Khutbah

Khutbah Jumat: Jangan Hanya Meminta Hujan, Rawat Juga Alam

Rabu, 16 September 2026 | 20:30 WIB

Khutbah Jumat: Jangan Hanya Meminta Hujan, Rawat Juga Alam

Ilustrasi pepohonan. Sumber: Canva.

Hujan merupakan rahmat Allah yang sangat manusia butuhkan. Kehadirannya tidak hanya menghidupkan tanah dan tumbuhan, tetapi juga memenuhi kebutuhan manusia dan makhluk lainnya. Namun, memohon turunnya hujan juga harus diiringi dengan kepedulian untuk merawat alam dan menjaga keseimbangannya, agar hujan yang turun dapat memberikan manfaat dan tidak menimbulkan bencana.


Naskah khutbah Jumat berikut ini berjudul “Jangan Hanya Meminta Hujan, Rawat Juga Alam”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!


Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلٰهَا وَاحِدًا إِيَّاهُ يَقْصِدُونَ وَإِلىَ رِضْوَانِهِ يَرْغَبُونَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمَأْمُوْنُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ: فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا، يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Puji syukur al-hamdulillahi rabbil alamin, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Dia Zat yang telah menurunkan air hujan dari langit, dan dengannya memberikan kehidupan bagi bumi dan seisinya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya.


Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Perlu kita ketahui bahwa takwa tidak hanya berkaitan dengan ibadah saja, tetapi juga tercermin dalam cara kita memperlakukan bumi dan seisinya. Menjaga lingkungan, tidak merusak alam, dan menggunakan sumber daya secara bijak merupakan bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia untuk menjaga bumi.


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Saat ini kita semua sedang berada dalam kondisi ketika air menjadi kebutuhan yang semakin hari terasa semakin penting. Keadaan ini menjadikan kita sadar bahwa kehidupan manusia tidak pernah lepas dari air. Tanpanya, sawah dan ladang tidak dapat ditanami, tumbuhan mengering, hewan kesulitan mendapatkan minuman, dan kebutuhan manusia pun menjadi terganggu.


Dalam kondisi seperti inilah, Islam mengajarkan kepada kita semua untuk kembali kepada Allah swt dengan berdoa, memohon ampunan, melaksanakan shalat istisqa, dan berbagai munajat lainnya untuk memohon rahmat hujan. Hal ini sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:


اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا، يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا، وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا


Artinya, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun) Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-12).


Melalui ayat yang baru saja kita dengar, Allah SWT mengajarkan bahwa istighfar, sungguh-sungguh bertobat, dan kembali taat kepada-Nya akan menjadi sebab datangnya berbagai rahmat dari-Nya, berupa hujan yang lebat, rezeki yang melimpah, serta kehidupan yang berkah. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur’anil Adzim, jilid VIII, halaman 233, sebagai berikut:


إِذَا تُبْتُمْ إِلىَ اللهِ وَاسْتَغْفَرْتُمُوْهُ وَأَطَعْتُمُوْهُ، كَثُرَ الرِّزْقُ عَلَيْكُمْ، وَأَسْقَاكُمْ مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبَتَ لَكُمْ مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ، وَأَنْبَتَ لَكُمُ الزَّرْعَ وَأَدَرَّ لَكُمُ الضَّرْعَ


Artinya, “Jika kalian bertobat kepada Allah, memohon ampun kepada-Nya, dan menaati-Nya, niscaya rezeki akan dilapangkan bagi kalian, Dia akan memberi kalian minum dari keberkahan langit, menumbuhkan keberkahan bumi, menumbuhkan tanaman, dan melimpahkan air susu bagi kalian.”


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Namun, jangan sampai kita hanya memperbanyak doa dan istighfar ketika hujan tak kunjung turun, tetapi lupa memperbaiki perilaku kita terhadap alam. Kita meminta kepada Allah agar menurunkan hujan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak lingkungan.


Kita meminta air, tetapi di saat yang sama terus membuang sampah ke sungai. Kita berharap hujan turun, tetapi menebang pohon tanpa memikirkan akibatnya. Kita menginginkan lingkungan yang sehat, tetapi tidak peduli terhadap kebersihan dan kelestarian alam. Karenanya, pada momen seperti saat ini, selain menengadahkan tangan untuk memohon hujan, mari kita juga memperbaiki apa yang dapat kita lakukan di bumi dengan cara menghindari segala bentuk tindakan yang dapat merusak alam.


Berkaitan dengan hal ini, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:


وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ


Artinya, “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-A’raf, [7]: 56).


Ayat yang baru saja kita dengar ini pada hakikatnya mengingatkan kita semua agar menjaga alam yang telah Allah ciptakan dalam keadaan baik dan sempurna. Menjaga alam artinya kita tidak berbuat kerusakan di dalamnya, baik kerusakan yang sedikit maupun banyak. Dan di antara bentuknya adalah merusak sumber air dan menebang pohon yang menghasilkan buah.


Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Abu Abdillah al-Qurthubi dalam kitab Tafsir al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, jilid VII, halaman 226, sebagai berikut:


نَهَى عَنْ كُلِّ فَسَادٍ قَلَّ أَوْ كَثُرَ بَعْدَ صَلَاحٍ قَلَّ أَوْ كَثُرَ، فَهُوَ عَلىَ الْعُمُوْمِ عَلَى الصَّحِيْحِ مِنَ الْأَقْوَالِ. وَقَالَ الضَّحَّاكُ: مَعْنَاهُ لَا تُعَوِّرُوْا الْمَاءَ الْمَعِيْنَ، وَلَا تَقْطَعُوْا الشَّجَرَ الْمُثْمِرَ ضَرَارًا


Artinya, “Allah melarang setiap kerusakan, baik sedikit maupun banyak, setelah adanya kebaikan, baik sedikit maupun banyak. Ini berlaku secara umum menurut pendapat yang shahih . Ad-Dhahhak berkata: 'Maksudnya adalah jangan merusak air yang mengalir dan jangan menebang pohon yang berbuah dengan tujuan menimbulkan kerusakan'.”


Selain tidak merusak aliran air yang mengalir dan menebang pohon yang berbuah, contoh-contoh merawat alam lainnya juga masih sangat banyak yang bisa kita praktikkan. Misalnya, menyediakan lahan hijau dan ruang terbuka agar air hujan dapat meresap ke dalam tanah dan menjadi cadangan air, membatasi penggunaan air tanah secara berlebihan untuk hotel, pusat perbelanjaan, fasilitas umum, dan industri, serta menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar hutan.


Tidak hanya itu, menanam dan merawat pohon juga perlu dilakukan dengan mempertimbangkan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan air. Di sisi lain, pembangunan permukiman perlu ditata agar tidak seluruh lahan tertutup bangunan dan tetap tersedia ruang untuk resapan air. Semua itu merupakan bentuk nyata kepedulian kita agar air tetap tersedia dan alam mampu menopang kehidupan manusia.


Dengan demikian, merawat alam tidak hanya bagian dari menjalankan perintah Al-Qur’an, tetapi juga bagian dari ikhtiar kita semua agar ketika doa kita semua diijabah dan hujan turun, ia benar-benar membawa manfaat bagi kehidupan kita semua. Sebab ketika alam tidak kita jaga, seperti hutan tidak dirawat, sungai dipenuhi sampah, dan tanah tidak lagi mampu menyerap air dengan baik, hujan yang seharusnya menjadi rahmat dapat berubah menjadi banjir dan menimbulkan bencana.


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Oleh sebab itu, mari kita terus berdoa dan memohon kepada Allah swt agar menurunkan hujan yang membawa manfaat bagi kehidupan kita semua. Namun, bersamaan dengan itu, mari kita perbaiki cara kita memperlakukan alam dengan baik, mulai dari merawat pepohonan, memelihara tanah, menjaga sumber mata air dan menjaga lingkungan di sekitar kita.


Demikian khutbah Jumat tentang jangan hanya meminta hujan, tetapi juga pentingnya merawat alam. Semoga apa yang disampaikan di dalamnya dapat menjadi pengingat bagi kita semua bahwa memohon hujan kepada Allah harus juga disertai dengan kepedulian untuk menjaga alam yang telah diamanahkan kepada kita.


Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, mengabulkan doa kita, menurunkan hujan yang penuh keberkahan, dan menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa menjaga serta merawat alam dengan sebaik-baiknya. Amin ya rabbal alamin.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ


أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ


عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Ustadz Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop, Bangkalan, Jawa Timur.