Guru Pesantren Didorong Jadi Agen Perubahan, Sebarkan Pemahaman AI Beretika
Selasa, 30 Juni 2026 | 10:00 WIB
Impact Dialogue: Membangun Masa depan AI Dalam Pendidikan Islam Dari Program Menuju Gerakan Berkelanjutan di Kantor Microsoft, Jakarta, Senin (29/6/2026). (NU Online/Jannah
Jakarta, NU Online
Transformasi digital di lingkungan pesantren dinilai tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Melalui peningkatan literasi AI bagi tenaga pendidik, guru diharapkan dapat menularkan pemahaman tersebut kepada sesama guru maupun para santri. Langkah ini sebagai fondasi dalam menyiapkan ekosistem pesantren yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai pendidikan Islam.
Koordinator NUCare Global LAZISNU Anjani Amitya Kirana menilai guru, khususnya di lingkungan pesantren, memiliki karakter yang kuat dalam berbagi ilmu sehingga berpotensi menjadi penggerak utama transformasi digital.
“Dengan memberikan pemahaman tentang AI di pesantren, kami berharap guru akan menjadi agen perubahan yang akhirnya membawa pasukan-pasukannya baik sesama guru atau santri ke transformasi digital,” ujarnya dalam Impact Dialogue: Membangun Masa depan AI Dalam Pendidikan Islam Dari Program Menuju Gerakan Berkelanjutan di Kantor Microsoft, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Sementara itu, Kepala Subdirektorat Pendidikan Salafiyah dan Kajian Kitab Kuning Kementerian Agama Yusi Damayanti menegaskan bahwa penguasaan AI harus berjalan seiring dengan penguatan kompetensi keilmuan para calon ulama.
Teknologi, menurutnya, tidak boleh menjadi jalan pintas yang menggantikan proses pendalaman ilmu agama.
“Di pesantren ini kita menyiapkan kader-kader ulama yang memiliki keilmuan itu betul-betul mumpuni seperti paham dengan AI ini ya. Tidak hanya mengandalkan browsing di sana sini untuk bisa berceramah atau mungkin menjadi influencer tetapi bekalnya hanya dari browsing-browsing saja seperti itu,” katanya.
Yusi mengatakan pesantren diharapkan mampu melahirkan ulama maupun influencer Islam yang memiliki kapasitas keilmuan kuat sekaligus mampu memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.
“Kita juga berharap AI ini bisa juga membantu pesantren dalam mengembangkannya kader-kader itu. Misalnya bagaimana cara pengemasan produknya pakai AI ya, mungkin lebih manis gitu ya sisi packaging dan lain-lain. Nah, ini banyak sekali yang bisa dieksplore melalui AI ini," ujarnya.
Di sisi lain, Anggota Satgas Pesantren Ramah Anak Kementerian Agama Fadhly Azhar mengingatkan bahwa pemanfaatan AI di pesantren harus tetap dibangun di atas fondasi kepengasuhan.
Menurutnya, kedekatan antara ustaz dan santri menjadi faktor utama agar penggunaan teknologi berlangsung secara aman dan bertanggung jawab.
“Tentunya pondasi yang paling penting adalah pondasi kepengasuhan. Karena dekatnya ustaz dengan murid, dekatnya ustaz dengan santri-santri itu dapat dilakukan melalui pendampingan-pendampingan. Jadi dikawal oleh ustaznya, diawasi oleh ustaznya, sekaligus diajarin AI seperti itu,” tuturnya.
Baca Juga
NU dan Tantangan Abad Kecerdasan Buatan
Fadhly juga menilai peran teman sebaya tidak kalah penting dalam membangun budaya belajar AI di lingkungan pesantren. Hubungan antarsantri dapat menjadi ruang saling belajar.
“Sejawat itu bisa saling itu mengajari bahwa AI seperti ini. Di sela-sela libur ini santri senior dengan santri junior itu terbangun kedekatan-kedekatan yang bisa juga mengajari AI bagaimana,” katanya.