Kementan Sebut Stok Beras Nasional Aman hingga 10 Bulan di Tengah Kekeringan
Rabu, 16 September 2026 | 18:00 WIB
Jakarta, NU Online
Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan bahwa stok beras nasional masih aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga 10 bulan ke depan, meski Indonesia tengah menghadapi musim kering dan ancaman El Nino.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Heru Tri Widarto mengatakan ketersediaan beras ditopang oleh standing crop seluas sekitar 3,8 juta hektare yang setara dengan kurang lebih 10 juta ton beras.
Baca Juga
Pemerintah: Stok Beras Nasional Aman
“Untuk 10 bulan ke depan itu stoknya aman karena di standing crop ada 3,8 juta hektare setara kurang lebih 10 juta ton beras,” ujarnya dalam konferensi pers yang dilakukan secara daring pada Selasa (15/9/2026).
Ia mengatakan bahwa stok beras yang berada di stok beras yang berada di hotel, restoran, kafe (horeka) dan rumah tangga berada di kisaran 10 juta ton. Sementara stok beras di Bulog mencapai 4,6 juta ton.
“Sehingga untuk 10 bulan ke depan kita masih cukup dan aman untuk beras,” ujarnya.
Heru menjabarkan proyeksi stok akhir 2026 untuk sejumlah komoditas pangan. Berdasarkan pembaruan 3 September 2026, stok akhir beras diproyeksikan mencapai 16.055.771 ton, jagung 6.905.833 ton, gula konsumsi 1.779.606 ton, daging ayam ras 1.020.045 ton, telur ayam ras 765.281 ton, cabai besar 69.560 ton, cabai rawit 60.283 ton, bawang merah 12.349 ton, bawang putih 94.821 ton, kedelai 290.886 ton, serta daging sapi-kerbau 351.867 ton.
Ia mengatakan bahwa pemerintah tengah mendorong peningkatan produksi melalui kemudahan akses pupuk. Menurutnya, harga pupuk saat ini telah turun 20 persen.
“Sehingga peningkatan produksi itu menjadi keyakinan kami bahwa meskipun kondisi El Nino, justru meningkat produksi berasnya, naik sekitar 0,2 persen dari tahun lalu, dari 38,5 menjadi 38,6 ton,” katanya.
Baca Juga
Kekeringan Akibat Ulah Manusia
Di tengah kekeringan, Kementan menyiapkan ribuan pompa serta irigasi perpompaan untuk menjaga pasokan air bagi lahan pertanian. Bantuan alat dan mesin pertanian juga terus diberikan sejak 2024 hingga 2026, mulai dari traktor, combine harvester, hingga pompa air.
Heru mengatakan, bantuan tersebut diarahkan agar produksi tetap berjalan di wilayah yang mengalami keterbatasan air.
“Yang tidak cukup hujannya berarti mengoptimalkan bantuan-bantuan pompa maupun irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, yang kesemuanya itu adalah untuk melakukan gerakan percepatan tanam,” ujarnya.
Ia mengatakan sebanyak 137.573 unit pompa telah diberikan, disertai 12.098 traktor roda empat, 6.317 traktor crawler, 69.457 hand sprayer, 5.981 rice transplanter, dan 26.909 traktor roda dua.
“Jadi, alsin yang kami bantukan kepada masyarakat itu juga bisa bersifat mobile, pindah dari satu wilayah pertanaman ke wilayah lain dalam satu daerah,” pungkas Heru.