Gus Rozin Siap Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU, Bawa Misi Benahi Organisasi
Kamis, 23 Juli 2026 | 10:00 WIB
Jakarta, NU Online
Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar Ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung di Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.
Selain Gus Rozin, sejumlah nama turut disebut dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, di antaranya Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo Magelang KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), serta mantan Ketua Umum PB PMII Hery Haryanto Azumi.
Putra almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh itu mengaku telah melalui proses perenungan sebelum memutuskan ikut berkontestasi. Ia juga berdiskusi dengan sejumlah sahabat dan pengurus NU di berbagai daerah.
"Saya sempat berpikir lama dan akhirnya sekitar dua hari lalu, saya bersama teman-teman dan beberapa Ketua PCNU yang menghubungi saya, maka saya berikhtiar untuk berkontestasi pada Muktamar tahun ini," ungkap Gus Rozin dalam agenda silaturahim di Salatiga, Rabu (15/7/2026) malam.
Ia memohon doa dan dukungan kepada para Ketua PCNU se-Jawa Tengah. Menurutnya, langkah tersebut penting karena perjalanan pengabdiannya di NU berawal dari Jawa Tengah.
Gus Rozin menilai Muktamar Ke-35 harus menjadi momentum memperkuat kembali kepercayaan warga Nahdliyin terhadap organisasi sekaligus mengembalikan NU sebagai kekuatan moral dalam kehidupan berbangsa.
"Marwah dan kredibilitas NU saat ini turun cukup tajam. Ada berbagai persoalan internal organisasi, peristiwa yang melibatkan pesantren, isu konsesi tambang, hingga menurunnya daya kritis. Semua itu harus menjadi bahan evaluasi bersama," tuturnya.
Ia menegaskan pencalonannya bukan untuk mempertajam kontestasi, melainkan menawarkan alternatif gagasan bagi masa depan Nahdlatul Ulama.
"NU membutuhkan kebersamaan untuk keluar dari perbedaan yang berkepanjangan. Yang harus diperkuat adalah kedaulatan organisasi agar NU tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh warganya," katanya.
KH Abdul Ghaffar Rozin tumbuh di lingkungan Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Ia merupakan putra angkat almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh dan Nyai Hj Nafisah Sahal.
KH MA Sahal Mahfudh pernah menjabat Rais Aam PBNU periode 1999–2014 sekaligus Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2000–2014. Sementara itu, Nyai Nafisah Sahal pernah menjadi Mustasyar PBNU masa khidmah 2022–2027 dan memimpin PW Muslimat NU Jawa Tengah selama dua periode (1993–2005).
Pendidikan dasar hingga menengah Gus Rozin ditempuh di Perguruan Islam Mathali'ul Falah (PIM) Kajen. Ia lulus Madrasah Ibtidaiyah pada 1988, Madrasah Tsanawiyah pada 1992, dan Madrasah Aliyah pada 1995.
Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan di Pesantren Fathul Ulum Kwagean, Kediri, hingga 1998, kemudian meneruskan studi di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aqidah Jakarta.
Gus Rozin kemudian melanjutkan pendidikan magister di Monash University Australia, pada bidang Manajemen Pendidikan dan meraih gelar Master of Education (M.Ed.) pada 2004. Ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang pada 2023.
Dalam organisasi, Gus Rozin pernah menjadi pengurus PP IPNU (1998–2001), pengurus Departemen Hubungan Luar Negeri PP GP Ansor (2000–2004), Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU (2010–2013), Ketua RMI PWNU Jawa Tengah (2013–2015), Ketua RMI PBNU (2015–2021), dan saat ini menjabat Katib Syuriyah PBNU masa khidmah 2022–2027.
NU Online akan menyajikan profil tokoh-tokoh lain yang disebut dalam bursa calon Ketua Umum PBNU pada laporan terpisah.