Khutbah Jumat: Sibuk Bekerja, Jangan Sampai Kehilangan Waktu dengan Keluarga
Kamis, 17 September 2026 | 13:54 WIB
Bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga adalah salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap kepala keluarga. Meski demikian, terlalu fokus pada pekerjaan sehingga abai terhadap kondisi keluarga di rumah juga merupakan hal yang tercela dalam agama.
Berikut naskah khutbah Jumat yang berjudul, “Sibuk Bekerja, Jangan Sampai Kehilangan Waktu dengan Keluarga”. Untuk mencetaknya, silakan klik ikon berwarna merah pada bagian kanan atas desktop. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي تَفَرَّدَ بِالْعِزِّ وَالْجَلَالِ، وَتَوَحَّدَ بِالْكِبْرِيَاءِ وَالْكَمَالِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلَا نَفَادَ لِحِكْمَتِهِ وَلَا زَوَالَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي أَكْرَمَهُ اللَّهُ بِأَشْرَفِ الْأَخْلَاقِ وَالْخِصَالِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ الله! إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وِلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مَسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ {يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ}
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt dengan terus berupaya melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mejauhi segala hal yang dilarang oleh-Nya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Di zaman modern yang serba materialistik dan penuh tekanan ini, kita seringkali terjebak dalam lingkaran kesibukan kerja yang luar biasa padat. Tuntutan ekonomi berupa kebutuhan hidup yang terus meningkat, seringkali memaksa kita untuk menghabiskan sebagian besar waktu ditempat kerja. Bahkan, ambisi karir, juga menjadi alasan sebagian dari kita rela pergi pagi pulang malam.
Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu munculnya fenomena fatherless atau parentless yang terjadi terutama di kota-kota besar hari ini. Sebuah kondisi dimana peran dan kehadiran seorang ayah atau orang tua sangat minim bahkan tidak ada. Boleh jadi orang tua hadir secara fisik, tidur bersama anak-anak dan keluarga di rumah, tetapi ia absen secara psikologis, perhatian dan kasing sayang.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Dalam Islam, bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga memang merupakan tindakan mulia. Bahkan, hal tersebut adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap kepala keluarga. Meski demikian, ada satu hal yang perlu menjadi perhatian kita bahwa, kesibukan mencari nafkah jangan sampai menyita waktu kita untuk bersama keluarga, memenuhi hak-hak mereka, serta memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka.
Karena itulah, Islam mengajarkan kita untuk seimbang dalam melakukan segala sesuatu. Mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga adalah kewajiban. Akan tetapi, meluangkan waktu bersama keluarga, memberikan kasih sayang dan perhatian terutama terkait hal-hal yang pemahaman keagamaan mereka juga merupakan kewajiban orang tua.
Dalam Al-Qur’an, Surat at-Tahrim ayat 6 Allah swt. berfirman:
{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ} [التحريم: 6]
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Ayat ini secara tegas memerintahkan kita semua untuk menjaga diri kita dan keluarga dari api neraka. Menjaga diri dari neraka tentu dengan menaati aturan-aturan Allah. Sedangkan menjaga keluarga maksudnya adalah menasehati dan membimbing mereka untuk menaati perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Tentu, ini membutuhkan bimbingan dan kehadiran kita sebagai orang tua atau kepala keluarga.
Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Kitab Tafsir al-Munir, juz 28 hal. 320 menjelaskan bahwa ayat ini menjadi landasan wajibnya menasehati dan memberikan bimbingan keagamaan kepada keluarga. Seorang suami, wajib mendorong istri dan anaknya serta mengawasi mereka agar senantiasa melakukan segala perintah Allah dan menjauhi segala perbuatan maksiat.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Terkait pentingnya keseimbangan ini, sahabat Salman Al Farisi pernah menasehati sahabat abu darda yang tidak pernah memberikan perhatian kepada keluarganya. Beliau berkata,
إِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِضَيْفِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ
Artinya: " Sesungguhnya dirimu memiliki hak atas dirimu. Tuhanmu punya hak atas dirimu. Tamumu punya hak atasmu. Dan sesungguhnya keluargamu punya hak atasmu. Maka tunaikan lah hak setiap orang." H. R. Bukhari
Nasihat ini diberikan kepada Abu Darda ra karena ia terlalu bersemangat beribadah sehingga mengabaikan keseimbangan hidupnya. Abu Darda ra yang masih berpegang teguh dengan pendiriannya akhirnya bersama dengan Salman ra mengadu kepada Rasulullah dan menceritakan duduk perkaranya.
Ketika kedua sahabat tadi menghadap ke Rasulullah dan menceritakan semuanya, Rasulullah Saw ternyata membenarkan sahabat Salman ra. Hal ini menunjukkan bahwa syariat mengakui setiap komponen dari diri kita dan lingkungan sekitar memiliki hak masing-masing yang harus kita tunaikan.
Badan kita punya hak untuk istirahat. Suami dan istri anak masing-masing memiliki hak. Anak memiliki hak. Semua orang yang berinteraksi dengan kita memiliki hak yang harus kita penuhi secara proporsional.
Imam Ibnu hajar al-Asqallani dalam Fathul Bari juz 3 hal. 39 menjelaskan bahwa hak untuk keluarga adalah memperhatikan dan memenuhi segala kebutuhan mereka, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat kelak. Ia mengatakan;
(وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا) أَيْ: تَنْظُرَ لَهُمْ فِيمَا لَا بُدَّ لَهُمْ مِنْهُ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Artinya: "{Dan sesungguhnya keluargamu punya hak atasmu} artinya kamu memperhatikan segala sesuatu yang mereka butuhkan baik dari urusan dunia maupun akhirat.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Hadits ini mengandung pesan yang sangat relevan dalam kehidupan kita saat ini. Pekerjaan memang memiliki hak atas diri kita. Ia merupakan sebuah kewajiban. Akan tetapi, keluarga juga memiliki hak. Tubuh juga memiliki hak untuk beristirahat.
Karenanya kita dituntut untuk mengelola waktu. Sehingga jangan sampai sebagian besar waktu kita habiskan diluar rumah tanpa memberi perhatian dan kasih sayang kepada keluarga.
Sebab, kebaikan dan kesalehan bukan terletak kesungguhan seseorang dalam bekerja dan beribadah, melainkan juga kemampuannya dalam membagi waktu dan menunaikan hak hak yang wajib ia lakukan secara proporsional.
Bekerja memang sebuah keharusan. Namun, jangan sampai lupa akan kewajiban memberikan perhatian dan kasih sayang kepada keluarga. Karena itu, di tengah kesibukan kerja dan aktivitas padat lainnya, kita dituntut untuk menyediakan waktu bersama keluarga.
Sebagai seorang suami, mungkin kita tidak bisa selalu berada di rumah sepanjang hari. Akan tetapi, ketika pulang, seyogyanya ia menyediakan waktu untuk mendengar cerita istri, menanyakan kabar anak, dan membantu pekerjaan rumah yang masih bisa dilakukan.
Sebagai seorang ayah, barangkali kita tidak bisa menemani anak seharian. Namun, ketika pulang kerja, ia seharusnya menyediakan waktu khusus untuk bermain bersama anak, menemaninya belajar, menanyakan aktivitasnya di sekolah bahkan mungkin masalah yang sedang dihadapi.
Hal ini memang terlihat sederhana. Akan tetapi, pengaruhnya sangat luar biasa terutama dalam menjaga keharmonisan keluarga.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Karena itu, marilah kita terus bersemangat untuk bekerja mencari nafkah dengan sungguh-sungguh. Namun ingat, tujuan kita mencari nafkah adalah membahagiakan dan memenuhi kebutuhan keluarga. Sehingga jangan sampai kebutuhan psikologis dan spiritual keluarga terbengkalai karena kita terlalu sibuk mengejar kebutuhan materil mereka.
Semoga kita diberikan taufik dan hidayah oleh Allah serta keluarga kita dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Aamiin aamiin ya rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ؛ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريكَ لَهُ ارْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ سَيِّدُ الإِنْسِ وَالبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللَّهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ . وَ اعْلَمُوا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ تعالى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّد وَ عَلَى آل سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وعلى آل سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللهم عَنِ الخُلَفَاء الرَّاشِدِيْنَ سَادَاتِنَا اَبِي بَكْرٍ وعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَحَابَةِ والتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْاِسْلَامَ وَالْمُسْلِمَيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدَّيْنَ وَاخْذّلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَ إِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ واللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
--------
Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.