah Kematian
Rabu, 9 September 2026 | 16:19 WIB
Kematian pada hakikatnya bukanlah akhir dari segala amal kebaikan. Karena meski seseorang telah meninggal, masih ada beberapa amal yang pahalanya tetap mengalir kepadanya. Maka selagi diberi kesempatan untuk hidup, sudah seyogianya kita menyiapkan bekal yang pahalanya terus mengalir bahkan setelah kehidupan berakhir.
Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Beberapa Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir setelah Kematian”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلىَ عَبْدِهِ الْكِتَابَ تَبْصِرَةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ، الَّذِي خَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلىَ خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَنْجَابِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْأَحْبَابُ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْوَهَّابِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Marilah kita panjatkan puji syukur kita ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya yang telah diberikan kepada kita semua, sehingga dapat menjalankan kewajiban shalat Jumat berjamaah dalam keadaan sehat wal afiat. Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Kemudian sebagaimana Rasulullah senantiasa mengawali setiap khutbahnya dengan wasiat takwa, maka sebagai bentuk meneladani sunnahnya, perkenankan saya berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah sekalian, “Ushiikum waiyaa ya bitakwallah!” Mari kita tingkatkan ketakwaan dan keislaman kita, karena hanya dengannyalah kita bisa memiliki pegangan yang kuat dalam menjalani kehidupan dan tidak mudah terbawa oleh berbagai godaan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Kehidupan kita di dunia suatu saat akan berakhir dengan kematian. Namun berakhirnya kehidupan ini tidak berarti berakhir pula seluruh jejak amal yang pernah kita lakukan. Setiap kebaikan yang kita kerjakan dan setiap jejak yang kita tinggalkan akan dicatat oleh Allah swt, termasuk kebaikan yang manfaatnya terus dirasakan oleh orang lain setelah kita meninggal. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
Artinya, “Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami (pulalah) yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Yasin: 12).
Dalam menjelaskan frasa “atsarahum – bekas-bekas yang mereka (tinggalkan)” pada ayat yang baru saja kita dengar, Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa jika seseorang melakukan kebaikan di masa hidupnya, kemudian ia terus diamalkan oleh orang lain, maka ia tetap mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya. Dalam kitab Tafsir Al-Qur’anil Azhim, jilid VI, halaman 566, Imam Ibnu Katsir mengatakan:
مَا سَنُّوْا مِنْ سُنَّةٍ، فَعَمِلَ بِهَا قَوْمٌ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِمْ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا فَلَهُ مِثْلُ أُجُوْرِهِمْ، لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ مَنْ عَمِلَهُ شَيْئًا
Artinya, “(Yaitu) apa yang mereka perbuat, kemudian dilakukan oleh suatu kaum setelah kematian mereka. Jika hal itu berupa kebaikan, maka baginya pahala yang sama seperti pahala mereka, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang mengerjakannya.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Terdapat beberapa amalan yang dapat kita persiapkan sejak masih hidup, di mana pahalanya akan terus mengalir meskipun kita telah meninggal dunia. Amalan-amalan tersebut akan menjadi bekal yang sangat berharga bagi kita setelah kematian. Dan di antara yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut:
Pertama, ilmu yang pernah kita ajarkan dan kita sebarluaskan. Kedua, anak saleh yang kita tinggalkan. Ketiga, mushaf Al-Qur’an yang kita wariskan dan terus dibaca. Keempat, masjid yang kita terlibat di dalam pembangunannya. Kelima, tempat yang kita sediakan bagi para musafir. Keenam, aliran air yang kita alirkan untuk kemanfaatan manusia. Ketujuh, sedekah yang kita keluarkan saat kita masih hidup dan masih sehat.
Berbagai kebaikan tersebut akan menjadi bekal yang sangat berharga bagi kita semua kelak. Pahalanya akan terus mengalir setelah kita meninggal dunia, selama manfaat dari kebaikan tersebut masih dirasakan oleh orang lain. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam salah satu riwayat yang berasal dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
Artinya, “Sungguh di antara amal dan kebaikan seorang mukmin yang menyertainya setelah kematiannya adalah ilmu yang diajarkan dan disebarluaskan, anak saleh yang ditinggalkan, masjid yang dibangun, tempat yang disediakan untuk ibnu sabil (musafir), air sungai yang dialirkan, dan sedekah yang dikeluarkan dari hartanya ketika masih sehat dan masih hidup, semua itu akan menyertainya setelah kematiannya.” (HR. Ibnu Majah).
Hadits ini memberikan gambaran kepada kita semua perihal amalan-amalan yang pahalanya terus mengalir meski orang yang mengerjakannya sudah tiada. Jasad boleh kembali ke tanah, suara boleh tidak lagi terdengar, bahkan nama kita boleh dilupakan oleh manusia, tetapi kebaikan-kebaikan yang pernah kita tanam dapat terus tumbuh serta memberikan manfaat. Dan selama kebaikan itu masih dirasakan, maka selama itu pula ia akan menjadi bekal yang terus menyertai kita di akhirat nanti.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Selain beberapa amalan yang telah disebutkan, Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Ad-Dibaj ‘ala Muslim, jilid VI, halaman 227, juga menjelaskan dengan penjelasan berbentuk syair, bahwa terdapat sepuluh jenis amalan kebaikan yang pahalanya dapat terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia, yaitu:
(1) ilmu yang disebarluaskan; (2) doa dari anak-anak yang ditinggalkan; (3) menanam pepohonan; (4) sedekah yang terus berjalan; (5) mewakafkan Al-Qur’an; (6) menjaga perbatasan; (7) menggali sumur atau menyediakan sumber air; (8) membangun tempat untuk orang yang membutuhkan; (9) membangun tempat untuk berzikir; dan (10) mengajarkan Al-Qur’an. Imam as-Suyuthi mengatakan:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ لَيْسَ يَجْرِي \\ عَلَيْهِ مِنْ فِعَالٍ غَيْرِ عَشْرٍ \\ عُلُوْمٍ بَثَّهَا وَدُعَاءِ نَجْلٍ \\ وَغَرْسِ النَّخْلِ وَالصَّدَقَاتِ تَجْرِي \\ وَرَاثَةِ مُصْحَفٍ وَرِبَاطِ ثَغْرٍ \\ وَحَفْرِ الْبِئْرِ أَوْ إِجْرَاءِ نَهْرٍ \\ وَبَيْتٍ لِلْغَرِيْبِ بَنَاهُ يَأْوِي إِلَيْهِ \\ أَوْ بِنَاءِ مَحَلِّ ذِكْرٍ \\ وَتَعْلِيْمٍ لِقُرْآنٍ كَرِيْمٍ \\ فَخُذْهَا مِنْ أَحَادِيْثَ بِحَصْرٍ
Artinya, “Apabila anak Adam meninggal dunia, tidak ada amal yang terus mengalir baginya selain sepuluh, yaitu: ilmu yang disebarluaskan, doa anak, menanam pohon, sedekah yang terus mengalir, mewariskan mushaf, berjaga di wilayah perbatasan, menggali sumur atau mengalirkan air, membangun rumah untuk orang asing agar dapat tinggal di dalamnya, membangun tempat untuk berzikir, dan mengajarkan Al-Qur’an. Maka ambillah hal-hal tersebut dari hadits-hadits secara terperinci.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Itulah beberapa amalan yang dapat kita lakukan yang pahalanya tetap mengalir meskipun kita telah meninggal dunia. Namun, hal ini tidak terbatas pada amalan yang telah disebutkan saja. Setiap kebaikan yang manfaatnya terus dirasakan oleh orang lain, dapat menjadi jejak kebaikan yang pahalanya terus mengalir. Karena itu, hendaknya kita berusaha meninggalkan suatu amal kebaikan, sebab bisa jadi ketika kita tiada, kebaikan itu masih terus hidup dan memberi manfaat kepada yang lain.
Demikian adanya khutbah Jumat perihal amalan-amalan yang pahalanya dapat terus mengalir setelah kematian. Semoga menjadi khutbah yang bermanfaat, dan Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan bagi kita semua untuk memperbanyak amal kebaikan serta kesempatan untuk meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi sesama. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Ustadz Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop Bangkalan Jawa Timur.