Gus Yahya Ajak Warga NU Hidupkan Semangat Tolong Menolong Lintas Golongan
Kamis, 27 Agustus 2026 | 17:45 WIB
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat menyampaikan pidato pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026). (Foto: tangkapan layar kanal Youtube NU Online)
Jombang, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk menghidupkan kembali semangat ta'awun (tolong-menolong) sebagai fondasi menjaga keutuhan tatanan masyarakat dan bangsa.
Ajakan itu disampaikan dalam pidato pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026).
Gus Yahya mengutip pandangan pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi NU yang menempatkan sikap tolong-menolong sebagai landasan utama beredarnya tatanan kemasyarakatan.
"Hadratussyekh Kiai Muhammad Hasyim Asy'ari di dalam Muqaddimah Qanun Asasi telah mengatakan, ata'awunu huwalladzi alaihi madaru nidhamil umam. Tolong-menolong adalah landasan bagi beredarnya tatanan kemasyarakatan," kata Gus Yahya.
Ia menjelaskan apabila tatanan masyarakat dilandasi prinsip tolong-menolong, maka orientasi warga tidak lagi tertuju pada siapa yang lebih berkuasa atau berada di posisi mana. Sebaliknya, seluruh elemen masyarakat akan lebih berorientasi pada kerja sama demi kepentingan, kekuatan, dan kemuliaan bersama.
"Karena di dalam tatanan masyarakat itu apabila dilandasi dengan prinsip tolong-menolong, maka orang tidak akan berpikir tentang siapa yang lebih berkuasa dan siapa yang kurang berkuasa. Orang tidak berpikir tentang siapa berada di posisi mana. Tapi semua orang berpikir tentang kerja sama, tolong-menolong untuk kepentingan bersama, untuk kekuatan bersama, untuk kemuliaan bersama," ujarnya.
Gus Yahya menegaskan, semangat ta'awun ini tidak boleh dibatasi hanya untuk kalangan internal NU, melainkan harus dirajut bersama seluruh elemen bangsa.
Ia menyebut Muktamar ke-35 NU sebagai momentum tepat untuk menjadikan ta'awun sebagai titik tolak memperkuat persatuan bangsa secara lebih luas.
"Sangat tepat momentum muktamar ini kita jadikan titik tolak untuk ke depan berupaya memperkuat bangsa yang kita cintai ini dengan ta'awun, tolong-menolong di antara warga, bukan hanya warga Nahdlatul Ulama saja, tapi bersama segenap warga bangsa yang kita cintai ini," katanya.