Khutbah Jumat: Ketika Manusia Merusak Alam, Saatnya Meneladani Rasulullah Saw
Kamis, 27 Agustus 2026 | 10:33 WIB
Salah satu perintah agama Islam ialah mencintai dan merawat alam. Islam mengajarkan pentingnya mencintai dan merawat alam lewat teladan Nabi Muhammad saw yang menyukai menanam pohon.
Teks khutbah Jumat berikut berjudul Khutbah Jumat: Ketika Manusia Merusak Alam, Saatnya Meneladani Rasulullah Saw. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهِمَا آيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ, وَسَخَّرَ لَنَا مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْ نِعَمٍ ظَاهِرَةٍ وَبَاطِنَةٍ لِنَكُونَ مِنَ الشَّاكِرِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Hari ini, marilah kita sejenak melihat lingkungan di sekitar kita. Kita menyaksikan hutan yang terbakar, sungai yang tercemar, laut yang dipenuhi sampah, dan udara yang tidak selalu lagi bersih untuk kita hirup.
Beberapa waktu lalu, kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Asap pekat mengganggu jarak pandang. Udara menjadi tidak sehat. Aktivitas masyarakat terganggu. Bahkan, dampaknya dapat dirasakan hingga ke wilayah negara tetangga.
Kita tentu prihatin. Tetapi, sebagai orang beriman, keprihatinan saja tidak cukup. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Mengapa semua ini terjadi? Apa yang telah kita lakukan terhadap alam? Dan apa yang dapat kita lakukan agar kerusakan yang sama tidak terus berulang?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting, sebab Al-Qur'an telah memberikan peringatan yang sangat jelas kepada kita. Allah Swt. berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41;
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya; “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.”
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ayat yang baru saja khatib sampaikan merupakan peringatan dari Allah swt kepada kita untuk selalu menjaga alam. Pada ayat di atas, Allah tidak hanya menyampaikan bahwa kerusakan telah terjadi. Allah juga menunjukkan bahwa kerusakan tersebut memiliki hubungan dengan perbuatan manusia.
Dengan kata lain, manusia tidak boleh memandang dirinya sebagai pihak yang sepenuhnya terpisah dari alam. Kita hidup di dalam alam. Kita mengambil air darinya. Kita menghirup udaranya. Kita makan dari tanahnya. Kita memperoleh kehidupan dari laut, hutan, sungai, dan berbagai kekayaan yang Allah titipkan di bumi.
Karena itu, ketika alam rusak, pada akhirnya manusialah yang menerima akibatnya. Penggundulan hutan dapat memperbesar risiko banjir dan longsor. Pencemaran air mengancam kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Sampah yang dibuang sembarangan dapat menyumbat saluran air dan mencemari lingkungan.
Sementara pembakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan asap yang membahayakan kesehatan serta merusak ekosistem. Karena itu, menjaga alam sesungguhnya bukan sekadar persoalan lingkungan. Menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia dan sebagai hamba Allah.
Syekh Nawawi Banten, ketika menafsirkan surat Ar-Rum ayat 41 dalam kitab Marah Labid, menjelaskan berbagai bentuk kerusakan yang muncul di darat dan laut akibat perbuatan manusia.
Beliau berkata:
أَيْ تَبَيَّنَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ كَالْجَدَبِ وَكَثْرَةِ الْحَرَقِ، وَالْغَرَقِ، وَمَوْتِ دَوَابِّ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ، وَقِلَّةِ اللُّؤْلُؤِ بِسَبَبِ كَسْبِ النَّاسِ الْمَعَاصِيَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan laut, seperti paceklik, banyaknya kebakaran dan banjir, kematian hewan-hewan darat dan laut, serta berkurangnya mutiara, yang disebabkan oleh perbuatan manusia.”
Penjelasan Syekh Nawawi Banten tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kerusakan lingkungan bukan perkara yang berdiri sendiri. Ia dapat berkelindan dengan berbagai persoalan kehidupan manusia.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang lingkungan, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan kehidupan.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Swt.,
Islam bukan agama yang hanya mengajarkan kebaikan melalui kata-kata. Islam juga menghadirkan teladan. Dan teladan terbaik itu terdapat dalam diri Rasulullah Muhammad Saw.
Dalam kehidupan Nabi Muhammad, kita menemukan ajaran tentang bagaimana manusia memperlakukan alam dengan penuh tanggung jawab.
Rasulullah Saw. bahkan memberikan gambaran yang sangat kuat tentang pentingnya menanam dan merawat kehidupan. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad, beliau bersabda:
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ
Artinya: “Jika hari kiamat telah tiba sementara di tangan salah seorang di antara kalian terdapat sebuah tunas tanaman, apabila ia mampu untuk menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi, maka hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad)
Jamaah yang dirahmati Allah,
Coba kita renungkan sejenak pesan hadis tersebut. Hari kiamat adalah akhir dari kehidupan dunia. Tetapi Rasulullah Saw. masih mengajarkan kepada kita untuk menanam kehidupan selama kesempatan itu masih ada.
Pesannya sangat jelas: jangan pernah berhenti melakukan kebaikan, bahkan ketika kita merasa bahwa waktu sudah sangat sempit.
Menanam pohon mungkin tampak sederhana. Tetapi dari sebatang pohon dapat tumbuh kehidupan. Ia memberikan udara, menaungi manusia dari panas, menjaga tanah, menyimpan air, dan menjadi tempat hidup berbagai makhluk Allah.
Karena itu, pohon yang kita tanam hari ini mungkin tidak langsung memberikan manfaat kepada kita. Bisa jadi manfaatnya baru dirasakan oleh anak-anak kita. Bahkan mungkin oleh generasi yang belum lahir.
Di situlah letak pentingnya merawat alam. Kita tidak hanya berbicara tentang apa yang kita nikmati hari ini. Kita juga berbicara tentang apa yang akan kita wariskan kepada generasi sesudah kita.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam konteks Indonesia, menjaga alam juga berarti memahami karakter lingkungan kita. Salah satunya adalah lahan gambut. Lahan gambut memiliki karakteristik yang berbeda dengan tanah pada umumnya. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan pengetahuan, kehati-hatian, dan cara yang tepat.
Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan antara lain:
Pertama, mengenali dan memahami karakter serta perilaku lahan gambut. Pengetahuan tentang ekosistem gambut penting agar pengelolaannya tidak justru menimbulkan kerusakan.
Kedua, memanfaatkan lahan sesuai dengan tipologinya. Lahan harus ditata dengan memperhatikan karakter ekosistem sehingga pemanfaatannya tidak merusak keseimbangan lingkungan.
Ketiga, menerapkan tata kelola air yang baik. Kelembapan lahan perlu dijaga untuk mencegah kekeringan pada musim kemarau sekaligus mengurangi risiko banjir pada musim hujan.
Keempat, tidak membuka atau memperluas lahan dengan cara membakar. Pembakaran lahan bukan hanya berisiko menimbulkan kebakaran, tetapi juga dapat menghasilkan asap yang membahayakan masyarakat dan merusak lingkungan.
Kelima, melakukan pengelolaan pertanian secara terpadu dan sistematis. Lahan harus dikelola dengan pengetahuan, perencanaan, dan tanggung jawab. Bukan sekadar mengejar hasil dalam waktu singkat, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Swt.,
Pada akhirnya, menjaga alam bukanlah tanggung jawab satu pihak. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk membuat kebijakan dan memastikan lingkungan terlindungi. Pun memastikan menindak secara hukum bagi pelaku perusakan lingkungan tanpa tebang pilih.
Pelaku usaha berkewajiban menjalankan kegiatan ekonomi tanpa merusak alam. Para petani memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mengelola sumber daya secara bijak. Masyarakat pun harus ikut merawat lingkungan di sekitarnya. Dan lebih dari itu, setiap pribadi memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi yang menjadi tempat kita hidup.
Mari pula kita menundukkan kepala dan mendoakan saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah akibat bencana alam. Semoga Allah Swt. memberikan kekuatan, keselamatan, kesabaran, dan jalan keluar terbaik bagi mereka. Kepada mereka yang kehilangan rumah, harta benda, bahkan orang-orang tercinta, semoga Allah menganugerahkan ketabahan, mengganti kehilangan dengan kebaikan, serta menghadirkan pertolongan dan harapan di tengah kesulitan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
------
Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu