Khutbah Jumat: Hindari Kemaksiatan dalam Perayaan Kemerdekaan
Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:00 WIB
Setiap tahun kita merayakan kemerdekaan dengan berbagai kegiatan yang meriah. Namun, jangan sampai kemeriahan membuat kita lupa bahwa kemerdekaan adalah nikmat dan perjuangan yang harus disyukuri. Mari kita rayakan kemerdekaan dengan kegiatan yang bermanfaat, bermartabat, dan jauh dari kemaksiatan. Hindari kegiatan perayaan yang tidak menumbuhkan nasionalisme dan menjauhkan rasa syukur.
Dalam konteks ini, khutbah Jumat kali ini berjudul: “Khutbah Jumat: Hindari Kemaksiatan dalam Perayaan Kemerdekaan.” Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰه الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّاللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَايَحْتَسِبُ، وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Saat ini kita sudah berada di bulan Agustus yang merupakan bulan spesial bagi bangsa Indonesia. Sebentar lagi kita akan merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 dengan berbagai macam kegiatan. Jelang 17 Agustus, kita sudah melihat bendera Merah Putih dikibarkan, jalan-jalan dihiasi berbagai ornamen kemerdekaan, lomba digelar, perlombaan anak-anak diselenggarakan, dan berbagai kegiatan masyarakat dilaksanakan.
Semua itu merupakan hal yang baik dan kita memang patut bergembira atas kemerdekaan bangsa yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan yang luar biasa. Namun, kita perlu menyadari bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang seberapa ramai acaranya, bukan tentang seberapa meriah karnavalnya, seberapa besar panggungnya, atau seberapa banyak orang yang ikut serta.
Peringatan dan perayaan kemerdekaan harus mampu menumbuhkan rasa syukur, cinta pada bangsa, menguatkan persatuan, menghargai perjuangan para pahlawan, dan mewariskannya kepada generasi selanjutnya. Perayaan kemerdekaan tidak boleh dilakukan dengan kegiatan penuh kemaksiatan, tidak meningkatkan nasionalisme, dan bersenang-senang tanpa batas. Terlebih, kita dan generasi saat ini tidak ikut serta mengangkat senjata untuk berjuang mengusir penjajah. Hal ini harus menambah rasa syukur kita.
Allah SWT berfirman:
Baca Juga
Khutbah Jumat: 4 Resep Hidup Bahagia
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS Ibrahim: 7)
Syukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah. Syukur adalah menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang diridhai Allah. Jika Allah memberikan kita nikmat kemerdekaan, maka mari kita gunakan kemerdekaan untuk melakukan kebaikan. Jika kita diberikan kebebasan, mari kita gunakan untuk membangun bangsa. Jangan sampai nikmat kemerdekaan justru digunakan untuk melakukan kemaksiatan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Islam tidak melarang manusia bergembira. Islam tidak mengajarkan kita menjadi manusia yang selalu muram dan tidak boleh bersenang-senang. Bergembira merayakan kemerdekaan adalah hal yang diperbolehkan. Namun, ada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan. Meriah boleh, maksiat jangan. Mari hindari sikap menormalisasi bentuk-bentuk kemaksiatan dalam rangkaian kegiatan HUT RI. Rasulullah telah mengingatkan balasan bagi mereka yang berbuat maksiat dalam haditsnya:
إِذَا ظَهَرَتْ اَلْمَعَاصِي فِي أُمَّتِيْ عَمَّهُمُ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ، فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، أَمَا فِيْهِمْ يَوْمَئِذٍ أُناَسٌ صَالِحُوْنَ ؟ قَالَ: بَلٰى، قُلْتُ : فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولٰئِكَ ؟ قَالَ : يُصِيْبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسُ ثُمَّ يَصِيْرُوْنَ إِلٰى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٍ
Artinya: “Apabila maksiat telah melanda ummatku secara merata, maka Allah meratakan azab kepada mereka. Saya bertanya;”Ya Rasulullah, tidakkah di antara mereka ada orang-orang yang baik?” Rasul menjawab;”Ya”, saya bertanya;”Apa yang mereka lakukan?” Rasulullah menjawab: “Azab itu menimpa mereka sebagaimana yang menimpa manusia ( pada umumnya ), tetapi (di akhirat nanti orang baik yang tidak ikut maksiat ) akan mendapatkan maghfirah dan ridha dari Allah.” (HR Ahmad dan Ath-Thabrani)
Jangan karena alasan memperingati kemerdekaan kemudian kita merasa bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan bukan berarti bebas dari semua aturan. Kemerdekaan justru harus diiringi dengan tanggung jawab.
Kita boleh membuat acara yang ramai, tetapi jangan diisi dengan kemaksiatan. Kita boleh membuat hiburan, tetapi jangan sampai mempertontonkan maksiat dan aurat. Kita boleh mengadakan pertunjukan, tetapi jangan sampai mengarah kepada pergaulan bebas tanpa batas.
Kita boleh menggelar karnaval, namun tetap mengedepankan etika dan budaya santun. Jadikan karnaval sebagai media pendidikan dengan menampilkan pakaian adat untuk lebih mencintai keragaman budaya. Tampilkan sejarah dan simbol-simbol perjuangan serta pesan-pesan yang mengajak kepada gotong royong dan persatuan.
Jangan jadikan karnaval sebagai ajang berlebihan dengan musik yang memekakkan telinga, pakaian yang tidak pantas, aksi yang tidak mendidik, atau sekadar mencari perhatian dan hiburan. Jangan sampai nama kemerdekaan hanya menjadi label untuk kegiatan yang sebenarnya tidak memiliki nilai pendidikan, nasionalisme, maupun rasa syukur.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Di sinilah pentingnya kita mengevaluasi bentuk perayaan kemerdekaan di era modern. Zaman sudah berubah. Generasi muda sekarang hidup dalam dunia digital. Maka, cara kita memperingati kemerdekaan juga harus semakin kreatif dan edukatif dengan memanfaatkan teknologi yang dimiliki generasi muda untuk menyebarkan semangat kemerdekaan.
Peringatan kemerdekaan bisa kita isi dengan kegiatan yang langsung memberikan manfaat kepada masyarakat seperti santunan anak yatim dan kaum dhuafa, donor darah, pengobatan gratis, bersih-bersih lingkungan dan kegiatan positif lainnya.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Mari kita jadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan untuk bersyukur kepada Allah dalam wujud yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an seperti shalat, zakat, dan amar makruf nahi munkar. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 40–41:
وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ ٤٠ اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ ٤١
Artinya: “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan milik Allah-lah kesudahan segala urusan.”
Oleh karena itu, mari kita hormati para pahlawan dengan menjaga bangsa ini. Mari kita ajarkan kepada anak-anak kita bahwa kemerdekaan bukan sekadar pesta, bukan sekadar karnaval, bukan sekadar lomba, bukan sekadar panggung hiburan. Kemerdekaan adalah amanah. Mari hindari kegiatan perayaan yang tidak menumbuhkan nasionalisme dan penuh dengan kemaksiatan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلٓهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أٓلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللّٰهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung.