Asap Karhutla Menyebar hingga Malaysia, Warga Kehilangan Udara Sehat dan Air Bersih
Selasa, 6 Oktober 2026 | 09:00 WIB
Warga terdampak asap karhutla, Kartika Lestari (kanan) menyampaikan kondisi terkini di wilayahnya, Sumatra Selatan dalam Konferensi Pers Kesaksian Korban Asap Karhutla Gambut dari Indonesia dan Malaysia, Senin (5/10/2026). (Tangkapan layar)
Jakarta, NU Online
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak terhadap kesehatan dan kebutuhan dasar warga di sejumlah wilayah Indonesia hingga Kuala Lumpur, Malaysia. Selain menyebabkan gangguan pernapasan, kabut asap membuat sebagian warga kesulitan mendapatkan air bersih.
Dampak tersebut dirasakan warga Kalimantan Barat, Sumatra Selatan, hingga Kuala Lumpur. Di Kalimantan Barat, kondisi kabut asap sempat membaik sebelum kembali memburuk dalam beberapa hari terakhir seiring munculnya sejumlah titik api di Ketapang.
Warga terdampak dari Kalimantan Barat, Bimpi Permata Restu, mengatakan kabut asap kembali terasa di wilayahnya dan berdampak terhadap aktivitas serta kesehatan masyarakat.
“Cuman dua hari ini kayaknya kabut asapnya sudah balik lagi. Ada beberapa titik yang mulai hidup di daerah Ketapang. Kalau untuk berdampak itu sangat berdampak sekali ya,” katanya dalam Konferensi Pers Kesaksian Korban Asap Karhutla Gambut dari Indonesia dan Malaysia yang digelar secara daring, Senin (5/10/2026).
Menurut Bimpi, dampak asap juga memicu gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Bahkan, terdapat warga yang meninggal dunia setelah membantu memadamkan api di sekitar tempat tinggal mereka.
Selain gangguan udara, warga juga menghadapi persoalan air bersih. Bimpi mengatakan air di wilayahnya sempat terasa asin dan hingga kini belum kembali normal.
“Air jadi asin itu membuat kesulitan bagi masyarakat, terutama bagi saya karena saya juga punya bayi yang baru lahir, jadi kesusahan air ini untuk cuci baju pakaian bayi yang susah. Sampai sekarang airnya juga masih asin,” tuturnya.
Dampak kabut asap juga dirasakan warga Sumatra Selatan. Kartika Lestari mengatakan kondisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palembang sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, jumlah kasus ISPA telah mencapai lebih dari 50 ribu kasus.
Kartika menilai penanganan pemerintah belum memadai, terutama dalam menyediakan ruang aman bagi masyarakat dari paparan asap. Di sisi lain, kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) diterapkan bagi siswa jenjang SD hingga SMA.
“Tentu saja ini sangat mengganggu aktivitas belajar anak-anak, dari SD, SMP sampai SMA,” katanya.
Asap karhutla juga berdampak hingga Kuala Lumpur, Malaysia. Muhammad Syahir mengatakan putrinya yang masih kecil harus menjalani perawatan di rumah sakit setelah mengalami gangguan pernapasan.
“Putri saya yang masih kecil baru-baru ini harus dirawat di rumah sakit karena bronkitis. Awalnya, ketika dia mengalami batuk dan mengeluarkan dahak. Kemudian, pada hari ketiga, dia mengalami sesak di dada dan juga kesulitan bernapas,” katanya.
Syahir mengatakan putrinya kemudian didiagnosis mengalami mikoplasma dan bronkitis. Dokter meminta keluarga lebih berhati-hati terhadap paparan lingkungan karena kondisi paru-paru anaknya masih sangat sensitif.
“Dokternya merekomendasikan agar ke depannya dia sangat berhati-hati terhadap paparan atau kondisi lingkungan,” kata Syahir.