Khutbah Jumat: Hak atas Udara Bersih untuk Menjaga Kesehatan Pernapasan
Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17 WIB
Udara yang kita hirup setiap hari semestinya menjadi sumber kehidupan, bukan ancaman bagi kesehatan. Namun, kenyataan di sekitar kita menunjukkan persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Asap kendaraan bermotor, pembakaran sampah, aktivitas industri, hingga kebakaran hutan dan lahan dapat mencemari udara yang dibutuhkan manusia untuk bernapas.
Teks khutbah Jumat berikut berjudul "Khutbah Jumat: Hak atas Udara Bersih untuk Menjaga Kesehatan Pernapasan". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِ ۙ ١٠ فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّالنَّخْلُ ذَاتُ الْاَكْمَامِ ۖ ١١
Ma’asyiral Jamaah Jumat hafidzakumullah,
Pada kesempatan Jumat kali ini, khatib mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah sekaligus menguatkan syukur atas nikmat yang tak bisa kita hitung yang telah dianugerahkan kepada kita. Allah telah menegaskan bahwa apabila kita mencoba menghitung nikmat yang kita terima, maka kita pasti tidak akan sanggup menghitungnya.
Allah berfirman:
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٨
Artinya: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nahl: 18).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di antara sekian banyak nikmat Allah yang kita rasakan setiap hari, terdapat satu nikmat yang hampir tidak pernah kita sadari keberadaannya, padahal tanpanya kehidupan manusia akan terancam. Nikmat itu adalah udara, khususnya udara bersih yang kita hirup untuk mempertahankan kehidupan.
Cobalah kita renungkan sejenak. Manusia membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. Tanpa makanan, tubuh masih dapat bertahan selama jangka waktu tertentu. Demikian pula air; meskipun sangat dibutuhkan, manusia masih dapat bertahan sementara waktu tanpa meminumnya. Namun, kebutuhan terhadap udara jauh lebih mendesak. Dalam hitungan menit tanpa oksigen yang memadai, fungsi vital tubuh dapat terganggu dan nyawa manusia terancam.
Setiap hari kita menghirup udara tanpa harus membayar setiap tarikan napas. Allah menyediakan nikmat ini bagi manusia tanpa membedakan status sosial, kekayaan, jabatan, maupun kedudukan. Orang kaya dan orang miskin, pejabat dan rakyat biasa, semuanya membutuhkan udara untuk hidup.
Akan tetapi, nikmat yang begitu mendasar ini sering kali luput dari perhatian kita. Kita baru menyadari betapa berharganya udara ketika kualitasnya memburuk, asap memenuhi lingkungan, atau gangguan pernapasan mulai menyerang. Ironisnya, berbagai aktivitas manusia justru dapat mencemari udara yang menjadi sumber kehidupan tersebut.
Karena itu, menjaga udara bersih bukan sekadar persoalan kesehatan atau urusan teknis lingkungan. Lebih dari itu, persoalan ini berkaitan dengan rasa syukur kepada Allah, tanggung jawab moral terhadap sesama, dan kewajiban kita untuk tidak menimbulkan kerusakan di muka bumi.
Ma’asyiral Jamaah Jumat hafidzakumullah
Berdasarkan laporan Air Quality Life Index (AQLI) berjudul Polusi Udara Indonesia dan Dampaknya terhadap Usia Harapan Hidup, disebutkan bahwa rata-rata orang Indonesia diperkirakan dapat kehilangan 2,5 tahun dari usia harapan hidupnya akibat paparan polusi udara.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa lebih dari 93 persen dari 262 juta penduduk Indonesia tinggal di wilayah dengan tingkat pencemaran partikel halus atau PM2.5 yang melampaui ambang pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi buruknya udara ini diakibatkan salah satunya dari kerusakan lingkungan seperti kebakaran hutan dan asap kendaraan.
Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam sesungguhnya telah memberikan tuntunan kepada manusia untuk menjaga dan memelihara bumi. Alam semesta bukanlah sesuatu yang boleh diperlakukan sesuka hati. Bumi, air, udara, tumbuhan, dan berbagai makhluk hidup merupakan ciptaan Allah yang keberadaannya memiliki tujuan dan manfaat.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Ar-Rahman ayat 10–11:
وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِ ۙ ١٠ فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّالنَّخْلُ ذَاتُ الْاَكْمَامِ ۖ ١١
Artinya: "Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya), di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang."
Ayat ini mengingatkan kita bahwa bumi merupakan tempat kehidupan bagi makhluk-makhluk Allah. Bumi menyediakan berbagai sumber daya yang menopang keberlangsungan hidup, termasuk tumbuhan, air, dan lingkungan yang memungkinkan manusia serta makhluk lainnya hidup dan berkembang.
Imam Al-Qurthubi dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi menjelaskan bumi tidak hanya diperuntukkan bagi manusia. Ada makhluk-makhluk Allah lainnya yang juga memiliki hak untuk hidup dan memperoleh manfaat dari alam.
الأَنَامُ النَّاسُ عَنِ ابْنِ عَبَّاس. الْحَسَنُ : الجِنُّ وَالْإِنْسُ. الضَّحَّاكُ : كُلُّ مَا دَبَّ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ ، وَهَذَا عَامٌّ
Artinya: "Al-anam adalah manusia menurut Ibnu Abbas. Menurut pandangan Al-Hasan ialah jin dan manusia. Ad-Dhahhak berpendapat segala sesuatu yang melata di atas bumi (manusia, jin, dan binatang), dan pemahaman ini lebih umum."
Ma’asyiral Jamaah Jumat hafidzakumullah,
Oleh karena itu, kedudukan kita sebagai pengelola bumi harus disertai tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan alam. Kita diperbolehkan memanfaatkan kekayaan bumi, tetapi tidak berarti memiliki kebebasan untuk mengeksploitasinya tanpa batas. Kita diajarkan oleh Rasulullah untuk tidak melakukan sesuatu yang membahayakan.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
Artinya: "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain." (HR Ibnu Majah).
Dengan kesadaran ini kita tentu berharap akan bisa terus merasakan udara yang berkualitas dan terhindar dari berbagai gangguan penyakit pernafasan. Kita harus bersyukur karena setiap hari dapat menghirup udara dengan leluasa tanpa harus mengeluarkan biaya.
Rasulullah SAW bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Artinya: "Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR Al-Bukhari).
Dalam Islam, menjaga kesehatan diri memiliki kedudukan yang penting. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 195:
وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ١٩٥
Artinya: "Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
Tubuh yang kita miliki merupakan amanah dari Allah. Mata, telinga, tangan, kaki, jantung, dan paru-paru adalah anggota tubuh yang kelak harus kita pertanggungjawabkan penggunaannya. Maka, menjaga kesehatan pernapasan bukan sekadar urusan medis. Di dalamnya terdapat nilai syukur, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Perlu kita renungkan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara menjaga lingkungan dan menjaga kesehatan pernapasan. Ketika kita tidak membakar hutan, sesungguhnya kita sedang melindungi paru-paru orang lain. Ketika kita menanam pohon dan mengurangi pencemaran udara, kita turut berikhtiar menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.
Mari kita terus berikhtiar menjaga kesehatan tubuh dan terus berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah:
اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Artinya: "Ya Allah, sehatkanlah badanku. Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau." (HR Abu Dawud).
Semoga Allah swt memberikan hidayah pada kita semua untuk menjadi pribadi yang senantiasa menjaga lingkungan dan mewujudkan udara yang sehat dan berkualitas bagi keberlangsungan kehidupan di dunia. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
-------
H. Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung